Awalnya, kawan saya bertanya, Gimana, ya, Pak, kalau saya ingat mati itu, terutama saat istri dan anak saya mengantar saya di depan pintu ketika hendak berangkat kerja, hati saya suka khawatir, takut. Gimana nanti istri saya harus bekerja mencukupi kebutuhan keluarga Bagaimana dengan anak saya Apakah dia kelak bisa sekolah dan kuliah
Saya tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. Bak seorang ustad saya pun berusaha menjelaskannya. Rasa khawatir dan takut itu manusiawi. Tapi itu juga pertanda kalau ilmu dan iman kita masih perlu ditambah. Sebagai hamba yang hidup, sudah pasti kita harus siap mati, kapan pun itu. Karena hidup dan mati bukanlah milik kita. Hanya Allah yang punya.
210
Lantas saya bercerita, kapan saya paling merasa ingat akan mati Saya ceritakan kepada kawan saya tadi, yakni ketika saya naik pesawat udara. Ketika itulah saya paling ingat akan mati. Jika seseorang naik pesawat, dan pesawat tersebut, karena kehendak Allah, jatuh maka kemungkinan besar akan tewas. Seperti banyak terjadi dan baru saja terjadi dengan Malaysian Airline MH370 yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Dulu, sepertinya saya tidak punya rasa takut atau perasaan aneh-aneh ketika naik pesawat. Naik, ya naik saja. Sudah banyak pergi ke beberapa negara dan itu nyaman-nyaman saja. Perasaan takut akan terjadi apaapa baru hadir beberapa tahun belakangan ini. Apa yang saya lakukan ketika perasaan takut itu hadir Saya berusaha mem-balance-kannya dengan banyak zikir dan berdoa.
Selain itu, saya ajak pikiran saya untuk bekerja lebih baik. Memahami dengan baik bahwa mati bukanlah sesuatu yang harus ditakutkan. Sekarang, saya malah bisa menikmatinya. Kenapa harus takut, wong kita selalu ingat Allah dan bahkan masih sempat zikir, berdoa, dan bahkan membaca Al-Quran.
Jika benar saat itulah ajal kita akan datang, sungguh kita termasuk orang yang beruntung. Tidak sedikit orang yang akan meninggal tidak ingat Allah, dan yang disebut hanya keluarga dan hartanya.
Kalau benar saat itulah kita harus menghadap-Nya, berarti insya Allah kita termasuk orang yang paling beruntung. Kita akan jadi orang yang khusnul khatimah. Sebagus-bagus dan paling beruntung seseorang manakala dia meninggal dengan khusnul khatimah, akhir yang baik. Itu adalah cita-cita tertinggi semua orang. Dia bisa menghadapi datangnya maut dengan ingat dan bisa menyebut nama-Nya.
Lantas saya tambahkan lagi, kenapa mesti takut Bukankah ketika bepergian itu dalam rangka bekerja mencari nafkah untuk keluarga
Belajar dan Belajar
kita Kita sedang menjalankan amanah, bukan berlaku maksiat. Padahal, ketika seseorang bekerja mencari nafkah dan saat itulah ajalnya tiba, dia akan dihitung sebagai mati syahid. Hebat, bukan
Seperti ustad beneran, saya bercerita ketika Nabi Ibrahim hendak dicabut nyawanya oleh Izrail. Apa yang dilakukan Ibrahim Dia menolak, karena menganggap itu akan jadi penghalang dia bisa beribadah kepada Allah.
Namun, ketika Izrail menanyakan kepada Ibrahim, Wahai Ibrahim, apakah kau ingin bertemu dengan Allah, kekasihmu Hanya dengan kematian itulah kau bisa bertemu dengan kekasihmu.
211
Setelah itu, Ibrahim pun tak mau berlama-lama lagi menunggu untuk menemui Allah, kekasihnya.
Dengan kematian yang bisa datang kapan saja, hendaklah itu mendorong kita untuk selalu berbuat baik dan menjauh dari perbuatan maksiat. Karena dikhawatirkan, saat kita bermaksiat dan kematian itu tiba maka kita akan menjadi manusia yang paling merugi.
Kita tidak perlu khawatir soal istri dan anak. Karena Dia menanggung rezeki dan semua kebutuhan mereka. Allah tentu sudah mempunyai rencana-rencana baik di balik semua itu.
Pentingnya berbuat baik lain adalah bahwa balasannya tidak selalu Allah berikan saat ini. Bisa jadi anak dan cucu kita yang akan menerimanya.
Pengin, kan
18 April 2014