Reid baru saja berhenti memutar bola mata seperti anak-anak.
"Ayolah, Lu, aku tidak butuh peregangan spesial seperti itu lagi. Sudah lebih dari seminggu. Mari lakukan sesuatu yang normal."
"Oh, maaf, aku tidak menyadari kau punya tingkatan untuk terapi fisik." Lucie memutar lalu meraih tembok terjauh dari ruang terapilatihan-perbaikan. "Kenapa kau butuh bantuanku lagi"
"Sarkasme tidak sesuai untukmu," Reid menggerutu. Tapi ia tidak bisa benar-benar marah karena Lucie terlihat sangat menarik dengan pakaian latihannya yang baru. Tidak ada lagi tank top kebesaran dan keringat . Sekarang Lucie memakai tank top pink pucat Lycra dengan celana yoga ketat.
Rambut hitamnya dikuncir ekor kuda dengan poni tebal dan beberapa helai membentuk wajahnya. Lucie baru saja menyelesaikan rutinitas elliptical dan kulitnya berbalut keringat dan pancaran sehat mempengaruhi pipinya.
Berjalan dimana Lucie berdiri dengan penggaris kertas yang mereka gunakan untuk mencatat kemajuannya, Reid tidak mempedulikan lari sepuluh mil menggunakan treadmill. Ia berhenti pelan-pelan dan melihat T-shirtnya yang bermandikan keringat yang sekarang terlihat hitam yang tadinya sudah kusam dan pudar.
"Apa yang kau lakukan" Lucie bertanya saat Reid melepaskan pakaiannya.
Ia tersenyum jail. "Mencoba untuk tidak menyinggung perasaanmu yang halus."
Lucie mendengus dan menepuk separuh wajahnya. Jelas terlihat Lucie terpengaruh, tapi Reid tidak terlalu yakin kenapa. Ia senang mendapat reaksi darinya. Saat ia sedikit mendekat, Reid menambahkan dengusan Lucie lebih sering untuk dicatat dibenaknya dari daftar kenapa ia tetap bersama Lucie. Ia menyukai tantangan.
"Tahan kakimu rentang dua kaki dari tembok dan gerakan jarimu di penggaris sampai kau merasakan tekanannya. Kemudian bersandar di tembok sampai kau merasakan peregangannya." Ia melakukan seperti yang diinstruksikan Lucie, meskipun ia lebih suka mengangkat beban untuk pemanasan. Pemanasan seperti ini hanya untuk banci.
"Bagus. Tahan sekitar sepuluh detik... dan ulangi dari awal."
"Ini aneh. Tidak bisakah aku mendapatkan hasil dari lima pon di tanganku dan mengangkatnya dengan aturan yang sama" Tangannya berada di kedua pinggang langsingnya saat berkata, "Sekarang kenapa aku tidak memikikan hal itu Oh, Aku tahu. Karena itu tidak akan meregangkan otot-otot. Itu akan menggerakan otot-otot."
"Baiklah, lakukan dengan caramu. Tapi kita akan menyatukan latihan kita lain kali."
"Ap"
Pertanyaan Lucie terpotong dengan pekikan saat lengan kirinya merangkul pinggang dan mendekatkan mereka. "Disana. Sekarang aku punya dorongan untuk bersandar di tembok."
"Reid, apa yang sedang kau lakukan"
Ia tidak bisa menahan senyum puasnya saat berkata, "Mencium."
Mata Lucie melebar dan tercengang cukup untuk membuat bibirnya terpisah. Ia menunggu dengan sabar sampai shocknya reda. Dan untuk penolakannya ia tahu itu akan terjadi.
"Tentu saja tidak. Keluarkan itu dari pikiranmu. Aku tidak akan menciummu Andrews."
Ketika ia mengangkat alisnya seperti mengatakan, sedikit terlambat untuk itu, Lucie menggertak, "Aku tidak akan menciummu lagi."
Menegakkan bahunya yang tidak sakit ia seakan-akan tak mempedulikannya. "Kau mungkin benar. Aku yakin kau tahu semua trik-trik kecil bagaimana membuat seorang pria berlutut dengan ciuman kecil. Gairah nyatanya menjadi hal alami kedua bagimu." Kemudian ia memberikan tembakan tepat. "itulah kenapa kau membutuhkanku untuk mengajarimu bagaimana mendapatkan Dr. Mandible di urutan pertama."
Ia harus menjadi serakah untuk membuat kekalahan telak, karena jelas itulah yang akan ia dapat jika Jax mendapati Reid mencium adiknya. Jax sangat protektif dengan apa yang Lucie lakukan, dan dengan alasan yang tepat. Tidak berpengaruh meskipun Lucie hanya terpaut usia beberapa tahun lebih muda darinya. Lucie terlihat polos dan lugu. Percayalah.
Jadi kenapa sangat sulit baginya untuk menjauh darinya Apa karena Lucie tipe wanita yang berlawanan dari yang biasanya ia kencani Bukan berarti ia "berkencan" sejak ia terluka. Saat ia berpikir untuk tidak akan bertarung lagi ia akan mengurangi, menolak setiap tawaran yang menghentikan jalannya. Mungkin akhirnya sekarang tembakan kecilnya tercapai melampui libidonya kembali. Sial, ia tidak tahu apa yang harus dipikirkan.
"Sekarang saat kau sudah memiliki kencan dengan seorang pria kau butuh bagaimana caranya melangkah, Luce. Kau merayu seperti seorang pemenang dan menendangnya, tapi jika kau bosan saat waktu untuk hal lainnya, kau berikan dia signal dan dia akan mundur."
Lucie gelisah bibir atasnya seperti roda di dalam kepalanya yang berputar. Setidaknya ia mengangguk dan titik di perutnya yang berpikir tidak akan merasakan bibir itu lagi terurai. "Oke. Kau membuat poinnya. Tunjukkan apa yang kulakukan."
"Pertama kau harus tenang. Kau terikat kencang aku takut kau tergigit. Berbalik."
Memegang bahunya ia membaliknya sampai bahu Lucie di depannya, dan kemudian mulai memijat punggung atas dan bahunya. Dengan segera Lucie meleleh di tangannya dan mendesah. "Aku tidak ingat kapan terakhir seseorang memijatku. Terasa luar biasa."
"Kasihan kau," katanya, memperhatikan bentuk lehernya saat kepalanya tertunduk. "Setiap orang harus memiliki seseorang untuk menghilangkan stresnya."
"Mmm," jawabnya menyetujui. "Kalau kau, siapa yang memijatmu"
Barisan wanita-wanita yang lebih senang memberikan pijatan di bawah sebagai pembuka seks berada di benaknya. Untuk beberapa alasan, berada di sini dengan Lucie, semuanya terlihat...kurang menarik. "Seperti semua atlet, kami memiliki dokter di gym yang melakukannya untuk kami."
"Mmm."
Ia tersenyum, menyukai gairah kecil yang diberikan tangannya. Ia menekankan jempolnya di ujung leher ke kepalanya, lalu memijat dengan lingkaran kecil. Lucie dengan pelan, menahan nafas dan menghela nafas dengan desahan saat bahunya ditarik kebawah denagn peregangan yang menenangkan.
"Bagus." Ia memindah tangan ke bahu Lucie dan bekerja di titik diantara bahunya. Sebelum ia menghentikan dirinya ia bersandar, menempatkan wajahnya di sisi kepala Lucie. Rambutnya menggelitik pipinya dan bau bunga bercampur dengan antisipasinya untuk mencicipinya lagi membuat mulut Reid berair.
Ia menggerakkan kepalanya sedikit untuk berbicara di telinganya. "Tahan rasa nyaman dan abaikan. Simpan di kepalamu, oke"
Lucie mengangguk dan ia membaliknya sehingga punggungnya bersandar di tembok lagi. Dengan lengan kanannya, ia mulai menggerakkan jari-jarinya di tembok untuk meregangkan, membawanya untuk mendekat padanya. Berbicara soal dorongan.
"Sekarang fokusmu ada dimataku..."
"Uh-huh..."
"Tapi kalau kau terlihat ingin dicium, dimana seharusnya kau melihat"
Tatapannya rendah dan terpaku di mulutnya. Mata pucat abu-abunya berubah menjadi perak cair. Bulu matanya tidak mungkin setebal dan sepanjang seperti yang biasa ia lihat, kemudian lagi, sudah lama ia melihat wajah wanita yang bebas dari riasan, apalagi tanpa bulu mata palsu. Ia lebih menyukai Lucie. Di sana ada garis bulu mata tebal, kemudian menyatu menjadi segitiga runcing yang melengkung sedikit. Seperti khayalannya akan kibasan peri.
Lucie menjilat bibir dengan ujung lidahnya, membuatanya berkilau lembab. Hanya beberapa inci jarak mereka berdua saat tangan kanannya naik setinggi yang bisa dilakukan tanpa menimbulkan rasa sakit. Sekarang bersandar dengan peregangan.
Saat Reid dengan lambat, lambat mendekati jarak diantara mereka, ia mendengar nafasnya sampai celana dan detak jantungnya berdetak melawan rusuknya. Saat bibir mereka bersentuhan, nafas mereka berbaur, ia berhenti, memberikannya kesempatan untuk memulai. Untuk mendapatkan yang Lucie inginkan.
Namun Lucie tidak melakukannya.
Di akhir detik kesepuluh, Reid memindahkan tangannya dari tembok sampai ia berdiri tegak lagi, lengan di kedua sisinya.
Reid memperhatikannya beberapa menit, mencoba memahami bagaimana cara untuk membuatnya bertindak daripada berpikir. Sekali lagi, Ia menggerakkan tangannya ke atas tembok lagi, mendekatinya saat ia berbicara. " Katakan yang kau inginkan."
"Aku tidak mengerti."
"Ada alasan kita melakukannya. Kau menginginkan sesuatu. Jangan memikirkan jawabannya. Aku ingin kau merasakan jawabannya. Sekarang," Reid berkata bersamaan dengan ia menjauh sejauh yang ia bisa dan mulai bersandar padanya, "katakan padaku, apa yang kau inginkan."
Lucie menjilat bibirnya. Menelan dengan keras saat mulut Reid mendekat. Tapi tetap dalam jangkauan. "Sekarang"
"Secepat mungkin."
"Aku sangat ingin menciummu itu yang membuatku takut."
Jawabannya membuat Reid sangat terkejutia berharap Lucie menjawab panjang lebar tentang dokternyatapi Reid terlalu memikirkan dirinya sendiri untuk beralasan.
"Lakukan sesuatu tentang itu," komentarnya.
Lucie menangkup wajah Reid dan menautkan mulutnya. Saat ini, rasa asin dari keringat olahraganya bercampur dengan bibir rasa strawberi. Kombinasi ini sangat memabukkan, tak bisa dibandingkan dengan satu-dua pukulan yang ia dapatkan saat Lucie menjilat bibir atasnya dengan lidah.
Reid mendapati sebuah ajakan terbuka. Meluncurkan lidahnya ke dalam mulut Lucie seperti merasakan ambrosia manis.
Reid sangat berharap boxer pendeknya dapat bekerja lebih baik untuk menahan ereksinya yang membesar dari pada dirinya yang menahan puncak geraman yang terlepas dari dadanya.
Lucie menarik diri, tiba-tiba berubah seperti terapis. Walaupun Lucie tidak biasanya kehilangan nafas saat sedang menilainya. Reid menyukai efeknya seperti ini. Sangat. "Ini bukan ide yang bagus , Reid. Kau harus tetap fokus pada peregangannya atau kau akan membuat dirimu sendiri kesakitan."
Dengan tangan kirinya di dagu Lucie, ia mengalihkan perhatiannya dari luka Reid. "Bahuku tidak sakit sekarang, Lu. Walau aku tidak bisa mengatakan hal yang sama untuk anatomi tubuhku yang lain."
Ia menunggu dengan sabar saat benak polosnya menangkap niat jahatnya yang berkubang di selokan. Tidak berhasil. "Aku tidak mengerti, dimana sakitmu"
Ia menaikkan alisnya dan dengan cepat menyeringai lalu berkata,
"Aku berpikir kotor." Sekarang Lucie akan mengerti dalam tiga...dua...satu...
Pancaran mata abu-abunya yang agak membesar yang tiba-tiba tertarik dengan langit-langit di atas kepala Reid berkata padanya bahwa ia menang. Reid ingin tertawa betapa mempesona saat Reid melihat pipinya merona, tapi ia tidak yakin sendang ingin tertawa. Tidak. Pikirannya sudah mengharapkan satu tujuan yang akan membuatnya mendapat masalah. Sesuatu yang menyenangkan.
"Aku tahu aku bukan tipemu, Reid. Kau tidak perlu mempermasalahkan apapun untuk membuatnya lebih baik untukku. Aku sudah dewasa."
Apakah dia serius Lucie tidak percaya ia terpengaruh olehnya Sekarang itu cukup untuk membuatnya terganggu. Melepaskan peregangan bodohnya, ia meraih pantat Lucie dengan kedua tangan dan mendekatkan tubuh mereka.
Keras.
Kali ini Lucie terkesiap dan meletakkan tangan di dada Reid dengan lemah memberi sedikit jarak diantara mereka. Beruntungnya Reid, itu bukan suatu hal yang dipedulikannya dan melenyapkan apapun diantara mereka terutama pakaian mereka. Dan bahkan itu bukanlah taruhan yang aman kali ini. untuk membuktikannya, ia mendekatkan pinggulnya, membiarkan kejantanannya yang mengeras dan panjang menyentuh titik sensitif diantara kakinya.
"Merasakan itu, Lucie Itu bukan caraku bereaksi pada wanita yang tidak mempengaruhiku. Percayalah, ada banyak cara untuk mengajarimu hal itu. Tidak secara intim." Cara yang seharusnya ia gunakan. Tapi ia malah menggerakkan satu tangannya ke atas pinggang Lucie dan menyentuh putingnya dengan ibu jari, membuat desahan bergairah dari bibir yang bengkak karena ciumannya. Walaupun terhalang bra sportnya dan tank top, Reid dapat melihat putingnya menegang dan mengeras dari sentuhannya. Ia mendesis puas. "Sepertinya aku tidak bisa meninggalkan diriku sendiri seperti ini."
"Kenapa tidak" Lucie berkata dengan sedikit gemetar.
Kenapa tidak Itu adalah pertanyaan miliyaran dolar, benarkan Kenapa ia tidak bisa menghindar dari Lucie Kenapa saat ia membayangkan Lucie melakukan sesuatu dengan pria lain, kurang lebih si dokter brengsek yang ia impikan, perutnya menegang seperti dipukuli oleh petinju kelas berat
"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Yang kutahu aku lelah melawan diriku sendiri saat aku dekat denganmu seperti ini. Jadi seharusnya aku tidak begini. Mungkin mulai sekarang kita menggunakan rencana baru."
Reid tidak yakin Lucie menyadarinya atau tidak, tapi tangan Lucie meninggalkan dadanya dan bergerak ke lehernya, membuat payudaranya mendarat tepat ke arahnya. Sial, ia senang saat tubuh lembut Lucie berada di tubuh kerasnya.
"Apa yang kau sarankan"
Reid mendekatkan kepala mereka hingga berbagi nafas, hidung mereka bergesekan saat mereka berdansa dikelilingi oleh gairah untuk menyatukan mulut mereka. "Mungkin cara terbaik untuk mengajarimu cara merayu, adalah membuatmu merasakan rasanya dirayu. Dan membiarkanmu mencoba dengan orang yang bukan targetmu. Jadi kau bisa menghilangkan kecanggunganmu."
"Seperti sedang menjalankan uji coba."
"Benar. Pada akhirnya aku akan kembali memperoleh kembali gelar seperti keinginanku, dan kau memperoleh siapapun pria gila itu seperti yang kau inginkan. Tak ada ikatan, tak ada rasa bersalah. Tapi pada saat yang sama, kita meredakan panas dan mengeluarkan apapun ini keluar dari tubuh kita."
"Aku kira itu masuk akal. Jelas rencana yang bermanfat." Jari-jari panjang Lucie di tengkuknya bergerak ke rambut di dasar kepalanya saat Lucie memiringkan kepalanya ke belakang, menjelajahi daerah lembut dari leher untuk ia gigiti dengan bergairah. "Ya, Tuhan." Kata-katanya berupa desahan doa, yang terdengar cukup keras untuknya, mambuat dirinya tersenyum puas saat berpindah ke belakang telinga Lucie. Rasa Lucie seperti caramel asin, kombinasinya membuat Reid tidak pernah merasa cukup.
"Jadi apa yang kau katakan, Luce" ia menggigit daun telinga dan menenangkan dengan isapan lembut mulutnya.
"Aku bilang" katanya terpotong dengan terengah saat Reid menekan punggungnya sedikit untuk mendesak ke tembok.
"Kau bilang" Reid mendesaknya untuk mulai berkata lagi, sangat yakin ia tidak akan membuat Lucie menyelesaikan kata-katanya. Sangat menyenangkan mengganggu Lucie.
"Aku bilang bahwaUhh!" Saat itu Reid mendaratkan dirinya dimana ia tahu itu adalah titik sensitif yang membengkak dan sakit karena kedekatan mereka.
"Sial, Reid, ya oke Aku bilang ya untuk rencana baru!"
"Hanya soal waktu sampai kau mengatakan itu." Dan kemudian, Reid menyerangnya.