DARI LANGIT - 85
DRaMa aKBaR itu berakhir sudah. Rabu (13/12) malam pekan lalu, lewat pidato yang memukau, Wakil Presiden al Gore dengan besar hati menerima kekalahannya dan menyam paikan selamat buat George W. Bush. apa yang bermula seba gai konflikpartisanantaraduakandidatdanduapartaipolitikmengenai jumlah suara yang mereka dapatkan dalam Pemilu 2000, ber akhir dengan peneguhan kembali kebesaran amerika. Dalam persaingan, mereka bertarung sepenuh hati seperti beruang yang terluka, tetapi setelah hakim bicara, semua pihak patuh dan menerima keputusan pengadilan, betapapun me nyakitkan keputusan itu.

tanggungjawab kepemimpinan di negeri pelopor demokrasi ini akan segera beralih ke pundak George W. Bush. Pada 20 Jan uari nanti dia akan disumpah sebagai Presiden ke43 amerika Serikat, menggantikan Bill Clinton. Di depannya sudah ter bentang setumpuk masalah besar dan sejak sekarang dia harus meyakinkan rakyatnya, dia pantas mendapat kehormatan un tuk memimpin mereka semua.

Im a uniter, not a divider, saya seorang pemersatu, bukan pemecahbelah. Inilah mantra Bush selama masa kampanye pemilu. Setelah dilantik nanti, tantangan pertama yang dihadapi adalah bagaimana ia mewujudkan mantra itu setelah perseteruan pascapemilu yang luarbiasa seru selama 36 hari. Ia harus mampu merangkul kembali pendukung Partai Demokrat yang merasakan kepahitan mendalam akibat kekalahan mereka di Florida. Sebagai presiden, Bush dituntut menunjukkan bahwa pemerintah yang dipimpinnya akan membela dan mengangkat nasib mereka.

Dalam dunia kebijakan, tantangan terbesar Bush bersumber pada masalah klasik dalam kapitalisme modern, yaitu bagaimana ia merumuskan kembali perimbangan peran negara dan pasar, bagaimana ia mengatasi tarikmenarik antara langkahlangkah birokratis dan aksiaksi sukarela di masyarakat. Sebagai wakil kaum Republikan, agenda kebijakan Bush selama masa kampanye dengan jelas memperlihatkan, ia ingin mengikuti jejak Ronald Reagan dan mendorong perluasan peran pasar dengan inovasiinovasi yang berani.

hal ini, misalnya, terlihat dalam programnya melakukan pemotongan pajak yang besar (1,3 triliun dollar aS selama 10 tahun ke depan) dan pada saat yang sama mendorong langkahlangkah privatisasi program kesejahteraan sosial, social security. Program terakhir ini, yang dimulai Presiden Franklin D. Roosevelt pada 1935, adalah ikon paling penting negara kesejahteraan ala amerika, dan karena itu sering dianggap sakral, bahkan juga oleh kaum Republikan.

Bagi Bush dan para penasihat terdekatnya, kedua pilihan kebijakan besar itu penting dilakukan mengingat dalam 10 tahun ke depan, karena pertimbuhan ekonomi yang pesat, pemerintah aS akan menikmati surplus besar, yaitu sekitar 2,2 triliun dollar aS. Surplus yang fantastis ini tidak boleh digunakan pemerintah untuk makin memperluas perannya. Rakyatlah yang harus langsung menikmati rezeki itu, dalam bentuk pemotongan pajak yang tidak pandang bulu, across the board.

PRESIDEN BUSH DAN PERTARUHAN AMERIKA

Ketimbang kaum birokrat dan politisi, rakyatlah yang lebih tahu bagaimana membelanjakan uang sebesar itu.

***

Memang tidak begitu jelas bagaimana Bush bisa memotong pajak yang demikian besar sekaligus membiayai privatisasi program kesejahteraan sosial yang lebih sering dikenal sebagai program jaminan pensiun, sebagaimana diinginkannya. Namun, dalam pikiran dia dan para penasihatnya, amerika tidak punya pilihan selain melakukan langkah berani ini, sebab tanpa privatisasi, program sosial terpenting itu akan bangkrut dalam satu generasi ke depan.

Kini tiga pekerja di aS menanggung seorang pensiunan (setiap pekerja harus membayar pajak jaminan kesejahteraan yang langsung digunakan negara federal untuk membiayai kaum pensiunan).Dalam20tahun,karenaperkembangandemografisyang tidak terhindarkan, perimbangan ini akan men jadi 2,1:1. artinya hanya sekitar dua orang yang bekerja untuk menanggung seorang pensiunan. akibatnya, pada 2020, tanpa program privatisasi kesejahteraan sosial, negara tidak lagi mungkin membiayai puluhan juta kaum berumur yang keban yakan menggan tungkan hidupnya pada program itu. Bisa dibayangkan ma la petaka seperti apa yang akan menunggu jika ini terjadi.

Singkatnya, Bush ingin agar pasarbukan pemerintah serta kaum birokratyang berdiri di posisi terdepan menyong song peluang menghadapi tantangan amerika di masa depan. Inilah perbedaan hakiki antara Bush dan Gore, antara kaum Republikan dan kaum Demokrat, dan ini pula yang menjadi pertaruhan politik terbesar dalam pemilu yang baru saja ber akhir.

Pertanyaannya kemudian, mampukah Bush menghadapi tantangantantangan besar itu dan mewujudkan agenda po litiknya Dengan mandat memerintah yang amat terbatas karena dia hanya mengalahkan al Gore dengan selisih suara amat ti pis, bisakah Bush mengambil langkahlangkah besar dan berani hanya sejarah yang akan menjawab semua itu. hambatan yang ada di depan Bush kini luarbiasa besar, seperti Gunung himalaya politik yang sulit didaki. Dari hasil Pemilu 2000, komposisi kursi di Kongres terbagai hampir sama rata antara kaum Republikan dan kaum Demokrat. Di Senat (lembaga perwakilan negara bagian) perimbangannya persis 5050 dan di house of Representatives (DPR) kaum Republikan hanya unggul 11 kursi, sebuah jumlah yang jauh dari memadai untuk mendukung agenda politik Bush.

Dalam sistem politik aS, jika perimbangan seperti itu terjadi, biasanya yang akan tercipta adalah apa yang sering disebut political gridlock, kebuntuan politik. Dalam situasi semacam ini, tidak satu pun inisiatif kebijakan mendasar dapat dilahirkan.

Satusatunya cara agar Bush bisa menghindari situasi demik ian adalah dengan berusaha merangkul kaum Demokrat yang moderat, yaitu mereka yang selama ini dikenal sebagai the new Democrats. Ia harus bisa melakukan hal ini tanpa me ninggalkan basis pendukungnya di Partai Republik, dan tanpa berkompromi terlalu jauh dalam pelaksanaan agenda yang su dah ia janjikan selama pemilu.

***

Semua hal itu amat tidak mudah. Satusatunya harapan, Bush mungkin bisa berhasil mengatasinya terletak pada kualitas kepemimpinan Bush sebagaimana tercatat selama dia memainkan peran sebagai Gubernur texas, salah satu negara bagian ter besar di aS.

Bush bukan seorang ideolog, dan dia tidak memiliki minat untuk menjadi filsufnegarawan. Namun, selama memimpintexas, dia membuktikan dirinya sebagai seorang deal-maker ulung, dengan kepribadian menarik yang dengan alamiah gampang menarik simpati banyak orang. Di negara bagian yang

PRESIDEN BUSH DAN PERTARUHAN AMERIKA

kaya minyak ini, Bush amat berhasil dalam bekerjasama dan menarik dukungan kaum Demokrat.

apakah langkahlangkahnya yang berhasil di texas juga bisa diterapkan di Washington DC Sebagian pengamat cukup skeptis terhadap hal ini. tetapi, sebagian lagi tetap menaruh harapan besar. Kalau kaum skeptis yang benar, pada Pemilu 2004 kita akan melihat al Gore (atau Senator hillary Clinton) merontokkan pemerintahan Bush. Namun, jika kaum optimistis yang benar, George W. Bush akan mencatatkan namanya dengan tinta emas dalam sejarah amerika, sebagaimana yang dilakukan Ronald Reagan lebih sepuluh tahun lalu.

19 Desember 2000