MEMORIA - 84
Kupuisikan saja dirimu dalam

sehelai kartu pos yang kemarin

telah kuterbangkan ke hadirat

Tuhan usai aku menuliskan sayap

di keempat sudutnya dan aku

berharap agar Tuhan menjawab

doaku dengan bahasa yang mudah

kupahami karena mencintaimu

telah menjadi pekerjaan paling

rumit yang dengan sedikit kegilaan

harus kuselesaikan sebelum diriku

sendiri yang benar-benar pergi

kepada Tuhan menanyakan apakah

puisi yang kuselipkan dalam kartu

pos itu layak kubacakan kembali

saat menyambutmu di gerbang baka

ataukah cukup kubingkiskan sebagai

doa pernikahanmu dengan orang lain

di kehidupanmu yang akan datang.

(Naimata, Mei 2012)