kemarau mematahkan tangkai-tangkai cuaca.
Kau pandang seekor kumbang tergelincir dari
atas bunga-bunga. Demikian engkau katakan
seseorang tak lebih dari mencintai dirinya sendiri
dan kau lihat burung terbang meninggalkan
sarang mencari makan bagi anak-anaknya.
Daun kering gugur dikibaskan sayap kemarau.
Kutemukan engkau dalam desahnya yang
panjang. Bulan menjaring malam dalam kelam.
Kau cari-carimata inilah yang menciptakan
gelap. Tapi siapa yang telah mengadakan cahaya
Angin mengangkut wewangian ke jantungmu,
tapi kau tak pernah merasakan wangi kecuali nyeri
di dadamu. Pun segala yang tumbuh harus mati
demikian udara tak selamanya menghidupkan.
Kebathilan tak selamanya lahir dari kesalahan.
Nafasmu patah dalam doa, diangkut ribuan
gagak. Tinggal dingin yang terasing dari
kata-kata. Kau sebut nama Tuhanmu pelanpelan.
Kau bisikan cinta dalam setiap rahim
perempuan. Ruh siapa ditiupkan dalam
tubuhmu dan siapa yang telah membunuhnya
kemarin malam. Dzikir siapa menggema
menjelma kunang-kunang di atas batu nisan.
Kau kumpulkan nama-nama yang meranggas
di hatimu. Kau kirim air talkin. Siapa saja yang
telah menaruh wangi. Tak ada kau temukan
kecuali potretmu yang pasi. Kau lupa dirimu,
lalu siapa yang kau sebut dalam setiap dzikirmu
Kau ingat sebelum engkau lahir, siapa yang telah
mengajarkan cinta. Siapa yang telah menaruh
warna dan wangi pada bunga. Tapi setelah turun
ke dunia kau lupa. Kitab siapa yang terlebih dulu
kau baca sedang kau tak tahu lahir sebagai apa.
Bacalah dalam bayangan surat-surat langit.
Pada setiap halaman tubuhmu. Pada setiap
pintu-pintu cahaya. Kelak airmatamu akan
menjelma selaksa kupu-kupu yang lahir dari
bunga-bunga dan terbang menembus arsy.