YANG TERUCAP YANG TERTULIS - 85
Tadi pagi setelah mengaji, sebentar saya membuka-buka Twitter. Sebenarnya, saya sudah cukup lama punya akun Twitter, namun pasif. Saya jarang berkicau di sana. Hanya saya pakai untuk baca-baca tweet yang saya anggap ada manfaatnya. Itulah mengapa saya hanya mem-follow 40 akun.

Tadi pagi, batin saya sempat terguncang setelah membaca kicauan Ustad Yusuf Mansur. Beliau bertutur tentang Rani, salah satu terpidana mati yang sudah dieksekusi di Nusakambangan, 18 Januari lalu.

Rani Andriani, begitu nama lengkapnya. Perempuan asal Cianjur itu divonis mati oleh Pengadilan Negeri Tangerang setelah tertangkap membawa 3,5 kilogram heroin. Ustad Yusuf Mansur menyatakan penyesalannya karena tidak dapat menghadiri acara pada 13 Desember 2014 dan tidak dapat bertemu dengan Rani.

Saat itu, Rani dan sejumlah terpidana dari Lapas Tangerang diizinkan Kalapas untuk bersilaturahmi dan mempertunjukkan kesenian Rampak

Belajar dan Belajar

Beduk di Pesantren Darul Quran miliknya. Dalam kesempatan itu, Rani menyatakan keinginannya untuk memiliki Al-Quran dengan terjemahannya untuk dibaca-baca di dalam sel tahanan.

Habis membaca Twitter itu, saya mencari tahu lebih banyak kisah Rani selengkapnya. Ya Allah, saya tidak bisa membayangkan, seperti apa perasaan seseorang yang sudah tahu kapan hidupnya akan segera berakhir. Seperti apa suasana batinnya, sesaat akan meregang nyawa

Saya tambah merinding, terharu, sekaligus iri pada Rani. Bagaimana tidak, dia dengan tenang dan tegar menghadapinya. Selama menjalani hukuman di tahanan, Rani dikenal rajin beribadah. Bahkan saat menjelang dan saat dieksekusi, dia sedang berpuasa selama 40 hari. Ya Allah.

247

Tidak cukup di situ. Sesaat sebelum dieksekusi, Rani selalu membaca doa yang biasa dilantunkan oleh Nabi Yunus, Laa ilaha illa Anta, subhanaka, inni kuntu minazh-zhalimin.

Maksud dari doa itu adalah Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk di antara orang-orang yang zalim.

Saya menangis saat menulis ini.

Rupanya, iri saya ke Rani belum berakhir. Sesaat setelah regu tembak melaksanakan tugasnya, Rani tewas dalam keadaan tersenyum. Darah yang mengucur dari tubuhnya paling sedikit jika dibanding dengan 5 terpidana mati yang dieksekusi di Lapangan Tembak Limus Buntu Nusakambangan tersebut.

Subhanallah, tanda apa ini

Secara kasat mata, Rani jelas bukan orang baik. Dia terlibat dalam jaringan narkoba. Namun, siapa yang tahu sebenarnya setelah dia melakukan pertobatan Bisa jadi Allah menerima tobatnya.

Kita yang selama ini dikenal sebagai orang baik, rajin beribadah, akankah menemui ajal dalam keadaan sebaik Rani Mati setelah sempat bertobat Mati dalam keadaan sedang puasa Dan mati dengan bibir tersenyum

Ya Allah, benar-benar saya mendapat tamparan dan pelajaran yang sangat berarti hari ini.

Allahumma fii khusnil khaatimah. Amin.

27 Januari 2015