hujan. Tangan hujan yang lembut mengusap kepala
mereka.
Kak, kakiku sakit. Terlalu banyak kerikil yang tumbuh di
sini.
Aku juga, Dik. Tapi teruslah berlari.
Dengan segala belas kasih, hujan pun meminjamkan
sepatunya, jubahnya, sayapnya, juga senyum dan
kegembiraannya pada sepasang anak kecil itu.
(Naimata, 30 Desember 2011)