Tokoh penyeru terhadap persatuan dan solidaritas ini -semoga ia mendapatkan balasan setimpal dari Allah- menafikan nikmat iman sekalipun dari Abu Bakar dan Umar radhiallahu anhuma!! Ia berkata pada bukunya Ihyaus Syariah Fi Mazhabis Syiah jilid 1 hal: 63-64: Dan bila mereka berkata: Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar termasuk orang-orang yang ikut andil dalam Baiatur Ridhwan yang telah ditegaskan akan keridhaan Allah atas mereka dalam Al Quran:
Sungguh Allah telah ridha terhadap kaum mukminin yang membaiatmu (berjanji setia kepadamu) di bawah pohon. (QS. Al Fath: 18)
Maka kami jawab: Seandainya Allah berfirman:
Sungguh Allah telah ridha terhadap orang-orang yang sedang membaiatmu
(berjanji setia kepadamu) di bawah pohon atau telah membaiatmu maka pada ayat ini terdapat petunjuk akan keridhaan Allah kepada setiap yang membaiat, akan tetapi karena Allah berfirman:
Sungguh Allah telah ridha terhadap kaum mukminin yang membaiatmu
(berjanji setia kepadamu) di bawah pohon, maka tidak ada petunjuk pada ayat ini kecuali keridhaan terhadap orang-orang yang telah memurnikan keimanannya!
Makna dari ucapannya ini: bahwasanya Abu Bakar dan Umar radhiallahuanhuma belum memurnikan keimanannya! Sehingga tidak dicakup oleh keridhaan Allah! Subhanallah tentu ini adalah kedustaan yang amat besar, semoga Allah senantiasa meridhai keduanya, dan melimpahkan kepadanya kerahmatan dan keridhaan yang melimpah ruah, amiin.
Dan telah berlalu sebelumnya perkataan An Najafi (tokoh dari kota Najef -pent) -semoga kecelakaan senantiasa menimpa kedua tangannya- penulis buku (Az Zahra) bahwa sayyidina Umar bin Khatthab radhiallahu anhu ditimpa penyakit yang tidak dapat diobati melainkan dengan air mani kaum lelaki! (Dan kita katakan kepada orang ini, dalam pepatah dikatakan: ia menuduhku dengan penyakitnya sendiri, lalu ia lari bersembunyi).
Inilah dua pemuka agama sekte Syiah yang hidup semasa dengan kami, dan termasuk orang-orang yang senantiasa mengaku-ngaku memiliki loyalitas tinggi terhadap agama Islam dan kaum Muslimin, dan andil besar dalam segala hal yang mendatangkan kebaikan bagi keduanya. Bila semacam ini ucapan dua orang pemuka agama sekte Syiah dalam tulisan-tulisannya yang telah diterbitkan dan yang menjelaskan tentang ideologi keduanya tentang orang terbaik dari kaum muslimin setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wa Salam , yaitu Abu Bakar dan Umar radhiallahu anhuma, atau minimal termasuk orang yang terbaik dalam sejarah Islam, maka apakah yang akan kita harapkan dari upaya toleransi dan ikut andil dalam upaya pendekatan antar berbagai mazhab. Dan apakah mereka semua itu adalah murni barisan ke lima dalam tatanan masyarakat muslim
Di saat mereka menghinakan para sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa Salam , para pengikut mereka (Tabiin) dan seluruh pemimpin kaum muslimin sepeninggal mereka serendah ini, padahal merekalah yang telah membangun kekuasaan Islam dan mewujudkan dunia Islam ini. Pada saat yang bersamaan, mereka -sekte Syiah- berkeyakinan tentang imam-imam mereka berbagai keyakinan yang para imam tersebut pasti berlepas diri dari hal-hal tersebut. Al Kulaini telah menuliskan dalam bukunya Al Kafi -buku ini bagi mereka bagaikan kitab Shahih Bukhori bagi kaum muslimin- berbagai karakteristik dan sifat kedua belas imam mereka. Karakteristik dan sifat-sifat tersebut telah mengangkat derajat mereka dari manusia biasa hingga tingkatan tuhan-tuhan bangsa Yunani kuno. Seandainya kita hendak menukilkan hal-hal semacam ini dari buku Al Kafi dan buku-buku terpercaya mereka lainnya, niscaya akan terkumpul satu jilid buku besar. Oleh karenanya, kami akan cukupkan dengan menukilkan beberapa judul bab secara utuh dan dengan apa adanya dari buku Al Kafi, di antaranya judul bab-bab tersebut ialah:
1. Bab: Bahwasanya Para Imam Mengetahui Segala Ilmu Yang Turun Kepada Para Malaikat, Nabi Dan Rasul (Al Kafi jilid 1/255, kitab Al Hujjah).
2. Bab: Bahwasanya Para Imam Mengetahui Kapan Mereka Akan
Meninggal, Dan Bahwasanya Mereka Tidaklah Meninggal Melainkan Atas Kehendak Mereka Sendiri. (Al Kafi jilid 1/258 kitab Al Hujjah).
3. Bab: Bahwasanya Para Imam Mengetahui Perihal Yang Telah Lalu Dan Perihal Yang Akan Datang, Dan Sesungguhnya Tidak Ada Yang Tersembunyi Bagi Mereka Sesuatu Apapun. (Al Kafi jilid 1/260, kitab Al
Hujjah).
4. Bab: Bahwasanya Para Imam Memiliki Seluruh Kitab, Dan Mengetahuinya Dengan Segala Perbedaan Bahasanya. (Al Kafi jilid 1/227, kitab Al Hujjah).
5. Bab: Bahwasanya Tidaklah Ada Orang Yang Pernah Menyatukan Al Quran Secara Utuh Selain Para Imam, Dan Bahwasanya Mereka Mengetahui Seluruh Ilmu Yang Terkandung Dalamnya. (Al Kafi jilid 1/228, kitab Al Hujjah).
6. Bab: Apa-Apa Yang Dimiliki Oleh Para Imam Dari Mukjizat Para Nabi.
(Al Kafi jilid 1/231, kitab Al Hujjah).
7. Bab: Bahwasanya Para Imam Bila Telah Berhasil Berkuasa, Mereka Akan Berhukum Dengan Hukum Nabi Daud (!) Dan Keluarga Daud (!)Dan Mereka Tidak Akan Pernah Meminta Persaksian/Bukti. (Al Kafi, 1/397, kitab Al Hujjah).
8. Bab: Bahwasanya Tidaklah Ada Sedikit pun Kebenaran Yang Ada di
Masyarakat Selain Yang Pernah Diajarkan Oleh Para Imam, Dan Bahwasanya Segala Sesuatu Yang Tidak Diajarkan Oleh Mereka, Maka Itu Adalah Bathil. (Al Kafi 1/399, kitab Al Hujjah).
9. Bab: Bahwasanya Bumi Seluruhnya Adalah Milik Para Imam. (Al Kafi 1/407, kitab Al Hujjah).
Di saat mereka meyakini tentang 12 imam mereka hal-hal yang tidak pernah diakui oleh para imam tersebut, berupa pengetahuan tentang yang gaib, dan bahwasanya kedudukan mereka di atas kedudukan manusia biasa (Bahkan mereka meriwayatkan dari sahabat Ali radhiallahu anhu, bahwasanya ia berkata, Akulah yang telah menjadi tinggi kemudian menundukkan, dan akulah yang menghidupkan dan mematikan, akulah yang pertama dan terakhir, akulah yang nampak dan tersembunyi. Sebagaimana disebutkan dalam buku Al Ikhtishash karya Syeikhul Mufid, sudah barang tentu berbagai sifat ini tidaklah dimiliki oleh selain Allah subhanahu wa Taala. Dan juga seperti ucapan mereka, Sesungguhnya para imam kami memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh para malaikat yang didekatkan, tidak juga nabi yang telah diutus.
Al Khumaini dalam bukunya: Al Hukumah Al Islamiyyah hal 52). Pada saat yang bersamaan sekte Syiah mengingkari segala hal yang telah diwahyukan Allah kepada Nabi Shallallahu alaihi wa Salam dari hal-hal gaib, misalnya perihal penciptaan langit dan bumi, berbagai hal tentang surga dan neraka. Hal ini telah dinyatakan dengan tegas dalam majalah Risalatul Islam yang diterbitkan oleh Lembaga Pendekatan yang berpusatkan di Kairo. Majalah ini memuat pada edisi ke-4, tahun ke-4, hal: 368, buah karya Kepala Mahkamah Syariat Syiah Tertinggi di Lebanon, -seorang figur yang mereka anggap sebagai ulama mereka paling memikat tutur katanya- dengan tema: Sebagian Dari Ijtihad-ijtihad Syiah Imamiyyah. Pada makalah ini, ia menukilkan dari tokoh ahli ijtihad mereka yang bernama Syaikh Muhammad Hasan Al Asytiyani, bahwasanya ia berkata dalam bukunya: Bahrul Fawaid jilid 1, hal: 267: Bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa Salam bila mengabarkan tentang hukum-hukum syariat, maksudnya: seperti hal-hal yang membatalkan wudhu, berbagai hukum haidh dan nifas, maka wajib untuk dipercayai dan diamalkan apa yang ia kabarkan. Dan bila ia mengabarkan tentang hal-hal gaib, misalnya tentang penciptaan langit dan bumi, bidadari dan istana di surga, maka tidak wajib untuk diimani, walaupun setelah kita tahu akan keabsahan hadits tersebut dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa Salam , terlebih-lebih bila keabsahannya masih diragukan!
Ya Allah, amat mengherankan! Mereka berdusta dengan menisbatkan kepada para imam, bahwa mereka dapat mengetahui hal yang gaib, dan mereka beriman dengannya, padahal penisbatan hal tersebut kepada para imam tidak dapat dipastikan keabsahannya, di saat yang sama mereka menghalalkan diri untuk mengingkari berbagai berita tentang hal gaib yang telah terbukti keabsahannya dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa Salam , serta maknanya amat jelas nan tegas, misalnya ayat-ayat dan hadits-hadits shahih tentang penciptaan langit dan bumi, berbagai perihal tentang surga dan neraka. Padahal Rasulullah Shallallahu alaihi wa Salam pada setiap hadits yang terbukti shahih tersebut tidaklah berkata-kata atas dasar hawa nafsunya, hadits itu tiada lain kecuali wahyu yang telah diwahyukan kepadanya.
Setiap orang yang membandingkan antara berbagai hal yang dinisbatkan kepada para imam mereka dengan hadits-hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa Salam yang mengabarkan tentang hal gaib, niscaya akan terbukti baginya bahwa hal-hal gaib yang terbukti benar periwayatannya dari Rasulullah, baik dalam Al Quran atau hadits mutawatir nan shahih tidaklah mencapai sebagian kecil dari hal-hal yang didakwakan oleh sekte Syiah tentang kedua belas imam mereka, berupa ilmu gaib setelah terputusnya wahyu Allah dari penduduk bumi. Dan seluruh perawi hal-hal gaib dari kedua belas imam tersebut telah dikenal di kalangan ulama ahli Al jarh wa tadil (salah satu disiplin ilmu hadits yang membicarakan tentang kredibilitas para periwayat hadits) dari kalangan Ahlusunnah sebagai para pendusta, akan tetapi para pengikut mereka dari kalangan sekte Syiah tidak menggubris akan kenyataan itu, dan tetap mempercayai segala riwayat mereka tentang hal-hal gaib yang dimiliki oleh para imam.
Pada saat yang bersamaan pula majalah Risalatul Islam yang diterbitkan oleh Lembaga Pendekatan memuat tulisan hakim Mahkamah Syariat Tertinggi di Lebanon, sekaligus mujtahid mereka, yaitu Muhammad Hasan Al Asytiyani, yang mempropagandakan dan menyerukan anggapan tidak wajibnya mempercayai Rasulullah Shallallahu alaihi wa Salam dalam hal-hal gaib yang telah sah diriwayatkan darinya. Mereka hendak membatasi tugas kerasulan Muhammad Shallallahu alaihi wa Salam dalam hal-hal yang membatalkan wudhu, hukum haid dan nifas serta berbagai perincian ilmu fikih yang serupa dengannya. Akan tetapi mereka mengangkat martabat imam-imam mereka dalam hal gaib melebihi martabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa Salam , padahal beliaulah yang mendapatkan wahyu, sedangkan para imam mereka tidak pernah mengaku mendapatkan wahyu. Dengan demikian, kami tidak tahu, pendekatan macam apakah yang mungkin dicapai antara kita dengan mereka setelah kita mengetahui fakta ini!
Di antara hal yang dapat kita cermati pada setiap fase sejarah sekte Syiah dan sikap tokoh dan masyarakat umum mereka terhadap pemerintahan Islam, bahwa pemerintahan Islam apa saja, bila dalam keadaan kuat dan kokoh, mereka senantiasa menjilat kepada mereka sebagai penerapan ideologi Taqiyyah guna mengeruk kekayaannya, serta meraih berbagai jabatan. Kemudian bila pemerintah tersebut telah melemah atau diserang oleh musuh, segera mereka berpihak kepada barisan musuh dan melawan pemerintah islam. Demikianlah yang mereka lakukan pada akhir masa dinasti Umawiyyah, tatkala Bani Abbasiyyah mengadakan pemberontakan. Bahkan revolusi Bani Abbasiyyah terjadi berkat bujuk rayu sekte Syiah.
Kemudian mereka juga bersikap keji semacam ini dengan Dinasti Bani
Abbasiyyah, tatkala mereka terancam oleh serangan Holako Khan dan Bangsa Mongolia para penyembah berhala terhadap Khilafah Islam, ibu kota kejayaan, pusat kemajuan serta ilmu pengetahuannya.