DARI LANGIT - 86
PERaNG uSaI SuDah, dan kini kita bertanya bagaimana nasib Irak selanjutnya. Sejarah akan menilai Perang teluk II bukan pada prosedur terjadinya, melainkan pada hasil akhirnya, yaitu Irak yang demokratis dan meninggalkan segala kepahitan yang dialaminya di bawah kepemimpinan Saddam hussein. Kalau hal ini tercapai, Perang teluk II akan dicatat sebagai perang yang membebaskan, bukan sebaliknya.

Sejauh ini cukup banyak kalangan yang meragukan bahwa Irak akan mengikuti keberhasilan Jepang dan Jerman. Di akhir Perang Dunia II, kedua negeri ini porakporanda (jauh lebih buruk ketimbang Irak) dan diduduki oleh pasukan sekutu yang dipimpin oleh amerika Serikat. tapi setelah itu, yang terjadi adalah keajaiban. Dalam satu dekade, keduanya menjadi negeri demokrasi yang stabil. Dan setelah itu, dari puingpuing kehancuran, mereka tumbuh menjadi dinamo ekonomi yang bahkan dapat menyaingi negerinegeri penakluk mereka.

Irak tidak mungkin mengulang pengalaman kedua negeri itu. Masyarakat Jepang dan Jerman adalah masyarakat yang relatif homogen, sementara masyarakat Irak terpecah tajam dalam garisgaris etnis dan agama. Jauh sebelum PD II, Jepang dan Jerman telah mengadopsi modernitas dan telah tumbuh

SETELAH PERANG

menjadi dinamo industri. Jepang pada 1905 telah mengalahkan Rusia pada saat Irak masih di bawah penaklukan Imperium Ottoman.

Singkatnya, bagi kaum yang pesimistis, Irak dalam tahuntahun mendatang adalah negeri yang akan semakin terperosok dalam kelam, dengan siklus kekerasan yang tanpa henti. Nasib Somalia dan haiti, bukannya Jepang dan Jerman, adalah masa depan Irak.

tapi betulkah tentu saja jalan Irak akan lebih panjang dan sulit ketimbang apa yang telah dialami Jepang dan Jerman. Masyarakat Irak memang terbelah dalam garis etnis (arab dan Kurdi) dan agama (Sunni dan Syiah). tapi kemajemukan bukanlah musuh demokrasi. Dengan konstruksi sistem politik yang tepat, ia malah dapat menjadi sumber kekuatan.

Saya setuju dengan pandangan thomas Friedman, kolumnis The New York Times yang tajam itu, bahwa keunikan Irak adalah karena ia merupakan satusatunya negeri di dunia arab yang memiliki empat hal sekaligus, yaitu minyak, air, otak, dan tradisi sekularisme. arab Saudi dan Kuwait hanya memiliki minyak, Israel cuma punya otak, sementara di Suriah dan Mesir hanya ada air dan tradisi sekularisme.

Dengan modal semacam itu, tidak ada alasan bangsa Irak tidak bisa mulai membangun negerinya. Dengan jatuhnya rezim Saddam hussein, peluang itu sekarang terbuka. Kalau ada yang bisa Irak pelajari sekarang dari Jepang dan Jerman, hal itu terletak pada kemampuan kedua negara ini untuk segera melupakan kepahitan masa lalu dan lebih memikirkan masa depan segera setelah perang usai. Menolak sikap defeatism, bangsa Jepang dan Jerman tidak mengorek luka mereka terusmenerus. Bahkan terhadap aS, sang penakluk mereka, kedua negeri ini bersikap konstruktif. Bukannya meminta aS segera hengkang setelah situasi normal kembali, Jepang dan Jerman justru menggunakan negeri adikuasa ini untuk terus membela

598 BAB vIII: SETELAH PERANG

dan membantu mereka dalam masamasa sulit selama Perang Dingin, bahkan hingga saat ini.

Memang, keberhasilan Irak juga tidak ditentukan hanya oleh diri mereka sendiri, setidaknya untuk saat ini. Sekarang peranan aS adalah sebuah force majeure. tidak ada yang dapat memulihkan kembali hukum dan ketertiban di Irak da lam dua atau tiga bulan ke depan kecuali kekuatan aS (kekuatan PBB hanya macan kertas, sebagaimana terbukti di Bosnia dan Rwanda beberapa tahun silam). Negeri penakluk ini harus menjamin bahwa infrastruktur dan berbagai kebutuhan dasar kembali tersedia, serta birokrasi pemerintahan yang minimal dapat berfungsi kembali. Namun, setelah itu apa

yang saya khawatirkan adalah, karena desakan politik d alam negeri atau karena hal lainnya, aS cepat angkat kaki dari Irak, seperti yang terjadi di Somalia setelah puluhan tentaranya tewas oleh amukan massa. Fareed Zakaria menulis di majalah Newsweek pekan silam bahwa Negeri abang Sam bisa segera hengkang atau membantu membangun demokrasi di Irak, tetapi tidak keduanya sekaligus.

Sejak awal, selain alasan keamanan nasional, Presiden Bush dan para pembantunya, seperti Dick Cheney, Donald Rumsfeld, Condoleeza Rice, dan Paul Wolfowitz, menyiratkan bahwa perang terhadap rezim Saddam hussein dilakukan berdasarkan prinsip democratic imperialism.

Dalam menjalankan peran sebagai imperator demokrasi, aS tentu bisa bertindak bijaksana dengan mengajak semakin banyak negara untuk terlibat di dalam proses pemerintahan transisi dan pembangunan kembali infrastruktur Irak. Dalam hal ini peran PBB sangat penting, setidaknya untuk memper kuat aspek le gi timasi dan meyakinkan rakyat Irak bahwa dunia ber sa ma mereka. Setelah Perang Dunia II, Sir Winston Churchill per nah berkata, in war resolution, in peace magnamity. Ke arifan ini harus disuara kan kembali oleh Presiden Bush dan para pembantunya.

SETELAH PERANG

Setelah lima tahun menjadi semacam prokonsul Romawi di Jepang, Jenderal Macarthur kembali ke negerinya dengan diiringi tangis oleh sebagian warga di tokyo. Dua tahun setelah kepergian Macarthur, aS memulihkan sepenuhnya kedaulatan pemerintahan Jepang, yang samasekali sudah meninggalkan cirinya yang militeristik dan otoriter. Dengan kebijakan yang tepat, dan juga sedikit keberuntungan, hal itu. bukan tidak mungkin terulang di Irak.

yang jelas, jika Irak memang bisa memanfaatkan peluang yang sekarang terbuka, di kawasan timur tengah akan muncul sebuah model negara yang baru samasekali. Di kawasan ini demokrasi dan pembangunan ekonomi adalah katakata yang asing. Sebagaimana Jepang memberi contoh keberhasilan pada negerinegeri di asia timur, Irak bisa menjadi mercusuar dan memulai sebuah proses yang menguak harapan negerinegeri tetangganya.

27 april 2003