Dainip Djaja.........Pahlawan Boediman.
Pandoe Setiawan........................Temannja.
Partiwi..Bekerdja diroemah Dainip Djaja.
Nadarlan......Orang kaja jang kedjam.
Priajiwati.........................Bekas toenangan Pandoe Setiawan, dan perempoean Nadarlan.
Doea orang polisi Beberapa orang tetangga
BAGIAN I
(Pandoe Setiawan berperangawakan tinggi lampai, berkoelit sawo matang, sedang berjalan dalam keadaan letih lesoe. Wadjahnja tjakap, tetapi moeram. Mendoeng poetoes asa menjelimoeti moekanja jang poetjat. Sehingga matanja jang tadjam menarik itoe goeram roepanja.
Tiba ditepi djalan jang sepi, berhentilah ia, sambil memegang ramboetnja jang koesoet. Ia tegak dengan kepala terkoelai. Kemoedian perlahan-lahan diangkatnja moekanja sambil mengeloeh menengadah langit dengan roepa jang penoeh doeka. Ia mengangkat keris akan ditikamkannja kedada. Tetapi ketika tangan jang memegang keris itoe akan toeroen, tiba-tiba terdengar boenji sepeda roeboeh, laloe Dainip Djaja sigap setjepat kilat melompat penoeh ketangkasan menangkap tangan Pandoe Setiawan. Pandoe Setiawan sangat terkedjoet, laloe berpaling memandang kepada orang jang tiba-tiba menangkap tangannja itoe dan jang sedang sigap dan gagah dibelakangnja).
Pandoe Setiawan: Siapa toean Lepaskan tangankoe!
Dainip Djaja : Saja Dainip Djaja, akan menolong djiwa
saudara dari perboeatan setjara pengetjoet ini. Mengapa saudara hendak memboenoeh diri (sambil memegang tangan Pandoe erat-erat, karena Pandoe moelai beroesaha oentoek melepaskan tangannja).
Pandoe Setiawan: Siapa toean Lepaskan saja, lepaskan saja toean, lepaskan sadja, berarti toean melepaskan seorang dari penderitaannja didalam doenia, soepaja saja lekas kembali kenegeri kekal jang tenteram.
Dainip Djaja : Sabar saudara, saja tidak akan melepaskan tangan saudara sebeloem sendjata saudara saja singkirkan. Orang sebagai saja tak moengkin melepaskan saudara melenjapkan penderitaan didoenia dengan tjara pengetjoet seperti ini.
Pandoe Setiawan: Siapakah toean Apa perloenja mentjampoeri hal diri saja (seraja menggeliat akan melepaskan tangannja jang merasa sakit
dipegang oleh Dainip Djaja jang berbadan koeat tegap, seperti seorang pendekar jang gagah perkasa roepanja, kemoedian setelah Pandoe Setiawan tiada berdaja lagi boeat melepaskan tangannja dari pegangan Dainip Djaja jang seakan-akan beroerat wadja itoe, laloe lemaslah badannja, sehingga keris terdjatoeh dari genggamannja).
Dainip Djaja : Maafkan saja, saja terpaksa mentjampoeri dan mengalangi perboeatan saudara jang tidak setjara satria ini. Djika saudara beloem kenal siapa saja, biarlah nanti saja toendjoekkan, setelah saudara bertobat soeka mengoeroengkan perboeatan akan memboenoeh diri, jang sangat pengetjoet itoe. Ingatlah saudara, dimanakah sifat djantan saudara, sehingga awak masih semoeda ini, soedah berpoetoes asa hendak melepaskan diri dari penderitaan doenia dengan tjara jang pengetjoet Keris jang hendak saudara tikamkan kedada saudara tadi, lebih baik saudara bawa menjerboe ketengah-tengah barisan moesoeh kitaKalau saudara ternjata tidak takoet mati, tetapi kenapa saudara tidak berani hidoep
Pandoe Setiawan: (toendoek terdiam, roepanja moelai sadar): Saja boekan tidak berani hidoep, tetapi soedah boesan tinggal ditengah masjarakat jang telah penoeh oleh kepalsoean.
Dainip Djaja : (sambil menepoek bahoe Pandoe Setiawan): Bosan kata saudara Bosan karena selaloe diroendoeng oleh kepalsoean
Ach, oetjapan jang seperti ini sering saja dengar dari moeloet orang-orang jang telah kena tipoe daja doenia. Tetapi saudara, ingatlah, ini hanja oetjapan jang menoendjoekkan kelemahan semata-mata. Sedang kelemahan itoe pangkal keroentoehan. Sajang benar, sifat saudara jang tadi tidak takoet mati, tetapi roepanja keberanian jang akan saudara lakoekan itoe boekan keberanian seorang ksatria, sebaliknja mendjadi perboetan pengetjoet. Tjoba saduara terangkan sekarang, apa jang mendorong saudara, hendak melakoekan perboeatan pengetjoet itoe
Pandoe Setiawan: (dengan bata-bata, maloe memboekakan rahasianja) Karenap e r e m p o e a n
Dainip Djaja : Karena perempoean Karena dia doerhaka atau chianat kepada saudara
Pandoe Setiawan: Karena dia telah berdjandji setia dan telah mendjadi toenangan saja, tapi tibatiba sepeninggal saja, dia lari kepada lakilaki lain jang kaja.
Dainip Djaja : O, karena hal jang seketjil itoe, sebenarnja saudara beloem boleh berpoetoes asa. Koerangkah perempoean didoenia ini Kalau ternjata dia tidak setia pada saudara, perloe apa masih disajangi lagi Djadi saudara hendak berkoerban oentoek membela si tjoerang dan si pengchianat Ah, djanganlah saudara tertipoe oleh daja iblis, jang menjoeroeh saudara berani setjara itoe. Kalau saudara berani mati setjara satria,
itoelah keberanian jang berharga namanja. Apalagi zaman sekarang sangat memboetoehkan ksatria-ksatria jang berani mati oentoek membela keadilan dan kebenaran, boekan berani mati boeat membela ketjoerangan, pengchianatan dan penindasan. Sajangilah djiwa saudara. Sifat saudara jang tidak takoet mati itoe, baik digoenakan boeat madjoe kemedan perdjoeangan goena menghantjoerkan moesoeh kita kaoem penindas dan pengchianat itoe. Marilah saudara bersama saja, kita pergoenakan keberanian boeat membela keadilan dan kebenaran, boeat menoedjoe kepada kemakmoeran bersama, siapakah nama
saudara
Pandoe Setiawan: Nama saja Pandoe Setiawan.
Dainip Djaja : Saudara Pandoe, saudara mesti hidoep teroes mendjadi pandoe masjarakat. Marilah saudara sehidoep semati bersama saja. Ingatlah saudara Pandoe, bahwa hidoep artinja berdjoeang. Dan njala pelita kehidoepan tidak boleh dipadamkan, haroes dinjalakan teroes. Boeat mematikan njala kehidoepan, kita serahkan kepada Jang Mahakoeasa. Kewadjiban manoesia ialah senantiasa memberi minjak, agar pelita hidoep selaloe bernjala teroes, sehingga habis soemboenja.
Pandoe Setiawan: (dengan keinsjafan jang moelia meresap): Saudara Dainip Djaja.saja
sekarang moelai sadar. Tadi saja seakan-
akan diroendoeng kegelapan jang tiada terhingga, tapi sekarang saja merasa telah keloear kedoenia jang terang benderang, seperti sinar Matahari Terbit telah memasoeki ketjelah-tjelah hati saja. Saja oetjapkan beriboe-riboe terima kasih pada saudara jang telah menolong saja dan menjinarkan tjahaja keinsjafan kedalam diri saja. Saudara sekarang saja anggap seperti saudara toea jang telah menolong badan dan njawa jang akan binasa, menghidoepkan kembali njala hajat saja jang akan padam. Alangkah besar djasa jang telah saudara limpahkan kepada saja.
Dainip Djaja : Berterima kasihlah saudara kepada Jang Mahakoeasa, sebab dialah jang telah mengirim sinar Matahari Terbit boeat menerangi tjelah-tjelah hati saudara jang tadinja diroendoeng gelap goelita jang ganas. Dia poela jang telah mengirim saja pada saat jang tepat oentoek mentjegah saudara mengerdjakan perboeatan sesat dan pengetjoet. Dan sekarang hingga seteroesnja marilah saudara dans aja, kita bersama berdjoeang melandjoetkan njala kehidoepan, dibawah siraman sinar Matahari Terbit, diwaktoe pagi zaman pembangoenan doenia baroe jang sedang hebat ini.
( L a j a r t o e r o e n )
BAGIAN II
(Roeang tengah didalam roemah tempat kediaman Dainip Djaja dan Pandoe Setiawan. Ditengah roeang sedikit kebelakang, terletak medja doedoek ketjil dengan empat boeah kerasi model pendek dan lebar. Medja serta kerosinja itoe sedikit miring letaknja, sehingga jang terletak didepan sekali tiadalah membelakangi penonton.
Dikerosi sebelah kanan doedoeklah Dainip Djaja jang baroe selesai berpakaian: hanja tinggal mengikat tali sepatoenja sadja lagi. Dihadapannja terletak seboeah tas tempat pakaian. Setelah ia selesai mengikat tali sepatoe, diangkatnja moekanja memandang kepintoe roeang djalan kedalam). Dainip Djaja : (berseroe) Wi.
Baboe Partiwi : (menjahoet dari dalam) Saja toean! (Sebentar kemoedian moentjoel dipintoe, teroes menghadap madjikannja jang masih doedoek dikerosi).
Dainip Djaja : Tiwi, hari ini akoe hendak pergi ke Djakarta, boeat keperloean dagang. Kalau tidak ada alngan apa-apa, barangkali akoe akan teroes poelang sebentar kenegerikoe, karena ada sesoeatoe hal jang penting. Sekarang akoe pesankan kepadamoe, sepeninggalkoe nanti, hendaklah engkau djaga roemah ini baik-baik, engkau peliharalah saudara Pandoe Setiawan sebagaimana mestnja. Saudara Pandoe masih lemah kelihatan. Ia perloe orang jang mengawas-awasinja. Koepertjajakan kewajiban ini kepadamoe.
Baboe Partiwi : Baik toean. Keopertjajaan toean mendjadi kewadjiban saja. (Dainip Djaja keloear. Sebentar kemoedian Pandoe Setiawan moentjoel, masoek dari kamar sebelah.
Partiwi telah keloear lebih dahoeloe).
Pandoe Setiawan: Partiwi! (soenji sebentar, tidak ada orang menjahoet).
Pandoe Setiawan: Partiwi.
Partiwi : (dari sebelah) Saja toean.
Pandoe Setiawan: Dari mana engkau
Partiwi : (goegoep) Dari belakang, toean.
Pandoe Setiawan: Moekamoe seperti orang takoet. Engkau
takoet padakoe Tiwi. Karena saudara
Djaja tidak ada lagi.
Partiwi : Boekan toean, tapi
Pandoe : Tapi apa, Tiwitak oesah kau takoet
Partiwi : Ada jang hendak saja katakan kepada toean, soedah lama hendak saja tjeritakan, tapi
Pandoe : Tjeritakanlah sekarang
Partiwi : Kepada toean Djaja hendak saja tjeritakan, tetapi saja segan
Pandoe : Kepadakoe kau segan djoega, Tiwi
Partiwi : (diam sedjoeroes).
Pandoe : Nah, apa, Tiwitak oesah kau segansegan(sambil tersejoem) apa jang kau semboenjikan dibelakang itoe
Partiwi : (lantang) Perempoean!
Pandoe : (tertjengang) Hai perepoean! (mengerti) Saudaramoe, soeroeh sadja tinggal disini, akoe pertjaja saudara Djaja tak
Partiwi : Boekan saudara saja toean!
Pandoe : Barangkali keponakanmoe, iboemoe.
Partiwi : Tidak toean, seorang perempoean.
seorang perempoean jang hampir tersesat ketempat jang hina.
Pandoe : Kaumaksoed perempoean.
Partiwi : Beloem toean Pandoe, pertjajalah kepada saja, beloem.
Pandoe : Lantas (agak heran bertjampoer marah)
boeat apa dia kau semboenji-
semboenjikan disini.
Partiwi : Itoelah sebabnja tak lebih doeloe saja tjeritakan, saja takoet toean akan salah tampa. Tapi pertjajalah toean Pandoe, perempoean ini seorang jang baik-baik.
Pandoe : Ooh, perempoean jang baik-baik ditempat
Partiwi : (seperti tak mengatjoehkan, tambah lama, tambah bernafsoe) Ia tergoda, toean, oleh seorang laki-laki jang djahanam, seorang laki-laki jang hendak mengetjap manis sadja. Habis manis sepah diboeang.
Pandoe : (tersenjoem memandang Partiwi, terikat matanja seolah-olah tak memperhatikan kata perempoean itoe).
Partiwi : Laki-laki mata keradjang! Moela-moela
perempoean itoe diperdajakanja, kemoedian ditinggalkannja, sedangkan dia kawin lagi dengan seorang perempoean Jahoedi (memandang kepada Pandoe, gelisah, maloe, menekoer).
Pandoe : Teroeskanlah!
Partiwi : (Agak lemah sedikit) Kasihan toean Pandoe, dia tidak bersalah! ia tak ada berkaoemkerabat disini, sebatang kara, kepada siapa ia mesti minta tolong. Kebetoelan saja bertemoe dengannja, letih, lesoe, berhari-hari menderita lapar, ditepi djalan tengah diboedjoek oleh seorang germo.
Pandoe : (terharoe) Dan kau bawa ia kemari Telah berapa hari kausemboenjikan
Partiwi : Telah seminggoe toean!
Pandoe : Astaga, dimana ia sekarang
Partiwi : Dibelakang, dikamar saja
Pandoe : Bawalah kemari!
Partiwi : Boleh toean Pandoe.toean tak marah Dia boleh tinggal disini
Pandoe : (tersenjoem, melihat Partiwi lari tergopohgopoh kebelakang)
Partiwi : (masoek lagi) Toean inilah dia.
Pandoe : Ja, soeroehlah dia masoek! (Partiwi keloear, sebentar antaranja dia kembali lagi membawa masoek Prijajiwati).
Pandoe : (terkedjoet amat sangat demi dilihatnja peempoean itoe) Prijajiwati.
Prijajiwati : (lebih terperandjat, laloe mendjerit) Pandoe!
Partiwi : (tertjengang-tjengang melihat kedoeanja) (tenang kembali).
Pandoe : Benarlah akoe Pandoe Setiawan, telah lama kita tak berdjoempa Wati, mengapa engkau (terkedjoet mendengar djerit
Prijajiwati).
Prijajiwati : (moekanja penoeh ketakoetan, ditoetoepinja dengan kedoea belah tangannja seperti berhadapan dengan seseorang jang sangat ditakoetinja, laloe roeboeh, pingsan).
Partiwi : (terkedjoet melihat Prijajiwati roeboeh, roepanja penoeh ketjemasan).
Pandoe : (djoega roepanja ketjemasan melihat
Prijajiwati pingsan, kemoedian laloe memboengkoek akan membangoenkannja).
Partiwi : (masih tegak kebingoengan dan ketjemasan).
Pandoe : (memandang kepada Partiwi) Partiwi.
Marilah doeloe tolong perempoean ini,
kita angkat keatas divan. (laloe Partiwi mengangkat kepala Prijajiwati dan Pandoe mengangkat bagian kakinja, dibawa mereka masoek kedalam).
Pandoe : (keloear lagi, seraja menggeleng-gelengkan kepala, tidak berkata, sambil berdjalan bolakbalik menoendoekkan moeka).
Partiwi : (masoek) Toean, mbakjoe Partiwi roepanja soedah sioeman.
Pandoe : (memandang kemoeka Partiwi) Apa katanja
Partiwi : Tidak berkata apa-apa. Dia hanja menangis (terdiam sebentar memandang kemoeka Pandoe dengan penoeh pertanjaan).
Pandoe : (memandang Partiwi) Engkau heran Tiwi, kau ingin tahoe
Partiwi : Tidak toean, saja tak ingin
Pandoe : (tersenjoem) Tetapi moekamoe bertanja.
Tiwi (diam sedjoeroes) Pernahkah engkau bertjinta, Tiwi, mengasihi seseorang dengan sepenoeh-penoeh kasih
Partiwi : (diam kemaloe-maloean).
Pandoe : Engaku kira seseorang itoe tjinta poela
kepadamoe, setia kepadamoe,tetapi ternjata dia hanja mempermain-mainkan perasaanmoe
Partiwi : (gelisah) Mohon saja kedapoer toean!
Pandoe : Toenggoelah doeloe Tiwi, tak oesah kau maloe. Barangkali tjerita seperti ini beloem pernah menjintoeh hatimoe jang soetji itoePernah akoe membanting toelang oentoek tjintakoe, Tiwi, akoe memeras keringat, djaoeh akoe merantau oentoek Prijajiwati, ja, oentoek Prijajiwati,
tak oesah engkau heran! Prijajiwati, djaoeh nama itoe bagikoe sekarang, seolah-olah mati dalam hatikoe. Tetapi bertahoen-tahoen jang lampau adalah kami doea orang sekampoeng, sekerabat. Kami boeat perdjandjian ikatan djiwa kami oentoek hidoep kelak menentang masa. Bagikoe perdjandjian itoe berarti soeatoe jang soetji, akoe djoendjoeng tinggi, tetapi baginja perdjandjian hanja dimoeloet sadja, dapat dirobekrobek semaoe-maoenja. Ditjariknja karena teperdaja oleh mata, maat jang ditoedjoekan kepada harta doenia. Loepa segala jang soetji karena hendak tinggi dimata orang, karena hendak bersoeamikan seorang toean, seorang jang bermoeka doea, bermata kerandjang. (tertawa sendiri seakan-akan hendak meloepakan sesoeatoe jang pahit). Itoelah Prijajiwati, Tiwi, meninggalkan keaslian, kesoetjian, mengedjar ketinggian, kedoeniaan, achirnjaMengapa engaku terdiam, Tiwi, engkau telah menolongnja dari lembah kedoerdjanaan, Prijajiwati seorang berbangsa telah beroetang boedi kepadamoe, seorang baboeseorang jang
soetji hatinja, tinggi boedinja
Partiwi : Seorang poen tak akan beroetang boedi
kepada saja toean. Mengerdjakan kewadjiban tak meminta balasan, boekan berarti memberikan pindjaman, soepaja nanti dapat ditagih kembali. Prijajiwati telah berdosa, tetapi ia telah tobat
sekarang. Kewadjiban bagi manoesia oentoek memberi manoesia jang lain kesempatan oentoek hidoep seperti manoesia.
Pandoe : Sebetoelnja akoe heran Tiwi, kau dapat berkata begitoe. Menjatakan pikiran sematjam itoe, tjoema orang jang berpeladjaran. Tetapi engkau, soenggoeh engkau terketjoeali, Tiwi, Entah apa...
Partiwi : (menekoer kemaloe-maloean).
Pandoe : (memandangnja, kasih bertjampoer sajang).
(Lajar toeroen).
BAGIAN III
(Roeang tengah seperti jang dibahagian ke II.
Pandoe Setiawan berpakaian pantolan, boeka badjoe, doedoek dikerosi membatja soerat kabar. Sebentar kemoedian masoek Dainip Djaja mendjindjing tas pakaian. Ia baroe poelang dari bepergian. Pandoe Setiawan terperandjat melihat Dainip Djaja tiba dengan sekonjong-konjong itoe).
Pandoe Setiawan: Hai, selekas itoe saudara kembali
(Sambil berbangkit dari kerosi mendapatkan Dainip Djaja jang tegak dengan tersenjoem gembira memandang kemoeka Pandoe).
Dainip Djaja : Tak ingin akoe kembali selekas itoe (tersenjoem).
Pandoe Setiawan: Selamat datang sahabatkoe! (sambil menggoentjang tangan Djaja) Selamat sadja engkau dalam perdjalanan
Dainip Djaja : Selamat, dan engkau dengan Partiwi Pandoe Setiawan: Poen kami tiada koerang soeatoe apa. Sebenarnja agak lama saudara bepergian sekali ini! Barangkali djadi teroes menjari teroes menjambangi keloearga sekali.
Pandoe Setiawan: (membawa tas pakaian Dainip Djaja masoek kedalam kemoedian keloear poela doedoek dikerosi) Bagaimana keadaan keloearga saudara
Dainip Djaja : Dalam keadaan selamat sadja. (berbangkit poela dari kerosi). Akoe akan berganti pakaian dahoeloe. (masoek kedalam. Kemoedian keloear poela, memakai badjoe kemedja sadja) Akoe mendapat tawaran.boeat tolan hidoep oleh keloearga. (dengan senjoem memandang kemoeka Pandoe).
Pandoe Setiawan: Soeatoe tawaran jang berharga. (dengan senjoem bangi keloearga
Dainip Djaja : (sambil menarik kerosi, laloe doedoek) Benar,
akoe gembira) Djadi soedah saudara terima
Dainip Djaja : (doedoek dikerosi kembali) Beloem koeteri-
ma dan beloem poela koetolak: masih memikir-mikir.
Pandoe Setiawan: Mengapa tidak teroes diterima sadja Boekankah soedah sampai djoega masanja.!
Dainip Djaja : Akan menerima perkara gampang, kita soedah mendapat tawaran, tinggal mengiakannja sadja lagi. Tetapi djangan tergesa-gesa. Dibawa berpikir-pikir dahoeloe..
Pandoe Setiawan: Apa lagi jang saudara pikirkan
Dainip Djaja : Banjak.. (terdiam, sedjenak kemoedian):
Rentjanakoe beloem sempoerna benar. Diantaranja akan mempersatoekan engkau dahoeloe
Pandoe Setiawan: (agak terkedjoet berpikir): Mempersiapkan akoe
Dainip Djaja : Tak oesah kau terkedjoet, kalau tak maoe.
Pandoe Setiawan: (agak mengerti): Saudara jang menjoeroeh membawanja kemari. Saudara pakai Partiwi oentoek perkakas, kemoedian saudara pergi!
Dainip Djaja : (heran): Hai, hai, apa ini, siapa jang koesoeroeh bawa kemari
Pandoe Setiawan: Siapa lagi, saudara sangka akoe masih tjinta kepadanja, masih merindoekan dia Saudara hendak menolong
Dainip Djaja : Astaga, apa maksoedmoe, kau tjinta
kepada siapa, siapa jang hendak
koetolong
Pandoe Setiawan: Akoe!
Dainip Djaja : Engkau Dan siapa Pandoe Setiawan: Dan Prijajiwati.
Dainip Djaja : Ah, itoe Tak oesah kau seboet-seboet djoega lagi, boekankah kita sekarang soedah bersaudara, teman sedagang
Pandoe Setiawan: (heran): Benarkahs audara tak tahoe, ah,
alangkah salah tampanja saja. (tertawa gelak).
Dainip Djaja : Pandoe, apa akoe jang tak tahoe Pandoe Setiawan: Prijajiwati ada disini.
Dainip Djaja : Diroemah ini!
Pandoe Setiawan: Ja, diroemah ini. Dibawa oleh Partiwi kemari. Ah, pandjang tjeritanja.
Dainip Djaja : Dan sekarang saudara telah senang Poetjoek ditjinta oelam tiba! Pandoe Setiawan: (tertawa): Senang, tentoe akoe senang. Akoe telah mendapat moetiara jang selama ini koetjari kian kemari, kiranja hampir benar dekatkoe.
Dainip Djaja : Prijajiwati
Pandoe Setiawan : Ah, saudara, loepakan Prijajiwati.
Dainip Djaja : (heran).
Pandoe Setiawan: Loepakan jang silam, toedjoekan tjitatjita kemasa jang akan datang!
Dainip Djaja : Apa maksoed saudara
Pandoe Setiawan : Partiwi
Dainip Djaja : (tertjengang): Baboe diroemah kita ini Partiwi
Pandoe Setiawan: Ja(hening sedjoeroes) Kenapa saudara tertjengang Kagetkah saudara (soenji poela sebentar, Dainip Djaja menengadah keatas loteng) Haapa sangkakoe, saudara tentoe tetjengang bila mendengar nama orang jang koepilih itoe. Sekarang tentoe saudara edjekkan pilihan saja
Dainip Djaja : (sambil menatap kemoeka Pandoe): Tidak, akoe tidak mengedjek pilihanmoe itoe. Akoe hanja heran sedikit mendengar pilihan saudara jang tidak koesangka-
sangka itoe
Pandoe Setiawan: Salahkah pilihan saja
Dainip Djaja : Saja tidak mengatakan salah. Saja hanja beloem mengertikenapa saudara sampai memilih baboe pelajan saudara sendiri Tidak dapatkah lagi saudara memilih jang lain Kedoedoekan saudara disini sebagai orang kepertjajaan saja, mendjadi penanggoeng djawab dalam toko kepoenjaan saja jang terpandang baik, - tiadakah saudara merasa tjanggoeng sebagai seorang madjikan moeda, memilih baboe pelajan diroemah sendiri boeat didjadikan njonja roemah
Pandoe Setiawan: Apa salahnja seorang sebagai saja akan beristri baboe sendiri Boekankah baboe itoe orang djoega Manoesia jang berdarah berdaging seperti perempoean lain djoega
Dainip Djaja : Barangkali boeat dirimoe sendiri tidak merasa salah beristerikan baboe. Tetapi dalam soal ini, djanganlah saudara hanja mementingkan perseorangan diri saudara sendiri, djangan saudara loepakan mereka jang berdiri dikiri kanan saudara, misalnja kaoem keloearga saudara. Boekankah kaoem kerabat saudara orang dari negeri beradat Keloeargamoe masih tegoeh memegang adat, moengkinkah dibiarkannja begitoe sadja anak kemenakannja beristeri seorang baboe, seakan-akan saudara soedah tidak lakoe lagi terhadap perempoean lain jang lebih pantas kedoedoekannja
Pandoe Setiawan: Timbangan saudara itoe barangkali benar, kalau baboe jang koepilih itoe hanja seorang baboe biasa jang banjak bergelandangan didjalan raja. Tetapi baboe Partiwitiada tampakkah oleh saudara akan kelebihan baboe kita itoe dari baboe kebanjakan Saja jakin dia seorang baboe jang memang lain dari jang lain. Dan saja akan memboektikan kebenaran kejakinan saja ini, . kalau nanti oempamanja kedjadian dia akan mendjadi toelan hidoep saja. Akan saja toendjoekkan kemata mereka jang
tadinja hanja memandang dirinja sebagai baboe biasa. Akan saja perlihatkan kepada oemoem baboe hanja nama pekerdjaan dalam masjarakat, sama djoega seperti: saudagar, nama pekerdjaan orang jang berniaga
djoeroetoelis, nama pekerdjaan orang jang bekerdja dikantor-kantor, tani, nama pekerdjaan orang jang dilapangan pertanian, dan sebagainja. Tetapi kemanoesiaan seseorang, dapatkah dioekoer dengan nama pekerdjaan itoe Atau beberapa nama pekerdjaan jang menterang-menterang boenjinja, seperti: saudagar, djoeroetoelis, toean paberik dsb. Itoe bolehkah didjadikan djaminan boeat mengoekoer kemanoesiaan
seseorang
Dainip Djaja : Djadi Partiwi, bagaimana dengan Prijajiwati.
Pandoe Setiawan: Prijajiwati adalah masa jang silam bagikoe, saudara, sebagaimana sebagian dari hidoepkoe jang telah koepotong, koelemparkan djaoeh-djaoeh. Boekanlah karena akoe bentji kepada Prijajiwati, djaoeh dari itoe. Hanjalah baginja tak ada tempat lagi dalam hidoepkoe.
Dainip Djaja : Betoel tak ada dendammoe kepadanja
atau kepada soeaminja, ah, siapa namanja gerangan
Pandoe Setiawan: Nadarlan Tidak saudara, kalau ia berdosa nistjaja akan mendapat hoekoemannja djoega.
Dainip Djaja : Memanglah djikalau seorang dilamoen
tjinta(sambil tersenjoem-senjoem seperti
dengan bergoerau) Ja, walaupoen baik hatinja, walaupoen tinggi boedinja, - tetapi orang-orang disini jang telah kenal kepadanja sebagai kita, tetap memandangnja sebagai baboe djoea.
Pandoe Setiawan: Perdoeli apa saja terhadap orang-orang loear itoe Disini jang perloe saja mintai pertimbangan hanja saudara seorang sebagai saudara toea saja, ganti orang toea sendiri. Kalau saudara soedah mengizinkan, saja tidak perloe memandang orang-orang loear itoe.
Dainip Djaja : Saja tak keberatan mengizinkan saudara akan mengambil Partiwi. Hanja sedikit saja merasa koeatir, kalau-kalau pilihamoe itoe akan menjebabkan saudara tjerai berai dengan keloearga dinegerimoe. Ini sadja jang saja takoetkan. Sebab nama baboe pada pendengaran telinga orang beradat dinegerimoe, tentoe tidak enak
Pandoe Setiawan: Perkara terhadap keloeargakoe dinegeri kami jang berbenteng adat, nanti tentoe ada sadja djalan bagikoe soepaja Partiwi diterima mereka sebagai isterikoe jang berharga. Misalnja, nanti Partiwi koebawa poelang sebentar keroemah orang toeakoe, akan koekatakan isterikoe anak kaoem prijaji ditanah Djawa, dan akan koeberi dia gelaran Raden Adjeng Partiwi, oempamanja, tentoe mereka akan pertjaja, tentoe karibkoe tidak nanti menjangka, bahwa dia tadinja hanja bekas baboe kita
Dainip Djaja Hmsaudara kira gampang akan
mengaboei mata kaoem kerabatmoe itoe Djangan ngelamoen, saudarakoe. Barangkali nama Partiwi boleh ditambah boemboe Raden Adjeng dsb., tetapi ini hanja boeat sementaraBagaimana nanti kalau rahasia telah terboeka Bahwa isterimoe hanja bekas baboe pelajanmoe Boekankah orang-orang dari negerimoe banjak jang berdagang disini, dan diantara mereka itoe ada jang telah kenal kepada Partiwi Mereka itoelah nanti jang akan memboeka topeng Partiwi
Pandoe Setiawan: (roepanja tidak maloe-maloe lagi): Ja, bagai-
mana kalau hati soedah (laloe tersenjoem).
Dainip Djaja : (dengan mata terboeka lebar memandang
kemoeka Pandoe): Soedah soedah soedah, soedahlah, akoe soedah mengerti, roepanja hatimoe sedang panas dibakar tjinta... (laloe bangkit dari kerosi).
BAGIAN IV
(Keadaan diroeang tengah seperti pada babak ke III, kelihatan Prijajiwati doedoek dikerosi, sedang menjoelam. Kemoedian datang Partiwi mendjindjing kamboet, kelihatan hendak pergi membelibeli).
Prijajiwati : Hendak kemana dik Tiwi
Partiwi : Kepasar mbakjoe. Bagaimanakah mbakjoe hari ini
Prijajiwati : Telah merasa koeat badankoe berkat pemeliharaan dik Tiwi.
Partiwi : Ah boekan, tetapi karena mbakjoe sendiri, karena mbakjoe ingin semboeh kembali.
Prijajiwati : Dik Tiwi, banjak akoe beroetang boedi kepada adik, tetapi tak kan terbajar dengan oeang, karena memang tak ada harta doenia dapat membajarnja.
Partiwi : Ah, mbakjoe berlebih-lebihan benar (hendak teroes).
Prijajiwati : Toenggoe doeloe, dik. (Partiwi tertegoen, memandang Prijajiwati). Doedoeklah doeloe bertjakap-tjakap, takkan lari goenoeng dikedjar.
Partiwi : Tapi pasar
Prijajiwati : Pasar djoega takkan lari, doedoeklah
doeloe, banjak jang hendak koebitjarakan.
Partiwi : Sebentar sadja, ja, mbakjoe.
Prijajiwati : Dik Tiwi, banjak jang telah dik lihat padakoe, banjak pertanjaan jang timboel dalam hati adik. Tak oesah dik sangkal lagi.
Partiwi : Saja tak ada bertanja apa-apa mbakjoe.
Prijajiwati : Tapi akoe berkewadjiban membalas boedimoe dengan penerangan, banjak jang mesti koedjelaskan, tapi berat bagikoe.
Partiwi : Djikalau berat, tak oesah mbakjoe, mbak-
joe tak ada berkewadjiban apa-apa terhadap saja.
Prijajiwati : Dengarlah, Tiwi. Akoe kaudapati ditepi djalan, kaubawa akoe kemari setjara sembunji, disini akoe berdjoempa dengan seorang laki-laki, akoe djatoeh pingsan. Boekankah semoea itoe mengandoeng pertanjaan belaka
Partiwi : Saja mengerti, mbakjoe.
Prijajiwati : Mengerti apa, Tiwi
Partiwi Mengerti apa jang mbakjoe rasakan doeloe dan sekarang.
Prijajiwati : (hening sedjoeroes): Memanglah adik seorang perempoean jang aneh, Partiwi! Engaku sendiri bagikoe soeatoe pertanjaan, tetapi padamoe satoe hal ang djelas benar bagikoe.
Partiwi : (tersenjoem): Mbakjoe bermain-main.
Prijajiwati : Akoe tak bermata didalam sakoe, Tiwi! Akoe dapat djoega merasa, mendengar, melihat!
Partiwi : Apa jang mbakjoe lihat
Prijajiwati : Pandoe Setiawan.
Partiwi : (agak terkedjoet): Mbakjoe masih
Prijajiwati : Masih tjinta, memang Tiwi, tetapi akoe
tak berhak. Takkan koesangkal, perasaankoe masih bergoentjang memandang Pandoe, tetapi akoe telah berdjoedi, Tiwi! Akoe berdjoedi, tjintakoe sebagai taroehan dan akoe kalah. Telah koeboeangkan tjinta jang soetji, tak koeambil dan koesimpan didalam dada, melainkan koeabaikan. Akoe tak berhak,
Tiwi! Tetapi engkau moeda
Partiwi : Saja, mbakjoe
Prijajiwati : Tak oesah adik semboenji-semboenjikan poela lagi. Gerak gerikmoe memperlihatkan jang adik simpan didalam peti besi adik, dada adik.
Partiwi : Apa maksoed mbakjoe
Prijajiwati : Pandoe Setiawan.
Partiwi : (hening, menekoer).
Prijajiwati : Tak oesah kau maloe, Tiwi! Pernah akoe maloe mentjintai seorang jang miskin,
tetapi sekarang akoe insjaf tjinta jang soetji tak mengenal maloe.
Partiwi : (memandang kepada Prijajiwati dengan air mata berlinang).
Prijajiwati : Marilah dik, marilah dekatkoe, bagimoe
tak ada soeami jang lebih baik!
(mengoeloerkan tangannja).
Partiwi : Mbakjoe berolok-olok!
Prijajiwati : Pandanglah moekakoe, dik. Kelihatan-
kah akoe seperti berolok-olok Terimalah koernia Toehan itoe sebagai tanda bahwa hatimoe soetji, dik Tiwi. Sekarang pergilah kepasar membelibeli. Barangkali boeat penghabisan kali bagimoe, mendjadi baboe.
Partiwi : (kemaloe-maloean): Permisi, mbakjoe.
(keloear).
(Prijajiwati kembali lagi menjoelam, air moekanja djernih!
Dari loear tiba-tiba terdengar boenji pintoe diketoek orang).
Prijajiwati : (berdiri): Siapa diloear
(Terdengar orang mendjawab dari loear): Saja. (laloe moentjoellah dipintoe seorang laki-laki jang berpakaian djembel, seperti pendjoedi dan pemaboek,tegak memandang kemoeka
Prijajiwati).
Prijajiwati : (terperandjat): Nadarlan! (sambil oendoer selangkah. Tapi kemoedian tegak poela seperti menentang) Engkau datang kemari (roepanja moelai timboel berangnja melihat bekas soeaminja jang doerdjana itoe) Njahlah! Akoe tak soedi melihat moekamoe! Djangan. Akoe telah moelai merasa damai disini. Sekarang engkau datang lagi mengganggoe hidoepkoe
Nadarlan : (tegak dengan sikap minta dikasihani): Wati,
engkau oesir akoe, Nadarlan, soeamimoe
Prijajiwati (dengan semakin berang): Laki-laki jang terkoetoek, soeami jang berhati iblis!
Nadarlan : Oh, Wati, isterikoe, akoe telah berpajahpajah mentjarimoe. Setelah sampai disini, tiba-tiba engkau oesir akoe Oh, Wati, isterikoe, ingatlah, akoe masih tetap soeamimoe.
Prijajiwati : Barangkali menoeroet oendang-oendang akoe masih isterimoe, tetapi disini, didalam dadakoe engkau haram bagikoe. Pergi kepada isterimoe Belanda Jahoedi jang manis itoe! Apa perloenja lagi engkau datang kepadakoe, akoe telah engkau boeang, engkau lemparkan seperti sampah!
Nadarlan : (beriba-iba): Wati, dengarlah koeterangkan: Isterikoe Belanda Jahoedi itoe telah koetjeraikan. Dia soedah lari meninggalkankoe. Dia perempoean palsoe. Dia hanja berlaki oeangkoe. Setelah oeangkoe habis pergilah ia mentajri laki-laki lain jang masih kaja, akan didjadikan koerban poela
Prijajiwati : Engkaupoen dahoeloe begitoe djoega memperboeat dirikoe: Engkau tinggalkan akoe sebatang kara dinegeri orang, sehingga hampir akoe binasa. Dan sekarang, setelah engkau ditinggalkan oleh bini moedamoe itoe, engkau datang lagi kepadakoe Engkau jang telah berlakoe pengetjoet dan kedajm, - lari dari kewadjiban sebagais eorang soeami terhadap isteri jang haroes engkau lindoengi, - tiba-tiba engkau maoe kembali
lagi ekapdakoe Tidakkah kau bermaloe! Pergilah Nadarlan! Akoe soedah tahoe kepalsoeanmoe, pengetjoet, boeas. Akoe tidak soedi lagi memandang sebelah mata kepadamoe. Engkau lemparkan akoe sebatang kara dinegeri orang, sehingga hampir akoe terdjeroemoes kedjoerang kehinaan, sebab tak dapat lagi menahan kesengsaraan. Semoeanja akibat kebinatanganmoe, karena perboeatan
iblismoe jang terkoetoek!
Nadarlan : Wati, oh Wati, akoe akoei kesalahankoe itoe. Dan inilah perloenja akoe datang sekarang kepadamoe, Wati, akoe datang ini oentoek meminta ampoen, agar engkau bersihkan dosakoe terhadap dirimoe. Ketahoeilah, Wati, didoenia hanja engkau seorang jang dapat membasoeh dosakoe, oentoek menjoetjikan kehidoepankoe jang telah tersesat. O, Wati, akoe datang sekarang karena dipanggil oleh panggilan soetji
Prijajiwati : Bohong! Omong kosong! Engkau datang karena dipanggil oleh nafsoe penindas jang bersarang dihari iblismoe. Siapa jang soedi menerima kedatangan si penindas jang boeas Hanja binatang sadja jang maoe ditindas beroelang-oelang! Kalau orang masih bernama manoesia, tidak soedi ditindas doea kali. Tjoekoep soedah akoe menderita dibawah tindasanmoe. Dahoeloe engkau dengan moeloet manis mengakoe dirimoe teman pelindoeng. Kemoedian oleh kepengetjoetanmoe,
engkau berbalik mendjadi moesoeh. Demikianlah seteroesnja engkau koepandang moesoeh boeat selamalamanja.
Nadarlan : Wati, akoe datang ini akan menghabiskan permoesoehan itoe. Akoe tidak akan menindas lagi kepadamoe. Pertjajalah Wati, akoe datang sekarang ini ialah dipanggil oleh panggilan soetji, akoe ingin mendjadi orang baik-baik, akan mendjadi manoesia jang soetji. Akoe ingin akan mendjalankan kesoetjian, dan akan meninggalkan kehidoepan jang berloemoer dosa. Wati, akoe datang dipanggil oleh panggilan soetji, ialah kesoetjianmoe. Akoe ingin mendjadi soetji bersih seperti engkau sekarang.
Prijajiwati : Orang jang soedah roesak boedi seperti engkau, tidak moengkin mendjadi orang baik-baik lagi.
Nadarlan : Tidak, Wati, sesoenggoehnjalah akoe ingin kembali kedoenia orang baik-baik, asal sadja engkau soeka mengampoeni segala dosakoe. Akoe akan bertobat, akan koetinggalkan doenia badjingan. Akoe ingin kembali kedoenia kesoetjian, dengan melaloei pintoe hati beals kasihanmoe.
Wati, djika engkau sekarang tidak soeka mengampoeni dosakoe, nistjaja akoe akan berpoetoes asa oentoek mendjadi orang baik-baik. Terpaksa akoe kembali kedalam doenia pendjahat, - awaslah, pasti dirikoe akan makin bertambah djahat, makin bertambah boeas!
Prijajiwati : (sambil meloedah dengan djidjik): Tjis! Biar-
lah engkau kembali sadja kedoenia pendjahat. Bairlah engkau selamanja mendjadi pendjahat, mendjadi badjingan, menoeroetkan hawa nafsoe iblismoe. Akoe tak soedi berdampingan dengan seorang pendjahat seperti engkau. Biarlah selama-lamanja engkau mendjadi sampah doenia, sebab namamoe telah dikikis dari boekoe orang baik-baik. Doenia orang baik-baik tak soedi lagi menerimamoe. Namamoe tak boleh lagi tertoelis dalam boekoe orang baik-baik. Pergilah engkau kegoea sarang pendjahat, sebab disitoelah memang tempat jang paling tjotjok bagimoe. Disitoelah hanja jang soeka menerimamoe.
Nadarlan : Wati! Wati, mengapa engkau sekedjam itoe menolak akoe jang ingin bertobat, ingin kembali kedalam pergaoelan orang baik-baik Wati, sampai benar hatimoe. Akoe datang berpajah-pajah mentjari engkau, sebab ingin bertobat, tiba-tiba engkau tolak tobatkoe, malah engkau soeroeh akoe pergi kembali kedoenia pendjahat.
O, Wati, ingatlah engkau, djangan menjesal nanti, menolak akoe jang ingin mendjadi orang baik-baik. Orang jang engaku tolak tobatnja ini akan bertambah djahat, akan semakin boeas sesoedah poetoes asa mendjadi orang baik-baik. Ingatlah Wati, karena tobatkoe engkau tolak setjara kedjam, terpaksa aoe
haroes kembali kedoenia pendjahat. Dan doenia orang baik-baik akan koekatjau, akan koekeroehkan masjarakat. Doenia kesoetjian akan koehantjoer loeloehkan sama sekali!
Sebab itoe Wati, sebeloem kakikoe akan melangkah jang kedoea kalinja kadalam doenia pendjahat, masih koeharap kepadamoe, soepaja engkau boekakan pintoe belas kasihanmoe oentoek menerima akoe masoek mendjadi orang baik-baik kembali. Sehingga engakupoen berdjasa terhadap masjarakat, sebab telah mengoerangkan seorang pendjahat besar pengganggoe keamanan oemoem.
Berilah akoe kesempatan.
Prijajiwati : Tidak, akoe tidak soedi menerima engkau, tak soedi akoe hidoep kembali disampingmoe. Sekali engkau telah mematahkan hatikoe, selama-lamanja akoe tak pertjaja lagi kepadamoe. Biarlah engkau kembali kedoenia pendjahat, akoe tak takoet oleh antjaman-antjaman jang engkau keloearkan itoe.
Engkau sangka engkau akan selamanja bisa leloeasa mendjalankan kedjahatanmoe oentoek menghantjoerkan doenia orang baik-baik Bah, sedikitpoen akoe tak gentar oleh antjaman-antjamanmoe itoe. Apalagi sekarang akoe dalam perlindoengan Dainip Djaja, seorang ksatria jang gagah berani, jang selaloe soeka menolong segala manoesia jang teraniaja. Sajang sekarang beliau tidak ada
diroemah ini. Kalau beliau ada, tentoe koesoeroeh patahkan batang lehermoe. Njahlah engkau sekarang djoega, akoe telah djemoe melihat moekamoe!
Nadarlan : (moelai naik darah pendjahatnja membakar moekanja, matanja berapi-api, moelailah tampak keboeasannja): Dalam langkahkoe jang kedoea masoek kedalam doenia pendjahat, engkaulah jang pertama mendjadi koerbankoe. (laloe menghoenoeskan pisau seraja madjoe selangkah-selangkah mendekati Prijajiwati).
Prijajiwati : (dengan ketakoetan): Djangandjangan Akoe.akoe soeka takloek, asal akoe djangan diboenoeh.
Nadarlan : (tertawa iblis): Ha, ha, ha, sekarang engkau
baroe menjatakan takloek Soedah kasip, Wati, kalau Nadarlan soedah menghoenoes sendjatanja, ia takkan memasoekkannja kembali sebeloem memakan darah koerbannja. Engkau tidak kenal siapa Nadarlan Tidakkah engaku dengar apa jang telah dilakoekannja selama ini, sehingga barisan polisi mendjadi riboet Nah, sekarang Nadarlan jang selaloe diboeroe oleh polisi, kembali akan menghiroep darah koerbannja.
(laloe melompat menerkan mangsanja).
Prijajiwati : (mendjerit): Tolong! Tolong!
Nadarlan : Ha, ha, ha, tidak ada orang jang sempat
oentoek menolongmoe. Nadarlan soedah haoes akan menghiroep darah!
(Prijajiwati, mendjerit, lari kedalam, dikedjar oleh nadarlan. Kedengaran Prijajiwati mendjerit dengan ngerinja. Sebentar kemoedian, keloear Nadarlan dengan pisaunja berloemoeran darah; pisaunja dilemparkannja, seraja melompat seperti iblis, melarikan diri. Kedengaran seorang perempoean mendjerit, laloe Partiwi masoek, tangannja berdarah, teroes mendjerit! Orang banjak masoek, menghadap keloear ketempat Prijajiwati roentoeh., mereka soeroet, berbitjara jang seorang dengan jang lain, berkatjau-balau):
Pemboenoehan, pemboenoehan!
Doea orang Polisi: (menjisih orang banjak): Ada apa disini! Ajo moendoer, moendoer!
Polisi : Ajo, ajo moendoer! Ada apa ramairamai!
Orang banjak : Pemboenoehan! Pemboenoehan!
(Polisi keloear, kemoedian masoek lagi).
Polisi : (memegang kedoea tangan Partiwi jang berloemoeran darah): Siapa perempoean ini
Seorang-orang : Dia baboe diroemah ini!
Partiwi : (dengan soeara jang gemetar dan badan menggil, karena ngeri): Tidak toean, saja boekan pemboenoehnjasaja baroe poelang dari pasar.saja lihat mbakjoe telah terbaring bermandi darah
Polisi : Tanganmoe berdarah, boekankah itoe
boekti jang djelas (kemoedian memerintah kepada polisi temannja) Borgol, bawa keroemah tahanan! (Polisi jang diperintah membelenggoe Partiwi).
Pandoe Setiawan: (jang baroe poelang, datang tergopoh-gopoh):
Apakah artinja ini
Polisi : Toean siapa
Pandoe : Saja toean roemah, ada apa disini, toean
Polisi : (menoendjoek kedalam).
Pandoe : (hampir, laloe melihat kedalam): Ja Allah, Prijajiwati!
Dainip Djaja : (datang sesoedah Pandoe, menengok kedalam, djoega terkedjoet, demi melihat majat):
Toehankoe, siapa jang memboenoehnja Polisi : (menoendjoek kepada Partiwi).
Pandoe Setiawan : (moela-moela tak melihat Partiwi, tertjengang,
terpandang olehnja tangan jang berdarah
itoe terbelenggoe): Partiwi! Partiwi : (menoendoekkan moeka).
L a j a r !
BAGIAN V
(Roeang tengah seperti jang dibagian ke III. Pandoe Setiawan sedang berdjalan moendar-mandir).
Dainip Djaja : (sambil mendekati Pandoe): Kenapa saudara
Pandoe Setiawan : (seraja mengangkat moeka, memandang kepada saudara toeanja): Sedih mengenangkan Partiwi dalam tahananPadahal berat benar doegaankoe, dia tidak bersalah.
Dainip Djaja : Soedahlah, saudara. Tenangkanlah pikiranmoe. Akoepoen toeroet menjokong doegaanmoe itoe. Dan ini akoe ada membawa kabar tentang keadaan
Partiwi
Pandoe Setiawan : Bagaimana
Dainip Djaja : Akoe ada kekantor polisi. Dan mendapat keterangan, Partiwi ternjata tidak berdosa
Pandoe Setiawan : (sekonjong-konjong tampak tjahaja kegirangan dimoekanja): Toehankoe! Memang tidak salah doegaankoe, Partiwi tidak moengkin djadi pemboenoeh. Djadi siapakah pemboenoeh Prijajiwati
Dainip Djaja : Menoeroet keterangan polisi, seorang
pendjahat oeloeng jang telah lama mendjadi boeroean polisi. Pendjahat itoe sendiri dengan nekat menoelis setjarik soerat kepada polisi, menerangkan, dialah jang telah memboenoeh Prijajiwati. Moelanja orang mengira keterangan itoe hanja sebagai olokolok sadja. Tetapi kemoedian polisi beroentoeng mendapat boekti-boekti jang sjah, jaitoe pertama pisau penikam Prijajiwati jang diketemoekan sewaktoe terdjadi pemboenoehan, ternjata pisau kepoenjaan pendjahat itoe. Dan kedoea, bekas djedjak kakinja ada diketemoekan dalam roemah ini ketika dilakoekan penjelidikan disekitar majat Prijajiwati, ketika terdjadi pemboenoehan itoe. Sedang djedjak kaki itoe memang seroepa betoel dengan djedjak kaki pendjahat itoe, jang ada tersimpan dikantor Polisi.
Pandoe Setiawan : Siapakah pendjahat itoe
Dainip Djaja : Djangan saudara terkedjoetNadarlan.
Pandoe Setiawan : (seraja matanja membelalak memandang kemoeka Dainip Djaja): Nadarlan Prijajiwati diboenoeh oleh Nadarlan, soeaminja sendiri, soeami jang boeas itoe Ohnasib PrijajiwatiDipilihnja soeami jang kaja, tiba-tiba si kaja itoe menindasnja. Setelah poeas menindas, menghisap darahnja, njawanja poela diambil dengan setjara kedjam.
Dainip Djaja : Saja pikir itoelah soeatoe keadilan Toe-
han. Prijajiwati dahoeloe, berchianat
kepada toenangannja, karena silau matanja memandang oeang Nadarlan, ia hendak mendjilat pada harta.
Sekarang harta jang didjilatnja itoe telah membinasakan njawanja, jang tidak setia itoe. Tetapi tak perloe kita berpandjang tentang kemalangan nasib Prijajiwati.
Pandoe Setiawan : TetapiPartiwi dimana
Dainip Djaja : (tersenjoem): Sebetoelnja akoe heran, tidak tadi engkau tanja. Roepanja hatimoe lebih tertarik djoega kepada Prijajiwati.
Pandoe Setiawan : Boekan begitoeHatikoe soedah terlepas dari padanja, ketikaketika saudara membawa saja dari djalan jang sesat. Rasanja tjoema dengan Partiwi saja dapat menempoeh kehidoepan baroekalau saudara maoe teroes melindoengi kami.
(Tjepat). Dimakah dia sekarang
Dainip Djaja : Koetanjakan kepada polisi, katanja
Partiwi telah disoeroeh poelang kemari sedjak doea hari jang telah laloe. Tetapi akoe heran, kenapa sampai searang ia beloem sampai-sampainja lagi.
Pandoe Setiawan : (dengan sendoe): Ja, kemanakah perginja Partiwi (kemoedian dengan sedih memandang kemoeka Dainip Djaja). Apakah sebabnja dia tidak teroes poelang kemari
Dainip Djaja : (berpikir-pikir): Entahbarangkali dia maloe, laloe
Pandoe Setiawan : (seperti terkedjoet): Apakah saudara maksoed Partiwi sengadja melarikan diri
Dainip Djaja : Berat persangkaankoe, roepanja ia takoet poelang kemari, karena ada saudara
jang diseganinja, sedang ia terdakwa pemboenoeh seorang perempoean karib saudara. Tanggal berapakah Partiwi moelai dilepaskan dari tahanan Pandoe Setiawan : Tanggal 8 Desember.
Dainip Djaja : 8 Desember, djadi baroe doea hari. Ah, masih beloem lama, moga-moga masih sempat saja menjoesoel, mengikoeti djedjaknja. Dan saudara tjatatlah hari Partiwi dilepaskan dari tahanan itoe, jaitoe hari 8 Desember soeatoe hari jang terpenting dalam riwajat kehidoepan saudara. Tanggal 8 Desember Partiwi dilepaskan dari pendjara, dilepaskan belenggoenja jang mentjemarkan namanja.
Pandoe Setiawan : Dan dahoeloe, - ketika saja hendak memboenoeh diri, saudara tolong, - poen djoega pada tanggal 8 Desember, berarti sedjak hari itoelah saja terlepas dari berpoetoes asa. Kalau pada hari itoe tidak ada saudara jang menolong saja, tentoe saja soedah mati, tentoe tak dpaat hidoep sampai kehari ini; dan tentoe saja ta sempat bertemoe dengan.Partiwi. Djadi soenggoeh penting ditjatat hari itoe, hari saudara melepaskan diri saja dari koerban perboeatan pengetjoet, sehingga saja dapat bertemoe dengan Partiwi, djoega dengan perantaraan saudara. Oleh sebab itoe, saudara, hari tanggal 8 Desember saja djadikan hari peringatan jang terpenting dalam riwajat kehidoepan saja.
Dainip Djaja : Baiklah akoe membantoe mentjari Partiwi. Sebab sesoenggoehnja dia sangat berharga boeat mendjadi tolan hidoepkoe.Akoe berharap saudara dan Partiwi nanti dapat membangoenkan soeatoe roemah tangga jang dilipoeti oleh kemakmoeran dan kesentosaan. Saudara dengan Partiwi kelak tentoe dapat mengatoer dan menjoesoen penghidoepan sendiri didalam roemah tangga sendiri, akoepoen akan senantiasa tetap memberi bantoean dengan pikiran ataupoen matabenda, soepaja dalam lingkoengan roemah tangga saudara tetap aman dan sedjahtera. Ingatlah, saja sebagai saudara toeamoe setiap saat selaloe siap akan membantoe dan melindoengi roemah tangga saudara.
(Dainip Djaja keloear).
(Pandoe Setiawan laloe mengempaskan diri diatas seboeah kerosi, bertekoen menjemboenjikan moekanja dengan kedoea belah tangannja, letih! Tak lama kemoedian Nadarlan datang masoek.
Pandoe Setiawan menengadah, tertjengang).
Nadarlan : (dengan tersenjoem iblis): Ha.baroe sekarang kita bertemoe! Telah lama engkau koeintip oentoek koekirim keneraka, menjoesoel Prijajiwati, isterikoe, jang telah engkau hasoet, soepaja dia tetap membentji akoe. Dengan kedjam ditolaknja tobatkoe, dioesirnja akoe, disoeroehnja kembali kedoenia pendjahat! Roepanja Prijajiwati ingin mendjadi isterimoe, tidak soeka lagi dia menerima akoe, walaupoen telah
beroelang koekatakan, akoe soenggoehsoenggoeh ingin bertobat, soenggoehsoenggoeh ingin mendjadi orang baikbaik kembali. Achirnja panas hatikoe, poetoes asa koehoenoes pisau
Prijajiwati gentar, - disaat itoelah baroe dia mengakoe takloek, tetapi soedah terlambat. Karena Nadarlan soedah menghoenoes sendjatanja, - pantang balik kesaroengnja, sebeloem sendjatanja berloemoer darah koerbannja.
Sekarang tiba giliranmoe, menerima bagian dari Nadarlan, menjoesoel
Prijajiwati keneraka. Ajo, berdiri! Akan koehiroep darahmoe tegak, soepaja engaku mati kedjang! (laloe menghoenoes pisau dengan mata berapi-api memandang kepada Pandoe jang soedah leamh tiada berdaja lagi).
(Pandoe Setiawan masih doedoek menentang Nadarlan, tak beroesaha oentoek membela diri).
Nadarlan : (makin bertambah boeas): Bangsat, engkau soedah koeberi tempoh boeat berdiri, memang pantangkoe memboenoeh lawan jang lagi merangkak. Ajo berdiri!
Pandoe Setiawan : (soeara tetap): Boekannja akoe loempoeh
karena takoet kepadamoe. Tetapi. (laloe memandang kepada Dainip Djaja jang baroe masoek, berdiri dibelakang Nadarlan). Saudara toeakoe! Lawanmoe sebanding!
Nadarlan : (terkedjoet, laloe berpaling kebelakang melihat kepada Dainip Djaja).
Dainip Djaja : (sambil mendekati Nadarlan): He, bangsat
pengetjoet, Pandoe boekan lawanmoe.!
Nadarlan : (menentang dengan berang): Engkau berani
mealwan akoe Engkau tidak kenal siapa Nadarlan Tjoba mendekat kesini, koekeloearkan isi peroetmoe!
Dainip Djaja : (dengan gagah bersiap menanti serangan Nadarlan): Memang akoelah lawanmoe jang sepadan. Pandoe soedah lemah, boekan tandinganmoe.
Nadarlan : (dengan senjoem iblis, seperti binatang boeas
hendak menerkam mangsanja): Engkau berani Hoenoeslah sendjatamoe!
Dainip Djaja : Akoe lawan engkau setjara ksatria, tjoekoep dengan sepoeloeh djari sadja.
Nadarlan : Bangsat, engkau sombong. (laloe melom-
pat menikam Dainip Djaja jang memang ahli silat, pendekar jang gagah berani. Berkali-kali tikaman Nadarlan selaloe dapat ditangkisnja dengan djitoe, sehingga Nadarlan sering mentjioem tanah, menikam angin. Achirnja pisau nadarlan terbang keoedara kena sepak kaki Dainip Djaja, kemoedian pendjahat itoe diadjarnja sampai setengah mati, sehingga minta ampoen).
(Doea orang polisi masoek).
Dainip Djaja : (seraja menjeret Nadarlan jang soedah setengah mati, laloe memandang kepada kedoea polisi): Toean barangkali telah kenal kepada orang ini Lihatlah, boekankah dia seorang pendjahat jang banjak mengoerbankan djiwa orang Kamipoen ampir mendjadi koerbannja.
Polisi pertama : Memang, kami sedang mentjarinja. Kami baroe datang dari roemah tempat tinggalnja. Menoeroet kata orang, ia menoedjoe arah kemari! Djadi
Polisi kedoea : Selamat toean! Toean berdjasa besar te-
lah dapat menjerahkan pendjahat ini ketangan polisi.
Dainip Djaja : Sekarang pendjahat ini saja serahkan
kepada toean-toean, dia soedah tidak berdaja lagi.
(Polisi keloear membawa Nadarlan.
Dainip Djaja memandang kepada Pandoe Setiawan, jang kelihatan agak bingoeng, kehilangan pikiran. Pandoe Setiawan dibimbingnja, laloe direbahkannja diatas seboeah divan.
Didekat pintoe tersemboel Partiwi. Dainip Djaja memandang kepadanja, memberi isjarat, soepaja masoek! Partiwi, sekarang berpakaian serba bagoes mendekati Pandoe Setiawan. Dainip Djaja, perlahan-lahan mengoesap ramboet Pandoe Setiawan). Dainip Djaja : Pandoe, saudara, lihatlah siapa disini! (Pandoe Setiawan perlahan-lahan memboeka matanja).
Pandoe Setiawan : Partiwi! EngkauPartiwi!
Partiwi : Saja, toean Pandoe!
Pandoe Setiawan : Telah lama rasanja akoe menantimoe
Tetapi engkau boekan PartiwiPartiwi jang koekenal adalah seorang baboedan engkauseorang bangsawan.
Partiwi : Saja masih Partiwi, toean Pandoe.
Pandoe Setiawan : Djangan kaupanggil djoega akoe toean, Partiwi!
(Dainip Djaja perlahan-lahan menarik diri).
Partiwi : Kanda Pandoe, djangan doeloe banjakbanjak berbitjara.
Pandoe Setiawan : Tetapi akoe beloem mengertiperoebahanmoe ini!
Partiwi : Beroebahkah poela perasaan kanda Pandoe terhadapdirikoe, djika koekatakanakoe boekan baboe, tetapi berasal dari
Pandoe Setiawan : Dari mana djoega dinda berasal, perasaankoe takkan beroebah!
Partiwi : Tetapi kanda Pandoe, dinda berasal dari dari keraton Solo.
Pandoe Setiawan : (terdiam, memandang Partiwi, heran, ber-
tjampoer lemah): dari kerton Solo! Djadi sekarang
Partiwi : Bagi dinda.perasaan dinda takkan beroebah selama njawa masih dikandoeng badan.
Pandoe Setiawan : Insaflah dinda, bagaimana besarnja koerban jang adinda berikan pada waktoe ini.
Akoe hanjalah orang biasa, Tiwi!
Partiwi : Bertahoen-tahoen akoe mendjadi orang biasa kanda, malahan koerang lagi dari orang biasa, menoeroet panggilan hatikoe. Hendak merasakan bagaimanakah hidoep jang sebenarnja hidoep. Boekanlah hidoep dibawah tempoeroeng, tetapi ditengah gelombang masjarakat kita.
Pandoe Setiawan : Dan dinda telah merasai dan tiadakah dinda ketjewa, tidakkah dinda menjesal
Partiwi : Menjesal Sesoedah akoe ditahan, akoe didjempoet kembali oleh keloeargakoe, dosakoe akan diampoeni, kata mereka. hanja doea hari akoe dapat tinggal disana. Akoe tertarik kembali kesini, kesamping kakanda. Akoe bertemoe ditengah djalan dengan toean Dainip Djaja. Dan sekarang akoe disini.
(Pandoe mentjoba doedoek, ditolong oleh Partiwi). Pandoe Setiawan : Partiwi, adinda, bangsawan sedjati. Adinda tidak maoe mementingkan diri sendiri, adinda rela dan ichlas meninggalkan
gedoeng jang penoeh kemoeliaan, kesenangan, kemegahan dan kemewahan doenia, datang kembali kepondokkoe jang boeroek. Soenggoeh besar arti pengoerbanan dinda itoe, - pengoerbanan lahir dan batin. (berhenti sebentar, roepanja moelai pajah berkata-kata). Kita bersama menjoesoen penghidoepan baroe, membangoen roemah tangga baroe jang bahagia sentosa, dalam lingkoengan kemakmoeran bersama, dengan minta perlindoengan kepada saudara toea kita Dainip Djaja, jang telah berdjasa besar kepada kita.
Sesoenggoehnja adinda, saudara Dainip Djaja benar djasanja terhadap kita. Kalau tidak karena pertolongannja, tentoe kita takkan sempat bertemoe lagi didoenia ini. Dia seakan-akan malaikat jang ditoeroenkan Toehan boeat melindoengi pada tia-tiap waktoe kakanda kedatangan bahaja. Setiap hampir ditimpa bahaja maoet, selaloe dia tiba-tiba datang memberi pertolongan, sehingga tak dapatlah kakanda hitoeng betapa besar djasanja kepada kakanda.
Partiwi : Poen djoega adinda merasa beroetang boedi kepada satria kita itoe. dahoeloe, ketika adinda lari dari kaoem kerabat, soedah terloenta-loenta dinegeri orang, njaris njawa melajang, kalau tidak lekas mendapat pertolongan dari toean Dainip Djaja.
Pandoe Setiawan : Kita tak akan meloepakan djasa-djasa
saudara Dainip Djaja. Dia tetap kita
pandang sebagai pelindoeng kita. Tanggal 8 Desember dia menahankoe, djangan memboenoeh diri. Tanggal itoe tetap akan tertjatat (pajah kelihatan).
Partiwi : (seraja berloetoet disisi Pandoe): Kakanda roepanja soedah pajah berkata-kata. Kalau kakanda merasa pajah, djangan dipaksa, nanti bertambah lemah badan kakanda.Tjobalah tidoer dahoeloe, kanda!
(Pandoe Setiawan kembali berbaring, tidoer, Partiwi berdiri, memandangnja, Dainip Djaja masoek perlahan-lahan. Partiwi mendapatinja).
Dainip Djaja : Bagaimana
Partiwi : Dia tidoer! (sebentar diam). Toean Dainip
Djaja, telah banjak saja beroetang boedi kepada toean. Tetapi masih ada jang hendak saja tanjakan.
Dainip Djaja : Akoe selaloe bersedia menolongmoe, Tiwi, engkau dan Pandoe.
Partiwi : Toean Dainip, akan kemana akoe sekarang, ke Baratkah atau ke Timoer Selama itoe akoe dapat menentang hidoep, tetapi sekaranggelap rasanja keadaankoe.
Dainip Djaja : Tak moengkin keadaanmoe gelap, Partiwi. Tjobalah periksa dalam batinmoe. Telitilah isi dadamoe. Tak moengkin engkau akan bertanja, hendak ke Baratkah atau ke Timoer. Apa kata hatimoe Tiwi, hatimoe jang soetji-moerni
Partiwi : Kata djiwakoekembalilah ketempat kewadjibanmoe. Telah lama benar akoe mentjari-tjari djalan, akoe tjari kiankemari, tetapi
Pandoe Setiawan : Tapi tak pernah kautjari didalam hati, Tiwi (Diam sedjoeroes).
Partiwi : Toean Dainip poela sekarang jang memboekakan hati saja. Terima kasih saja, tidak berhingga.
Dainip Djaja : Djangan minta terima kasih kepadakoe, tetapi kepada Dia jang melindoengi kita sekalian. Engkaupoen telah berdjasa, berdjasa kepada Pandoe.
Partiwi : Toean katakan saja berdjasa, tetapi dia mengatakan toeanlah jang telah berdjasa besar terhadap dirinja. Kpertolongan toeanlah katanja, dia dapat hidoep sampai sekarang
Dainip Djaja : Dia terlaloe sangat menghargakan kebaikan orang, sehingga pertolongan orang jang sedikit sadja telah dibesar-
besarkannja. Orang melakoekan
kewadjiban telah dianggapnja djasa. Demikianlah apa jang telah koeperboeat terhadap dirinja, koeanggap boekan djasa, tetapi hanja kewadjiban sematamata. Tjoema dia jang menganggap djasa, karena tinggi boedinja dan haloes perasaannja.
Orang moeda seperti Pandoe itoe,
Partiwi, berharga benar boeat didjadikan teman sehidoep semati. Adakah tadi dikatakannja kepadamoe tentang tjitatjitanja boeat dihari kemoedian
Partiwi : (menoendoekkan moeka): Ada(terdiam sedjenak). Roepanja tjita-tjitanja tinggi dan pengharapannja besar sekali boeat
mentjapai hari kemoedian jang gilanggemilang
Dainip Djaja : Dengan engkau sebagai ratoenja dalam
roemah tangga, boekan Boekankah engkau jang diharapnja, boeat membantoe dia membangoenkan roemah tangga baroe jang ditjita-tjitakannja itoe Dan engkaupoen, tentoe dengan ichlas hati membantoenja, mengaboelkan pengharapan Pandoe jang moelia itoe, boekan
Partiwi : Dandengan toean sebagai pelindoeng. Walaupoen katanja, dia dan saja oempama soedah dapat membangoen roemah tangga sendiri, namoen diri toean tetap diharapkannja oentoek mendjadi pelindoeng. Segala pertolongan toean, sampai sekarang, semoea ditjatatnja hari dan tanggalnja. Misalnja hari 8 Desember, ialah hari dia toean lepaskan dari perboeatannja jang tersesat hendak memboenoeh diri, hari itoe akan diperingatinja selama hidoepnja.
Dainip Djaja : Memang hari itoe penting dalam riwajat hidoepnja, karena engkau dilepaskan dari belenggoe dan dikeloearkan dari tahanan karena terdakwa memboenoeh Prijajiwati, poen djoega berbetoelan pada tanggal 8 Desember. Lain dari itoe, telah ditjatatnja poela hari tertawannja pendjahat nadarlan, jang sangat boeas dan kedjam itoe, moesoeh kita jang telah memboenoeh Prijajiwati. Dan pada hari itoe hampir poela Pandoe melajang djiwanja oleh pendjahat jang ganas itoe.
Partiwi : Dan tentoe toean poela jag melepaskannja dari bahaja maoet ketika itoe, boekan Djadi tanggal 9 mart itoe penting poela diperingati.
Dainip Djaja : Adakah dia menerangkan kedjadian jang ngeri itoe kepadamoe Memang roepanja Pandoe masih pandjang oesianja, sehingga berkali-kali ia tertimpa bahaja maoet, selaloe ada sadja orang jang datang menolongnja.
Partiwi : Dan orang jang menolongnja itoe ialah toean sendiri, boekan Patoetlah dia merasa beroetang boedi jang amat besar kepada toean. Dan pendjahat pemboenoeh Prijajiwati itoe roepanja tertangkap oleh tangan toean poela, ketika dia akan melakoekan pemboenoehan terahdap Pandoe. Tentoe polisi sangat berterima kasih kepada toean, jang telah dapat mengalahkan pendjahat Nadarlan jang meroesak keamanan doenia itoe. Djadi pada hari tertangkapnja pendjahat besar itoe, jaitoe hari tanggal 9 Mart boekan sadja penting diperingati oleh Pandoe sendiri, - tetapi penting djoega mendjadi peringatan oleh doenia orang baik-baik seoemoemnja. Karena sedjak hari itoelah doenia orang baik-baik moelai terlepas dari ganggoean seorang pendjahat besar, jang telah sekian lama meradjalela, merampok dan merampas hak milik orang, menjamoen dan memboenoeh dengan kedjam.
Dainip Djaja : Dan akan lebih hebat lagi, kalau engkau memperingatinja, mendjalinja dalam
riwajat hidoepmoe berdoea dengan
Pandoe Setiawan (seraja tersenjoem).
Partiwi : (dengan kemaloe-maloean): Tetapi saja tidak pandai menoelis
Dainip Djaja : Kabarnja engkau keloearan sekolah menengah, - masakan tidak pandai sekadar menoelis riwajat hidoep sendiri (seraja tertawa). Soedahlah, Partiwi, koeharap beanr soepaja engaku toelis nanti djangan tidak. Sekarang engkau hendak kemana
Partiwi : (moelai tampak bersedih poela): Beloem ada toedjoen saja jang pasti
Dainip Djaja : Kalau begitoe baiklah kembali keroemahkoe ini. Tetapi boekan akan bekerdja sebagai baboe lagi, melainkan sebagai tetamoe jang bakal mendjadi pengantin, akan mendjadi ratoe dan Pandoe kelak mendjadi radjanja, djika soedah sehat kembali. (laloe moelai berdjalan bersamasama Partiwi).
Partiwi : Akan lamakah kiranja Pandoe haroes
tinggal ditempat tidoer
(Kedoea-doeanja memandang kepada Pandoe jang sedang tidoer njenjak).
Dainip Djaja : Sakitnja tak seberapa. Beberapa hari lagi Pandoe tentoe akan sehat kembali.
Partiwi : Berkat pertolongan toean.
Dainip Djaja : (tersenjoem): Berkat asoehanmoe. TAMMAT. [Sic!]
Sumber: Keboedajaan Timoer No.1, 1943: 25-50