musim seolah terbakar. Angin utara bertiup menuju lautan,
di mana kura-kura menanam telurnya di pantai.
Di sana, kutanam juga telur-telur perasaanku,
dalam luka yang lahir dari guguran daun dari matamu.
Ketika aku masuk rumah,
rindu dan aroma tubuhmu tercecer di setiap sudut.
Hanya ada baju menggantung, seolah dirimu mengepung ingatanku
Tembok yang basah menceritakan banyak rahasia yang kita susun bersama:
Aromamu, keringat di lehermu, hangat perutmu saat
memelukmu lama di sana.
Seperti kura-kura membiarkan telurnya hangat, kusimpan juga
semuanya dalam ruangan pengap itu.
Dari ruang-ruang kosong rumahmu, dari balik jendela-jendela yang
hampir beku ditiup angin utara, tak seorang pun memperhatikan,
perjalanan ingatanku menuju kematian.
Tiba-tiba, kita menjadi orang-orang yang tergesa-gesa kita ingin
menetaskan telur kura-kura lebih cepat dari biasanya Kita ingin
angin utara berbalik dari selatan
Kita tak menanam apa-apa, takut tidak bisa memanen apa-apa
jangan menyesal, biarkan aku saja yang menyesal betapa sial masa silamku,
yang tak kuhabiskan sejak awal bersamamu