Sarelgaz dan Cerita-Cerita Lainnya - 8
Di stasiun Banyuwangi Baru pagi ini, perempuan itu mulai berjalan...

Ia melangkahkan kakinya di atas bantalan-banta-

lan rel jalur satu. Awalnya para petugas mengira perempuan itu adalah calon penumpang, sebab ia sempat menunjukkan karcis kereta api Mutiara Timur yang sedianya berangkat satu jam lagi. Namun setelah masuk peron, perempuan itu justru berjalan sendirian, meninggalkan st asiun.

Tak seorang pun tahu bahwa perempuan itu ternyata memang i ngin berjalan. Satu jam kemudian ia sudah melewati stasiun Argopuro, mengangguk pada petugas PPKA dan satpam yang berdiri terheran-heran melihat pemandangan itu.

Perempuan itu kemudian berhenti di dekat sebuah jembatan, ia menyingkir dari rel karena tahu kereta Mutiara Timur akan datang dari arah belakang, terasa rel dan tanah sekitarnya bergetar, diiringi sayup-sayup suara klakson lokomotif di kejauhan, dan muncullah kereta berwarna putih, melaju elegan, menyalip dan meninggalkan perempuan itu. Ah, apakah setiap perempuan ditakdirkan untuk di-tinggalkan Ia lantas kembali ke atas rel dan melanjutkan perjalanannya dengan tenang, tidak terburu-buru, tapi juga tidak terlalu lambat.

Ketika sampai di stasiun Singojuruh, mulailah perempuan itu mendapat perhatian warga sekitar.

Kabarnya, ia berjalan dari Banyuwangi. Dari Banyuwangi Berjalan kaki Edan!

Mau ke mana ya

Coba kau tanyakan tujuannya.

Namun tak seorang pun yang berani bicara dengan perempuan itu, kadang ada anak-anak kecil yang membuntutinya, kadang ada yang melambai dari pagar, seperti sebuah tontonan. Perempuan itu berjalan tanpa membawa bekal, ia tak menggendong tas. Dari penampilan semacam itu, banyak yang mengira ia tak akan berjalan jauh, tapi kenyataannya, hari mulai redup dan perempuan itu belum berhenti juga.

Di tengah malam, ketika ia sudah tiba di Perbukitan Gumitir, ketika cahaya bulan meresap sampai ke kulit wajah, perempuan itu terlihat memukau dan bisa menimbulkan efek insomnia. Ada ilusi-ilusi tertentu yang menunjukkan bahwa perempuan itu ibarat cahaya suci di tengah malam, tapi apakah ia tak takut diculik atau diganggu

Kenyataannya, memang banyak penjahat yang telah mendengar beritanya dan berniat mengincarnya malam itu, kawanan lelaki p utus asa yang hanya ingin meraup segala kenikmatan hidup sebisa me reka. Tiga kali perempuan itu dihadang oleh para lelaki, tapi ternyata perempuan itu memiliki ilmu silat yang tinggi, dipatahkannya l eher dan tangan para lelaki yang hendak menculik dan menodainya itu, sehingga keesokan paginya, warga menemukan beberapa orang tergeletak secara misterius di pinggir rel, tubuh-tubuh mereka leb am seperti baru saja dikeroyok, sedikit mengingatkan mereka pada kisah Petrus.

Hari pun berganti dan perempuan itu tetap berjalan, kadang melangkah tergesa, kadang melambat seperti sedang memikirkan sesuatu. Ia selalu menyingkir setiap kali ada kereta yang hendak lewat, seperti telah menghafal seluruh jadwalnya. Be rita tentang perempuan itu menyebar cepat di kalangan petugas stasiun, masinis, dan penjaga pos pintu perlintasan. Di bawah cahaya matahari, k ulit perempuan itu tidak terbakar, malah seperti semakin mulus saja, seperti kaca yang memantulkan cahaya. Apakah ia terbuat dari ma terial yang sama dengan tubuh bidadari

Tepat sebelum stasiun Jember, rel berdampingan dengan jalan raya, ada deretan toko dan warung yang menjual beragam makanan dan minuman, beberapa lelaki yang kebetulan sedang duduk untuk minum kopi suka menyapa perempuan itu meski tak tahu untuk apa.

Ojek saja, Mbak kata seseorang di pangkalan ojek. Namun perempuan itu bergeming, ia tetap berjalan di tengah rel, melintasi stasiun Jember yang ramai, seperti sebuah kerinduan.

Dan ketika tiba di stasiun Mangli, perempuan itu berhenti dan minta segelas air putih. Sang penjaga stasiun merasa sangat terho rmat karena perempuan itu berhenti di stasiun yang kecil ini. Bayangkan, di stasiun Jember yang megah saja ia justru melewatinya begitu saja.

Nona mau ke mana Tanya penjaga stasiun, ia sudah tahu kisah perempuan ini dari kawan-kawannya.

Berjalan.

Sang petugas tampak heran. Berjalan ke mana

Menuju inti kehidupan.

Ah, jawaban semacam ini memang sangat membingungkan, apakah yang dimaksud inti kehidupan adalah kematian Me ngapa perempuan itu tak berdiri saja di atas rel ketika ada kereta melintas Lagipula, bukankah kehidupan ini adalah perjalanan meski kita diam tak melakukan apa-apa sekalipun sampai mati

Terima kasih, Pak. Saya mau berangkat lagi.

Kok buru-buru

Saya tidak boleh terlambat, setiap bagian kehidupan selalu m emiliki saat-saat yang tepat, kata perempuan itu. Sang petugas stasiun terdiam.

Seperti seniman, perempuan itu berjalan di tengah ribuan ins-pirasi. Rumah-rumah kumuh di pinggir rel, orang-orang yang bekerja memperbaiki rel, anak muda yang memadu cinta di bawah jembatan kereta, juga para penjaga pintu perlintasan yang kesepian di tengah malam, yang berjaga menunggu kereta sambil memutar radio tua yang memutar lagu-lagu nostalgia.

Perempuan itu berjalan semakin jauh meninggalkan kota Banyuwangi dan Jember tanpa seorang pun mau mencegahnya. Untuk apa dicegah Apa manfaatnya Manusia semakin sibuk dengan u rusan masing-masing. Di hari ini, kecelakaan di jalan raya saja kadang di biarkan, apalagi melihat hal seperti ini Ketika perempuan itu m elewati kerumunan pedagang asongan yang sedang melakukan aksi blokir rel karena dilarang berjualan di atas kereta, ia justru diberi jalan. Bahkan beberapa asongan coba memberinya beberapa bekal, tapi perempuan itu menolaknya, karena ia memang tak bisa membawanya.

Sudah banyak pihak yang mengetahui aksi perempuan itu, bahkan ia sempat direkam kamera televisi untuk berita pelengkap. Ada yang menduga ia sedang ingin melakukan aksi protes ke Jakarta, se perti beberapa kasus orang-orang yang berjalan atau naik sepeda ke ibu kota. Namun itu hanya sebatas spekulasi, perempuan itu, terlalu polos kalau harus dianggap sedang melakukan protes, seharusnya ia cukup naik ke tiang sutet di jalan besar untuk melancarkan pro tesnya. Jadi, pasti ada hal lain yang menyertainya.

Mungkinkah ia patah hati Perempuan patah hati biasa melakukan hal-hal nekat. Bisa jadi ia berjalan untuk mencari lelaki yang dicintainya. Begitu tanya seseorang kepada seseorang yang lain, atau mungkin kepada dirinya sendiri.

Lelaki macam apa yang tega membiarkan perempuan ini berja lan begitu panjang, begitu lama, begitu jauh, seperti menuju masa depan yang kosong

Lo. Bukankah terkadang seorang wanita suka melakukan hal-hal aneh atas alasan yang hanya ia simpan sendiri dan terkadang sangat sentimentil

Kalau dalam cerita pendek, itu bisa saja terjadi, tapi apa perempuan itu berjalan hanya demi masuk ke dalam cerita pendek

Diam-diam memang ada yang menuliskan kisah perempuan ini dalam cerita dengan beragam versi, ada yang menulis cerita bahwa perempuan ini pada akhirnya bunuh diri karena cintanya kandas dalam jadwal perasaan yang terlambat, ada pula yang mengisahkan perempuan ini akan dipinang oleh sosok lelaki misterius yang mengemudikan kereta berlapis emas, ada pula puisi-puisi liris yang sekadar menggambarkan keindahan seorang perempuan yang ber jalan melintasi rel di atas jembatan panjang, diiringi suara ricik sungai, juga cericit burung yang nadanya konon tak pernah terasa hambar.

Dan ketika semua puisi telah terasa kedaluwarsa, ketika semua cerita pendek yang mengisahkan perempuan itu berakhir, ternyata ia masih terus berjalan, tanpa lelah dan letih, ia lebih kekal dari segala puisi dan cerita yang pernah dibuat. Perempuan itu terus saja berjalan menuju apa yang disebutnya sebagai inti kehidupan. Ia melangkahkan kakinya yang mulus di atas bantalan-bantalan rel, melewati petak demi petak, stasiun demi stasiun, kota demi kota, kenangan demi kenangan...

Kalau Anda adalah pembaca yang beruntung, Anda pasti bisa bertemu perempuan itu di suatu tempat yang tak akan pernah Anda duga sama sekali.

Itu pun kalau Anda percaya cerita ini.