janji dari sulaman hati, mengikat sunti, berdekah dengan lagu-lagu jiwa biru, alunan gitar dalam sembah jalurnya, mengusik kalbu,
Makin kuat tangisannya, makin perih hatinya, semalam hanya menikam benak suntinya, Sang Perawan hanya dalam imaginasinya, makin kuat melawan pesan hatinya, makin kuat seloroh lagak dirinya, tidak terbendung kasih di benak, makin di hari, makin merasai,
Sudah suam masa di jarinya, habis kering tangisan hatinya, sudah berjimak, kembali menyuci, diri bebas, terbang sendiri,
Dalam terbang, sayap tersekat, makin berderap, makin terjerat, hati terubat, diri masih terikat, masa makin dekat, kuat rasa hati ingin diangkat, langit biru terus menerus memanggil, cinta baru bakal dibiar terkebil, melepas tanah, menjajah tabir biru,
membias sejarah, hancur dan lesu,
Dalam sekat, Sang Perawan menyahut sayup, maksudnya suci, dari jiwa murni,
kuat suaranya, tidak mengarut, niat yang baik, menjaja cinta suci,
Sahutnya perawan, disambut cinta, kisah terkatup, ditaip semula, segalanya umpama dalam roda pemula, harapan hadir, jendela terbuka,
Dalam lari, langkah berjuta, menuju ke satu, Sang Perawan dicinta, mata berair, suka tak terkata, inginkan pelukan, si cinta dipuja,
Dipaut erat, sahutan dicinta, pegangnya kemas, lepas bukan kira, umpama kembali bertemu, Adam dan Hawa...
(Kontradiksi)
Pisau dikeluar, senapang mengacu tepat, kerat hilang sayap kiri,
Kerat hilang sayap kanan, tembak-- tembak-- tembak lepasi makrifat, hati berdegup henti, tidak tersangka, sayap dirampas, nyawa terlepas, menatap tepat, burung yang botak, tangisnya tidak terdengar, kecewanya tidak dirasa, bebasnya diambil, cintanya dinodai,
Sang Perawan menjual sayap itu dengan harga RM50 kat pasar bulat...