AKU MENGGUGAT AKHWAT DAN IKHWAN - 7
Sejenak aku merebahkan diri. Mengentaskan semua asa yang tertanam dalam diri. Tubuhku terasa nyaman, berada dalam naungan kasur busa. Sesekali aku menghela nafas panjang. Menerawang dalam tatapan yang penuh dengan keletihan. Letih menjalani hari yang panjang. Hari yang melelahkan dalam satu hari penuh dengan perjuangan. Beberapa persoalan, datang silih berganti dalam hidup. Gejolak jiwa dalam aral yang membelenggu. Mengganggu tanpa permisi terlebih dahulu. Semuanya datang. Semuanya terasa keras dalam balutan masalah yang tak akan tuntas. Tetapi aku yakin. Tidak ada masalah yang tidak bisa dituntaskan. Karena Allah, telah memberikan cobaan dengan beserta kemudahannya. Aku yakin, semuanya bisa terselesaikan. Selesai tanpa harus membekas dalam diri dengan setumpuk masalah yang sama bertubi-tubi.

TluutTliit. Suara sms Hp mengagetkanku.

Febrianti. Tertulis dalam layar LCD. Mbak, anti dmn Nggak ngechat! Tmn2 lg nungguin. Pngen tausyiah dari Mbak Farah. Cepat ya Mbak! Pesan SMSnya.

Masya Allah, aku lupa. Hari ini kan ada liqo di teman-teman chatting! Segera mungkin aku langsung menghidupkan komputer. Tak perlu beranjak dari tempat tidur. Karena dengan hanya menekan remote. Maka komputer dengan sendirinya langsung merestart. Segera aku mengambil jilbabku, untuk aku kenakan. Sejenak windows xp mengeluarkan wajah cantikku. Afwan, sudahkah anda membaca basmalah Kalau sudah, tolong diisi password untuk menuju tampilan XPnya. Syukron. Wassalam! Bunyi tampilan otomatis dalam komputer.

Segera mungkin aku connect keinternet. Memasang camera dengan bagus. Dan langsung menuju ke chatcam. Tak lama aku sudah menuju keteman-teman cyber liqo. Unik sebenarnya, saat kami bertemu dalam dunia cyber. Beberapa akhwat adalah adik kelasku, teman-temannya Dewi. Dan yang lainnya, adalah teman-teman cyber chatku. Karena kebanyakan mereka kuliah diluar negeri. Hingga akhirnya, kami memutuskan untuk selalu berhubungan dengan cara seperti ini. Beberapa temanteman chattingku. Malahan dulu adalah seorang non muslim. Yang begitu tertarik dengan Islam. Hanya saja, mereka tidak dapat belajar tentang Islam lebih dalam. Karena mereka diwilayah negeri orang-orang kafir. Sehingga alternatifnya adalah, dengan chatting. Ada dua versi chatting yang dikembangkan dalam liqoanku. Yaitu, chatcam dan chatvoice. Dua-duanya langsung terhubung dalam satu channel chatting. Sehingga dengan mudah, jika seorang yang tidak mempunyai camera. Tetap bisa mendengarkan suara para chatter.

Assalamualaikum! beruntun, suara-suara para chatter. Terlihat Febri, tetap dengan wajah imutnya dan jilbab besarnya. Lalu ada Ine dengan jilbab trendynya. Ada Ratna, Asih, Fenti, Maya, Desti, dan banyak lagi. Juga beberapa teman-teman chatvoice yang hanya menunjukkan inisial atau nama-namanya saja.

Walaikumlalam.

Mbak Farah, kok telat ada apa Tanya Desti.

Ana lagi kecapean! Satu hari yang melelahkan plus menegangkan serta menguras pikiran! Ucapku senyum.

Emang, lagi ada kegiatan yah Mbak Tanya Febri.

Iyah, bisa dibilang begitu! Ucapku. Kegiatan yang telah membuat jantung begitu keras dalam detakannya. Gumamku.

Enak yah, Mbak! Kalau di Indonesia. Masih bisa melakukan dakwah sesukanya! Ucap Febri dengan senyum simpulnya.

Iya! Kalau kita disini nggak bisa seenaknya, melakukan kegiatan-kegiatan yang berbau religius ditempat umum! Bisa-bisa ditangkap karena mengganggu masyarakat! Sahut Ratna.

Apalagi disini! Bisa-bisa langsung dikira teroris. Sela Asih, sengit.

Memang, banyak negera-negara yang katanya menjunjung hak asasi. Tetapi seorang yang melakukan hak asasinya malah dilarang. Banyak para akhwat Perancis yang telah keluar dari universitas terkenal. Hanya karena mereka berjilbab! Padahal, untuk masuknya sangat sulit. Ucap Fenti.

Woi, kasih hak bicara dong! Jangan hanya yang punya webcam aja, yang bicara! sela Anggi yang berada di chatvoice.

Ih, siapa yang memotong hak bicara! Anti saja, yang tidak mau bicara. Seru Ine. Yang membuat teman-teman akhirnya tertawa.

Iya, kalau disini juga susah untuk kegiatan yang berbau religius! Di Ausy, malah ada salah satu akhwat yang diludahin saat mau berangkat kuliah. Ucap Anggi semangat.

Siapa yang nanya! sela Ine.

Yee. Ucap Anggi, bersungut.

Hehehe. Sudah-sudah! Anti berdua ini kok kaya apaan. Selaku. Mendamaikan.

Biasa, Mbak! Anggi dan Ine itukan kucing dan tikus. Ngeong Citcit..! ledek Asih.

Iya, ana kucingnya. Ukhti Ine tikusnya! Hehe ucap Anggi.

Yee.. ana yang kucingnya. Anti tikusnya! Seru Ine.

Hehe kok rebutan jadi binatang sih! Emang nggak enak yah jadi manusia ucapku bercanda.

Iya, nih. Ukhti Asih ituloh yang mulai, Mbak! Jawab Anggi.

Iya, ini gara-gara Ukhti Asih! Sahut Ine.

Loh-loh kok malah ana sih yang disalahin! ucap Asih. Tidak terima.

Seluruh chatter pun tertawa. Sungguh keterikatan ukhuwah yang telah menjadikan kami bisa begitu dekat. Entah darimana asal mereka. Apa warna kulit mereka, bahasa apa yang mereka pakai. Selama dalam naungan Islam. Mereka adalah saudara. Hingga sampai-sampai, para room dichatting. Merasakan kenikmatan persaudaraan itu. Perkara kecil bisa dibesar-besarkan, tetapi tidak menjadi besar. Perkara besar tidak dibesar-besarkan malah kalau bisa dipermudah dan diperkecil. Karena ikatan ukhuwah kita yang kuat. Sampai-sampai bagaikan seorang adik kakak. Pertikaian kecil, merupakan bumbu-bumbu yang akan mempererat persaudaraan.

Hehe. Ya sudah! Gimana kita mulai sekarang selaku.

Sejenak mereka pun sedikit demi sedikit bisa mengatur dirinya. Suara riuh canda tawa mulai sedikit demi sedikit mereda. Mereka memulai memfokuskan dalam bermuhasabah pada setiap dirinya.

Tafadhol, Mbak! Ucap Febri, mempersilahkan aku memberikan materi.

Alhamdulillah. Insya Allah, untuk hari ini kita membahas materi akhlak dan ikhlas! sejenak aku mengela nafas. Akhlak. Bisa dikatakan sebagai adab. Atau perilaku tentang budi pekerti. Dalam kamus bahasa. Beberapa orang mengatakan, bahwa akhlak adalah sebuah perilaku budi pekerti yang diambil dari sebuah kebudayaan. Tetapi, Akhlak dalam Islam. Bukan dari kebudayaan orang Arab. Tetapi, lebih dicenderungkan dalam kebudayaan manusia. Budi pekerti manusia yang universal. Dan akhlak dalam Islam, adalah karakter dominan Rasulullah! Yaitu, seorang yang ramah, adil, baik. Intinya, kesempurnaan manusia yang ada dunia. Hanyalah pada Rasulullah! dalam layer monitor. Teman-temanku mendengar secara pasti taujih yang aku sampaikan. Rasa ketidaktahuan, atau rasa ingin memperkuat keimanan. Terlihat dari setiap wajah-wajah dalam monitor. Tidak terkecuali, teman-teman yang hanya bisa mendengar melalui chatvoice.

Setiap hal, yang mendetail masalah akhlak dan ikhlas. Aku sampaikan dengan jelas. Aku ingin tidak ada yang tersisa lagi dalam setiap penyampaian materiku. Hingga menimbulkan rasa penasaran yang tinggi. Atau ilmu yang hanya setengahsetengah saja. Dengan pasti, aku memberikan materi-materi itu. Alhamdulillah. Baik, ada yang perlu ditanyakan ucapku diakhir penjelasan.

Sejenak para chatter diam. Berfikir dan merasapi taujih yang aku sampaikan. Wajah mereka tertunduk, mengharap keikhlasan dengan perbuatan yang mereka lakukan. Perbuatan yang entah mereka lakukan. Aku tidak tahu.

Mbak, ana mau tanya! ucap Desti. Membuyarkan lamunan para chatter.

Iya, tafadhol Ukh! jawabku.

Mbak, ana mau tanya tentang keIkhlasan. Apakah seorang yang melakukan sebuah pekerjaan. Tetapi dia melakukan itu dengan senang hati, tetapi karena menginginkan sesuatu selain Allah! Apakah itu juga dinamakan Ikhlas

Seorang yang melakukan perbuatan, tetapi didasari untuk mendapatkan sesuatu. Sesuatu yang bukan berdasarkan pada Allah. Juga termasuk Ikhlas! Tetapi, keikhlasan itu hanya pada sesuatu yang diinginkannya saja. Dan dia tidak mendapatkan pahala ikhlas yang diberikan oleh Allah. Dalam sebuah hadits disebutkan, diriwayatkan oleh Ahmad. Sebaik-baik usaha adalah usaha tangan seorang pekerja apabila ia mengerjakannya dengan tulus. Jadi semua itu, mempunyai nilai keikhlasan sendirisendiri. Jika seseorang meniatkan dirinya untuk Allah, maka Allah lah yang akan menjadi tujuannya. Dan pahala yang akan didapatkannya. Sedangkan, jika seorang meniatkan untuk hal-hal yang lain. Selain Allah. Maka, hanya hal itu saja yang akan didapatkannya! jelasku.

Lalu, cara untuk ikhlas atau menjaga ikhlas dalam dakwah bagaimana Mbak Kadang, ana sangat ikhlas sekali untuk mengadakan kegiatan. Tetapi, saat kegiatan itu tidak sesuai dengan harapan. Keihlasan ana menjadi pupus! tanya Maya.

Iya, kadang kita benar-benar sangat bersemangat dalam beradakwah. Dan kadang kala kita menjadi luntur atau futur. Saat-saat apa yang kita harapkan tidak tercapai. Atau kita bosan dengan kegiatan tersebut! Mungkin, kita perlu merefiu kembali jalan dakwah yang kita lakukan. Saat kita melakukan sebuah kegiatan. Dengan harapan, bahwa kegiatan itu akan mencapai target yang ingin kita capai. Tetapi sayang, beberapa teman-teman kita banyak yang tidak datang dalam kegiatan tersebut. Biasanya membuat kita menjadi pesimis dengan berlangsungnya kegiatan dengan bagus! Atau panitia kegiatan banyak yang datang terlambat. Itu juga, salah satu yang membuat keikhlasan menjadi luntur!

Pernah ada seorang akhwat, melakukan kegiatan yang sudah sangat dirancang dengan matang. Lalu, pada saat pelaksanaan kegiatan. Banyak akhwat-akhwat panitia yang terlambat hadir atau bahkan tidak hadir. Akhwat ini bingung. Peserta sudah sanagt membludak. Tetapi, panitia banyak yang tidak hadir. Akhirnya akhwat ini menelephon seorang akhwat yang belum hadir. Sebuah percakapan terjadi,

Akhwat A : Ukhti, anti dimana Peserta sudah banyak. Anti tolong kemari dong!

Akhwat B : Afwan ana tidak bisa hadir. Ana ada keperluaan! Semoga anti dan teman-teman bisa mengatasi sendiri. (Ucapnya dengan enteng, tidak ada penyesalan sama sekali)

Akhwat A : Anti kok nggak bilang saat syuro. Kalau seperti ini kan kasihan Al Ukh yang lain. (Ucapnya, sedikit agak emosi)

Akhwat B : Iya, Afwan. Ana hari ini ada teman yang lagi main kerumah. Jadi nggak bisa ninggal! Semoga anti tetap niat ikhlas anti tidak ternodai dengan nafsu amarah anti.

(Ucapnya, tanpa ada perasaan yang bersalah)

Akhwat A : Masya Allah, Ukh! Anti kan bisa ajak teman anti disini! (Ucapnya agak tegas, dengan nada yang meninggi.

Sedikit terlihat emosi)

Akhwat B : Afwan, nggak enak. Nanti ganggu anti dan temanteman. Lebih baik, anti dan teman-teman tetap istiqomah dijalan dakwah. Dan tetap, semoga niat anti nggak ternodai dengan nafsu amarah anti. (Ucapnya, tanpa ada perasaan yang bersalah. Seperti ingin menasehati)

Akhwat A : TAHU APA ANTI TENTANG ISTIQOMAH DAN

IKHLAS. (Ucapnya dengan keras. Setelah itu menutup telephon)

Baik. Sekarang siapa yang salah ucapku. Sambil melihat satu persatu Al Ukh, Halaqoh Cyber Liqo.

Mereka terlihat bingung. Sesekali ada yang mengatakan salah satu yang salah. Tetapi ada juga, yang menyalahkan kedua akhwat itu. Dengan alasan, akhwat satu yang menelphon tidak mempunyai kesabaran untuk menghadapi Akhwat yang ditelephon. Lalu akhwat yang ditelephon, tidak mempunyai rasa persaudaraan yang kuat kepada akhwat yang lainnya. Tetapi, lebih banyak yang diam. Tidak berkomentar, atau menungguku untuk lebih dalam menjelaskan persoalan ini.

Iya! Dalam kasus tadi. Kita dapat mengambil sebuah ibroh atau hikmahnya. Memang, niat ikhlas itu sangat diharapkan untuk tidak keluar dari dalam niat kita. Tetapi, ada penyebab yang membuat niat ikhlas itu keluar. Yaitu, dengan cobaan seperti apa yang terjadi dalam kasus tadi! Seorang, yang sudah ikhlas dalam hatinya. Akhirnya ternodai oleh saudaranya sendiri! Ikhlas, bukan berarti tidak butuh bantuan. Ikhlas, bukan berarti bertindak sendirian. Dan seharusnya, untuk menjaga keikhlasan sesama saudara. Maka saudara yang lainnya, pun harus ikut menjaga niat keikhlasan dalam perjuangan saudaranya. Bukan malah, membiarkan saudaranya berjuang sendiri. Lalu dengan seenaknya, saudara yang lainnya mengatakan tentang keikhlasan. Keikhlasan tentang saudara yang lainnya. Ini berarti, menjadikan tumbal saudara kita sendiri! Aku sedikit menarik nafas, lalu menghembuskannya pelan. Maka, untuk menjaga niat ikhlas kita. Seharusnya, sikap kita adalah tidak mementingkan hasil dari apa yang kita kerjakan. Cukuplah usaha yang kita jalankan, sesuai dengan apa yang memang seharusnya. Tidak usah begitu mengharapkan hasil yang sempurna. Tetapi, tetap ada hasilnya! Dan cukuplah Allah, yang memberikan hasil dari kita. Cukuplah kita, berikhtiar dengan usaha yang kita lakukan.

Iya, ana juga setuju kalau seperti itu Mbak! Ucap Desti.

Ana jadi lebih mengerti sekarang! Sahut Anggi.

Sama, ana juga! Ucap Febri.

Syukron Mbak! Ana jadi lebih tenang, dengan penjelasan yang Mbak Farah sampaikan! Ucap Ine.

Sama, ana juga! Ucap beberapa teman-teman yang lain.

Alhamdulillah. Kalau seperti ini kan, ana jadi nggak lebih mudah menjelaskannya! ucapku. Sambil bercanda.

Mbak, ana mau tanya! Ucap Anggi.

Tafadhol! Jawabku.

Mbak, ana di sini sering bertemu dengan saudara kita yang lainnya. Di Australia, ada beberapa harokah-harokah Islam yang banyak. Termasuk ada juga, beberapa yang menyebutkan diri dari golongan pengikut ulama salaf. Anehnya, kadang kami saling berdebat. Untuk mempertahankan harakah kita masing-masing! Mengunggulunggulkan apa yang kita kerjakan. Dan tak jarang, kata hujatan pun meluncur untuk salah satu harakah. Suasana ini baru ana alami disini, Mbak! Saat di Indonesia, ana tidak begitu sering melihat harakah-harakah lain. Dan tidak pernah mendengar hujatan-hujatan yang menyakitkan! Tapi disini, semuanya bisa dilakukan. Mengunggul-unggulkan golongan mereka, merupakan hal biasa disini. Pantas saja, banyak para jamaah yang terlihat tidak begitu menyatu. Membaur dalam kerangka ukhuwah yang erat! Mereka lebih memilih, bergabung dengan orang-orang yang sealiran dengan mereka! Ungkap Anggi.

Hem. Iya, memang. Inilah yang menjadi persoalan serius dalam umat Islam! Banyak para harakah, organisasi, aliran dalam Islam. Yang menyerukan tentang persatuan. Hanya saja, persatuan yang mereka inginkan lebih bersifat penyatuan. Bukan persatuan yang menginginkan kesatuan. Di Indonesia pun, sering terjadi. Mereka lebih menonjolkan harakah atau organisasi mereka. Persatuan, sering digembargemborkan dalam setiap harakah atau organisasi. Tetapi sayangnya. Persatuan yang mereka inginkan, lebih bersifat menyatukan harakah atau organisasi lain kedalam harakah atau organisasinya sendiri. Ini yang membuat menjadikan persatuan tidak terjaga dengan baik. Beberapa cemoohan, hujatan dan celaan harakah atau organisasi satu dengan yang lainnya! Sepertinya, kita terhambat dengan pola perjuangan harakah dan organisasi yang mementingkan diri mereka sendiri.

Ana pernah berdialog dengan satu aktivis harakah selain kita. Mereka dengan mudah mengatakan sesuatu yang menyakitkan hati. Akhlak mereka menjadi bias, dengan ashabiyah yang mereka punyai! Beberapa kali, ana mengelus dada. Saat berbicara dengan mereka. Ana mencoba sabar dengan kata-kata yang begitu menyakitkan. Bahkan, ada sebuah harakah yang menghina seorang ulama besar. Hasan Al Banna. Seorang ulama yang begitu masyhur dalam dakwahnya, harus dihina dan fitnah. Kasihan. Bahkan, isu yang digemborkan adalah. Hasan Al Banna merupakan seorang yang membela orang-orang Israel. Membela kaum-kaum Yahudi! Padahal, semua tahu. Bahwa banyak kader-kader Hasan Al Banna yang diterjunkan untuk turut berperang saat Israel menyerang Palestina. Dan bahkan, hampir-hampir saja. Kader-kader Hasan Al Banna dapat mengalahkan pasukan Israel. Kalau pada saat itu, Anwar Saddat seorang presiden Mesir yang zhalim itu tidak menangkapi kader-kader Hasan Al Banna!

Ironis, seorang kader yang menunjukkan eksistensinya dalam dunia Islam.

Harus dipenjarakan dan dibunuh oleh orang-orang munafik. Tetapi hebatnya, kaderkader Hasan Al Banna tidak pernah mengeluh dalam setiap perjuangannya. Dan bahkan, mereka tidak melakukan sebuah kemakaran terhadap negaranya. Meskipun saat itu mereka sudah sangat di zhalimi! Sangat hebat. Bahkan, saat kader-kader Hasan Al Banna di penjara. Mereka berfikir, penjara itu adalah bagian dari rihlah mereka! Saat mereka berada diruang penjara bawah tanah, hingga mereka tidak bisa melihat tangannya sendiri karena gelap. Tapi, sungguh sangat mengesankan. Mereka dengan bergantian meramaikan penjara bawah tanah itu, dengan murajaah Al Quran. Subhanallah! Dan Hasan Al Banna adalah seorang pembesar, yang mengakui. Bahwa Indonesia, adalah negara yang berdaulat! Yang pada saat itu, tidak ada negara yang berani mengakui kemerdekaan Indonesia.

Ana sangat salut dengan perjuangan yang dilakukan oleh Hasan Al Banna. Meskipun, ana pun tidak menafikkan ada ulama-ulama lain. Selain Hasan Al Banna. Tetapi, ana lebih menyukai dan mengagumi para ulama-ulama besar. Dengan penghormatan dan bukan penghinaan. Ulama manapun! Selama ulama itu dalam koridor syariat yang benar, maka ana akan mengagumi mereka. Karena, ana tidak ingin bertaklid dengan salah satu ulama. Karena ulama adalah manusia, mempunyai kesalahan dan dosa! Tetapi, kebenaran itulah yang seharusnya kita ambil dari setiap para ulama-ulama! Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh para ulama. Seharusnya kita pun memahami, bahwa ulama juga manusia. Bukan lantas menyalahkan seluruh ajarannya, hingga menafikkan ajaran keberanan-Nya!

Adapun saat kita dihina. Maka jangan sekali-kali, kita membalas hinaan mereka dengan balik menghina! Karena sesungguhnya, kehinaan itu akan kembali kepada seorang penghina. Dan sekarang, sudah bukan jamannya lagi untuk berdebat dengan sesama muslim! Selama muslim itu benar dalam pandangan syariat, melakukan perbuatan yang pernah dilakukan oleh Rasulullah, melakukan perbuatan yang tidak dilarang oleh Rasulullah. Maka kita, tidak usah saling membenarkan atau menyalahkan! Kita ingat, musuh bersama kita sekarang bersatupadu memerangi kita. Mereka sedang menyiapkan senjata-senjata mereka. Sejata materil, Pun senjata propaganda perpecahan umat. Maka kita jangan sampai tertipu daya dengan propaganda itu. Adakalanya, saat kita berdebat. Janganlah mencari pembenaran, tetapi carilah kebenaran untuk kemaslahatan. Bukan kebanaran abstrak yang kolot harus dilakukan. Karena, kita harus ingat. Bahwa jaman terus berubah, banyak aturanaturan Rasulullah yang tidak mengatur dalam aturan jaman yang akan datang. Dalam konteksnya, ijtihad-ijtihad yang dilakukan ulama satu dengan ulama yang lainnya. Tidaklah boleh saling membuat perpecahan diantara umat Islam!

Kita ingat bahwa sesungguhnya, sebuah persatuan dalam Islam akan terjadi. Manakala semua umat Islam mengerti apa yang dilakukannya masing-masing. Usahausaha untuk saling mengingatkan antara sesama Islam. Harus dilakukan. Tetapi dengan cara bahasa yang santun, tidak menyakitkan hati seorang yang akan kita beri pengingatan kembali. Banyak cara agar persatuan Islam dapat kembali, salah satunya seperti yang ana sebutkan tadi. Karena jika kita terlena dengan perang kita sendiri, sedangkan ada musuh bersama yang sedang mengintai kita. Yang sekarang sedang melakukan persiapan untuk menghancurkan umat Islam. Sekarang, sudah saatnya kita harus bangun dari tidur kita dengan mimpi-mimpi buruk perpecahan umat Islam. Akan menjadi sebuah kehancuran, saat-saat kita masih terbuai dengan mimpi-mimpi berdebat dengan sesama Islam. Jangan-jangan, saat kita terbangun dari tidur. Para musuh Islam, sudah menodongkan senjata dihadapan kita! Apalagi, saat kita terbangun. Ternyata kita sudah berada dipenjara-penjara musuh Islam. Atau, janganjangan. Malah saat kita terbangun, kita sudah berada diakhirat. Dibangunkan oleh malaikat dengan pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang kita lakukan untuk Dien kita ini! Dibangunkan oleh malaikat, saat kita diakhirat. Karena pada saat kita sedang tertidur, musuh-musuh Islam telah menjatuhkan bom-bom mereka. Sehingga, kita tidak sadar bahwa kita telah meninggal. Kita telah berad diakhirat, karena kebodohan kita memerangi umat Islam sendiri!

Apakah kita rela memerangi saudara kita sendiri Apakah kita memang menginginkan kehancuran umat Islam Ataukah, karena kita ingin menunjukkan kebenaran yang pada dasarnya hanya ingin memenangkan sebuah perdebatan Masya Allah. Kita sekarang sedang dilanda dengan berbagai hinaan, cercaan dari umat yang lain. Apakah kita harus saling menghina umat Islam sendiri! Inilah yang memang seharusnya koreksi bagi kita. Meskipun, saudara-saudara kita menghina dengan perkataan yang menyakitkan hati. Cukuplah Allah, mengetahui apa yang kita inginkan. Hanyalah Allah, yang biar membuktikan niat dan cara kita tidak seperti yang mereka duga. Dan biarkanlah hujatan-hujatan itu, Allah yang menjawabnya!

Maka seharusnya kita, berlapang dada dalam menerima pengingatan yang menyakitkan. Berusaha berlapang dada dengan hinaan yang mereka ucapkan. Berusaha untuk istiqomah dalam kekuatan yang kita bangun dan kita satukan. Kita tidak usaha memaksa mereka untuk mengikuti cara-cara kita. Kita tidak memaksa mereka mengikuti pola perjuangan yang sedang kita jalankan. Tidaklah sakit hati, jika saat kita dihina oleh mereka. Sehingga kita menjadi terhina. Semua itu harus kita pupuk dalam diri kita. Sehingga kita tidak merasa rendah dibanding mereka! Kita harus ingat. Bahwa saat dijaman Rasulullah. Perjuangan-perjuangan yang dilakukan bersifat mengikuti apa yang diperintahkan oleh Beliau (Rasulullah). Tetapi disaat jaman setelah Rasululllah. Kita menjadi ingat, bahwa banyak perbedaan pendapat yang terjadi pada beberapa sahabat Rasulullah.

Namun, perbedaan itu tidak menjadikan sebuah perpecahan umat. Malah menambah semangat untuk memperjuangkan Dien kita ini. Sehingga kita bisa melihat, bagamaina Abu Bakar dengan Umar saat berbeda pendapat. Kita ingat tentang Utsman dan Ali yang berbeda pendapat. Mereka tetap menyatukan diri dalam satu naungan. Meskipun mereka mempunyai perbedaan yang mencolok. Bahkan kita lihat Khalid bin Walid saat berbeda pendapat dengan Umar bin Khattab. Tidaklah menjadikan perbedaan itu meretakkan hubungan ukhuwah mereka. Mereka tetap dalam koridor-koridor perjuangan yang pasti. Dan tidak saling menyalahkan atas perbuatan yang dilakukan setiap sahabat. Dan tidaklah terdapat hujatan, hinaan, atau bahkan cemoohan dan celaan kepada mereka. Bahkan mereka dengan sangat berlapang dada, saling memuliakan saudaranya saat terjadi perbedaan pendapat. Ini merupakan sebuah contoh yang bagus. Ini merupakan sebuah kekuatan ukhuwah yang harus kita jalankan. Bukan malah menjadikan sebuah perbedaan sebagai hal yang menakutkan. Bahkan menjadikan rival saudara kita sendiri, saat mereka berbeda pendapat dengan kita.

Ini merupakan perkara yang besar yang harus kita hadapi. Yang harus kita pahami. Yang harus kita mengerti. Bukan hanya sekedar memaksakan diri untuk mengatakan kepada saudara kita. Bahwa kitalah yang paling besar dan berjasa dalam memperjuangkan agama kita ini. Bahkan mengatakan, kitalah yang paling benar dalam setiap cara perjuangan yang kita lakukan. Jangan! Cara-cara yang kita gunakan harus tetap sesuai dengan koridor-koridor yang sudah ditetapkan dan diajarkan oleh Rasulullah. Dan bila terjadi sebuah cara yang lain, selama cara itu tidak merugikan atau bahkan menyimpang dari ajaran. Maka seharusnya kita tidak ada sebuah celaan terhadap sesuatu cara baru tersebut. Atau dengan kata lain, kita mudah mengatakan sebuah kebidahan kepada saudara kita.

Pemahaman dan pengertian sesama saudara Islam. Sangat wajib dilakukan. Bukan celaan dan pembenaran yang menjadikan umat Islam berjaya. Tetapi lebih didasari dengan kerendahan hati, kelembutan bertutur kata, kemulian akhlak kepada setiap saudara umat Islam yang seharusrnya ditunjukkan. Insya Allah, seperti itu. Wallahualam. Jelaku penjang lebar.

Mbak, lalu cara-cara untuk tidak terprovokasi untuk saling menghujat bagaimana Tanya Febri.

Insya Allah. Hujatan, celaan, cemoohan dan perbuatan yang lain. Yang menimbulkan rasa sakit hati seorang yang mendengarkan. Timbul karena adanya sebab-sebab yang ditumbulkan dari beberapa faktor, yaitu internal dan eksternal. Faktor Internal lebih dipengaruhi oleh hati kita sendiri. Faktor eksternal, lebih dipengaruhi oleh sebuah stimulan atau pembangkit dari perkatan tersebut. Seperti halnya, berdebat dengan argumentasi atau hujjah yang menginginkan orang harus mengerti dengan apa kita maksud. Memaksakan kehendak seseorang saat kita berdiskusi untuk mengikuti cara yang kita lakukan. Tidak mau mengerti dengan hujjah atau argumentasi orang lain. Dengan contoh sebab-sebab seperti itulah yang akan membuat kita menjadi melakukan hujatan, celaan, cemoohan dan perbuatan lain yang tidak enak untuk didengar. Yang paling terpenting, kita tidak usah berdebat dengan orang-orang muslim. Karena pada dasarnya, perdebatan itu dilarang oleh Allah. Selain berdebat dengan cara yang baik dan dilakukan kepada orang-orang kafir. Allah tahu, bahwa perdebatan itu adalah bumbu perpecahan. Maka Allah melarang kita berdebat. Seperti dalam Quran Surat Al Ankabut 46. Dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri. Sehingga Allah memberitahukan sebuah perdebatan hanya untuk para Ahli Kitab dan orang-orang zalim. Bukan untuk sesama orang-orang Islam! jelasku.

Lalu, bagaimana cara yang terbaik dalam berdakwah tanpa harus berdebat Mbak Tanya Ine.

Ana belum tahu cara yang terbaik. Karena masing-masing mempunyai versi cara terbaik bagi dirinya sendiri! Ucapku senyum. Setelah menghela nafas, aku lanjutkan penjelasanku kalau menurut ana sih, cara yang terbaik dalam berdakwah agar terhindar dari perdebatan yang membuat hati kita menjadi panas dingin, keringat dingin mengalir, detak jantung yang tidak beraturan, nafas yang tersengal, dan membuat sorot mata kita tajam bagaikan akan menerkam sebuah mangsa didepan. Adalah, dengan cara tidak melakukan sebuah perdebatan. Atau menghindari hal-hal yang berbau perdebatan. Karena, kita harus yakin. Masih banyak cara yang lain dari pada harus berdebat dengan egoisme setiap masing-masing pembicaranya! Dengan tidak menuruti hawa nafsu untuk berdebat, maka kita sudah menghindari perpecahan umat Islam. Dan dengan begitu dakwah kita, Insya Allah akan lebih mudah. Seseorang diingatkan, tidak harus didebat dengan kebenaran yang benar. Tetapi cukuplah diri seseorang yang mengingatkan itu melakukan apa yang diucapkan. Sehingga itu yang menjadi contoh bagi orang yang akan diingatkan! Dan ada beberapa hal yang harus kita pahami. Bahwa dakwah, bukan berarti tugas seorang saja. Tetapi setiap umat muslim, berhak dan wajib untuk berdakwah. Dengan mendakwahkan ajaran-ajaran yang memang tidak diragukan lagi kebenarannya!

Bagaimana Ucapku

Mereka mengangguk setuju.

Lalu, Mbak. Cara dakwah seperti apa yang menurut Mbak Farah bagus Tanya Ratna.

Cara dakwah yang bagus Hem, ana pernah dengar dari salah satu ikhwan. Akhi Khalid namanya, ikhwan ini mengatakan saat dia ditanya seperti itu. Dengan satu kalimat. Cara dakwah yang bagus adalah bersyiar seperti Jamaah Tagbliq, berakhidah seperti para Salafi, dan berakhlaq dan ikhlas seperti Ikhwanul Muslimin. Tetapi, bukan berarti satu dengan yang lainnya bertentangan atau memiliki kekurangan. Tidak. Kita hanya mengambil cara-cara yang terbaik, yang pernah dilakukan oleh mereka. Dan tidak mengkotak-kotakan satu dengan yang lainnya. Jadi itulah cara dakwah yang menurut ana bagus! sedikit, aku menghela nafas. Setelah itu mengatakan. Baik, sudah malam nih! Bagaimana kalau liqo kali ini kita akhiri saja Tawarku.

Hem, disini masih jam sepuluh pagi Mbak! Ucap Ratna.

Yee... anti di Amrik. Kalau disini mah, sudah jam 10 malam! Sergahku sambil tersenyum.

Beberapa para chatter pun tersenyum. Entah termasuk para chatvoice juga. Aku tak tahu, karena aku tidak melihat mereka tersenyum.

Iya, kalau Mbak Farah ingin off dulu silakan! Terima kasih banyak atas taujihnya. Insya Allah, kami mendapatkan ilmu yang belum kami dapat. Ucap Febri.

Ok, ana Off dulu yah. Ana udah capek banget nih! Sebelumnya, ana minta maaf jika taujih ana ada yang tidak berkenan dihati anti semua. Baik, ana off dulu. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Serempak jawaban para chatter tanpa dikomando.

Setelah itu aku langsung menshoutdown komputer.