MASA LALU TERJATUH KE DALAM SENYUMANMU - 7
Musim semi hanya sekali dalam cinta. Ketika

kemarau mematahkan tangkai-tangkai cuaca.

Kau pandang seekor kumbang tergelincir dari

atas bunga-bunga. Demikian engkau katakan

seseorang tak lebih dari mencintai dirinya sendiri

dan kau lihat burung terbang meninggalkan

sarang mencari makan bagi anak-anaknya.

Daun kering gugur dikibaskan sayap kemarau.

Kutemukan engkau dalam desahnya yang

panjang. Bulan menjaring malam dalam kelam.

Kau cari-carimata inilah yang menciptakan

gelap. Tapi siapa yang telah mengadakan cahaya

Angin mengangkut wewangian ke jantungmu,

tapi kau tak pernah merasakan wangi kecuali nyeri

di dadamu. Pun segala yang tumbuh harus mati

demikian udara tak selamanya menghidupkan.

Kebathilan tak selamanya lahir dari kesalahan.

Nafasmu patah dalam doa, diangkut ribuan

gagak. Tinggal dingin yang terasing dari

kata-kata. Kau sebut nama Tuhanmu pelanpelan.

Kau bisikan cinta dalam setiap rahim

perempuan. Ruh siapa ditiupkan dalam

tubuhmu dan siapa yang telah membunuhnya

kemarin malam. Dzikir siapa menggema

menjelma kunang-kunang di atas batu nisan.

Kau kumpulkan nama-nama yang meranggas

di hatimu. Kau kirim air talkin. Siapa saja yang

telah menaruh wangi. Tak ada kau temukan

kecuali potretmu yang pasi. Kau lupa dirimu,

lalu siapa yang kau sebut dalam setiap dzikirmu

Kau ingat sebelum engkau lahir, siapa yang telah

mengajarkan cinta. Siapa yang telah menaruh

warna dan wangi pada bunga. Tapi setelah turun

ke dunia kau lupa. Kitab siapa yang terlebih dulu

kau baca sedang kau tak tahu lahir sebagai apa.

Bacalah dalam bayangan surat-surat langit.

Pada setiap halaman tubuhmu. Pada setiap

pintu-pintu cahaya. Kelak airmatamu akan

menjelma selaksa kupu-kupu yang lahir dari

bunga-bunga dan terbang menembus arsy.