YANG TERUCAP YANG TERTULIS - 82
Dalam tiga hari ini, saya mendadak menjadi cengeng. Ketika sholat menangis, habis sholat menangis, kalau lihat foto anak, saya menangis juga. Ya Allah, seperti ini rasanya jadi orangtua.

Jumat, dua hari yang lalu saya mengantar Wening, anak pertama saya masuk ke pesantren Darul Quran di Cikarang Bekasi. Wening dinyatakan lulus ujian masuk yang diadakan Januari, awal tahun lalu.

Setelah Lebaran, semua perlengkapan yang dibutuhkan selama mondok sudah disiapkan. Setelah Sholat Jumat, keluarga siap melepas keberangkatan Wening. Saya yang akan mengantarnya sampai ke Cikarang. Istri, ibu, dan semua kakak-kakak saya menangis ketika Wening bersalaman minta pamit, sebelum naik mobil yang akan mengantar saya dan Wening ke Bandara Solo.

Ya, semua merasa sedih dan haru atas niat Wening yang akan menuntut ilmu di pesantren pimpinan Ustad Yusuf Mansur tersebut. Ada rasa

Belajar dan Belajar

sedih. Maklum, belum pernah berjauhan dengan anak, apalagi untuk empat tahun ke depan.

Haru dan bahagia karena Wening sudah bulat bercita-cita ingin belajar AlQuran dengan sungguh-sungguh. Bahkan dia ingin bisa sampai hafizah.

Ketika Lebaran kemarin, Wening sungkem ke saya dan ibunya.

Minta doanya, Pi. Aku pingin bisa hafizah. Aku pingin memakaikan mahkota ke Pipi dan Mimi di Akhirat kelak.

Ya Allah, saya pasti menangis kalau ingat kata-kata Wening ini. Bahkan sering Wening membuat DP di Blackberry, kalau sudah lulus SMA, nantinya ingin kuliah di Madinah.

239

Saya yakin setiap orangtua pasti akan senang dan bangga jika anaknya ingin menjadi anak yang baik akhlaknya. Anak yang ingin bisa membahagiakan orangtuanya.

Untuk bisa belajar di Darul Quran, Wening harus berkorban setahun.

Sebenarnya dia sekarang sudah naik kelas 2 SMA.

Saya pompa semangatnya, Ndak apa-apa. Tidak ada yang sia-sia. Lagian kalau mau pengin cepat-cepat selesai sekolah, apa mau segera bekerja Bapak masih sanggup untuk membiayaimu. Dinikmati saja, begitu nasihat saya.

Dalam perjalanan ke bandara, saya dan Wening masih saja menangis. Demikian juga ketika sudah di dalam pesawat. Untuk membesarkan hatinya, saya bisiki nasihat yang lain.

Ning, kamu termasuk anak yang sangat beruntung. Sebenarnya banyak anak seusiamu yang pengin belajar, namun tidak kesampaian. Karena alasan ekonomi, sehingga orangtuanya tak sanggup membiayainya. Jadilah mereka harus bekerja. Apalagi seperti kamu ini, bisa masuk sekolah favorit di Darul Quran. Tidak banyak yang punya kesempatan bagus seperti kamu.

Kalau soal jauh dari orangtua, ya pasti semua sedih. Bapak dan ibu juga sedih. Tapi itu tidak apa-apanya jika dibanding dengan yang kamu lihat di TV. Berapa banyak anak yang terpisah dari orangtuanya karena perang seperti di Palestina sekarang Kamu juga sering menggunakan nya untuk DP di BBM-mu. Di lain pihak, banyak juga yang terpisah karena bencana alam. Mereka jauh kurang seberuntung kamu.

Wening mengangguk dan Alhamdulillah sudah tidak terus menangis seperti di mobil tadi.

Tepat pukul 05.00 sore, pesawat landing di Bandara Halim. Segera saya cari taksi untuk berlanjut ke Tebet, menginap di rumah Mas Dodong, sahabat saya.

Ketika masuk Tebet, terdengar azan Magrib. Saya dan Wening berbuka puasa dulu. Alhamdulillah, itu Puasa Syawal hari kelima.

Habis berbuka, kami lanjut dengan Sholat Magrib dan mampir di Super Indo untuk membeli ember dan gayung yang sengaja memang ingin kami beli di Jakarta daripada repot membawanya dari Solo.

11 Agustus 2014