Betapa tidak untuk beberapa bulan selama 19951996, tulis Juwono, Gedung Putih berubah menjadi hotel penginapan orangorang asia. Dengan contoh ini, antara lain, Juwono ingin menggambarkan bahwa sirkus amerika itu ternyata adalah pertunjukan yang dimaksudkan bukan untuk menyenangkan penontonnya (yaitu rakyat amerika), melainkan hanya untuk mengeruk keuntungan buat para pemeran sirkus itu sendiri. Para pemain sirkus itu berkolusi!
Bisakah sirkus itu diubah, direformasi tak mungkin lagi. Bagi Juwono, panggung politik amerika sudah sedemikian parahnya sehingga usaha perubahan apapun pasti akan siasia. Sambil mengutip sebuah film klasik Hollywood, Mr. Smith Goes to Washington, Juwono berkata bahwa tipe politikus seperti Mr. Smith, seorang politikus yang jujur dan idealis, sudah tak mungkin lagi ditemukan di Washington. Zaman bagi aktor politik yang jujur sudah lewat.
SIRKUS AMERIKA
apa yang bisa kita katakan terhadap analisis politik amerika seperti ini Pertamatama tentu kita bisa perlihatkan ke pada Juwono, beberapa fakta yang disodorkannya, kalau bukan keliru, sangatlah bersifat selektif. Katakanlah soal Gedung Putih yang menurutnya berubah menjadi hotel penginapan orangorang asia, selama beberapa bulan itu. Memang beberapa kawan dekat Clinton yang berkebangsaan asia diu ndang menginap di Gedung Putih, termasuk di antaranya barangkali adalah James Riady, bos Grup Lippo. tak perlu diragu kan lagi bahwa selain sopan santun perkawanan, un dangan menginap ini juga pasti bermotif ekonomi (Clinton bu tuh dana kampanye).
tapi kita tak boleh lupa bahwa selama masa kepresidenan Clinton, ribuan orang sudah berkunjung ke Gedung Putih, dan ratusan di antaranya sempat diundang menginap oleh keluarga Clinton. Jadi para pengusaha asia itu hanya sebagian kecil dari tamutamu istana. Sebagian besar lainnya malah, menurut harian The New York Times, bukanlah pengusaha. Mereka berasal dari berbagai kalangan: artis, penyair, penulis, pemenang hadiah Nobel, kawan lama Clinton dan hillary, tokoh masyarakat, serta bekas pejabat.
Dengan kata lain, kalau kita tak terlalu selektif memilih fak ta seperti yang dilakukan Juwono, kita justru bisa berkata bahw a beragamnya tamu yang menginap di Gedung Putih sesung guhnya bisa menjadi semacam simbol yang mencerminkan betapa pusat kekuasaan di amerika bersifat terbuka. Pusat kekuasa an tak dianggap angker, terisolasi, unfriendly. Berapa banyak sih istana kepresidenan di dunia ini yang demikian ter buka bagi publik
Selain pemilihan fakta yang selektif seperti itu, Juwono tamp aknya terlalu terpaku pada ekses, sehingga lupa untuk lebih memperhatikan substansi proses politik serta hakikat kekuasaan di amerika.
602 BAB vIII: SETELAH PERANG
Memang seringkali politisi dan pemimpin di Negeri Paman Sam ini bertindak anehaneh, menurut ukuran kita. apa yang mereka lakukan sering menggelikan, seperti pemain sirkus politik. Lebih jauh lagi, dalam banyak forum publik, sikap saling menuduh dan saling menyalahkan sering muncul di antara mereka. Mereka saling sikat dan saling sikut. Kalau thomas Hobbes,filsufInggrisdiabadke17,hiduplagisekarang,makadia mungkin berkata bahwa kebenaran teorinya ternyata sudah terbukti di Washington: seorang politikus adalah srigala bagi politikus lainnya.
Mengapa eksesekses seperti ini sampai terjadi Sebabnya tak lain adalah tingkat kompetisi politik yang sangat tinggi. Di amerika tak dikenal sistem komando dan sistem penyeragaman. Politisi mereka tak mengenal metode 4D (datang, duduk, diam, duit). Kalau mandataris mereka, yaitu Presiden Clinton, bilang a, jangan harap kemudian akan terdengar suara kor berkepanjangan menyerukan a.
Politisi amerika harus bertarung, beradu argumen untuk memengaruhi kebijakan publik. Ia harus membuktikan bahwa ia memang layak mewakili kepentingan kelompok yang memilihnya. Kalau tidak, ia tak lagi akan terpilih dalam pemilihan berikut.
Dengan tingkat kompetisi yang tinggi semacam ini, amerika dapat menyalurkan berbagai aspirasi masyarakatnya yang sangat majemuk. Rakyat amerika adalah rakyat yang cerewet, kritis, dengan kepentingan yang sangat beragam. Dengan rakyat seperti ini, wajar saja jika politisi mereka harus pula menarinari dengan banyak kepentingan, tuntutan, dan ha rapan. tentu, dalam proses penyaluran aspirasi politik, bisa ter
jadi bermacam ekses, seperti yang berusaha digambarkan oleh Juwono. tapi kita harus mengerti, ekses adalah ekses, produk sampingan yang ada atau tidaknya sebenarnya tak tertalu penting.
SIRKUS AMERIKA
Kalau eksesekses itu bisa dihilangkan, masyarakat amerika pun pasti akan bersyukur. Kalau tidak, no big deal. yang penting bagi mereka, substansi proses politik amerika terus berjalan, yaitu proses perwakilan masyarakat majemuk ter bu ka.
12 Juli 1997