PERPOLItIKaN DI aKhIR masa Orde Baru (Orba) berubah. Perubahan ini mungkin terlalu lambat dan terlalu diatur dari atas. Namun, peristiwaperistiwa politik yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini merupakan petanda yang bagus bahwa otoritarianisme Orba menjadi lebih lunak.
terdapat banyak contoh untuk mendukung argumen ini: mulai dari keberhasilan Megawati, pengadilan militer setelah Pem bunuhan Massal Dili, pembentukan Komite hak asasi Manusia, jumlah pemogokan buruh yang semakin banyak, kri tik pers dan mahasiswa yang semakin tajam, dan persaingan yang se tengah terbuka di kalangan beberapa elite kekuasaan utama, dan sebagainya. Semua ini tentu saja tidak bisa di bandingkan de ngan transformasi politik yang terjadi di thailand awal 1990an dan Korea Selatan pada akhir 1980an. Pentingnya kasuska sus Indonesia ini hanya bisa dipahami sepenuhnya jika kita ber pikir bahwa lima tahun sebelumnya, tidak ada se orang pun yang berani untuk berspekulasi bahwa Megawati, misalnya, akan menjadi Ketua PDI, atau bahwa habibie akan menekan mil iter dengan berbagai manuver politiknya dalam merehabilitasi Petisi 50 dan memilih para sekutunya untuk menjadi pengurus inti Golkar. Selain itu, bahasa pers, jika kita membandingkannya dengan yang terjadi 2 tahun yang lalu, misalnya, sekarang ini jauhkurangeufimistik.
II
Pertanyaan pertama: Mengapa perpolitikan Orba berubah Jawaban untuk pertanyaan ini adalah bahwa Orba terjebak oleh keberhasilan ekonominya sendiri. Secara ekonomi, apa yang terjadi di Indonesia dalam 20 tahun terakhir adalah sebuah muk jizat. Sementara sebagian besar negara Dunia Ketiga mengalami persoalan ekonomi yang begitu besar pada 1970an dan khususnya pada 1980an, ekonomi Indonesia berjalan dengan relatif baik.
Mukjizat ekonomi ini mengubah negeri itu dalam beberapa hal. Dua di antaranya adalah, pertama, hal itu menciptakan jaringan aktivitas ekonomi yang lebih luas di luar kontrol pemerintah. Jaringan ekonomi swasta ini kompleks dan pada dasarnya merupakan sumber kekuasaan politik yang sangat penting yang bisa dimobilisasi oleh mereka yang ada di luar pe merintah. Interaksi sosial di wilayah ekonomi swasta ini ti dak bisa dengan mudah dikontrol oleh komunitas politik. In teraksi yang kompleks ini adalah apa yang disebut Schumpeter sebagai skema halihwal kaum borjuis, yang membantu meng ubah Eropa (Barat) feodal menjadi bangsabangsa demok ratis.
Kedua, hal itu menciptakan suatu masyarakat baru yang se ring disebut masyarakat sipil. yang pertama di atas merujuk pada panggung, arena tindakan; sementara yang ked ua merujuk pada para aktornya. Mereka iniyakni para ang gota ma syarakat sipiladalah orangorang yang berpen didikan, yang mem per taruhkan hidup mereka dalam aktivitasaktivitas eko no mi swasta, dan yang biasanya berpikir bahwa roti sematamata tidak memadai untuk mencapai suatu kehid upan yang baik. Dalam ba
hasa hegelian, apa yang umumnya dilakukan oleh para aktor baru ini adalah mencari pengakuan sebagai se orang manusia politik yang independendengan kata lain, me re ka pada da sarnya akan mendukung terciptanya se buah sistem po litik di mana mereka, dan bukan para penguasa, ada lah sang tuan.
Pendeknya, keberhasilan ekonomi Orba menghasilkan prasya ratprasyarat struktural (yakni, panggung dan para ak tornya) yang bertindak sebagai dasar perubahan politik yang kita lihat sekarang ini.
Sebagian orang berkata, dengan alasan yang baik, bahwa sematamata keberhasilan ekonomi tidak dapat menjelaskan prosesproses politik dan arah tujuannya. Politik, bagi mereka, sangat otonom. Karena itu, mereka berkata bahwa jalannya perubahan politik di akhir masa pemerintahan Soeharto harus dilihat terutama dari dinamika internal rezim: perbedaan dan ketegangan yang semakin besar di kalangan para pemain kunci Orba membuka ruang bagi partisipasi politik yang lebih luas.
Saya tidak melihat alasan mengapa kita menolak gagasan bahwa politik memiliki kehidupannya sendiri ini. Selain Indonesia, kita bisa memperlihatkan banyak contoh yang menegaskan proposisi ini. Masyarakat di bawah Kekaisaran Kedua merupakan suatu masyarakat yang sangat maju, dan memiliki sektor ekonomi kapitalis modern yang sangat maju. Namun, ketika hitler muncul, masyarakat sipil menyerahkan kekuasaan mereka ke tangan beberapa demagog. Singapura merupakan contoh lain yang sangat bagus. adanya sektor ekonomi yang sangat modern dan masyarakat sipil dalam negarakota ini tidak diikuti, sampai sekarang, oleh muncul dan berkembangnya sistem demokratis.
apa yang bisa kita katakan adalah bahwa tanpa keberhasilan ekonomi dan dampaknya pada wilayah sosial, dalam kasus Indonesia, ketegangan di dalam rezim tidak akan menghasilkan bentuk perubahanperubahan politik yang kita lihat sekarang ini (Dalam kasus Jerman, kita dapat berkata bahwa rekonstruksi pascaPerang, yang membangun kembali demokrasi, tidak akan berhasil dengan mudah tanpa adanya masyarakat sipil dan sektor ekonomi kapitalis modern yang sebelumnya telah ada). Kita harus ingat bahwa pada awal dan pertengahan 1970an, ketika Soeharto tidak sekuat sekarang, juga ada perbedaan dan persaingan di dalam rezim. alihalih demokratisasi, perbedaan dan persaingan ini menghasilkan kekuasaan otoriter yang lebih terpusat di mana Soeharto praktis berkuasa sendirian.
Sebuah kasus bagus untuk melihat bagaimana kombinasi perubahan sosioekonomi dan persaingan elite menghasilkan berbagai perubahan politik dapat dilihat dalam bangkitnya kekuatan Islam dalam dua atau tiga tahun terakhir: kebutuhan Soeharto akan dukungan dari kelompokkelompok Islam untuk mengimbangi militer searah dengan jumlah kelas menengah dan intelektual Muslim yang semakin meningkat (sebagaimana yang berulang kali dikatakan Nurchilish Madjid: mereka merupakan salah satu produk penting dari keberhasilan ekonomi). Para pendukung utama habibie bukanlah kelompokkelompok Islam dari masyarakat lama (misalnya Nu, Muhammadiyah, dan Media Dakwah/kuasiMasyumi). Para pendukungnya adalah para intelektual baru (sebagian besar dari mereka di kirim oleh pemerintah untuk belajar di aS dan Eropa), para mahasiswa di berbagai universitas (yang sangat disubsidi oleh pemerintah), para elite birokrasi (yang sebagian besar menikmati berbagai privilese ekonomi dan politik dalam proses perluasan ekonomi tersebut). tanpa mereka, habibie tidak akan memiliki basis yang jelas.
III
akankah berbagai perubahan tersebut memunculkan sebuah sistem politik yang demokratis untuk menjawab pertanyaan ini, kita tentu saja harus memperjelas apa yang kita maksud dengan demokrasi. Bagi saya, penjelasan terbaik tentang demokrasi diberikan oleh Schumpeter dalam karya besarnya, Capital ism, Socialism, and Democracy. Demokrasi Schumpeterian adalah sebuah sistem persaingan yang terbuka dan fair di kalangan elite politik untuk mendapatkan kekuasaan. Rakyat (yang kebebasan negatif dasarnya diakui) merupakan hakim terakhir yang memutuskan siapa yang akan memerintah mereka. Dengan demikian, para elite yang bersaing tersebut harus memainkan permainan politik, sementara rakyat bermain kartu dan melihat sepakbola: hubungan di antara keduanya diteguhkan melalui mekanisme pemilu yang jujur dan terbuka.
Penting untuk diingat bahwa ketika Schumpeter berbicara tentang demokrasi, ia berbicara tentang tujuantujuan politik (misalnya, persaingan terbuka di kalangan elite), bukan tentang tujuantujuan ekonomi. Ia membuat suatu pembedaan yang sangat jelas antara wilayah politik dan wilayah ekonomi. Dengan demikian, dalam perdebatan tentang Indonesia sekarang ini, hal ini berarti bahwa demokrasi adalah satu hal, dan pertumbuhan ekonomi atau liberalisasi ekonomi adalah hal lain. untuk mencapai tujuan ekonomi, hadirnya demokrasi bisa baik atau buruk.
Sebagian kalangan tidak mengakui pembedaan ini. Kadang mereka tampak berbicara tentang demokratisasi, namun apa yang mereka bayangkan sebenarnya adalah liberalisasi ekonomi atau kemajuan ekonomi.
Dengan konsepsi tentang demokrasi yang sederhana ini, apa yang bisa kita katakan tentang Indonesia pada akhir 1980an dan 1990an Sekarang ini pertanyaan ini tampak memberikan jawabannya sendiri. Munculnya Megawati dan habibie, misalnya, bisa dipahami sebagai munculnya politisipolitisi sipil yang lebih kuat yang, dengan basis yang lebih kuat, bisa bersaing dengan para perwira militer. Sampai sekarang ini, selain Soeharto, para perwira militer tersebut masih merupakan pemegang kekuasaan terkuat di negeri ini. Jika Megawati dan habibie bisa bertindak sebagaimana para politisi yang baik dalam memperluas dan memperkuat basis mereka, bukan mustahil persaingan elite dalam politik pascaSoeharto akan menghasilkan suatu jenis interaksi politik yang satu langkah lebih dekat pada interaksi demokratis.
Sejauh ini habibie telah memperlihatkan bahwa ia adalah seorang politisi yang sangat bagus. Megawati, sejauh ini, dianggap oleh banyak orang sebagai simbol kepemimpinan alternatif yang mampu menarik dukungan luas dari mereka yang tidak puas dengan keadaan yang ada sekarang ini. Faktafakta ini memperlihatkan pada kita bahwa, dalam kaitannya dengan proses demokratis, perubahan politik yang kita lihat sekarang ini menuju ke arah yang benar.
Saya memahami bahwa pandangan ini sangat optimistik, yang bagi sebagian orang dianggap didasarkan pada asumsi yang salah tentang proses politik atau watak komunitas politik Indonesia. Berbagai kritik terhadap pandangan ini bisa dirangkum ke dalam dua argumen. yang pertama mengatakan bahwa jika kita melihat pada sifat masyarakat Indonesia pada awal 1990an, masyarakat tersebut masih merupakan masyarakat lama sebagaimana yang kita lihat pada 1950an dan 1960an. tidak ada yang berubah secara mendasar: politik aliran masih berlaku, mungkin tersembunyi, namun bagaimanapun berfungsi sebagai pembagian dasar masyarakat yang setiap saat bisa dimanfaatkan lagi oleh para elite politik.
Karena itu, argumen tersebut beranggapan bahwa satusatun ya sumber kekuasaan, simbolis atau riil, yang bisa dimobilisasi oleh Megawati atau habibie, misalnya, adalah sum ber kekuasaan yang berada dalam wilayah politik aliran ter sebut. hal ini berarti bahwa Megawati, misalnya, harus memo bilisasi hantu lama tersebutini adalah satusatunya pilihan yang ia mi liki. Menurut argumen ini, jika hal ini terjadi, maka kita harus melupakan demokrasi, karena militer akan terpaksa mengambil langkah keras dan menerapkan aturan yang lebih ke tat agar hantu lama tersebut tidak bangkit lagi, atau karena jika militer tidak melakukan apapun, suatu hal yang sangat tidak mungkinapa yang akan terjadi samasekali bukan demokrasi karena demokrasi tidak pernah bisa dibangun berdasarkan politik tradisional ini. argumen kedua menyatakan bahwa persaingan elite yang
semakin besar yang kita lihat sekarang ini sebenarnya merupakan suatu persaingan yang dikontrol: Megawati, habibie, harmoko, try Sutrisno, Faisal tanjung, dan praktis setiap orang di panggung utama, adalah bonekaboneka Soeharto mereka bertindak dan berperilaku sebagaimana yang diinginkan atau diizinkan Soeharto. Semua yang sedang kita lihat adalah bagian dari Skema Besar Soeharto. Jika Soeharto merencanakan se suatu, itu dapat dipastikan bukan demokrasi.
apa yang muncul setelah Soeharto argumen kedua ini memberi suatu penjelasan yang sederhana: bahwa akan ada Soeharto lain yang muncul dari militer (yang masih terlalu kuat dan terlalu terkonsolidasi untuk bisa disaingi oleh para pemain lain) yang akan mengulangi lagi cerita lama. Soeharto baru ini mungkin akan memberi satu atau dua kompromi sebagai kosmetik orde terbaru tersebut, namun garis dasar politik otoriter tersebut tetap tidak berubah.
Jika argumen pertama yakin bahwa masyarakat Indonesia tidak berubah dan karena itu tidak mampu memainkan politik baru yang diperlukan untuk membangun demokrasi, argumen kedua percaya bahwa bonekaboneka Soeharto tersebut tidak memiliki rencana sendiri, atau tidak mampu memanfaatkan kesempatan apapun untuk mendapatkan kekuasaan apapun.
Boneka adalah boneka.
Kedua argumen ini cukup masuk akal. ada beberapa bagian dari argumenargumen ini yang sangat sulit disangkal. Nam un, keduanya gagal meyakinkan saya karena beberapa alasan. Kritik utama saya untuk argumen pertama tersebut adalah bahwa ia gagal memahami bahwa dalam dua dekade terakhir masyarakat telah diubah oleh perkembangan ekonomi. tentu saja hal ini tidak berarti bahwa masyarakat lama dan hantu lama politik aliran tersebut tidak lagi ada, atau bahwa semua itu tidak lagi bisa dimobilisasi oleh eliteelite politik.
hal ini sematamata berarti bahwa, sebagaimana yang telah saya sebutkan sebelumnya, telah ada begitu banyak orang (aktor) dan wilayah interaksi sosioekonomi (panggung) yang cocok untuk demokrasi. Mereka mungkin, atau mungkin tidak, bisa dimobilisasi secara baik dalam proses perubahan politik. Pada titik ini kita berbicara tentang kepemimpinan dan ketrampilan politik: sekarang ini terserah para elite akan mengambil kartu yang mana, yang baru atau yang lama. argumen pertama salah ketika mengatakan bahwa sebagian besar elite harus mengambil kartu lama untuk bisa bertahan.
Kritik lain terhadap argumen pertama ini adalah bahwa ia melihat politik aliran sebagai sesuatu yang pada dasarnya berbahaya bagi demokrasi. argumen ini gagal melihat bahwa sangat mungkin bagi sistem kompetisi elite yang terbuka dan fair (demokrasi) untuk menampung pengelompokan politik yang plural. Jika habibie secara terbuka memobilisasi komu nitas Islam, apa masalahnya bagi demokrasi sejauh ia setuju dengan aturanaturan dasar dan tertulis dari persaingan Jika ia menang, hal itu mungkin tidak baik bagi ekonomi. Lalu ke napa (Bagi George Will dan William Buckley Jr., kemenangan Clinton tidak bagus bagi perekonomian, namun mereka tidak berkata bahwa pemilu itu tidak demokratis).
Pada titik ekstrem, benar bahwa hantu lama tersebut sangat tidak baik bagi demokrasi: hantu itu menjebak orang dalam kebencian dan permusuhan lama tanpa ada pemecahan. Na mun, sejauh ini saya tidak melihat ada elite penting yang mem beri tanda bahwa ia akan membawa garis lama tersebut ke titik ekstrem (bagaimanapun mereka tidak sebodoh itu). untuk argumen kedua, kritik saya hampir serupa. Di sini
saya harus menyebut hukum konsekuensi yang tidak diniatkan. Katakanlah benar bahwa semua persaingan yang meningkat ini sebenarnya merupakan persaingan yang telah dirancang, yang diatur oleh Soeharto untuk satu tujuan: memelihara kekuasaannya.
Saya tidak melihat alasan mengapa tujuan ini hanya bisa dicapai dengan mengorbankan proses demokratis. Jika Soeharto hanya bisa memelihara kekuasaannya beberapa tahun ke depan de ngan membiarkan para elite di sekitarnya bersaing satu sama lain, bukankah hal ini juga berarti bahwa proses demokratisasi awal sebenarnya telah dimulai Dari sejarah kita tahu bahwa banyak negara mulai melakukan demokratisasi bukan dengan letupanletupan di jalan, melainkan dengan rengekan dan intrik di istana.
tentang masalah Soeharto baru. Seperti yang telah saya
katakan di atas, argumen kedua ini yakin bahwa setelah persainga n yang dirancang tersebut, ketika Soeharto meninggal, militer akan kembali menciptakan seorang Soeharto. argumen ini pada dasarnya naif. Saya tidak perlu mengulangi lagi bahwa Indonesia pada 1990an bukanlah Indonesia pada 1960an. Selain itu, militer sekarang ini tidak lagi sangat kuat, sebagai mana yang dikemukakan argumen ini. Militer sekarang ini te lah ke hilang an sebagian besar kekuatan persuasi nyaseba gaimana yang ia miliki menjelang runtuhnya Orde Lama. un tuk men ciptakan Soeharto baru, sumberdaya apa yang sekarang militer miliki Kekerasan terbuka sekarang ini tidak begitu ber manfaat sebagai alat politik utamaterlalu mahal akibat nya.
hingga sekarang ini umum dipercaya bahwa militer adalah
pihak yang melindungi dan menjaga Soeharto dalam kek uasaannya. Saya kira kini pandangan ini salah. hubungan tersebut juga bisa dibalik. Soehartolah yang melindungi dan menjaga posisi para perwira militer sekarang ini dalam politik sipil. Saya sangat yakin bahwa ketika Soeharto sudah tidak ada lagi di panggung politik, kekuatan militer akan sangat merosot. Sejauh ini saya tidak pernah mendengar gagasan apapun dari para perwira tinggi tersebut yang memberi tahu kita apa yang akan mereka lakukan jika mereka kehilangan si Orang Besar itu. Sebagaimana yang kita tahu dari banyak kasus belakangan ini, jika Orang Besar mereka tersebut memiliki kepercayaan pada orang lain yang berasal dari elite sipil, merekapara perwira tinggi militer ituterkesan kebingungan, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, dan bertindak hanya sebagai seorang reaksioner. apakah mereka adalah jenis para perwira yang akan menciptakan seorang Soeharto baru