sehelai kartu pos yang kemarin
telah kuterbangkan ke hadirat
Tuhan usai aku menuliskan sayap
di keempat sudutnya dan aku
berharap agar Tuhan menjawab
doaku dengan bahasa yang mudah
kupahami karena mencintaimu
telah menjadi pekerjaan paling
rumit yang dengan sedikit kegilaan
harus kuselesaikan sebelum diriku
sendiri yang benar-benar pergi
kepada Tuhan menanyakan apakah
puisi yang kuselipkan dalam kartu
pos itu layak kubacakan kembali
saat menyambutmu di gerbang baka
ataukah cukup kubingkiskan sebagai
doa pernikahanmu dengan orang lain
di kehidupanmu yang akan datang.
(Naimata, Mei 2012)