Mansur dan Maemunah, istri beliau. Saya ajak anak dan istri saya untuk hadir di sana.
Tema yang beliau sampaikan adalah Yang Terucap Yang Tertulis. Saya sangat setuju dengan materi yang disampaikan Ustad Yusuf Mansur. Karena, saya mengalami dan membuktikannya sendiri. Bahwa setiap cita-cita dan keinginan mesti sering-sering diucapkan. Syukur juga ditulis.
Apa yang kita ucapkan dan kita tulis akan menghadirkan energi serta mendekatkan kita pada apa yang kita ucap dan tulis tadi.
Termasuk dalam hal ini, tidak boleh sembarangan memberi dan memanggil nama seseorang. Anak kita contohnya. Karena, nama adalah doa. Panggilannya pun mengandung doa.
Contohnya, Ustad YM diberi nama oleh orangtuanya dengan nama Jaman Nur Khotib Mansur, yang berarti kumpulan cahaya orang yang selalu ditolong. Sedari kecil, orangtuanya tidak pernah memanggiln ya dengan panggilan sembarangan.
Ketika Yusuf Mansur kecil, setiap kali diajak oleh ibunya ke luar rumah, ibunya selalu minta doa kepada setiap orang yang dijumpainya.
Tolong doakan Jaman, ya. Semoga kelak jadi orang besar, orang hebat, begitu kata ibunya.
Semua yang ditemuinya pun lantas meng-amin-kan doa ibunya tersebut.
Amin, Bu Hajjah. Semoga Jaman kelak jadi orang hebat.
Tidak hanya itu, ibunya selalu berdoa agar kelak anaknya gampang sekali bisa ke Makkah, bisa mondar mandir ke sana. Layaknya pergi dari rumah ke pasar.
Yusuf Mansur kecil bertanya kepada ibunya, Masa iya bisa begitu, Bu
Dijawab oleh ibunya, Eh bisa saja. Kalau Allah berkehendak mah apa yang tidak mungkin
Kembali ke tema. Jika ingin rumah, ya sering-seringlah disebut keinginan tersebut. Syukur digambar, seperti apa model rumahnya. Bagi yang ingin bisa pergi haji, bisa membeli poster Kabah. Tempel di tembok kamar. Pandangi dan dan baca sholawat. Tidak masalah jika sampai mengusap-usapnya. Sepertinya, hal ini tidak masuk akal dan bahkan ngaco. Tapi memang demikianlah kenyataannya.
Awal tahun 2000, saya menulis 10 besar cita-cita saya. Saat itu saya bukanlah siapa-siapa. Sekarang pun masih bukan siapa-siapa. Maksud saya, saya belum punya penghasilan sebesar sekarang. Jadi apa
Belajar dan Belajar
yang saya tulis saat itu sepertinya hanya mimpi yang tidak bakal bisa terwujud.
255
Saat itu, saya menulis di urutan pertama. Saya harus pergi haji di usia muda. Lantas di bawahnya bisa beli tanah dan mewakafkannya untuk membuat pesantren. Bisa menghajikan orangtua, istri, dan saudara. Dan masih banyak lagi. Semuanya saya tulis itu hebat-hebat. Bukan cita-cita yang biasa-biasa saja.
Apa yang terjadi setelah 10 tahun, 15 tahun kemudian Alhamdulillah, 100 persen sekarang sudah terwujud.
Niat yang baik dan selalu dijaga niat itu akan menghadirkan semangat untuk mewujudkannya. Hal tersebut akan menghilangkan energi negatif dan menyingkirkan rasa malas. Kalau sudah mempunyai niat baik, Dia akan memberi jalan kemudahan untuk mewujudkannya.
Teman-teman ingin hal yang sama Segeralah lakukan hal sama.
12 Mei 2015