YANG TERUCAP YANG TERTULIS - 7
Saat ini, saya menjadi dosen pembimbing. Semua orang pasti tidak bakal percaya dengan kalimat tadi. Namun kenyataannya, memang demikian. Saat ini, saya sedang berbagi ilmu dan sharing pengalaman dengan beberapa mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Fakultas Ekonomi semester 5.

Awalnya tidak sengaja. Minggu lalu, ketika saya sedang kontrol di area produksi, saya melihat staf Production Planning and Inventory Control (PPIC) saya, Irwan, sedang menemui tamunya. Saat itu, saya tidak tahu, kalau mereka adalah mahasiswi UNS.

Baru setelah pertemuan selesai, saya tanyakan pada Irwan, siapa mereka dan apa keperluannya. Irwan menjelaskan kalau mereka ada lah mahasiswi yang mengajukan penelitian untuk bahan mata kuliah.

Rupanya, kantor saya adalah perusahaan ketiga yang mereka datangi, dan semuanya menyatakan belum bisa membantu, karena berbagai

Ibadah Itu Gampang

alasan. Segera saya tanyakan pada Irwan, materi apa yang hendak dijadikan bahan penelitian. Ternyata seputar tugas marketing. Bagaimana cara mencari kustomer, cara penghitungan harga jual, dan pengurusan dokumen ekspor. Materi yang kesemuanya saya kuasai. Saya pun minta Irwan untuk menghubungi mereka kembali.

Singkat cerita, akhirnya saya sanggup membantu mereka. Pertimbangan saya waktu itu sangat sederhana. Mereka adalah anak-anak muda yang sedang menuntut ilmu. Harus dibantu. Usianya hanya terpaut 5 tahun, di atas anak pertama saya, Wening. Suatu hari nanti, saya tidak ingin anak saya seperti mereka; kesulitan mencari perusahaan yang bersedia dijadikan tempat penelitian.

23

Doa saya waktu itu, semoga dengan saya membantu mereka, kelak Allah akan memudahkan anak saya ketika akan melakukan hal yang sama. Pertimbangan lainnya, sharing tidak membutuhkan waktu lama. Sama sekali tidak mengganggu waktu kerja saya. Materinya pun umum; tidak ada yang perlu dirahasiakan.

Saya ingin berbagi ilmu pada mereka. Yang saya pahami, berbagi ilmu termasuk amal yang sangat disukai Allah. Amat besar pahalanya dan termasuk jariyah. Pahalanya akan terus mengalir kepada yang berbagi ilmu, walaupun ia telah meninggal dunia.

Ada beberapa tingkatan keutamaan yang bisa kita pilih terkait berbagi ilmu. Paling utama adalah mereka punya ilmu dan mau mengajarkan pada orang lain. Jikalau kita tidak ada kemampuan untuk mengajar, masih terbuka kesempatan untuk menjadi mulia berikutnya, yakni mau belajar.

Bila untuk belajar ini pun kita tidak mampu karena alasan kesehatan, tidak tersedianya waktu yang longgar, dan lain sebagainya, masih terbuka pilihan berikut yang sama mulianya, yakni memberi fasilitas belajar, mendukung proses belajar, dan mengajar itu sendiri. Wujudnya bisa

24

membayar biaya sekolah seseorang, menggaji atau mencukupi kebutuhan sang guru, menyediakan tempat- peralatan, dan lain sebagainya.

Jika mengajar tidak mampu, belajar pun demikian, membantu apalagi, masih ada tingkatan yang baik pula, yakni senang kepada orang-orang yang mengajar dan belajar. So, mau pilih yang mana

14 November 2013

Pada berbagai kesempatan, sering kita diajak untuk selalu bersyukur. Pun demikian pada setiap awal pidato, sambutan, atau ceramah.

Namun sayangnya, jarang yang bersungguh-sungguh. Ajakan bersyukur lebih sering hanya basa-basi. Sekadar kelengkapan pidato dan ceramah.