Bagian-bagian dahan pohon didirikan di rumahrumah sepanjang jalan dari Jl. Kurama sampai ke kuil. Api membakar dengan ganas. Kemudian, ketika tandu mulai tampak, wanita-wanita kampung seluruhnya keluar untuk menariknya dengan tali.
Menjelang akhir festival, diadakan upacara persembahan dengan obor besar. Perayaan terus dilanjutkan sampai hampir fajar.
Tapi tahun ini festival api dibatalkan. Ada yang mengatakan bahwa ini karena alasan keuangan. Meskipun begitu, Festival Memotong Bambu tetap diadakan seperti biasa.
Festival Taro di Kuil Kitano Tenjin juga dibatalkan tahun ini. Ada yang mengatakan bahwa itu karena panenan taro begitu buruk sehingga mereka tak bisa membuat tandu taro.
Di Kyoto ada beberapa kegiatan seperti Penyerahan Labu di Biara Anrakuyoji di Shishigatani serta Persembahan Mentimun Kekaisaran di Biara Rengeji. Apakah ini menunjukkan adanya aspek yang berhubungan, antara ibu kota lama dan penduduknya
Di antara tradisi lama yang sekarang dihidupkan kembali adalah upacara menjalankan perahu-perahu Karyobinga berkepala naga di sungai Arashiyama, dan diadakan pula suatu pesta di tepi kelokan sungai yang berada di tengah taman kuil Kamigamo. Kedua upacara tradisi itu menjadi semacam hiburan bagi kaum bangsawan. Dalam pesta tersebut, para peserta duduk di tepi sungai mengenakan pakaian model kuno, menggubah syair, dan melukis. Saat cawan anggur mengalir, mereka mengambil dan meminumnya. Lalu, dengan bantuan beberapa pemuda mereka menggilirkannya ke teman di sebelahnya.
Acara itu sudah dimulai tahun lalu. Chieko juga pergi menonton. Yang memimpin keluarga bangsawan adalah Yoshii Isamu, penyair tradisional Jepang yang meninggal dunia tahun itu pula.
Upacara tradisional itumeskipun dihidupkan kembali setelah tersia-sia bertahun lamanya, entah mengapa terasa tak begitu menarik.
Chieko tak melihat perayaan Karyobinga di Arashiyama tahun ini. Ia cenderung berpikir bahwa mustahil jika upacara itu mampu menampilkan kembali keelokan alam pedesaan di zaman kuno. Di Kyoto, ada lebih banyak festival kuno yang jumlahnya melebihi kemungkinan setiap orang untuk melihat seluruhnya.
Apakah karena dibesarkan oleh seorang ibu yang suka bekerja keras ataukah karena memang sifat dasarnya demikian sehingga Chieko bangun pagipagi untuk memoles kisi-kisi
Chieko, kau dan temanmu tampaknya ceria sekali di festival Jidai kemarin, seru Shinichi dari balik telepon, saat gadis itu mengangkatnya sehabis mempersiapkan sarapan. Tampaknya pemuda itu pun salah mengira Naeko adalah Chieko.
Kau juga ada di sana Kau seharusnya menyapa, seru gadis itu sambil mengangkat pundak. Maunya memang begitu, tapi kakakku mencegahnya, seru Shinichi tanpa tenaga.
Chieko ragu apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya terjadi. Dari perkataan Shinichi ia bisa menebak bahwa Naeko ditemani oleh Hideo menghadiri festival, dan Naeko sendiri mengenakan obi tenunan pemuda itu. Kabar itu membuatnya terkejut, tapi lamat-lamat kehangatan mulai menelusup ke dalam hati bersamaan dengan seulas senyum yang membersit di bibirnya.
Chieko, Chieko, Shinichi memanggil gadis itu di seberang telepon. Mengapa kau diam saja
Kau memanggilku
Benar, Shinichi tergelak. Para pegawai sudah datang ke situ
Belum, sekarang belum.
Chieko, kau merasa kedinginan
Apakah aku kelihatan sedang kedinginan Aku baru saja keluar membersihkan pintu kisi-kisi.
Aku mengerti. Terdengar seolah pemuda itu mengguncangkan pesawat penerima.
Chieko pun mengikik pelan.
Shinichi berbisik pelan. Sebetulnya, aku menelepon untuk kakakku. Ini dia.
Jika bercakap dengan Ryusuke, Chieko tak bisa seakrab itu.
Chieko, kau sudah bicara dengan pegawai itu
Ya.
Hebat. Ryusuke meledak-ledak. Hebat.
Ibuku sudah mendengar aku melakukan ini, jadi ia agak khawatir.
Aku bisa membayangkan.
Kukatakan kepadanya kalau aku ingin ditunjukkan buku kas induk, karena aku ingin mempelajari bisnis keluargaku.
Itu bagus. Hanya saja kau perlu bicara padanya agar merubah sikap, ya
Lalu aku memintanya mengambilkan bukubuku perbankan, saham-saham, dan semacamnya.
Itu bagus, Chieko. Kau mengerjakannya dengan baik..., tapi kemudian Ryusuke tak bisa menahan luapan perasaan. Kau gadis yang lembut.
Itu kan ide dari kamu.
Ini bukan ideku. Ada rumor yang menyebar di antara tetangga sesama pedagang grosir. Jika kau tak berkata apa pun kepadanya, kami telah memutuskan bahwa ada pilihan antara ayahmu atau aku yang harus pergi, jadi bagus kalau kau melakukan itu. Dan kelakuannya pun berubah, bukan begitu
Ya, agak.
Kupikir juga begitu. Ryusuke terdiam beberapa saat. Itu bagus.
Chieko merasakan keraguan dalam diri pemuda itu.
Chieko, apakah pantas jika aku mampir di tokomu sore ini, tanya pemuda itu, bersama Shinichi Apa pantas Kukira tidak, jawab gadis itu.
Oh, ya. Kau kan gadis perawan.
Ah, hentikan.
Bagaimana jika begini..., Ryusuke tertawa. Bagaimana jika aku datang waktu pegawai masih di situ Aku akan menjaga kelakuanku. Kau tak perlu mengkhawatirkan sesuatu. Aku hanya ingin melihat wajahnya.
Oh Selanjutnya kata-katanya menghilang.
Ayah Ryusuke mendirikan usaha grosir besar di daerah dekat Muromachi, dan ia memiliki temanteman yang berpengaruh. Ryusuke sedang mempersiapkan kelulusan kuliah, tapi ia masih asyik berbisnis.
Lalu kita bisa pergi cari sop kura-kura. Aku memesan tempat duduk di kedai Oichi di Kitano. Maukah kau ke sana Kukira akan kurang sopan jika aku mengajak ayah dan ibumu pula, jadi aku hanya mengajakmu. Si bocah festival akan kubawa serta. Chieko kagum dengan rencananya. Ia hanya bisa bilang: ya.
Kira-kira sudah sepuluh tahun berlalu sejak Shinichi menaiki tandu kuil di festival Gion. Meskipun begitu, kakaknya Ryusuke masih selalu memanggilnya bocah festival, setengah mengejek, tapi juga karena Shinichi masih tampak begitu lembut dan manisnya seperti bocah festival.
Ryusuke dan Shinichi baru saja menelepon; mereka akan datang sore ini, kata Chieko pada ibunya.
Apa Ny.Shige pun terkejut.
Sore harinya, Chieko menuju ke bagian belakang lantai kedua lalu merias diri dengan hati-hati, namun penampilannya tak begitu mencolok.
Meskipun ia mencoba untuk menggulung rambut panjangnya, ia tetap tidak puas dengan penampilannya. Ia terus mencoba, bingung menentukan penampilan.
Ketika ia turun kemudian, ayahnya sedang bepergian.
Chieko mempersiapkan perapian di ruang tamu dengan arang, lalu menengok ke taman kecil. Lumut yang menyelimuti batang pohon momiji masih tampak hijau, tapi daun-daun bunga violet telah menjadi agak kuning. Semak bunga tsubaki natal di bawah lentera Kristiani telah menumbuhkan kuntum-kuntum merah tua, dan warnanya yang menyala lebih menyentuh perasaan Chieko daripada warna merah mawar.
Ryusuke dan Shinichi menghormat dengan sopan pada ibu Chieko ketika mereka datang. Lalu Ryusuke duduk tepat di muka mesin kas pegawai. Pegawai Uemura segera keluar dari stan akuntannya dan menyambut mereka cukup lama, mengucapkan selamat datang dan mempersilakan mereka berkalikali. Tapi wajah Ryusuke yang selalu cemberut tak pernah menghilang saat ia membalas sapa hormat sang pegawai. Uemura, tentu saja, merasakan itu sebagai sikap dingin.
Uemura berpikir apa yang membuat anak itu sampai bersikap lancang. Meski ia merasa tertekan, namun tak ada yang bisa dilakukannya.
Ryusuke menunggu sampai Uemura berhenti bicara. Bagus sekali jika toko ini sekarang sukses.
Terima kasih.
Ayahku dan rekan-rekannya berkata bahwa itu semua berkat keberadaan Anda di toko Tuan Sada ini. Pengalaman Anda selama bertahun-tahun tentu saja banyak memberi hasil.
Apa maksudmu Toko ini tak sebesar tokomu.
Kami bahkan tak cukup berharga untuk dibicarakan. Tidak, bidang usaha kita kan lain arahannya. Mau dibilang toko barang tekstil atau toko apalah namanya toko kami ini hanya menjual barang-barang murah. Aku tak suka itu. Mengapa... jika usaha pertokoan begitu cepat kokoh, maka orang-orang yang dapat diandalkan seperti Anda ini harus tersingkir...
Ryusuke bangkit saat Uemura baru saja hendak menanggapi. Pegawai itu mengerutkan keningnya saat menatap si pemuda, tengah beranjak menuju ruang tamu di bagian belakang di mana Chieko dan Shinichi duduk. Jelas bagi Uemura bahwa sebenarnya ada semacam rahasia dalam hubungan antara Chiekogadis yang ingin belajar pembukuan itu dengan Ryusuke.
Chieko mengangkat pandangnya, menatap wajah pemuda itu dengan penuh tanda tanya.
Aku telah menancapkan paku pada dirinya. Aku bertanggung jawab untuk menasehatimu, seperti yang kulakukan waktu itu.
Chieko tak berucap sepatah kata pun. Pandangannya menunduk saat ia membuatkan pemuda itu secangkir teh.
Ryusuke, lihatlah bunga-bunga violet di batang pohon momiji itu, seru Shinichi sambil menunjuk ke arah yang ia maksud. Lihat, di sana ada dua tanaman. Beberapa tahun lalu Chieko bilang kalau dua bunga itu tampak seperti sepasang kekasih. Meski mereka saling berdekatan, namun mereka tak pernah bertemu.
Ya.
Anak gadis memang suka memikirkan yang elok-elok.
Sudahlah. Apa kau tidak malu, Shinichi Dan Chieko mengibaskan tangannya setelah meletakkan secangkir teh di hadapan sang kakak.
Mereka bertiga pergi ke Oichi, sebuah kedai sop kura-kura di Kitano Rokuban, naik mobil toko Ryusuke. Oichi adalah sebuah toko tua, terkenal di kalangan wisatawan. Ruang-ruang yang ada di sana masih bergaya lama dan langit langitnya rendah.
Mereka mendapat kura-kura yang direbus dengan periuk.
Chieko merasakan suatu kehangatan bergelombang dalam dirinya seolah ia baru saja minum-minum. Warna yang pucat kemerahan mengendap di lehernya, seperti buah persik. Adalah pemandangan elok saat melihat warna itu pada kulit putihnya yang belia, yang begitu halus dan lembut coraknya. Keanggunan terpancar dalam sorot mata. Sesekali gadis itu mengusap pipinya.
Bibirnya belum pernah setetes pun menyentuh minuman keras, tapi kali ini kaldu sup terasa seperti sake.
Mobil mereka menanti di muka kedai. Chieko khawatir kakinya tak akan mampu menyangga berat tubuh; namun meski begitu, ia merasa riang. Seolaholah ia boleh bercakap lebih bebas.
Shinichi, seru gadis itu pada teman yang lebih diakrabinya. Orang yang kau lihat di Festival Jidai di taman Gosho itu bukanlah aku. Kau keliru. Itu karena memang kau melihatnya dari jarak jauh, ya kan Kau tak perlu menyembunyikan sesuatu, seru pemuda itu sambil tertawa.
Aku tak sedang menyembunyikan sesuatu apa pun... Chieko tak tahu harus berkata apa. Sebenarnya, gadis itu adalah saudaraku.
Apa seru Shinichi, masih ragu.
Ketika bunga-bunga sakura bermekaran di Kiyomizu, Chieko telah berkata pada Shinichi bahwa ia adalah anak yang ditinggalkan, dan tentunya pengakuan itu sampai juga ke telinga kakaknya. Bahkan jika Shinichi tak menerangkan itu pada kakaknya, Ryusuke sendiri mungkin telah mendengar rumor yang beredar karena toko mereka memang berdekatan.
Gadis yang kau lihat di taman di Gosho itu adalah..., dalam diri gadis itu pun tebersit keraguan. Kami saudara kembar. Ia itu saudaraku.
Inilah pertama kali Shinichi mendengarnya.
Pemuda itu tak memberikan tanggapan.
Ketiganya terdiam sesaat.
Aku adalah salah satu di antara kedua anak kembar itu yang dibuang.
Lalu Ryusuke menyahut. Jika itu benar, kukira Chieko ditinggalkan di muka toko kita. Ya, kukira memang begitu, seru pemuda itu mengulangi.
Ryusuke, Shinichi tertawa, Itu bukanlah Chieko yang kau lihat sekarang. Ia waktu itu masih bayi.
Apa salahnya masih bayi sahut Ryusuke.
Kau baru bisa berkata begitu saat melihat
Chieko sekarang.
Tidak, aku tidak seperti itu.
Chieko yang kau lihat sekarang adalah Chieko yang diasuh dan dibesarkan oleh keluarga Sada, kata Shinichi. Kau pun masih kecil waktu itu. Apa anak kecil bisa menggendong bayi
Bisa saja, sahut kakaknya dengan tegas.
Hmm. Kau memang selalu yakin, keras kepala. Kau tak mau kalah.
Mungkin begitu, tapi aku pasti suka jika disuruh merawat Chieko yang masih bayi itu. Ibu pasti akan membantuku.
Kepala Chieko jadi enteng. Keningnya pun tampak jernih.
Festival Tarian Kitano di musim gugur ini berakhir dalam dua minggu. Sehari sebelum penutupan, Tn.Sada Takichiro sendirian pergi ke sana. Tentu saja, ia menerima lebih dari satu karcis masuk yang ia peroleh saat mengunjungi kedai teh itu, tapi ia tidak merasa perlu mengajak siapa pun. Ia merasa ini akan melelahkan, harus kembali melewati kedai teh dalam perjalanan pulang.
Sebelum perayaan-perayaan tarian, dengan wajah murung Tn.Takichiro pergi ke kedai minum. Ia tak mengenal geisha yang mendapat giliran mengurus upacara minum teh.
Tujuh atau delapan gadis belia berdiri berjajar, membantu menyiapkan peralatan. Kecuali gadis yang di tengah, yang mengenakan kimono biru menyala, mereka semua mengenakan kimono berle-ngan panjang warna merah muda pucatwarna jambul burung ibis.
Tn.Takichiro hampir berseru terkesiap. Gadis berkimono biru itu sekarang memakai make up, tapi bukankah ia gadis yang menumpang trem bersama wanita pemilik kedai daerah tempat bersenangsenang yang dikenalnya itu Kimono biru mungkin menandakan bahwa ia sekarang mendapat giliran untuk melakukan sesuatu.
Gadis berkimono biru itu membawa secangkir teh dan meletakkannya di muka Tn.Takichiro. Tentu saja, ia melakukannya dengan sangat resmi dan tanpa tersenyum, sesuai cara yang dibenarkan.
Tapi Tn.Takichiro merasakan hatinya menjadi lebih ringan. Tarian telah dibawakan. Tarian Potret Puteri Yu Poppi, sebuah drama tari dalam delapan babak diambil dari kisah tragis Tiongkok yang sangat termasyur, menceritakan tentang Puteri Yu dan Hsiang Yu.
Puteri Yu menikam dadanya sendiri dan meninggal dalam pelukan Hsiang Yu setelah mendengar Nyanyian Chu yang membangkitkan rindu. Kemudian, setelah Hsiang Yu gugur di medan pertempuran, latar belakang bergeser ke Jepang, dan muncullah kisah Kumagai no Naozane, Taira no Atsumori, dan Putri Tamaori. Karena menyadari lenyapnya kehidupan, Kumagai, pembunuh Atsumori, menuruti pesan Buddha. Ketika pergi mengunjungi ladang pertempuran untuk menengok makam Atsumori, ia melihat ladang pertempuran penuh bertumbuh bunga Yu Poppi, mirip dengan cerita Puteri Yu dari Tiongkok. Kumagai mendengar suara seruling. Hantu Atsumori menampakkan diri dan berkata pada Kumagai bahwa ia menginginkan sebuah seruling daun hijau untuk diletakkan di kuil Kurotani sebagai persembahan. Hantu Putri Tamaori yang menampakkan diri mengatakan bahwa ia menginginkan beberapa kuntum bunga poppi mekar yang tumbuh di sekeliling makamnya sebagai persembahan kepada Buddha.
Setelah tarian ini selesai, giliran selanjutnya adalah tarian gaya baru yang lincah berjudul Keelokan Kitano.
Tarian dari Kamishichiken dimainkan oleh Sanggar Hanayagi, tak seperti Gion, dimainkan oleh Sanggar Inoue.
Setelah Tn.Takichiro meninggalkan Aula Kitano, ia mampir di sebuah kedai teh bergaya lama dan segera menjatuhkan diri di kursi. Sikapnya itu mendorong nyonya pemilik kedai untuk bertanya geisha mana yang ingin ia panggilkan.
Hmm. Bagaimana dengan gadis yang menggigit lidah tamunya itu Dan juga gadis yang berkimono biru, pinta Tn.Takichiro.
Gadis yang di kereta itu Ya, tak masalah jika hanya untuk penyambutan.
Tn.Takichiro tengah minum-minum sebelum geisha itu datang, maka ia sengaja pergi keluar. Ketika geisha yang dimaksudkan datang untuk menemaninya, ia bertanya, Apakah kau masih menggigit
Kau ingat benar. Aku sudah tak menggigit. Coba, julurkan lidahmu.
Aku takut.
Benar, aku tak akan menggigitnya.
Tn.Takichiro pun menjulurkan lidah. Ia merasakan kehangatan yang lembut di dalam.
Ia sentuh punggung gadis itu dengan ringan. Kau telah betul-betul rusak.
Apakah itu kerusakan
Tn.Takichiro ingin berkumur, tapi ia tak bisa melakukannya selama geisha itu ada di sampingnya.
Ia telah berubah pikiran untuk melakukan kenakalan kecil ini dengan geisha itu. Namun bahkan perubahan sikap mendadak itu tak berarti di hadapan si gadis. Tn.Takichiro bukannya tak menyukai geisha itu, ia pun tak berpikir bahwa ia seorang gadis yang kotor.
Geisha itu menghentikan langkah Tn.Takichiro saat ia hendak kembali ke ruang tamu.
Tolong tunggu sebentar, kata geisha itu sambil mengeluarkan sehelai sapu tangan dan mulai mengusap-usap mulut Tn.Takichiro. Ada lipstik di sapu tangan itu. Geisha tadi mendekatkan wajahnya pada wajah Tn.Takichiro, menatapnya lekat. Sekarang sudah bersih, ya kan
Terima kasih. Tn.Takichiro pun meletakkan kedua tangannya di pundak geisha itu.
Lalu gadis itu pun duduk di muka cermin di ruang istirahat untuk memperindah olesan lipstiknya.
Ketika Tn.Takichiro kembali ke ruang tamu, tak ada seorang pun di sana, ia telah agak pulih dari pengaruh alkohol, jadi ia menenggak dua atau tiga cawan sake dingin, seolah untuk mencuci mulut.
Meski begitu, keharuman geisha tadiapakah ini aroma parfumnyamengalir dari suatu tempat. Samar-samar Tn.Takichiro merasa muda kembali.
Meski cumbuan sang geisha datang tak terdugaduga, ia ingin tahu apakah ia telah bersikap dingin pada geisha itu. Mungkin karena ia sendiri sudah lama menikmati hubungan akrab dengan seorang gadis belia. Geisha berusia dua puluh tahun itu mungkin telah menjadi wanita teristimewa di tempat ini.
Wanita pemilik kedai masuk bersama seorang gadis belia. Ia masih mengenakan kimono lengan panjang biru muda. Karena kau meminta, maka aku pun menyuruhnya untuk datang menyambutmu. Seperti yang kau lihat, ia benar-benar belia, kata wanita pemilik kedai.
Tn.Takichiro menatap gadis itu. Kau waktu itu menyajikan secangkir teh ke hadapanku.
Ya. Setelah menjadi gadis kedai teh, ia tak malu-malu lagi. Ketika aku membawakan teh ke hadapanmu, aku menyadari bahwa kaulah pria yang di kereta waktu itu.
Oh, terima kasih. Kau ingat aku
Tentu saja.
Ketika geisha yang menggigit tadi kembali, wanita pemilik kedai bicara padanya. Tuan Sada kelihatannya begitu menyukai gadis kecil ini.
Apa sahut geisha itu sambil melongok, menatap wajah Tn.Takichiro dari kejauhan. Ibu memang sungguh berpengalaman, tapi ibu harus menunggu sekitar tiga tahun. Lagipula, musim semi mendatang ia akan pergi ke Pontocho.
Ke Pontocho Untuk apa
Ia ingin jadi maiko. Ia mengaku sering bermimpi menjadi seorang maiko.
Jika ia ingin menjadi maiko, tidakkah lebih baik jika ke Gion
Bibinya tinggal di Pontocho. Itulah mengapa ia mau ke sana.
Takichiro menatap gadis itu. Ia akan menjadi maiko terbaik, di mana pun ia akan pergi.
Persatuan Dagang Penenun Nishijin mengambil tindakan yang tak bisa diteladani. Mereka menghentikan pengoperasian seluruh mesin tenun selama delapan hari sejak tanggal dua belas hingga sembilan belas November. Karena tanggal dua belas dan sembilan belas adalah hari minggu, maka sebenarnya hanya ada penghentian kerja selama enam hari.
Ada beberapa alasan tindakan, tapi, bisa disimpulkan, tujuan ekonomislah yang mendasari. Mereka telah kelebihan produk, dan kain yang ada di tangan telah mencapai tiga ratus ribu gulung. Mereka bertujuan menjual beberapa yang ada di gudang dan lebih mengembangkan bisnis. Bahkan keuangan pun semakin berat.
Sejak musim gugur hingga musim semi tahun lalu, beberapa perusahaan dagang di Nishijin gulung tikar.
Kabarnya, berkat penghentian kerja selama delapan hari, stok mereka berkurang menjadi sekitar delapan puluh atau sembilan puluh ribu gulung. Hasil ini tentu menguntungkan, dan strategi penghentian kerja ini tampaknya bisa dikatakan sukses.
Seperti biasa dilihat saat kita berjalan-jalan di Nishijin, rumah-rumah tenun telah mengikuti peraturan, sungguh-sungguh meningkatkan kualitas tenunan.
Rumah-rumah kecil yang ada di sana, terbenam di bawah atap genteng tua dimakan cuaca, berdiri sebelah menyebelah seperti sedang bersujud. Bahkan yang terdiri dari dua lantai tampak agak pendek.
Lorong-lorong bagaikan sawah, namun lebih kacau. Setiap orang dapat mendengar derak suara mesin tenun dalam hitamnya kegelapan. Tak semua mesin tenun adalah milik pribadi; beberapa di antaranya adalah sewaan.
Kata orang, hanya ada sekitar tiga puluh toko yang mendaftar agar mendapat pembebasan dari kewajiban membayar pajak karena menghentikan kegiatan.
Keluarga Hideo tak menenun kain; mereka menenun obi. Tentu saja mereka menggunakan lampulampu listrik untuk menerangi saat mereka bekerja, bahkan di siang hari. Tapi toko mereka lebih terang daripada yang lain karena ada bagian tanah terbuka di belakang. Tetapi, dapur beserta perabot mereka masih terbuat dari bahan yang kasar, dan jika ada orang lain masuk ia mungkin akan bertanya-tanya di manakah mereka tidur.
Hideo seorang pemuda keras hati, dikaruniai bakat menenun dan ketekunan untuk mengerjakannya. Mungkin ia merasakan sakit di pantat setelah duduk terus menerus di antara bilah-bilah kayu mesin tenunnya.
Ketika Hideo mengajak Naeko untuk menghadiri Festival Jidai, ia lebih suka menatap hijaunya cemara yang tumbuh di alun-alun Gosho daripada arak-arakan itu sendiri, karena ini kesempatan baginya untuk lepas dari kesibukan sehari-hari. Pemandangan hijau cemara itu tentu saja bukanlah satu hal istimewa bagi Naeko, gadis yang bekerja di gunung-gunung dan lembah sempit.
Semenjak melihat Naeko mengenakan obi tenunannya di Festival Jidai itu, Hideo merasa semakin terdorong untuk terus bekerja.
Setelah Chieko pergi ke Oichi bersama Ryusuke dan Shinichi, gadis itu sering merasa betapa hatinya tertinggal di sebuah tempat, meski perasaannya tak cukup parah untuk bisa disebut menderita. Dan ketika gadis itu menyadari apa yang dialaminya, ia pikir ini tentu karena ia sering merasa khawatir.
Tanggal tiga belas Desember Kotohajime berlalu, dan di Kyoto pun musim segera berubah menjadi dingin. Mungkin hujan musim dingin telah membasahi matahari, bahkan meski langit tak berawan secuil pun. Sesekali es dan salju akan turun bersama hujan. Langit akan segera cerah kembali, secepat ia berubah mendung.
Persiapan tahun baruini berarti juga musim orang memberi hadiah akhir tahunsecara tradisional dimulai setelah Kotohajime. Tentu saja tempat pelaksanaan kegiatan ini yang paling disoroti adalah kawasan orang mencari hiburan. Saat itulah pembantu geisha yang terdiri dari para pria dan maiko berkeliling ke kedai-kedai teh, rumah pemusik Kabuki, dan rumah tinggal geisha-geisha senior pokoknya semua yang telah membantu kesuksesan geisha dan maikountuk membagi-bagikan kue beras yang dibentuk menyerupai cermin.
Kemudian seorang maiko akan berkeliling mengucapkan selamat tahun baru. Tujuannnya adalah untuk mengungkapkan cara apa pun selama satu tahun terakhir dan untuk meminta kemurahan hati mereka di tahun berikutnya. Di hari ini, hari awal tahun baru, para maiko dan geisha hilir mudik, datang dan pergi dengan pakaian-pakaian mencolok, memeriahkan suasana di sekitar Gion hingga lebih semarak daripada hari-hari lain.
Toko Chieko tak begitu meriah dikunjungi.
Setelah menyelesaikan sarapan, Chieko naik ke lantai atas sendirian, ingin sedikit merias penampilan; namun tangannya tampak enggan melakukan.
Kata-kata Ryusuke yang begitu bersemangat waktu di kedai sop di Kitano itu sungguh telah menancap di hatinya. Cara pemuda itu mengungkapkannya cukup tegas, bahwa ia berharap Chieko betul-betul ditinggalkan di muka tokonya ketika masih bayi.
Adik Ryusuke, Shinichi, adalah teman bermain Chieko sejak kanak-kanak sampai sekolah menengah atas. Pemuda itu mempunyai watak yang lembut, dan meski Chieko tahu bahwa pemuda itu menyukainya, pemuda itu tetap tak mengungkapkan apa pun yang bisa membuatnya kagum demi hubungan baik dengan sang kakak. Chieko dan Shinichi dapat terus merasakan persahabatan tanpa rasa khawatir.
Chieko menyisir rambut panjangnya, membiarkan sisir itu menggantung di punggungnya, lalu ia turun.
Tengah ia menyelesaikan sarapan, Chieko menerima telepon dari kampung Kitayama.
Ini Nona Chieko ya tanya Naeko. Aku ingin bertemu denganmu. Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.
Naeko, aku senang mendengar suaramu lagi. Bagaimana kalau besok usul Chieko. Besok juga tak apa. Asal ada waktu. Datanglah ke sini, seru Chieko.
Maaf, tapi sebaiknya tidak.
Tak mengapa. Aku telah bicara pada ibu, juga ayah pun tahu hal ini.
Tapi pegawainya masih di situ kan
Chieko berpikir sejenak. Yakh, jika kau rasa ini lebih baik, aku bisa datang ke kampungmu.
Di sini luar biasa dingin, tapi aku senang kau mau datang.
Aku ingin sekalian melihat-lihat pohonan sugi.
Sungguh Di sini dingin, dan mungkin gerimis akan turun; jadi, persiapkan dirimu dengan pakaian hangat. Aku bisa menyalakan api. Aku akan bekerja di dekat jalan, jadi aku bisa melihat kedatanganmu, seru Naeko.