Usai sekolah Anka langsung menuju kafe, mengejar jam kerjanya yang dimulai jam tiga sore sampai jam sembilan malam. Setelahnya, Anka langsung ke rumah sakit untuk menunggui ibunya, bahkan lebih sering tidur di sana, dan keesokan harinya kembali berangkat ke sekolah. Begitu setiap harinya, sampai Anka sendiri merasa seperti robot yang diprogram hanya untuk menjalankan rutinitas melelahkan itu.
Siang ini selepas bel pulang sekolah, Anka dan Danu berjalan menyusuri parkiran sekolah.
Teriknya sinar matahari yang menyengat membuat Anka merasa seperti dibakar pelan-pelan.
"Lo mau langsung ke kafe, Ka" tanya Danu, yang dijawab Anka dengan anggukan pelan. "Coba gue bisa ikutan kerja bareng lo..."
"Ngapain lo kerja Kan masih ada Kak Damara yang nanggung semua kebutuhan hidup lo."
"Ya... gue pengin aja kerja bareng lo," kata Danu. "Kan sahabat harus ngerasain apa yang sahabatnya rasain, senasib-sepenanggungan gitu."
"Norak lo." Anka meninju bahu Danu. "Jangan sok bijak deh, nggak pantes... Udah ah, gue mau nunggu Metromini di halte depan."
Anka duduk di bangku panjang halte menunggu Metromini, masih ditemani Danu. Kendaraan lalu lalang menjadi pemandangan utama dan debu beterbangan menjadi suplai oksigen ekstra yang "menyegarkan".
"Lo nggak pulang bareng Andro"
"Nggak... hari ini gue mau ke toko buku, makanya gue bareng lo naik Metromini, entar gue tinggal turun di depan malnya."
Anka tersenyum mendengar penjelasan Danu. Hari ini ke toko buku, kemarin pergi ke rumah teman yang letaknya tidak jauh dari gedung tempat kafe Anka bekerja. Danu sepertinya selalu punya alasan untuk menemani Anka. Walaupun hanya beberapa puluh menit berdesakan di Metromini, Anka sangat menghargai upaya Danu untuk menunjukkan kesetiakawanannya.
Hampir lima belas menit Anka duduk bersama Danu di halte, mereka belum berhasil juga naik Metromini. Dua Metromini yang terakhir lewat bukan main sesaknya. Anka mulai gelisah, tidak ingin datang terlambat ke kafe, apalagi baru beberapa hari bekerja di sana.
Di tengah harap-harap cemas Anka menunggu Metromini, Honda Jazz warna hitam melintas pelan di depan mereka, di dalamnya terlihat Riko bersama seorang gadis yang dikenali Anka sebagai Irva anak kelas XII-IPS-1 yang belakangan ini terlihat dekat dengan Riko.
"Ka, yang tadi beneran Riko" tanya Danu, tidak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya.
"Iya, emang Riko," jawab Anka sekenanya.
"Kok bisa dia sama Irva"
"Mereka emang udah lama deket..."
"Kok gitu Riko kan pacar lo, mana boleh dia deket sama cewek lain!" protes Danu sengit. "Brengsek banget!"
"Riko nggak salah, Nu..." Anka tersenyum getir. "Gue yang selalu menghindar dari dia. Jadi bukan salah Riko kalau dia sekarang deket sama Irva."
"Tapi tetep aja, Ka, Riko itu kan..."
"Udahlah... biarin aja. Gue nggak apa-apa kok," kata Anka dengan nada suara yang diusahakannya terkesan normal, "Eh, tuh Metromini-nya."
Anka segera bangun, berdiri di mulut halte, menunggu datangnya Metromini yang masih 300 meter jauhnya. Anka bisa merasakan tatapan tidak percaya Danu dengan apa yang baru saja ia katakan. Anka sadar, Danu tahu ada rasa sakit yang menyesak, rasa sakit yang tidak akan pernah ditunjukkannya, tidak di saat ia sudah terbiasa menyembunyikan rasa sakit lain yang jauh lebih menyesakkan.
***
"Ternyata cara seperti ini mempan juga untuk membuat kamu berhenti menghindar dari aku."
Anggun menatap Damara yang duduk di depannya, dengan tatapan seolah ia berhasil mengikat Damara kembali.
Siang ini Damara terpaksa menuruti permintaan Anggun, menemui wanita itu di kafe Rio setelah hampir dua minggu berusaha tidak menghiraukannya. Kini ia duduk di depan Anggun layaknya orang bodoh yang sekali lagi membiarkan dirinya terikat dengan apa yang seharusnya tidak dibiarkan mengikatnya.
"Sekarang kamu sudah tahu kan, Mar, kamu nggak bisa lepas begitu aja dari aku." Anggun kembali melanjutkan kesombongannya, "Nggak semudah itu menjauh dariku." Senyum puas mengembang di wajah Anggun, senyum yang sekali lagi menegaskan ketidakberdayaan Damara.
"Aku nemuin kamu di sini, karena aku nggak mau kamu mengusik orang-orang terdekatku," kata Damara dingin. "Aku nggak mau mereka terganggu dengan kelakuanmu yang nggak beda dengan gadis belasan tahun yang kehilangan kekasih."
"Kamu seharusnya senang, aku mau repot-repot cari kamu ke tempat ini." Anggun mengulurkan tangan lalu menggenggam tangan Damara.
Damara memandang ke sekeliling kafe, tidak ingin ada yang melihatnya berduaan dengan
Anggun seperti ini, terlebih Rio. "Aku sama sekali nggak suka cara kamu," tandas Damara, menarik tangannya dari genggaman Anggun. "Dan kamu tahu aku akan seperti apa kalau kamu terus seperti ini."
"Kamu akan pergi dari aku, itu kan yang mau kamu bilang... Kata-kata itu sudah sangat familier buat aku, kamu sudah terlalu sering mengatakan itu, Mar." Pandangan Anggun pada Damara semakin terkesan meremehkan, tangan Damara bergetar hebat menahan semua emosi yang tidak bisa ia lampiaskan.
"Sekarang kamu sudah merasa hebat. Kamu pengacara mapan, kamu tidak butuh aku lagi, tapi... nggak semudah itu, Mar."
Damara menghela napas, lelah dengan semua perdebatan ini. Demi Tuhan, ia ingin semua ini segera berlalu. "Aku tahu... aku tahu dengan jelas semua itu!" kata Damara habis sabar. "Aku sadar, mungkin selamanya aku nggak akan bisa menjauh dari kamu. Uang dan kekuasaanmu dengan mudah bisa mengikat aku... Tapi apa berlebihan kalau aku minta agar kamu tidak mencampuradukkan hubungan kita dengan kehidupanku Aku punya keluarga dan sahabat yang akan tersakiti kalau mereka tahu mengenai semua ini."
Menanggapi semua perkataan Damara, Anggun dengan santai mengangkat cangkir hot chocolate-nya, menyeruputnya dengan keeleganan yang selalu dijaga. Setelahnya, bibir merah Anggun membentuk senyum kecil, senyum yang menunjukkan bahwa baginya kata-kata Damara hanya serupa rengekan anak kecil yang minta dibelikan mainan.
"Memang bukan hal besar kalau kamu menginginkan hubungan kita tidak diketahui orangorang terdekat kamu. Aku sendiri juga menginginkan hal yang sama. Aku nggak mau orangorang terdekatku tahu, terutama suamiku... Sayangnya sikap kamu belakangan ini tidak menunjukkan itu semua."
"Maksud kamu" Damara menatap tajam ke arah Anggun.
Senyuman, yang bagi Damara terasa begitu melecehkan, kembali mengembang di wajah Anggun. "Kamu nggak mau terima telepon dari aku, nggak pernah datang kalau aku minta, bahkan kamu menolak nemuin aku saat aku nunggu kamu di sini."
Damara mengalihkan pandangannya dari Anggun. Tidak ada sanggahan yang bisa keluar dari mulutnya. Anggun jelas tahu benar cara membuat Damara tidak bisa membantah. Damara sempat melirik Anka yang sedang membersihkan meja, beberapa meter dari meja tempat ia dan Anggun duduk, sebelum kembali menatap Anggun.
"Aku sibuk..." kata Damara akhirnya.
"Sibuk..." tanya Anggun sangsi, seraya mengibaskan rambut cokelat sebahunya yang bergelombang indah. "Imelda Azizah... Model itu sudah jadi prioritas kamu rupanya."
"Dia klienku, mau nggak mau dia menjadi prioritasku," tegas Damara. "Sepertinya nggak ada gunanya aku duduk di sini. Aku capek ngomong sama kamu. Kamu terlalu keras kepala dan egois untuk mau mendengar semua pendapatku."
Damara bangun dari duduknya, sekilas menjatuhkan pandangannya pada Anggun sebelum melangkah meninggalkan wanita yang selama ini begitu dekat dengannya. Wanita yang dulu menjadi penopangnya di masa sulit, wanita yang seharusnya tidak pernah didekatinya. Wanita yang selalu membuat Damara bertanya-tanya saat menatapnya, apakah di balik pandangan melecehkannya, di balik keangkuhannya, Anggun pernah membutuhkannya secara tulus seperti yang Damara harapkan selama ini
***
Anka membersihkan salah satu meja di pojok kafe. Tangannya dengan terarah mengelap meja sekenanya, sementara matanya melirik penuh rasa ingin tahu ke arah meja nomor 23.
Di meja itu duduk Damara bersama seorang wanita cantik. Semua hal yang melekat pada diri wanita itu sudah menunjukkan kelasnya sendiri. Hampir setengah jam Anka memperhatikan mereka. Sepanjang penglihatan Anka, tampaknya pembicaraan antara Damara dengan wanita itu tidak berlangsung baik. Sesekali Anka mendapati ekspresi dingin di wajah Damara tertuju pada wanita itu. Walaupun meja itu lumayan jauh dari jangkauan pendengarannya, tapi dari bahasa tubuh yang dilihat Anka, Damara sepertinya marah pada wanita itu. Berkali-kali Damara terlihat menghela napas berat, seakan meredam kemarahannya saat menghadapi wanita itu.
Anka tidak tahu ada hubungan apa antara Damara dan wanita itu. Berbagai dugaan muncul di otak penat Anka. Mungkin wanita itu salah satu klien Damara, karena sebagai pengacara yang banyak menangani kasus perceraian, tak heran jika Damara banyak memiliki klien wanita cantik. Tapi kemungkinan itu langsung terpatahkan saat Anka melihat wanita itu tiba-tiba menggenggam tangan Damara.
Anka tertegun sesaat, tangannya berhenti mengelap meja, entah kenapa jantungnya berdegup kencang. Anka seperti mengalami trans sesaat, hingga tiba-tiba Damara melihat ke arahnya. Anka memalingkan wajah, refleks tangannya kembali bergerak. Anka tidak ingin Damara tahu dari tadi ia memperhatikan mereka. Di tengah debaran jantungnya yang masih berdetak abnormal, tiba-tiba seseorang menepuk bahu Anka.
"Ka, dipanggil Chef Bastian, dia butuh bantuan di dapur," tegur Abner, mengagetkan Anka. "Udah sana, biar saya lanjutin di sini."
"Iya, Mas..." Seraya mengelus dada untuk meredam detak jantungnya, Anka meletakkan lap yang dipegangnya di atas meja. Anka masih sempat menoleh ke arah meja Damara sebelum bergegas masuk dapur.
* * *
"Gue emang nggak bisa bantu lo apa-apa untuk soal ini, tapi gue bakal selalu ada untuk lo, Ka..." - Danu