AKU MENGGUGAT AKHWAT DAN IKHWAN - 8
Insya Allah, ana siap menikah dengan anti!

Aku terbangun dari tidurku. Jantungku berdetak cepat tidak karuhan. Keringatku mengucur deras. Sejenak aku mengingat mimpi yang menghampiriku. Tidak mungkin! Gumamku lirih. Sejenak air mataku mengalir. Entah mimpi tadi adalah sebuah kebahagiaan, atau sebaliknya. Aku tidak tahu!

Suara adzan shubuh menggema dalam keheningan pagi. Masya Allah, malamku terlewat lagi. Tahajjudku, tertinggal kembali. Begini, kalau tidak ada suami yang membangunkan! Ucapku dalam hati. Seraya tersenyum. Segera aku bangun dari peraduan kasur busa yang empuk. Bergerak menuju kamar mandi. Setelah berwudhu, aku langsung mengambil jilbab dan mukenaku. Sesegara mungkin aku keluar dari kamar, mengajak ummi untuk langsung kemasjid. Ternyata Ummi sudah berada menungguku. Untuk berangkat bersama-sama kemasjid. Tentunya, tidak lupa mengajak bi Iyem untuk sholat berjamaah ke masjid.

Memang dahulu ada ketentuan, seorang wanita dilarang untuk pergi kemasjid. Tapi bukan berarti tidak boleh. Hanya saja, mungkin saat dijaman itu jalan-jalan masih gelap. Dan ditakutkan terjadi sesuatu hal kepada para wanita. Karena itu, sekarang banyak ahli fikih yang menyatakan boleh seorang wanita sholat berjamaah dimasjid. Setiap berjalan dalam langkah menuju Baitullah. Aku teringat dengan Abi. Kangen. Sudah enam bulan, Abi berada di Mesir. Mengurusi perusahaan yang baru dibelinya disana. Hem. Rasanya aku ingin bercerita banyak kepada Abi. Tetang mimpiku tadi malam!

Seperti biasanya, setelah sholat shubuh. Amalan pertama, membaca al matsurat yang kedua tilawah dan menghapal hadits serta Al Quran. Lalu berolah raga. Sedikit meregangkan otot-otot yang kaku. Gerakan-gerakan beladiri yang pernah aku pelajari. Aku ulang kembali, hitung-hitung menghapalnya lagi. Memang seharusnya para akhwat juga harus belajar beladiri. Kalau teringat peristiwa lalu. Seharusnya aku sudah dapat membekuk para penjahat itu. Meskipun mereka membawa pistol, seharusnya aku lebih berani dengan merebut pistolnya. Jika seandainya aku sudah bisa dan terlatih dalam berbeladiri. Pastilah dengan mudah aku merebut pistol itu. Tapi sayang, rasa takut teramat dalam yang sudah melandaku. Ya Allah, azamkan pada diriku untuk lebih berani!

Aku teringat saat masih belajar beladiri. Para Al Ukh, sering aku ajak untuk ikut latihan. Tetapi sayang, banyak para Al Ukh yang menolak berlatih beladiri. Dengan alasan yang bermacam-macam. Seperti halnya, bahwa Akhwat sudah tidak jamannya lagi berlatih beladirilah, sekarang jamannya sudah tidak memakai beladirilah, sekarang perangnya memakai otaklah. Entah seribu satu macam alasan yang digunakan oleh para Al Ukh, untuk tidak mengikuti latihan beladiri. Padahal, Rasulullah sudah mengingatkan kita, bahwa mukmin yang kuat lebih dicintai Allah ketimbang mukmin yang lemah. Kuat dalam artian, adalah kuat dalam segala hal. Kuat hartanya, kuat fisiknya, kuat akal fikirannya. Dan kuat dalam hal yang lainnya. Ini yang seharusnya menjadi pengingat kita. Bahwa Rasulullah senang dalam bergulat (beladiri) untuk melatih ketangkasan geraknya, Rasulullah menganjurkan kita untuk bisa berenang atau sering berenang, dalam artian. Bahwa Rasulullah menginginkan keseimbangan dalam kehidupan kita. Lalu Rasulullah menyerukan untuk berlatih memanah. Rasulullah menyerukan itu, agar kita lebih bisa memfokus dalam satu target yang tepat dalam berdakwah. Sambil mengukur dan mengetahui jarak sasaran yang tepat dalam berdakwah. Semua itu punya alasan. Bukan seperti kita yang selalu beralasan. Jika seorang akhwat bisa beladiri, maka akhwat itu Insya Allah akan lebih terjaga dalam geraknya. Bukan hanya pintar beladiri, tapi akhwat pun tidak harus gaptek. Semua hal seharusnya diimbangi. Bukan hanya salah satu saja.

***

Sejenak saat aku membaca surat Faathir 11. Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah. Aku jadi teringat mimpiku. Yaa Allah, seandainya engkau memang benar-benar menjodohkannya kepadaku. Maka aku akan senang sekali, tetapi aku juga tahu. Bahwa keinginan dan kesenangan-Mu jauh lebih aku senangi!

Aku bingung. Bingung dalam rasa ketertarikan kepada seorang ikhwan. Aku tidak melihat wajahnya, yang aku lihat geliat dakwahnya. Sungguh sangat memukau. Dia begitu bersemangat dalam berdakwah. Ketegasan dalam memimpinnya pun sudah aku rasakan. Seorang leadership yang begitu hebat. Sangat hebat menurutku. Entah aku melihat dengan nafsuku atau karena dia bisa memperlihatkan kemuliaan akhlaknya. Aku sangat bingung. Apakah aku harus mendahuluinya untuk memberitahukan maksudku ini Tapi aku malu! Tidak, aku tidak boleh malu. Ini bukan sebuah rasa malu. Walaupun aku nanti ditolak, biarkan. Tapi, ini bukanlah rasa malu. Aku harus seperti shahabiah yang lainnya. Meskipun ditolak, tapi ini bukanlah hal yang memalukan. Yang memalukan adalah, seorang akhwat yang hanya memendam rasa cintanya dan hanya bisa berharap tanpa ada usaha yang pasti untuk menggapainya! Aku harus bisa menggapainya.

Aku langsung menyambar HP dan kunci mobilku. Dengan cepat aku bergegas langsung menuju mobil. Didalam mobil aku langsung menelephon bibiku. Ustadzah Heni.

Hallo! Ucap Bibiku.

Hallo, Assalamualaikum. Bunda! Salamku. Panggilan Bunda merupakan panggilan kesayangku kepada Bibiku. Karena sejak masih kecil aku sudah disuruh untuk memanggil Bunda. Tetapi, kalau ditempat kajian aku tidak mau memperlihatkan kedekatanku dengan Bibiku. Biar kesannya nanti, bukan hanya aku yang memiliki beliau.

Walaikumsalam, Zah! Ada apa nih Tanyanya.

Ana pengen ketemu, Bunda! Sekarang, Bunda ada dimana Tanyaku balik.

Ana masih ngajar, setengah jam lagi ana sudah selesai! Anti datang disekolahan aja yah! Jawabnya.

Ok, Bunda. Ana sekarang meluncur kesana! Ucapku sedikit manja.

Iya, ana tunggu!

Assalamualaikum! Ucapku.

Walaikumsalam!

Dengan segera aku langsung bergegas di SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) Insan Mulia.

***

Wah, ini ada apa kok kelihatannya ada masalah yang besar! Ucap Bibiku.

Nggak juga, sih Bunda! Ana mau silahturahmi ke Bunda aja. Jawabku enteng. Tetapi menyiratkan sesuatu yang terpendam.

Bibiku tersenyum. Hem, mana mungkin hanya silahturahmi. Pasti ada yang lainnya. Goda bibiku.

Hehe... Bunda tahu aja!

Anti sudah ana asuh sejak masih bayi! Jadi ana tahu sifat anak sendiri dong! Ucapnya menghibur. Seraya membelai kepalaku.

Ana mau tanya, Bunda! Tentang Ukhti Reni!

Ada apa, dengan Ukhti Reni

Ana pernah ngobrol dengan Ukhti Reni, kalau dia ingin menembak duluan. Sudah belum Bunda Tanyaku.

Oh, itu. Alhamdulillah, sudah! Tetapi, jangan memberitahu teman-teman anti dahulu. Ini masih dalam proses. Ana bersyukur, ada akhwat yang seberani itu!

Hem, lalu si Ikhwan menerima nggak Bunda

Insya Allah, dari taarufnya. Si Ikhwan menerima! Memangnya kenapa

Oh... nggak apa-apa kok Bunda! Jawabku, sedikit tergagap.

Nggak apa. Apa, nggak apa-apa Goda Bibiku.

Hehe... nggap apa-apa kok Bunda! Ana hanya pengen meniru Ukhti Reni. Jawabku.

Sedikit tersenyum malu.

HA..! Alhamdulillah, sekarang Farah Zahrani sudah besar! Sudah dapat menentukan pilihannya sendiri. Ucap Bibiku. Terlihat kaget tetapi tersenyum senang.

Boleh, nggak Bunda

Ya, tentu boleh dong. Tetapi, tetap harus diseleksi dulu akhidahnya. Meskipun anti yang memilih. Ana nggak mau anti menikah dengan seorang ikhwan yang akhidahnya tidak lebih baik dari anti!

Insya Allah. Pilihan ana ini cocok kok buat keluarga kita!

Hem. Tetapi anti juga harus ingat. Jika dia tidak menerima anti, anti tidak boleh merasa sangat malu. Malu boleh tetapi harus tetap dikontrol. Agar tidak menjadikan rasa malu itu menjadi futur dalam berdakwah!

Iya, Bunda! Jawabku singkat. Sambil masih memperlihatkan sedikit rasa malu.

Lalu, Ikhwan mana yang terpilih untuk menjadi pendamping sang Bidadari Goda Bibiku lagi.

Aku masih senyum dengan memendam rasa malu yang teramat sangat. Akhi Khalid. Akhi Khalid Hendriansyah. Jawabku singkat.

Alhamdulillah. Anti memilih seorang Akhi yang memang tidak salah untuk dipilih!

Tetapi anti sudah bilang ke Ummi belum

Belum, Bunda. Insya Allah nanti, setelah ini!

Hem. Ya sudah, biar ana yang nanti bicara dengan Ummi! Anti persiapkan mental saja dulu.

Iya, Bunda!

Nanti, ana akan bilang ke ustad Fadlan. Ammi anti! Biar diurus semuanya.

Ana tunggu ya, Bunda. Bunda masih ada acara lagi nggak Kalau nggak, ana antar Bunda pulang!

Hem, syukron. Ana nanti masih ada syuro dewan guru. Ana nggak enak ninggal. Masa kepala sekolahnya nggak hadir disyuro! Ucap Bibiku. Dengan tersenyum.

Ya, kalau gitu ana pamit dulu. Bunda! Assalamualaikum Ucapku sambil mencium tangan bibiku.

Iya. Walaikumsalam. Hati-hati!

***

Dalam perjalanan pulang. Degup jantungku tak beraturan. Seorang Ikhwan yang sejak dahulu mencuri hatiku. Harus aku raih dengan keberanianku. Keberanian untuk menembaknya duluan. Aku takut, kalau sebenarnya. Akhi Khalid juga berpikiran demikan. Berpikiran, bahwa dia tidak cocok untukku. Hingga dia tidak berani menembakku duluan. Dari pada harus menunggu dengan ketidakpastian. Aku harus lebih berani menerima sebuah kepastian. Meskipun nantinya, jika aku harus ditolak oleh Akhi Khalid. Pedih dalam hati, pasti. Tapi, aku akhinya bisa mengetahui kepastian itu.

***

Tluuut.... tluuutt.. bunyi Hpku. Vita! Tampilan nama di LCD Hpku.

Assalamualaikum! Ucapku. Setelah menekan tombol Call.

Walaikumsalam. Jawabnya.

Wah, apa kabar Mbak Tanyaku. Basa-basi.

Baik! Kalau kamu, gimana Far Ucapnya. Balik bertanya.

Alhamdulillah, baik juga! Ada apa Mbak

Oh, nggak ada apa-apa! Hanya pengen nelphon aja. Kamu sekarang ada acara nggak, Far

Nggak ada. Kenapa Mbak

Aku pengen ngobrol. Bisa nggak

Insya Allah, bisa! Pengen ngobrol dimana Mbak

Kamu bisa ke Asia Resto nggak, sekarang

Bisa. Ok, aku sekarang kesana ya Mbak!

Iya, aku tunggu!

Assalamualaikum! Salamku.

Walaikumsalam!

Asia Resto. Hem, berkelas juga nih! Marcedesku melaju dalam aspal yang terpanggang dengan panas yang terlihat membara oleh fatamorgana.

***

Setelah aku parkir mobilku. Bergegas aku langsung masuk ke Restourant itu. Asia Resto, salah satu pijakan para eksekutif dan pembisnis untuk melepas penat kesehariannya. Makanannya halal, tetapi mahal-mahal. Abi pernah mengadakan rapat direktur disini. Yang akhirnya, aku kritik habis-habisan. Karena kehidupan hedonis sudah masuk diperusahaan yang mereka nyatakan perusahaan Islami. Seketika itu pun, Abi sudah tidak pernah lagi menyewa restourant itu.

Vita terlihat duduk sendirian. Wajahnya seperti menyimpan gundah dalam hati yang mendalam. Dia terlihat melamun, sambil memain-mainkan sedotan soft drinknya. Aku langsung berjalan kearahnya.

Assalamualaikum! Ucapku.

Wa..laikumsalam! Jawabnya, tergagap.

Kok melamun, Mbak Tanyaku sambil senyum.

Ah, nggak kok! Silakan duduk. Eh, kamu kok cepat sekali datangnya Ucapnya. Sepertinya, mengalihkan pembicaraan.

Iya. Sebenarnya sih, aku tadi dalam perjalanan yang sejalur dengan restourant ini. Jadi lebih cepat sampainya! Jawabku. Tak lupa dengan senyum ramah.

Mau pesan apa, Far Vita menyerahkan daftar menu, kepadaku.

Aku buka daftar menu air minum. Jus Alpukat aja deh! Ucapku, saat melihat minuman kesukaanku.

Kalau makannya Tanya Vita.

Hem. Nggak deh, aku masih kenyang! Jus Alpukat aja, udah mengenyangkan kok Jawabku sambil tersenyum.

Vita tersenyum. Setelah itu memanggil waiters dan memesankan pesananku.

Farah, kamu nggak apa-apa kan. Aku undang kesini! Tanyanya.

Hem. Nggak kok Mbak. Hanya saja, aku kikuk aja ditempat seperti ini. Kesannya elit banget! Kalau aku, makan di Ayam Bakar Wong Solo aja sudah kemahalan. Ucapku. Sambil bercanda. Untuk ukuran eksekutif, seperti Vita. Memang style yang diutamakan. Walaupun, pulang pergi naik angkot! Tentunya, jika aku disuruh untuk memilih antara Asia Resto dan Ayam Bakar Wong Solo. Mending di ABWS aja deh!

Vita hanya tersenyum. Sejenak, wajah yang cerianya berubah kembali murung. Kesan raut wajah menyiratkan gundah yang mendalam.

Mbak, kok kelihatannya sedih! Ada apa, cerita-cerita dong Kali aja aku bisa bantu!

Ya, karena itulah aku memanggil kamu! Entah kenapa, aku ingin sekali curhat dengan kamu! Entahlah. Vita sedikit menundukkan wajahnya. Sejenak menahan rasa deru. Matanya berkaca-kaca. Farah. Aku memang sukses dalam karier! Tetapi, kehidupan rumah tanggaku sangat berantakan.

Aku hanya mengangguk. Ikut mencoba merasakan kesedihannya. Walaupun, aku tahu. Itu hanya cerita klasik seorang wanita karier.

Tetesan air matanya berjatuhan. Sedikit Vita mulai mengatur nafasnya, mencoba mengatur lagi kondisi tubuhnya.

Vita menceritakan, kehidupan rumah tangganya tidak seindah kariernya yang terus melonjak. Suaminya menjadi tidak betah dirumah. Hingga akhirnya Vita menjadi sering bertengkar dengan suaminya, hanya karena masalah sepeleh saja. Mengatur rumah, memasak, mengurusi anak, dan lain sebagainya. Tidak dapat dia kerjakan. Karena kesibukan pekerjaannya. Sampai pada suatu malam, saat Vita pulang dari kantor. Dia melihat suaminya sangat khawatir dengan kondisi anaknya. Badannya demam tinggi. Beberapa kali, anaknya meracau tidak karuan. Segera langsung Vita dan suaminya pergi kerumah sakit. Hingga akhirnya anaknya diopname. Saat dirumah sakit, suaminya terlihat sangat sabar. Tidak seperti biasanya. Tidak seperti hari-hari yang dialami dengan pertengkarannya. Suaminya kembali menunjukkan sifat kesabarannya, yang pernah diadapatkan saat masih berpacaran dan hari-hari setelah menikah serta hari-hari saat baru mempunyai anak. Saat Vita belum bekerja.

Dengan arah pembicaraan yang terlihat sangat gundah dan gelisah. Tetapi tetap menunjukkan kesabarannya. Suami Vita, memberikan pilihan kepada Vita. Dia berhenti bekerja dikantor, atau silakan melanjutkan pekerjaannya tetapi dia harus bercerai. Sebuah pilihan yang sangat berat baginya. Karena dia bekerja itupun, untuk mencukupi kekurangan gaji suaminya. Apalagi disaat-saat kariernya hampir mencapai puncak. Vita menjadi sangat bingung. Hingga akhirnya dia, mengundangku kerestourant yang mahal. Hanya untuk mendengarkan keluhannya. Dan kalau bisa, memberikan wejangan untuknya. Karena, menurutnya. Orang-orang yang mempunyai kekuatan iman. Adalah orang-orang yang bisa memberikan solusi yang bagus untuk setiap orang. Bagus memang, hanya saja aku menjadi tersanjung dengan ungkapan itu. Yaa Allah, lindungi aku dari sifat riya, ujub dan takabur.

Mbak, Vita! Sebenarnya, nggak usah repot-repot ditempat seperti ini kalau mau curhat. Kemahalan, lagi Mbak! Dicafe-cafe yang murah aja aku siap kok. Atau rumah, dirumah Mbak Vita atau bisa juga dirumahku! Ucapku.

Aku, sangat menghargai orang yang mau membantuku. Bahkan hanya untuk mendengarkan curhatku saja. Aku sangat harus menghargainya! Ucap Vita. Terlihat berharap dia mendapatkan solusi.

Mbak. Kalau aku sih, jika Mbak mengundang dirumah Mbak Vita. Itu lebih terlihat menghargaiku, daripada harus bermahal-mahalan dirumah orang Ucapku. sambil dengan senyum.

Hem. Kalau gitu, Insya Allah kamu aku undang kapan-kapan dirumahku! Kalau menurut kamu, masalahku ini bagaimana Ucapnya, sambil terlihat bingung.

Mbak, sebenarnya persoalan Mbak Vita ini klasik! Sering terjadi pada para wanita karier. Yang berkarier dalam pekerjaan diluar rumah! Kesibukan dia menjadi sangat menyita waktu para wanita karier ini! Sedikit aku menghela nafas panjang. Mbak, kalau kita telaah lagi. Antara wanita dan pria yang melakukan sebuah pekerjaan. Saat para lelaki melakukan pekerjaannya, atau bekerja. Mereka mempunyai tujuan. Pertama, yang biasanya belum menikah. Maka tujuannya adalah untuk menikah. Yang kedua, jika lelaki ini sudah menikah. Maka tujuannya adalah, memberikan nafkah kepada keluarga. Seburuk-buruk suami, tetap suami itu ingin memberikan nafkahnya kepada keluarganya! Tetapi, jika wanita bekerja. Biasanya yang terjadi. Pertama, untuk wanita yang belum menikah, tujuannya adalah dua. Menabung untuk pernikahan, atau menabung untuk urusannya sendiri. Kedua, tujuan wanita bekerja yang mempunyai suami. Biasanya untuk membantu pemasukan keungan keluarga. Tetapi, itupun tidak mutlak biasanya juga untuk kebutuhannya sendiri!

Tetapi, jika seorang wanita yang bekerja dengan tujuan mulia. Yaitu untuk membantu pemasukan keuangan keluarga. Maka tujuannya jelas, bahwa keuangan keluarga yang menjadi prioritasnya. Sehingga, keluargalah yang menjadi prioritas pertama! Dan niat itupun tidak boleh berubah, meskipun seiring dengan apa yang telah Mbak Vita dapatkan. Seperti halnya, karier yang terus melonjak. Tujuan awal yang Mbak Vita inginkan, adalah sebuah kemuliaan. Seorang istri, tidak boleh berdiam diri manakalah dia melihat keluarganya kekurangan dengan sesuatu halnya. Seorang istri, diwajibkan untuk peka dalam urusan-urusan keluarga. Termasuk dengan kondisi materi keluarga! Dan tujuan seorang istri dalam pekerjaannya, harus diniatkan untuk keberhasilan dalam berkeluarga. Hingga, seharusnya. Seorang wanita itu konsisten, atau dalam bahasa agamanya adalah Istiqomah. Terhadap niatnya. Tidak boleh seorang istri yang bekerja dengan niat untuk keberhasilan dalam berkeluarga. Harus menyimpang, karena keberhasilan dalam berkariernya dikantor!

Manakala keluarga lebih membutuhkan Mbak Vita. Maka tidaklah Mbak Vita harus bingung dalam memilih. Karena tujuan Mbak Vita dalam bekerja, adalah untuk keluarga Mbak Vita sendiri. Tidaklah lucu, saat Mbak Vita bekerja untuk keluarga. Tetapi, keluarga yang Mbak Vita perjuangkan. Ternyata akan roboh karena tidak adanya andil yang besar dari Mbak Vita. Nah sebuah pertanyaan, bagi Mbak Vita kalau ingin tetap mempertahankan pekerjaan atau karier Mbak Vita. Sebenarnya, untuk siapa Mbak Vita bekerja Dan apa yang Mbak Vita harapkan dari hasil pekerjaan Mbak Vita Apakah rasa puas karena bisa mendapatkan jabatan atau kedudukan diperusahan yang tinggi Lalu, setelah Mbak Vita mendapatkan kedudukan yang tinggi. Untuk apa, jika Mbak Vita sudah tidak mempunyai keluarga lagi! Karena semua itu akan sia-sia belaka.

Dalam Islam, wanita dibolehkan bekerja. Dan tidak dikekang. Makna gender dalam Islam pun tidak bias. Tidak seperti apa yang diperjuang oleh para feminimisme. Karena, setiap perjuangan atau pekerjaan yang dilakukan oleh wanita-wanita muslim. Sudah sangat jelas. Ada tujuannya. Tujuannya tetap untuk keberhasilan keluarga. Tetapi, jika perjuangan para feminimisme yang bias gender itu. Tidak mempunyai tujuan yang jelas, kecuali hanya egoisme dengan hawa nafsunya sendiri!

Dalam Islam, sudah jelas. Bahwa tujuan yang diharapkan oleh para wanita muslim. Adalah untuk keluarga. Jadi keluargalah yang nomer satu. Sebuah puncak karier yang tinggi, bagi seorang wanita. Adalah, saat mereka bisa mendidik anak-anak mereka dengan kemuliaan akhlak bagus, akhidah yang kuat, dan kepintaran yang membuat mereka dapat bertahan dalam kehidupannya. Sehingga tercipta keluarga yang sangat harmonis dalam kehidupannya. Dengan kata lain, wanita itu telah mendapatkan kesakinahan keluarga yang selalu diharap-harapkannya. Islam, tidak memandang wanita kaya raya, tetapi keluarganya hancur berantakan. Tetapi, Islam akan memandang seorang istri yang bisa menciptakan suasana yang hangat dalam keluarganya. Mendidik anak-anaknya dengan perbuatan kebaikan seorang ibunya. Itulah puncak karier yang paling tinggi. Karena sangat sulit untuk membentuk keluarga seperti itu! Harus dengan intensif, seorang ibu menjaga anak-anaknya untuk mencapai keluarga yang seperti kita harapkan! Aku sedikit menarik nafas panjang. Bagaimana, Mbak Kataku.

Farah. Aku sangat terkesan dengan penjelasan yang kamu utarakan! Sepertinya, kamu lebih memahami sebuah arti keluarga daripada yang sudah berkeluarga. Ucapnya. Sambil tersenyum.

Hehee... Mbak Vita ada-ada saja. Yah, tidak harus berkeluarga dulu untuk mengerti arti keluarga! Dengan mempelajari sebuah hal yang berarti dalam keluarga kita. Maka kita akan dengan mudah memberikan pengertian tentang arti keluarga. Karena keluarga kitalah yang menjadi sebuah contoh bagi kita! Jelasku lagi.

Iya, Insya Allah. Aku lebih tenang. Dan aku tahu, harus memilih yang mana! Tetapi Farah. Lalu bagaimana aku dapat membantu suamiku dalam memberikan pemasukan keuangan dikeluarga Ucap Vita. Terlihat bingung.

Mbak Vita, bisa berdagang dirumah! Dengan berdagang apa saja. Bisa membuat toko, wartel, apa saja yang bisa menghasilkan. Dananya, bisa diambil dari pesangon yang Mbak Vita dapatkan setelah keluar dari perusahaan. Dengan seperti itu, Mbak Vita akan lebih fokus dalam mengasuh anak Mbak Vita! Dan, Mbak Vita bisa menyambut suami saat pulang dari pekerjaannya. Dengan senyum yang ramah, penuh cinta! Itu yang akan membuat suami akan terus betah dirumah.

Hem. Yups, ide briliant! Sebentar yah Farah. Ucap Vita, sambil mengambil handphonenya. Setelah itu menekan beberapa nomor. Mas, saya akan berhenti bekerja. Sekarang juga, saya akan membuat pengunduran diri! Iya. Ya sudah. Da.. Mas! Ucapnya mengakhiri pembicarannya.

Aduh, jangan bermanja-manjaan didepanku dong. Buat iri aja nich! Gumamku. Sejenak aku tersenyum. Bahagia atas kebahagian yang aku rasakan dari seorang wanita yang berbahagia. Gimana Mbak Tanyaku.

Alhamdulillah. Aku udah menetapkan pilihan, semoga ini yang terbaik! Suamiku terlihat senang sekali, saat aku mengabarkan pilihanku ini! Ucapnya riang.

Alhamdulillah. Langkah awal yang Mbak Vita kerjakan, sekarang apa Tanyaku.

Untuk sekarang, aku akan mengajukan pengunduran diri! Setelah itu, aku akan buka rumah makan. Atau entah apalah namanya, dari hasil pesangonku itu. Aku yakin pesangonku juga cukup untuk membuat rumah makan dan memperkerjakan beberapa orang dalam beberapa bulan! Ucapnya antusias.

Alhamdulillah. Wah enak nih, aku pasti akan datang kesana terus menurus! Godaku.

Silakan. Kalau kamu yang datang kesana pasti gratis deh! Untuk seorang sahabat, aku tidak akan menarik bayaran. Ucapnya, dengan senangnya.

Bukan sahabat, Mbak! Tapi saudara. Kita umat Islam, adalah bersaudara. Karena sesungguhnya semua umat Islam itu adalah bersaudara! Ucapku.

Terima kasih, Farah! sebuah butiran intan berkilau, berjatuhan dari derai air matanya. Dia langsung memelukku. Erat, bagaikan saudara yang telah lama tidak berjumpa.

Mbak, sudah sore nih! Mbak mau pulang apa mau kekantor dulu Tanyaku.

Kayaknya, aku harus kekantor dulu. Aku ingin mengajukan pengunduran diri secepatnya!

Ok. Kalau gitu, kita bareng aja yah! Kan, jalannya searah! Tawarku

Ok. Tapi, sebentar yah! Vita menuju kasir. Membayar pesanan apa yang sudah kami pesan.

Setelah itu kami pun bergegas untuk meninggalkan restourant mahal itu. Aku mengatakan kepada Vita untuk menunggu didepan restourant. Setelah itu aku menuju area parkir untuk mengambil mobil. Secepatnya, aku pun langsung menuju kedepan area restourant tempat Vita menunggu. Saat aku berada didepannya. Vita hanya diam saja, dia tidak terlihat memperdulikan aku. Setelah aku membuka kaca mobil. Vita tergaget sekali. Seorang wanita berjilbab, yang berada didalamnya. Aku. Sedang mengendarai mobil marecedes.

Far, tidak salah Ucap Vita, heran.

Aku hanya tersenyum, sambil menggelengkan kepala.

Kamu Farahkan Yang naik angkot, waktu dulu itu kan Ucapnya, masih tidak percaya.

Iya, Mbak! Ayo masuk. Ajakku.

Setelah itu Vita masuk kedalam mobil. Masih terlihat rasa ketidakpercayaannya. Farah, aku tidak menyangka. Kalau kamu orang kaya! Ucapnya.

Bukan, Mbak! Yang kaya orang tuaku. Dan itu hanya harta titipan Allah! Bisa habis kapan saja. Jawabku.

Farah, aku sangat takjub melihatmu! Kamu memang benar-benar wanita yang sempurna! Ucap Vita.