MEMORIA - 85
Seandainya sembilan puluh sembilan

peri paling bahagia datang dan mengatakan

ingin mencintaiku maka akan kutolak

sebelum mereka sempat mengucapkan kata

cinta mereka karena kau tentu tahu bahwa

kesempurnaan adalah jalan lain mengapa

aku senantiasa mencari perempuan sepertimu

dengan segenap kerapuhan dan nama lain

dengan segenap rengek manja dan keanehan

tapi dengan sepenuh hati akan tetap

kuperjuangkan karena menggenapimu

adalah cara paling membahagiakan menjawab

doa yang dikirimkan segala penjuru angin

ke dalam diriku dan kau tentu tahu aku yang

senantiasa rapuh pun mesti kaukuatkan

dengan senyum dan air matamu seperti

yang sering kali kuceritakan padamu

tentang hikayat hujan dan pelangi di ujung

terjauh pulau yang akan kugunakan untuk

membangun sebuah puri bagi kita berdua

dengan sebuah danau mengelilinginya dan

cara paling baik untuk mengukuhkanmu

tentunya dengan melukiskan segala yang

kaumiliki ke dalam pemahamanku tapi kau

tak perlu takut sebab cintaku yang terlampau

sederhana jika tak bisa kauterjemahkan maka

akan kupecah-pecahkan lagi menjadi

bagian-bagian yang lebih kecil serupa

perhatian atau sentuhan lembut atau dengan

sekadar berkaca-kaca ketika memerhatikan

wajahmu yang menyimpan ribuan kejutan.

(Naimata, Mei 2012)