YANG TERUCAP YANG TERTULIS - 86
Pekan ini saya terbilang sibuk. Saya akan ada di Jakarta, setidaknya seminggu penuh. Agenda acara pameran di Kemayoran akan dimulai tanggal 12 sampai dengan 15 Maret.

Sudah diperhitungkan, untuk setting stan pameran paling tidak, butuh waktu 2 hari. Jadi, tanggal 10 Maret sudah harus di lokasi pameran. Saya lihat, tanggal 10 Maret jatuh pada Hari Selasa, sedangkan tanggal 8 Maret Hari Ahad.

Wah, bisa digunakan sekalian untuk menengok anak saya dulu di Cikarang. Mumpung sekali jalan.

Saya berangkat dengan flight pertama dari Solo. Alhamdulillah lancar. Pukul 08.15 sudah sampai Bandara Jakarta. Ternyata malah menunggu Bus Damri yang akan mengantar saya ke Cikarang yang lama. Setelah sejam menunggu, baru tiba. Tepat jam 09.30 saya sampai di Pesantren Putri Darul Quran Cikarang. Pesantren asuhan Ustad Yusuf Mansur, di mana anak saya sedang menimba ilmu di sana. Ramai sekali. Maklum karena memang hanya hari libur, orangtua boleh menengok anaknya.

Saya kaget, ternyata Wening, anak saya, sudah menghadang di depan pintu masuk asrama.

Kok tahu Bapak sudah datang tanya saya kepada Wening.

Sudah kelihatan dari atas, jawabnya singkat.

Wening sekarang sedang mengejar setoran hapalan juz 6. Saya minta Wening menyetor hapalannya dan saya simak di Al-Quran yang ada di handphone saya. Alhamdulillah lancar, walau masih ada sedikit yang lupa.

Karena kecapekan, akhirnya saya beristirahat di salah satu rumah penduduk sekitar pesantren yang memang disewakan untuk tempat istirahat. Sorenya, Wening saya ajak keluar untuk berbuka puasa.

Saya bangga pada Wening. Di tengah belajar, dia bisa menjalani Puasa Hajat selama 40 hari. Dan ini adalah puasa ketiganya.

Alhamdulillah juga, dia masih sempat menulis beberapa artikel.

Senin pagi, saya beranjak dari Cikarang menuju Jakarta untuk lanjut kerja. Pameran usai, sebelum pulang ke Solo, saya berkemas dengan merapikan pakaian dan lainnya. Saya temukan selembar kertas di salah satu saku di tas saya. Ternyata surat dari Wening.

Ya Allah, saya menangis ketika membacanya. Semenjak belajar di pesantren, Wening banyak mengalami perubahan luar biasa. Dia menjadi sangat sopan dan menghargai orangtuanya.

Belajar dan Belajar

Surat Cinta Untuk Ayah

Kau yang tak pernah lelah mencintaiku dengan penuh kasih

Menyayangiku tanpa pamrih, mengajari dan mendidikku sedari kecil

Kau telah berikan pendidikan terbaik yang kaumampu

Mempersiapkanku menjadi generasi baru, penerus bangsa, penerus agama

Kala ku kecil, kau menimangku dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran

Kau bersenandung sholawat saat menggendongku manja

251

Mengenalkanku akan indahnya dunia dengan keagunganNya

Tak peduli betapa lelahnya dirimu, tak peduli berapa banyak beban di pundakmu

Tak peduli sesulit apa masalahmu

Kau selalu menyempatkan menyisihkan sebagian waktumu

Hanya untuk bercanda ria denganku, hanya untuk tertawa bersamaku

Senyum hangat di bibirmu, halus tutur katamu, lembut belaian kasihmu

Aku rindu. Aku rindu semua itu. Ingin kumemelukmu

Bukan, bukan balasan yang kau tunggu dariku

Namun kesuksesan, hanya sebuah kesuksesan

Yah, kesuksesan yang barokah, yang akan menjadi kado utama untukmu

Ribuan terima kasih takkan pernah cukup, dan kutahu

Tak kan pernah mampu ku membalasmu

Hanya dengan baktiku kuharap mampu menyenangkan masa tuamu

Dengan doa yang tak terputus, kuharap dapat menghantarkamu kelak di taman surga-Nya

Syukurku tiada terkira memiliki ayah sepertimu

Ayah, aku menyayangimu

Barakallah, sehat selalu, panjang umur yang barokah, tambah sabar dan sayang dalam mendidik kami semua. Sukses. Amin

Afwan, cuma bisa ngasih ini.

Especially, ure my hero, Dad. Thanks for everything

Miss and love ya

Wening Nur Faizi

Your beloved daughter

08 Maret 2015