SEMBANG TEPI JALAN - 7
15 November 2005 Anakku, duduklah di sisi ayahmu ini. Aku ingin bercerita denganmu tentang ceritaku ini. Semoga terbuka ruang untuk engkau apabila hari esok datang. Tatkala kaubuka matamu seawal yang kau mampu, saat terbaik dalam hidupku adalali apabila aku mendengar suaramu dalani nada yang riang dalam menyambut pagi yang damai dan tenang dan engkau turut mensyukuri nikmatyangTuhan beri untukinu. Kita masih hidup lagi. Apa lagi yang kita mahu anakku Itulah sebesar nikmat untuk kita - hambanya. Ayah telah jauh berjalan selama ini anakku, dan hidup ini memenatkan. Setiap waktu Ayah akan selalu menyayangimu. Walau cinta itu pelaksanaan, bukan sekadar kata-kata. Ayah taliu itu. Cuma Ayah ingin selalu menyatakan atau menzahirkan mungkin kerana Ayah terlalu takut kehilangan kasih sayangmu. Umpamakan Ayah sedang meyemai benih dan jaga selalu tahap kesuburannya agar bila besar nanti akan menjadi pohon yang subur dan berharga, untuk dihargai dan dinikmati. Berkepentingankah Ayah kalau berfikir begitu anakku Anakku, Ayahmu ini hanyalah seorang pengembara jiwa yang sedang melepaskan penatnya di singgahsana dunia walau sebentar cuma. Waktu kita sebagai khalifah ini sebenarnya terlalu singkat anakku. Itulah kenyataannya. Mungkin sebab itu Ayah sangat bersyukur jika kamu selalu mensyukuri nikmat yang ada pada kamu. Amanahmu sebagai khalifah jua di muka bumi ini sama seperti Ayah dan semua makhluk yang ada di sekelilingmu. Isbatkanlah setiap kejadian itu seadanya. Saat yang terbaik bagi Ayah sebagai seorang ayah adalah apabila pada suatu saat nanti terbukalah hijabmu, terbukalah hatimu untuk mengenal diri dan Tuhanmu. Terbukalah semua ruang untukmu terokai, untuk engkau jelajahi, untuk engkau fahami. Untuk apa sebenarnya engkau dihadirkan di muka bumi ini, wahai anakku Ayah tidak akan bukakan untukmu perihal cerita yang itu sebab engkau ada di jalanmu sendiri dan Ayah akan tetap menerima seadanya kamu sebab kamu ini anakku - benih antara Ayah dan Ibumu -sebagaimana Adam dan Hawa. Kami hanyalah penyambung amanah Tuhan. Mensyariatkan apa yang telah disyariatkan. Inilah amanah untuk Ayah, Ibu dan juga engkau anakku. Kebesaran-Nya terlalu nyata. Janganlah engkau menderhakai-Nya anakku, sebagaimana yang telah Ayah lalui. Ayah telah melalui semuanya wahai anakku. Ayah tidak pernah menyesali takdir itu. Sebab itulah hakikat hidup dan takdir yang telah ayah terima. Ayah masih seorang penerima takdir yang baik. Apa yang telah Ayah lalui itu anakku Untuk pengajaranmu, di sini ayah ingin mengakui Ayah ini seorang penderhaka terhadap Tuhannya suatu masa dulu. Ayah duduk di sisi Firaun di singgahsana angkuh dan keakuannya. Ayahlah seorang penidak hukum yang telah sedia ada. Ayahlah sumber kenyataan yang nyata. Selebihnya dan seakhirnya, Ayah sujud jua pada-Nya. Dalam Rahman dan Rahimnya ayali kembali pada-Nya. Atas nikmat dan ehsannya Ayah masih di sini - di sisimu. Dan akhirnya, Ayah di sini jua. Belajar kembali untuk menghargai nikmat hidup dan nikmat mati. Ayah redha. Tawakallah akan jalanmu anakku. Hargailah nikmat hidup ini seadanya. Ayah menyayangimu walau semuanya hanyalah bersifat pinjaman.