Di Gettysburg pada 1863 abraham Lincoln berpidato tentang amerika. amerika, kata Lincoln, adalah sebuah negeri yang dipersembahkan bagi sebuah gagasan bahwa manusia diciptakan sama. Dan karena itu pemerintahan amerika diatur mengikuti semboyan: dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.
Kalau Juwono benar, kita hanya bisa mencibirkan idealisme Lincoln semacam ini. Sebab hingga kini politik amerika ternyata diatur hanya oleh segelintir elite yang berkantong tebal di Washington. Pendapat Juwono ini tergolong sangat keras. agar pendapat sekeras ini tak menjadi retorika belaka, Juwono harus mendukungnya dengan argumen yang kukuh dan bukti yang meyakinkan. Sayangnya, kedua hal ini tak kita temukan.
Ralph Nader dan hedrick Smithyang dikutip Juwono untuk mendukung argumennyatak dianggap serius dalam dunia pemikiran di amerika. Mereka lebih dianggap sebagai popularizers of ideas. Pendapat Smith, misalnya, bahwa dasar kekuasaan politik di amerika adalah uang, uang, dan uang, ber sumber pada asumsi Marxisme yang paling vulgar. Dengan
DEMOKRASI AMERIKA
argumen semacam ini sulit bagi kita untuk mengerti kompleksitas dinamika politik.
analisis Juwono, dalam banyak hal, bersumber pada ar gu
men C. Wright Mills, seorang pemikir yang lebih serius ke tim bang Nader dan Smith. Walaupun dikemukakan pada akhir 1950an, argumen Mills ini hingga sekarang masih cukup po pu ler di berbagai kalangan. Salah satu sebabnya: ia memung kinkan kita sangat menyederhanakan masalah dan kemudian menu ding.
Di mana kelemahan Mills dan Juwono Di negeri mana pundemokratis atau tidak, di Washington atau di Jakarta selalu ada lapisan elite. hal ini sangat trivial, kita bisa memakluminya tanpa harus berpikir keras. yang sesungguhnya relevan sebagai persoalan politik adalah sifat kekuasaan para elite itu. Inilah yang membedakan antara sistem yang demokratis dan yang otoriter.
Mills agaknya tak menyadari persoalan sederhana ini. Kon sep elite kekuasaan, kata Mills menjelaskan dalam bukunya yang terkenal, The Power elite, tak terkait samasekali dengan cara pengambilan keputusan. Konsep ini berhubungan dengan siapa yang terlibat dalam proses tersebut. Dengan konsep seperti ini, Mills dengan sadar tak mempedulikan sifat kekuasaan politik. Sebaliknya, yang ia tekankan adalah komposisi aktor politik.
Ketidakpedulian Mills terhadap sifat kekuasaan politik dan sebaliknya perhatian Mills yang terpusat pada siapa yang berkuasa itulah yang mengaburkan pandangannya tentang persoalan politik dan demokrasi di amerika. Ketidakpedulian semacam inilah yang secara konseptual tak memungkinkan Mills membedakan antara Jefferson dan Lenin, antara Roosevelt dan hitler. Dan ini pula yang menjebak tokohtokoh teori ten tang elite lainnya, seperti Mosca dan Michels.
Jika sifat kekuasaan dijadikan kriteria utama maka pertanyaan penting yang berhubungan dengan demokrasi adalah:
606 BAB vIII: SETELAH PERANG
apakah kontrol terhadap elite politik berjalan apakah pemilihan terhadap mereka fair dan terbuka Bagaimana cara mereka mengambil keputusan apakah pers dibredel Dan di hadapan kriteriakriteria inilah potret kita terhadap politik amerika tak sesederhana tudingan Juwono.
Dalam proses pengambilan keputusan, misalnya, yang paling penting dalam sistem amerika adalah mekanisme yang memungkinkan perdebatan terbuka di antara para elite di Kong res, Senat, dan Gedung Putih. tentu saja kombinasi kekuatan uang, ide, karisma pribadi, dan organisasi meme ngaruhi hasil akhir perdebatan ini. tapi semua ini tak bisa meng hilangkan fakta dasar bahwa, di antara para elite di Wa shington, perdebatan terbuka berlangsung terusmenerus. Dan rakyat, berkat pers yang bebas, menyaksikannya secara luas.
Kalau kita ikuti, perdebatan dalam perumusan kebijakan di Kongres, Senat, dan Gedung Putih sering berlangsung ber teletele dan sering emosional. hal ini untuk sebagian orang membosankan dan berlebihan. tapi justru di balik perdebatan yang berkepanjangan itu terletak esensi sifat kekuasaan ame ri ka. Perdebatanperdebatan ini sesungguhnya adalah bentuk tawarmenawar yang terusmenerus antara penguasa dan rak yat.
Gingrich dan Clintonsebagaimana elite politik di negeri mana punmemang memerintah dan merumuskan kebijakan. Dan rakyatsebagaimana rakyat di mana punberada di tepi panggung. tapi di negeri Jefferson dan Lincoln ini me kanisme yang menghubungkan rakyat dan para elite adalah tawarmenawar itu, persuasi, argumen, dan pada akhirnya ke percayaan. Di negeri yang otoriter hubungan rakyat dan pen guasa lebih ditopang kecemasan dan sinisme.
Semua ini tak berarti bahwa demokrasi amerika adalah demokrasi yang sempurna. Pidato Lincoln di Gettysburg itu be tapapun adalah sebuah ideal yang tak boleh kita kacaukan de ngan kenyataan.
DEMOKRASI AMERIKA
Barangkali ada segisegi dan argumen Juwono yang cukup menggambarkan beberapa kelemahan demokrasi di amerika. Namun jika argumen seperti ini disampaikan berulangulang dan disimpulkan terlalu jauh, ia bukan saja akan mengaburkan potret besar demokrasi amerika, melainkan juga, seperti yang dikatakan Daniel Bell terhadap pikiranpikiran Mills, akan mem beri kesan bahwa setiap kekuasaan politikdemokratis atau tidakpada dasarnya adalah konspirasi gelap. Dan karena itu hanya meluaskan sinisme terhadap citacita pencapaian ma syarakat yang lebih bebas.
5 agustus 1997