MALAM MERUNJUNG - 8
ini kisah terjadi sebelum langit mempunyai kaki dan laut belum memiliki tepi. Jika seseorang pergi ke pantai dan memutuskan untuk berenang, maka ia akan berenang di laut dan langit sekaligus. Jika ia berenang terus ke depan dan ke depan, akan ada masanya ketika ia sampai di tengah-tengah laut an dan orang-orang mesti mendongak untuk melihatnya.

Saat itu, dunia seperti di dalam bohlam lampu. Daratan cuma satu. Apa-apa cuma satu. Orang-orang belum mengenal angka. Kalaupun ada yang lebih dari satu, mereka tak mau repot menghitungnya. Karena mereka pikir tak ada gunanya berhitung. Mereka bahkan tak tahu berapa banyak mereka. Berapa yang pergi dan berapa yang datang. Yang mereka tahu, ada hewan laut berbentuk bundar. Kembar tapi tak sepenuhnya sama. Yang satu jingga keemasan, yang satu pucat keperakan. Hewan ini berenang mengitari dunia mereka, sesekali berpapasan dan membuat semuanya gelap dan menakutkan.

Di saat-saat gelap dan menakutkan ini, seseorang dari mereka, yang terlihat paling tua dan paling lelah, akan bercerita tentang ikan. Kata si tua, ikan-ikan adalah benih kebajikan dan kejahatan yang lahir dari pertemuan matahari dan bulan. Mereka yang mendengar cerita ini tak sepenuhnya paham apa yang si tua ceritakan. Mereka cuma terpukau pada suara si tua ketika bercerita. Suaranya berat mendamaikan. Setiap kata memiliki bobot. Tak terdengar sebagai sesuatu yang ringan dan mudah beterbangan.

Saat salah seorang dari mereka bertanya, apa itu kebajikan Masih dengan suara beratnya si tua akan menjawab, bahwa kebajikan adalah ketika mereka melakukan sesuatu yang membuat orang lainnya senang. Sementara apa yang disebut kejahatan adalah segala hal yang menyusahkan.

Lalu pertemuan singkat matahari dan bulan itu pun berakhir. Kegelapan perlahan surut menjadi jejak-jejak bayang yang memanjang. Satu per satu mereka menarik diri meninggalkan si tua. Kembali pada apa pun yang ingin mereka lakukan. Satu dari mereka akan membuat yang lainnya senang, dan mereka pun menyadarinya sebagai sebuah kebajikan. Pada saat seperti ini, jika mendongak, mereka akan melihat ikan-ikan yang berenang keperakan pada lautan di atas mereka. Jika melakukan hal yang menyusahkan, ikan-ikan yang berenang itu terlihat seperti noda hitam yang melayang di angkasa. Kadang ikan yang keperakan memakan ikan yang gelap. Kadang sebaliknya.

Adakalanya ketika berusaha membuat yang lain senang, satu dari mereka mengalami kesusahan. Adakalanya pula, mereka mengalami kesusahan sementara membuat yang lainnya senang. Hal ini sangat membingungkan. Tanpa menunggu perkawin an matahari dan bulan berikutnya, mereka pun mendatangi si tua dan bertanya apa yang sebaiknya mereka lakukan. Dengan suara berat dan lelahnya, si tua berkata bahwa hal-hal seperti itu kadang terjadi. Sebagaimana ikan keperakan menelan ikan yang gelap, kadang kebajikan melahirkan kejahatan. Kadang kesenanganlah yang menyusahkan.

Satu-satunya yang mereka pahami dari penjelasa n tersebut adalah suara si tua yang memiliki berat. Tak bisakah kebajikan atau kejahatan itu memiliki bobot seperti suara si tua tanya salah satu dari mereka. Agar yang satu berenang saja di bawah sementara yang lainnya tetap melayang di atas.

Kata si tua, jika begitu, salah satu dari mereka harus terus berenang. Menghampiri matahari atau bulan dan memintanya melahirkan kebajikan dan kejahatan dalam bentuk yang berbeda. Dalam berat yang bisa dibedakan hingga yang satunya melayang saja di atas mereka sementara yang lainnya tetap berenang dan bisa mereka tangkap sesekali.

Akhirnya, mereka pun berembuk memutuskan siapa gerangan yang mesti berenang ke laut dan terus ke depan dan ke depan menyusul matahari ataupun bulan, atau sekaligus keduanya. Karena tak seorang pun tahu berapa lama mereka harus berenang sampai menyusul matahari dan bulan, akhirnya mereka memilih yang tampak paling kuat di antara mereka. Mengantarnya ke pantai dan menyaksikannya terus berenang ke arah matahari yang tengah merangkak naik pada laut yang jingga.

Hingga matahari telah tinggi dan berenang tepat di atas kepala, tak ada tanda-tanda kalau utusan yang mereka kirim telah sampai di sana. Mereka lalu mengirim satu orang lagi untuk menyusul dan me ngajukan permintaan yang sama. Namun sampai matahari berenang turun di laut yang merah, tak juga ada tanda-tanda dari utusan yang mereka kirim.

Rembulan mulai berenang naik dan seisi dunia seperti bola perak. Segala hal tampak pucat kebiruan dan bayang-bayang terlihat lebih lembut. Mereka mengirim satu orang lagi untuk menyusul utusan sebelumnya, sekaligus menghadapi rembulan yang terlihat jauh lebih ramah daripada matahari. Jika kamu tak bisa mencapai matahari, setidaknya, rembulan akan menyusul utusan sebelum kamu, kata si tua. Satu per satu mereka pergi. Matahari naik dan turun lagi. Rembulan merayap naik dan berenang turun. Si tua akhirnya tinggal sendiri.

Pada satu siang yang terik, ia berbaring menatap perpanjangan laut yang biru dengan matahari yang berenang di tengah-tengahnya. Kata si tua, Sekarang tinggal aku sendiri. Kenapa tidak kau biarkan saja mereka menyusulmu tadi

Kata matahari, Kenapa bukan kamu saja yang berenang kemari

Tak ada untungnya bagiku.

Ini bisa menguntungkan bagi kita berdua, ucap matahari. Ia berenang turun dan lautan yang biru beranjak abu-abu kemerahan. Aku melihat wajah tuamu. Suara lelahmu yang berat. Kau mungkin lupa, kalau akulah yang terus membakar usiamu dan membuatmu terus tua. Aku tahu kamu merahasiakan pengetahuan ini dari mereka, yang lahir dan tumbuh besar tanpa mengerti apa artinya menjadi tua. Karena kau takut mereka akan bertanya, apa yang akan menyambut mereka setelah tua Kau tahu apa yang menunggu mereka. Tapi kau tidak tahu apa selanjutnya.

Dan kau pun tidak tahu apa selanjutnya, kata si tua.

Setidaknya, aku punya pengetahuan yang bisa membuat usiamu tak bisa terbakar oleh apa pun. Tidak oleh sinarku.

Kata-kata terakhir dari matahari kemudian ditelan oleh lautan. Si tua menghabiskan waktu semalaman memikirkan tawaran yang disodorkan matahari. Rembulan tengah berbentuk seperti perahu perak. Berlayar perlahan memanjati laut yang tenang tanpa ombak.

Akhirnya ia memutuskan berenang menyusul rembulan. Di sana ia bertemu dengan mereka yang dulu berenang pergi satu-satu ke matahari. Mendapati si tua berjalan di atas tanah yang berpendar di hadapan mereka, mereka pun bangkit dan berhamburan menyongsong si tua.

Kata mereka, Sebelum tiba di matahari, rembulan lebih dulu menyusul kami.

Kata si tua, Lalu apa yang menahan kalian di sini

Salah satu dari mereka menggamit lengannya. Membawa si tua ke sebuah kawah dengan mata air yang berpendar keperakan. Di tengah-tengah mata air itu, ada mawar yang pucat mekar dengan seorang perempuan yang tengah terlelap di atasnya.

Kami menunggunya terbangun untuk menjawab pertanyaan kami.

Kalian sudah melakukan apa saja untuk membangunkannya

Mereka menoleh satu sama lain. Selama ini mereka memang tak melakukan apa-apa.

Kami duduk di sini mengaguminya, kata salah satu dari mereka kemudian.

Dari sini, kamu dan daratan terlihat seperti hewan laut yang berenang turun naik berwarna hijau, kata yang lainnya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan kata yang satunya lagi.

Si tua teringat akan tawaran matahari. Kemudian ia turun memasuki mata air itu. Memetik mawar pucat dengan perempuan yang masih terlelap itu. Katanya kepada mereka, Kalian tetaplah tinggal di sini. Jagalah tanah ini. Dari sini nanti, kalian akan mengerti mana kebajikan dan mana kejahatan. Lalu ia berenang pergi ke matahari.

Saat itu mereka melihatnya seperti titik hitam yang berenang pelan di lautan. Matahari yang masih merah muda baru saja terbangun dari tidurnya. Ketika si tua tiba di sana, mereka yang tinggal di rembulan melihat matahari itu perlahan redup. Redup bersama lautan. Menjadi hitam bersama segala di sekitar. Ketakutan mencekam mereka karena kegelapan semakin pekat. Lebih gelap ketika matahari dan bulan bertemu. Lebih gelap dari kegelapan yang pernah mereka kenal. Mereka pun berteriak memanggil-manggil si tua. Dalam kegelapan ini tak ada suara beratnya yang mendamaikan mereka.

Ketika ketakutan mereka mencapai puncaknya, saat itulah mereka melihat sebuah cahaya perlahan mekar. Seperti mawar, merekah dalam gelap. Bersamanya kebajikan dan kejahatan itu berenang-renang seperti menari.

Ruang gelap itu pun terbelah. Langit memiliki kaki dan lautan memiliki tepi. Yang berenang itu sebagian tertinggal di laut, yang lainnya berenang di langit. Yang tertinggal di laut menjadi ikan, menjadi kehidupan. Yang berenang di langit menjadi bintang, memberi kehidupan. Seperti matahari kita kini.

Jadi mana lebih banyak jumlah ikan di laut atau bintang di langit Jawabannya bukan ikan.

Dan rembulan itu, akhirnya berhenti berputar. Waktu harus berhenti dan mereka masih di sana. Melihat kita di sini yang mengendarai bumi seperti hewan laut biru yang berenang di lautan hitam. Dari ketinggian mereka bisa melihat kebajikan dan kejahatan lebih jernih.

Sampai kemudian Neil Armstrong memijaknya dan menancapkan bendera Amerika di sana, kataku.

Itu tidak lucu! Mereka tinggal di bagian tergelap bulan, kurasa. Yang terpenting cerita lakilaki itu soal cahaya yang mekar seperti mawar.

Kamu bisa membongkar buku sains dan mendapat penjelasan yang lebih masuk akal.

Aku tahu kamu menertawakanku, tapi diamdiam kamu mencuri gagasanku dan menuliskannya. Aku membaca ceritamu minggu ini. Kamu menulis tentang laki-laki di pohon kita dulu itu. Ia beranjak keluar, melalui pintu belakang rumahku yang waktu itu masih berdaun pintu. Memakai sepatuku dan pergi sambil berkata, Aku akan meninggalkan sepatumu ini di suatu tempat yang akan membuatmu mengerti apa yang kumaksud.

Aku tak pernah mengira suatu hari aku akan mengerti apa yang dia maksud. Saat itu kupikir aku tak akan pernah melihatnya lagi.