peri paling bahagia datang dan mengatakan
ingin mencintaiku maka akan kutolak
sebelum mereka sempat mengucapkan kata
cinta mereka karena kau tentu tahu bahwa
kesempurnaan adalah jalan lain mengapa
aku senantiasa mencari perempuan sepertimu
dengan segenap kerapuhan dan nama lain
dengan segenap rengek manja dan keanehan
tapi dengan sepenuh hati akan tetap
kuperjuangkan karena menggenapimu
adalah cara paling membahagiakan menjawab
doa yang dikirimkan segala penjuru angin
ke dalam diriku dan kau tentu tahu aku yang
senantiasa rapuh pun mesti kaukuatkan
dengan senyum dan air matamu seperti
yang sering kali kuceritakan padamu
tentang hikayat hujan dan pelangi di ujung
terjauh pulau yang akan kugunakan untuk
membangun sebuah puri bagi kita berdua
dengan sebuah danau mengelilinginya dan
cara paling baik untuk mengukuhkanmu
tentunya dengan melukiskan segala yang
kaumiliki ke dalam pemahamanku tapi kau
tak perlu takut sebab cintaku yang terlampau
sederhana jika tak bisa kauterjemahkan maka
akan kupecah-pecahkan lagi menjadi
bagian-bagian yang lebih kecil serupa
perhatian atau sentuhan lembut atau dengan
sekadar berkaca-kaca ketika memerhatikan
wajahmu yang menyimpan ribuan kejutan.
(Naimata, Mei 2012)