Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Mall Season City. Oleh Deny, kawan saya, saya dikenalkan kepada tim yang sudah ada. Ada Evi, seorang Sales Promotion Girl asli Cilacap. Ada Dede pada posisi driver. Orang kedua yang saya sebut ini membuat saya kagum.
Dede Sulaeman, demikian nama lengkapnya, bukan sembarang driver. Bujang 35 tahun asli Jakarta ini punya kemampuan yang tidak banyak dimiliki orang. Dia fasih berbahasa Jerman hasil belajar autodidak.
Wih, hebat, batin saya ketika diberitahu pertama kali oleh Deny.
Saya katakan hebat karena Bahasa Jerman tentu jauh lebih sulit jika dibandingkan Bahasa Inggris yang jauh lebih memasyarakat.
Selesai acara di Mall Seasons City, perjalanan berlanjut ke Gandaria City. Diantar oleh Dede, perjalanan memakan waktu lebih dari sejam karena jalanan macet. Saya sangat jarang pergi ke Jakarta. Saya kira macetnya hanya di jam-jam tertentu. Ternyata sekarang, jam berapa pun macet. Untungnya, Dede seorang pekerja keras yang tidak suka mengeluh.
Tantangan seorang driver di Jakarta jauh lebih berat jika dibanding kota lain. Kemacetan dia hadapi dengan senang hati dan optimis. Terlihat dari kata-kata yang keluar dari mulutnya ketika melihat antrean panjang di depannya.
Ndak masalah, macetnya hanya sedikit. Paling di depan sudah lancar lagi, begitu katanya.
Dede orangnya humoris, unik. Bisa dilihat dari kegemarannya mengoleksi barang antik, seperti biola dan piano. Tidak hanya mengoleksi, tapi dia bisa memainkannya. Setiap pagi sebelum berangkat kerja tak lupa ia gesek biola dan memainkan piano. Semua kebiasaan itu adalah kebiasaan orang Jerman tempo dulu, khususnya tentara Nazi yang dia gandrungi.
Tidak hanya itu, setiap pagi, Dede berangkat kerja dari rumah ke kantor dengan mengayuh sepeda lengkap dengan penutup kepala dan sepatu ala tentara Jerman. Semua yang berbau Jerman dia suka.
Suatu hari nanti, dia ingin bisa pergi ke Jerman. Dia punya cita-cita berjualan tembakau di Bremen.
Luar biasa, Bro Dede.
26 Mei 2014