Wanita itu harus tegas, berpengetahuan luas, kuat, berani, maju,
dan bisa menjadi role model.
Itu semua yang Fa percaya dari peran wanita di dunia ini.
Kenapa Fa bilang wanita harus TEGAS at the first place
Fa lihat banyak sekali sahabat dan teman wanita yang kehilangan
arah ketika dihadapkan dengan situasi yang berkaitan dengan
pasangan. Pacar, suami, partner. Mungkin Fa belum pernah
berada di posisi kritis seperti mereka, tapi Fa bisa melihat ada
ketidakadilan dalam pembelaan dan pembenaran ego si lawan
wanita-wanita itu.
Well, sebenernya ada alasan kenapa Fa tiba-tiba menulis tentang
wanita. Lunch time, Fa makan bareng sahabat, Venna. Seperti
biasa, kami memang sudah punya agenda rutin lunch seminggu
sekali karena memang kantor kami gedungnya sebelahan.
Dan seperti biasa lagi, chit chat dimulai dengan cerita perkembangan pasangan masing-masing. Kedua pasangan kami memang berada di negara yang sama, nun jauh di Eropa sana. Kami sama-sama menjalani long distance relationship dengan lelaki berbeda ras. Seribu satu cerita tentang betapa beratnya menahan perasaan rindu yang amat sangat.
Namun, kemudian tema pun bergulir kepada kondisi seorang sahabat kami yang juga berhubungan dengan pasangan beda negara.
Bedanya mereka sudah menikah. Tapi nasib apa disangka, itve been nearly four years mereka tidak pernah saling bersua, sepanjang
pengetahuan kami. Tiap kali ditanya,
sahabat kami hanya tersenyum. Tidak ada juga identitas pasangannya dalam account jejaring sosialnya.
Tidak ada kecurigaan sedikitpun hingga suatu waktu Venna secara gak sengaja menemukan fakta yang sangat mengejutkan.
Melalui Google, Venna mengetahui bahwa si cowok menderita penyakit
yang tidak dapat disembuhkan sehingga
tidak memungkinkan lagi melanjutkan
kehidupan berkeluarga.
Dari fakta itu, Fa dan Venna mencoba menarik kesimpulan mengapa selama empat tahun tidak
pernah melihat mereka bersama.
Well, more about related cases. Fa juga melihat ada sahabat Fa lainnya yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dalam tahun pertama pernikahannya hingga ditinggalkan. Si suami membawa semua berkas pernikahannya sehingga selama bertahun-tahun sahabat Fa itu terombang-ambing dalam ketidakpastian status pernikahan.
Kejadian lainnya lagi menimpa teman kerja Fa. Sang Suami merasa derajat sosial dan pendapatannya di bawah istrinya, hingga terjadilah argumen luar biasa setiap hari. Bahkan teman Fa itu selalu menghela napas waktu setiap kali pulang kerja. Alasannya Aku harus bersiap untuk menghadapi perdebatan yang tidak berujung setibanya di rumah nanti.
Ada lagi saudara sepupu Fa dengan empat anak perempuannya ditinggal tanpa jejak oleh suaminya yang memang misterius. Sejak awal, keluarga besar Fa sudah menentang pernikahan mereka. Dan benar, tujuh tahun kemudian berakhir tanpa jejak. Apa mau dikata Sekarang sepupu Fa itu berdagang baju berkeliling kampung untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Apalagi dia juga harus menanggung beban ekonomi kedua orangtuanya yang sudah renta. Jangankan untuk menikah lagi, untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi pun sudah sangat berat.
Belum lagi teman yang setiap ketemu Fa tidak dapat membendung air matanya mengetahui pacarnya ternyata punya pasangan lain di empat kota yang berbeda.
Tetapi yang namanya CINTA, dia gak kuasa berpisah dengan pacarnya itu. Gak pandang beda ras, beda status ekonomi, pendidikan, latar belakang keluarga pun bisa jadi momok cikal permasalahan dalam relationship.
Balik lagi ke chit chat Fa dengan Venna. Kami pun sepakat untuk membuat advokasi melalui jejaring sosial. Walau terlihat sepele, tapi setidaknya kami berbuat sesuatu untuk teman-teman wanita kami. Venna berinisiatif untuk berbagi pengalaman menjadi asisten pengacara yang sering bolak-balik mengurus kasus perceraian. Sementara Fa yang belum punya pengalaman sama sekali akan support menyebarluaskan advokasi tersebut.
Sekembalinya ke kantor, Fa menerima share status dari Venna.
Ah, sahabat Fa yang satu ini memang luar biasa. Otak dan jarinya sinergi menuliskan bahan advokasi secepat kilat. Excellent, Venna.
Kami berharap share ini dapat menginspirasi wanita di luar sana untuk menjadi TEGAS.
Fa berharap akan muncul respons-respons lainnya sehingga semakin terbuka pandangan temen-temen wanita untuk terus berjuang mempertahankan haknya. Gak lupa, Fa print share Venna dan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk sepupu Fa karena dia belum melek teknologi.
Fa berharap yang terbaik untuknya. ~~~
Sekadar berbagi pengetahuan.
Siang ini saya bernostalgia dengan salah satu sahabat wanita dan ngobrol ngalur-ngidul ke sana kemari sampai pada akhirnya membahas mengenai masih banyaknya wanita
yang idak mengeri hak-haknya untuk mengajukan perceraian (baik karena merasa sudah idak cocok dengan pasangan atau karena sudah diinggal lama oleh suami dan idak dinakahi lagi).
Kebanyakan wanita merasa idak berdaya dan bingung apabila suami mereka menolak untuk bercerai padahal pernikahan jelas-jelas sudah idak sehat lagi untuk diteruskan, karena KDRT atau sang suami punya WIL, misalnya.
Ada juga yang bingung bagaimana harus memproses perceraiannya karena sudah lama pisah atau idak tahu lagi di mana suaminya berada.
Kondisi seperi ini membuat istri berada di posisi sulit baik secara ekonomi maupun psikologis. Statusnya pun jadi mengambang. Ingin menikah lagi, tapi masih terikat dengan suami terdahulu. Ingin bercerai, namun idak ada pernyataan resmi dari suami. Akhirnya istri hanya bisa menunggu. Pertanyaannya, sampai kapan
Sebagai informasi ada solusi hukum yang dapat ditempuh di Pengadilan Agama atau Pengadilan Negeri (buat nonmuslim) bagi perempuan yang menghadapi kondisi seperi ini.
Istri yang suaminya idak mau bercerai tetap bisa mengajukan gugatan dan akan dikabulkan permohonannya oleh pengadilan.
Bagi yang sudah lama pisah atau idak tahu di mana suaminya berada lagi bisa mengajukan gugat cerai gaib. Rata-rata proses perceraian ini menghabiskan waktu minimal enam bulan. Untuk gugat gaib biasanya lebih cepat sekitar lima bulan.
Silakan informasi ini di-share ke teman-teman wanita lainnya yang membutuhkan.
(ingat masa-masa jadi asisten pengacara zaman dahulu kala, pernah digodain sama mas-mas di pengadilan agama, Mbak Venna, sampeyan belum nikah kok udah bolak balik ngurusin orang cerai ke sini ... hahaha
Salam canik selalu !
Venna