IBU KOTA LAMA - 9
Chieko nyaris tak pernah mengenakan celana panjang dan kaos tebal, tapi hari itu ia mengenakannya bersama sepasang kaus kaki tebal berwarna cerah.

Karena ayahnya telah pulang, Chieko duduk untuk menyambutnya. Tn.Takichiro terbelalak melihat penampilan anak gadisnya yang tak biasa. Kau mau pergi ke gunung

Ya, gadis Kitayama bilang kalau ia ingin bertemu. Ada sesuatu yang akan dibicarakannya.

Aku bisa paham, seru ayahnya tanpa ragu.

Chieko.

Ya

Jika ia mempunyai masalah ataupun kesulitan, kau ajak saja ia kemari. Ayah dan ibu akan dengan senang hati memerhatikannya. Chieko tertunduk.

Akan menyenangkan jika mempunyai dua anak gadis. Aku dan ibumu tentu akan senang sekali.

Terima kasih ayah. Terima kasih. Chieko pun membungkuk hormat. Air matanya mencair di pipi, terasa hangat.

Chieko, kami telah membesarkanmu sejak kamu masih menyusu. Kau adalah anak termanis yang diidam-idamkan semua orang tua. Kami akan merawatnya pula sekuat kami mampu. Jika ia mirip denganmu, tentu hatinya pula. Bawalah ia kemari. Dua puluh tahun lalu, mempunyai anak kembar adalah kesalahan tak termaafkan; tapi sekarang... zaman telah berubah, kata ayahnya. Bu! Bu! ia memanggil sang ibu.

Ayah, aku mengerti. Kupikir ini memang menyenangkan; tapi Naeko tak akan mau datang ke rumah kita, seru Chieko.

Mengapa begitu

Mungkin karena ia tak ingin menjadi penghalang kebahagiaan saya.

Mengapa ia menganggap dirinya seorang penghalang

Chieko tak menjawab.

Mengapa ia merasa akan menjadi penghalang tanya ayahnya kembali, dengan mengangkat kepalanya.

Bahkan hari ini aku memintanya untuk datang karena ayah dan ibu telah mengetahui keberadaannya. Suara Chieko tercekat oleh isakan. Ia khawatir jika nanti ada masalah dengan pegawai dan tetangga.

Pegawai sang ayah tak serngaja telah meninggikan suaranya.

Saya tahu apa yang ayah pikirkan, tapi setidaknya hari ini saya akan pergi mengunjungi gadis itu.

Ya, ayahnya mengangguk. Hati-hati. Dan kukira ada baiknya jika kau menyampaikan apa yang baru saja ayah katakan ini pada Naeko.

Ya, tentu saja.

Chieko menyertakan tutup kepala pada jas hujan yang dikenakannya. Ia kenakan pula sepatu luar, melapisi sepatu yang biasa.

Meski langit di atas Nakagyo tampak cerah, namun sewaktu-waktu bisa saja mendung tiba-tiba mengendap. Mungkin gerimis telah turun di Kitayama, atau bahkan salju. Dipandang dari tengah kota tampaknya memang begitu. Tapi gunung-gunung yang ada di Kyoto hanya gunung-gunung kecil berlereng landai, jadi salju pun tak akan banyak memperindah.

Chieko memilih naik bus National Railway.

Ada dua jalur bus yang melewati Nakagawa Kitayama. Jika bus kota akan berbalik tepat sebelum mencapai jalan kecil yang menembus gunung di daerah pinggiran sebelah utara: bagian yang belum begitu lama bergabung dengan kota Kyoto, maka bus National Railway sebaliknya; terus melaju kencang menuju Obama di prefektur Fukui.

Obama terletak di tepi pantai Obama, pantai yang terbuka hingga ke pantai Wakasa, yang berarti pula ia terbuka hingga ke tengah Laut Jepang.

Penumpang bus itu hanya sedikit, mungkin karena jatuhnya musim dingin.

Seorang pemuda menatap tajam ke arah Chieko. Di sisinya ada dua orang pria. Karena merasa agak takut, Chieko memasang penutup kepalanya.

Nona, boleh aku minta tolong Kumohon jangan kau sembunyikan parasmu seperti itu, seru pemuda itu dengan suara parau, sesuai dengan usianya.

Hey, diam kau! seru pria di sampingnya.

Orang yang menegur Chieko tadi ternyata mengenakan borgol di tangannya. Penjahat macam apa dia itu Apakah pria di sampingnya itu seorang polisi Di mana mereka berhasil menangkapnya Jauh di atas gunung

Chieko melepas tutup kepala, tapi ia tak merasa nyaman untuk memperlihatkan wajahnya.

Bus itu telah sampai di Takao.

Hey, ke mana perginya Takao seru seorang penumpang.

Memang benar bahwa Takao tampak seperti lenyap; daun-daun momiji telah berguguran, dan sebuah sentuhan musim dingin mengendap di pucukpucuk ranting. Tempat parkir di bawah Togano tampak kosong.

Naeko telah datang menuju pemberhentian bus di air terjun Bodai untuk menanti Chieko. Ia masih mengenakan pakaian kerjanya.

Sejenak, Naeko tak mengenali Chieko dalam pakaian itu.

Terima kasih atas kedatangannya. Jauh-jauh datang ke gunung ini.

Ah, tak seberapa jauh, sahut Chieko seraya menggenggamkan kedua tangannya pada tangan Naeko tanpa melepas sarung tangan.

Aku begitu bahagia. Aku belum melihat wajahmu sejak musim panas lalu. Dan kau datang tepat saat aku sampai di sini.

Tapi aku kini bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika sekonyong-konyong kita disambar petir. Meski begitu, tepat sekali pula jika aku datang saat kau muncul.

Naeko, seru Chieko sembari mereka berjalan menurun. Kau tadi memanggilku datang kemari untuk sesuatu yang sangat penting, bukan begitu Aku ingin segera mendengarnya darimu. Bisakah kau mulai mengatakannya dengan tenang

Naeko diam saja. Sehelai handuk melilit kepalanya, menggenapkan pakaian kerja yang ia kenakan.

Apa ini tanya Chieko.

Sebenarnya... Hideo berkata bahwa ia ingin menikahiku. Dan... Naeko tersandung. Chieko cepat merenggut tubuhnya saat gadis itu terhuyunghuyung.

Karena bekerja setiap hari, tubuh Naeko menjadi kuat dan berotot. Selama mereka berada di tengah badai guntur musim panas lalu, Chieko begitu ketakutan sehingga tak memerhatikannya.

Naeko kembali tenang, tapi ia merasa senang jika Chieko terus memegangnya. Ia tak meminta gadis itu untuk berhenti memapahnya. Bahkan ia terus bergayut pada tubuh gadis itu saat meneruskan perjalanan.

Di saat itu pula, Chieko pun sebenarnya mulai bersandar pada Naeko, tapi mereka tak menyadari.

Chieko mengangkat penutup kepalanya.

Naeko, lalu kau bicara apa pada Hideo

Jawabanku Aku tak bisa menjawab permintaan pemuda itu secara mendadak. Chieko diam saja.

Ia mengira aku adalah kau; ia memang telah mengetahui bahwa kita adalah dua bersaudara, tapi dalam hatinya, jauh di dasar hatinya hanya kau seorang, Nona.

Tidak, itu tidak benar.

Tentu saja benar. Aku tahu betul. Bahkan jika ini bukan kasus salah duga, ini akan menjadi pernikahan vikarius, di mana seseorang seolah mengalami sendiri pernikahan yang dijalani oleh orang lain. Dalam diriku, Hideo melihat bayanganmu, Nona. Itu masalah pertama, kata Naeko.

Chieko teringat ketika ibunya memarahi sang ayah waktu dimintai pendapat tentang kemungkinan Hideo untuk menjadi menantu mereka, ketika mereka berjalan pulang dari kebun raya yang terletak di tepi sungai Kamo, di mana bunga-bunga tulip tengah mekar.

Dan kedua, toko Hideo membuat obi, ya kan Naeko menyusupkan tenaga dalam pertanyaannya. Akan jadi masalah bagimu jika aku mempunyai hubungan dengan tokomu. Orang-orang di sekitar akan memandangmu dengan tatapan aneh. Aku tak akan bisa memulihkan semua masalah yang terjadi karena keberadaanku, bahkan meski aku bertekad untuk mencobanya. Aku berharap untuk bisa menyembunyikan diri sejauh mungkin ke dalam gunung.

Itukah yang kau pikirkan Chieko mengguncangkan pundak Naeko. Tadi aku telah bicara sejelas-jelasnya dengan ayahmu bahwa aku akan datang untuk menemuimu, Naeko... dan ibuku pun tahu. Chieko mengguncangkan tubuh Naeko lebih keras lagi. Apa jawab ayah, coba Ia bilang, jika gadis bernama Naeko itu membutuhkan bantuan, bawalah ia kemari. Kaulah satu-satunya yang terdaftar sebagai anakku, tapi sejauh aku bisa mengusahakan, aku akan bersikap adil dan merawat gadis itu baik-baik. Mungkin kau merasa sedih sendirian di sini.

Naeko melepaskan handuk yang melilit kepalanya. Terima kasih. Ia takupkan kedua telapak tangannya pada wajah. Aku tersentuh oleh kebaikanmu. Terima kasih. Untuk sesaat Naeko tak kuasa untuk berkata apa pun.

Aku tak punya seorang teman pun untuk menolongku. Aku kesepian, tapi aku berhasil melupakannya dengan terus bekerja keras.

Chieko mencoba meringankan perasaan. Yang penting sekarang adalah Hideo. Bagaimana dengan pemuda itu

Aku tak bisa memberi jawaban secara mendadak, seru Naeko dengan suara menyedihkan; tatapannya ke arah Chieko.

Coba lihat itu. Chieko meraih handuk di tangan Naeko. Kau tak bisa pergi ke kampung dengan menangis seperti ini. Dan diusapkannya handuk itu ke sekitar mata gadis itu, meratakannya ke seluruh wajah.

Tak mengapa. Aku seorang yang berkemauan keras, dan aku mengerjakan tugasku; tapi aku masih saja bersikap cengeng.

Ketika Chieko melipat kembali handuk, Naeko membenamkan wajahnya di dada Chieko, menangis terisak.

Jangan terlalu dipermasalahkan, Naeko. Jangan sedih. Chieko menepuk punggung Naeko perlahan. Jika kau terus menangis seperti itu, aku akan pulang saja.

Tidak. Jangan. Naeko terkejut. Lalu diraihnya handuk di tangan Chieko, mengusapkannya ke wajahnya sendiri dengan terburu-buru.

Karena ini musim dingin, orang tak akan mengira ia tengah menangis, kecuali jika melihat pelupuk matanya yang putih itu bersemu merah. Naeko menudungkan handuk itu di atas kepala, agak menyembunyikan wajahnya.

Keduanya terdiam sesaat.

Setelah dahan-dahan dipangkas, rimbunan daun bermekaran di pucuk-pucuk ranting pohonan sugi. Bagi Chieko, ini tampak seperti bunga-bunga musim dingin yang berwarna hijau.

Chieko merasa inilah kesempatan yang tepat, dan ia pun berkata pada Naeko, Obi buatan Hideo memang bagus, dan ia seorang penenun ulung.

Ya, aku tahu, jawab Naeko. Ketika ia mengajakku untuk menghadiri Festival Jidai, ia malah menatap warna-warni yang terpancar dari Higashiyama, dan ia lebih tertarik untuk memandangi pohon-pohon cemara yang menghijau di Gion daripada menonton pawai beragam kostum.

Festival Jidai bukan lagi barang langka baginya.

Tidak, bukan itu yang ingin kukatakan. Naeko menyusupkan tenaga dalam kata-katanya. Chieko tetap diam sehingga ia meneruskan. Setelah pawai berakhir, ia mengajakku datang ke rumah.

Ke rumahnya

Begitulah.

Chieko agak kaget juga.

Ia ternyata memiliki dua orang adik. Ia menunjukkan padaku tanah di belakang toko dan berkata bahwa jika kami menikah nanti, ia akan mendirikan bangunan kecil di sana dan menenunkan apa pun yang aku sukai.

Apa salahnya

Apa salahnya Kukira Hideo ingin menikahiku sebagai bayangan dirimu, Nona. Aku ini perempuan. Tentu saja aku tahu.

Chieko meneruskan langkah, tak tahu apa yang harus dikatakannya.

Di sebuah ceruk kecil dalam lembah sempit, beberapa wanita yang usianya lebih tua dari mereka berdua sedang duduk-duduk di sebuah jok mobil tua sambil menghangatkan tangan dan kaki mereka di atas perapian yang mengepulkan asap; beristirahat di tengah kesibukan membasuh kayu.

Naeko lewat di muka rumahnya sendiri, rumah yang benar-benar sebuah pondok biasa. Atapnya yang terbuat dari jerami itu benar-benar perlu mendapat perhatian, karena telah begitu condong dan tampak seperti sedang melambai. Sebagai rumah gunung, ia mempunyai kebun kecil di mana buah-buah merah bergantungan di pohon-pohon nandinajumlahnya tujuh atau delapan- yang tumbuh tinggi namun tanpa perawatan.

Mungkin pondok yang menyedihkan ini juga ditempati Chieko ketika masih bayi.

Sebelum rumah itu terlewati, air mata Naeko telah mengering. Haruskah dikatakannya pada Chieko bahwa ini adalah rumahnya Karena Chieko terlahir di kampung ibunya, mungkin ia belum pernah menghuni rumah ini. Bahkan Naeko tak ingat benar apakah ia sendiri pernah tinggal di situ ketika masih bayi, setelah kehilangan ayah dan ibunya.

Beruntunglah, Chieko tak mengetahui rumah yang baru saja dilewatinya, karena perhatiannya terpikat pada pohon-pohon sugi yang berjajar lurus. Naeko pun tak menjelaskan perihal pondok itu.

Sungguh, daun-daun yang bermekaran di ranting-ranting pohonan itu adalah bunga-bunga musim dingin yang dibayangkan Chieko.

Sebagian besar rumah yang ada di sana dikelilingi kayu-kayu sugi yang telah terbasuh, dipoles, dan agar cepat kering dibiarkan tersandar sebelah menyebelah di antara atap dan lantai kedua. Kayu-kayu putih tersandar sedemikian rupa, dengan bagian pangkalnya menyentuh tanah. Dengan penampilan seperti itu, bahkan kayu- kayu itu sudah terlihat cantikmungkin lebih cantik dari dinding mana pun.

Pohon-pohon sugi itu pun kelihatan cantik berhias rumput kering di sekitar akarnya. Di antara batang-batangnya, kita masih bisa mengintip langit.

Bukankah musim dingin adalah musim terindah tanya Chieko.

Kupikir begitu. Aku bisa mengamati daundaun, entah mengapa. Tentu saja di musim dingin daun-daunan bertukar warna jerami.

Itu membuat mereka tampak seperti bunga, seru Chieko.

Bunga Seperti bunga Penggambaran Chieko itu tak disangka-sangka. Naeko melihat ke atas, ke arah pepohonan sugi.

Di tengah perjalanan, mereka melihat rumah yang elok. Apakah ini rumah pemilik tanah Separuh bagian bawah dinding yang tak begitu tinggi itu terbuat dari papan-papan bercat merah, sedangkan yang bagian atas bercat putih. Atapnya yang terbuat dari genteng itu tampak kecil.

Chieko menghentikan langkah. Rumah ini bagus ya

Nona, di rumah inilah aku tinggal. Silakan masuk, kita bisa melihat lihat... mereka tak keberatan. Mereka telah merawatku di sini selama hampir sepuluh tahun, kata Naeko.

Chieko telah mendengar penuturan gadis itu dua atau tiga kali bahwa Hideo ingin menikahinya lebih karena ia telah menjadi sosok ilusi diri Chieko daripada menjadi penggantinya.

Tentu saja Chieko bisa mengerti apa yang dimaksudkannya dengan kata pengganti. Tapi apakah sebenarnya yang ingin diungkapkannya dengan kata ilusi, terutama yang berkenaan dengan pernikahan itu

Naeko... ilusi. Kau bilang tadi ilusi. Tapi apa maksudmu tanya Chieko dengan bersungguhsungguh.

Naeko tak menjawab.

Bukankah ilusi itu adalah sesuatu yang tak berujud, yang tak bisa kau sentuh dengan tanganmu Chieko melanjutkan keingintahuannya, tapi tak disangka wajahnya jadi memerah. Naeko akan menjadi milik seorang laki-lakiNaeko yang ini, yang tampak mirip dengan Chieko bukan saja pada wajahnya namun mungkin bahkan keseluruhan.

Ya, itu benar. Ilusi memang seperti itu, tak berbentuk, jawab Naeko. Ilusi ada dalam hati manusia, atau pikirannya... atau tempat lain, aku tak tahu pasti. Bahkan kelak jika aku sudah berumur enam puluh, tidakkah Chieko yang ada dalam ilusi pemuda itu masih tetap semuda dirimu

Chieko tak mengira akan mendengar itu. Kau begitu serius memikirkan hal ini

Waktu tak akan merubah ilusi yang indah-indah menjadi begitu buruknya.

Itu tak seratus persen benar, sahut Chieko.

Kau takkan bisa menginjak-injak ilusi.

Hmm. Chieko bahkan bisa merasakan kecemburuan dalam diri Naeko. Apakah memang ada yang namanya ilusi

Di sini... Naeko menyentuh dada Chieko.

Aku bukan ilusi dirimu, bukan pula sebaliknya. Aku saudara kembarmu. Naeko terdiam.

Jadi kau tidak menghendaki menjadi saudaraku, setidaknya secara kejiwaan

Tidak, aku ingin menjadi saudara dari gadis bernama Chieko yang sekarang ada di hadapanku. Tapi... setidaknya demi Hideo...

Kau berpikir terlalu jauh. Chieko menunduk dan meneruskan perjalanan. Kapan-kapan, bagaimana jika kita bicara bersama. Kita bertiga; sampai semua masalah beres

Bicara Kadang aku ingin... tapi di lain waktu aku jadi enggan.

Naeko, apakah keraguan itu selalu membayangimu

Bukannya begitu; tapi bukankah hatiku ini milik seorang perawan. Naeko menerawang pandang. Hujan musim dingin tengah mengguyur Shuzan. Lihatlah pohon-pohon sugi di atas gunung itu. Chieko pun mengangkat pandang.

Cepatlah kau pulang. Kelihatannya akan turun hujan bercampur es dan salju.

Kukira memang cuaca akan buruk; makanya aku pakai beberapa perlengkapan hujan. Chieko lalu menanggalkan kaus tangannya yang sebelah, menunjukkan tangan yang telanjang itu pada Naeko. Ini bukanlah tangan seorang Nona muda.

Naeko terkesiap. Ia menakupkan kedua tangannya pada tangan Chieko.

Gerimis telah turun sebelum Chieko menya-darinya. Meski Naeko tinggal di gunung ini, ia pun tak menyadarinya.

Chieko menebarkan pandang ke sekeliling gunung. Tampak dingin, berselimut uap; namun begitu, batang-batang sugi di kaki lereng terlihat jelas.

Sesaat gunung-gunung kecil itu tampak samar, seolah diliputi kabut. Ini tentu berbeda dengan kabut musim semi yang turun dari langit; tapi kabut ini lebih cocok dengan kondisi kota Kyoto.

Saat menatap hamparan tanah, ia menyadari tanah itu begitu lembab.

Seperti kabut di sekeliling mereka, gununggunung pun diliputi zat kelabu pucat, semakin tebal dan tampak tengah menuruni lereng. Kadang warna putih melarut dalam adonan kabut. Ini adalah es yang bercampur salju.

Sebaiknya kamu segera pulang, seru Naeko cemas ketika mengetahui titik-titik putih yang timbul tenggelam di kejauhan.

Lembah tempat mereka berada sekarang, yang semakin gelap dari waktu ke waktu, tiba-tiba diliputi hawa dingin. Kalaupun hujan turun, seorang gadis Kyoto seperti Chieko tak akan merasa aneh.

Ayo cepatlah; pulanglah sebelum kau kena ilusi hawa dingin, seru Naeko.

Ilusi Kau mulai lagi, Chieko pun tertawa. Aku sudah membawa jas hujan. Di musim gugur seperti sekarang, cuaca di Kyoto selalu berubah.

Naeko menengadahkan pandang. Ayo, lebih baik kau pulang sekarang juga. Dan digenggamnya tangan Chieko yang telanjang.

Naeko, apakah kau benar-benar memikirkan tentang pernikahan tanya Chieko.

Sedikit, jawab Naeko. Lalu dengan penuh kasih ia susupkan kembali tangan yang telanjang itu ke dalam kaus tangan.

Kumohon, datanglah ke rumahku. Sekali saja, Pinta Chieko, tapi Naeko tak menanggapi. Tolonglah... setelah para pegawai pulang. Malam hari Naeko bertanya keheranan.

Kau bisa tinggal di rumahku. Ayah dan ibuku tahu semua tentang dirimu.

Tetes-tetes kebahagiaan berenang-renang di mata Naeko, tapi ia masih ragu.

Setidaknya aku ingin kau tidur di ruang yang sama denganku, sekali saja.

Naeko melepas pandangnya ke ujung jalan, dan sebelum Chieko melihatnya, ia sudah menangis. Chieko -tak bisa tidak- mengetahuinya.

Ketika Chieko mencapai Muromachi dalam perjalanan pulang, ia hanya melihat gumpalangumpalan mendung.

Kau pulang begitu tepat waktu, sebelum hujan turun, seru ibu Chieko. Ayahmu menunggu di belakang.

Sebelum Chieko selesai mengucapkan salam, ayahnya telah bertanya dengan menggebu-gebu. Bagaimana akhirnya, Chieko, waktu kau bercakap dengannya

Mmp... Chieko bingung harus berkata apa. Akan sulit untuk menjelaskannya secara singkat.

Bagaimana tanya ayahnya lagi.

Mmp...

Chieko telah memahami apa yang dikatakan

Naeko, tapi di sisi lain ada hal hal yang tidak ia pahami. Hideo benar-benar ingin menikahi Chieko; tapi karena ia menganggap bahwa itu tak mungkin, maka ia mengalihkannya pada Naeko, saudara kembar Chieko. Perasaan Naeko yang belia bisa melihat perasaan pemuda itu; jadi ia menceritakan pada Chieko tentang teori ilusinya.

Apakah Hideo memang bermaksud menahan hasratnya pada Chieko dengan mengungkapkan rencananya menikahi Naeko Chieko tak memikirkan kecongkakan di balik perasaannya tentang kebenaran hal ini.

Tapi itu mungkin belum seluruhnya.

Chieko tak berani menatap wajah ayahnya secara langsung; bahkan urat-urat di leher telah mewakili sikap canggungnya.

Jadi si Naeko ini hanya ingin bertemu denganmu tanya sang ayah.

Ya, Chieko dengan tegas menegakkan kepala. Ia bilang bahwa putra Tuan Otomo ingin menikahinya, seru Chieko dengan suara gemetar.

Hmm Sang ayah menatapnya dan untuk sejenak terdiam. Ia tampak memandang ke seberang ruang, namun tak bicara.

Jadi... Hideo. Bagus jika gadis itu menikah dengan pemuda seperti Hideo. Takdir memang betulbetul sesuatu yang aneh, tapi mungkin ini karena kau juga.

Tapi, ayah, kupikir ia tak akan menikahi Hideo.

Apa Mengapa begitu Chieko tak menjawab.

Mengapa tidak Ayah pun tidak keberatan.

Ayah benar. Ini bukan sesuatu yang buruk; tapi, ayah, apakah ayah ingat waktu kita jalan-jalan di kebun raya, di mana ayah bertanya bagaimana jika Hideo jadi pasangan hidupku Gadis itu juga tahu tentang hal ini.

Benarkah Bagaimana bisa begitu

Ia kira tokonya Hideo dan toko kitasetidaktidaknyamemiliki hubungan bisnis.

Ucapan itu bergema di dada Tn.Takichiro. Ia terdiam.

Ayah, cukup satu kali saja, mohon perkenankan Naeko datang ke sini untuk tinggal satu malam. Kumohon.

Tentu saja... Tapi mengapa kau memohon seperti itu Ayah bahkan sudah pernah bilang bahwa kami akan merawatnya jika ia mau tinggal di sini selamanya, bukankah begitu

Tapi ia tak akan pernah tinggal di sini. Hanya satu malam.

Sang ayah menatapnya penuh rasa kasihan.

Keduanya mendengar suara Ny.Shige yang tengah menutup daun-daun pintu.

Aku akan membantu. Chieko berdiri.

Sentuhan kaki-kaki hujan yang berloncatan di atas atap hampir tak terdengar. Ayah Chieko duduk tak bergerak.

Tn.Takichiro diundang makan malam oleh ayah Ryusuke dan Shinichi di Taman Maruyama, daerah Saami. Hari-hari di musim dingin begitu pendeknya, sehingga lampu-lampu kota pun segera terlihat dari atas ketinggian ruang tamu. Langit kelabu, tanpa coretan cahaya senja. Seandainya tak ada lampu-lampu, keadaan kota itu sendiri tampak begitu kelabu warna musim gugur di Kyoto.

Ayah Mizuki Ryusuke sebagai pemilik sebuah rumah luas tempat usaha berdagang grosir yang telah sangat meningkatadalah seorang pribadi yang kuat dan bisa diandalkan; tapi hari itu, dari ekspresi wajahnya, ia tampak sedang mengalami kesulitan. Ia termangu-mangu, hanya melewatkan waktu dengan membicarakan gosip remeh.

Sebenarnya, serunya setelah memperoleh keberanian berkat menenggak sake. Tn.Takichiro seorang yang pasif, yang bahkan cenderung pada sikap pesimis. Ia sudah cukup bisa menebak tujuan pembicaraan Tn.Mizuki.

Sebenarnya..., kata-katanya tampak tersandung kembali. Apakah anak gadismu telah mengatakan sesuatu perihal anakku Ryusuke

Ya... Rumah kami memang boleh dibilang tidak pantas untuk pertimbangan seperti itu, tapi aku mengerti maksud baik Ryusuke.

Aku mengerti. Tn.Mizuki kelihatan lebih lega. Ia mirip sekali dengan diriku sewaktu masih muda dulu. Sekali ia mengatakan sesuatu, tak peduli siapa yang mencoba menghentikan, ia tak akan mendengarnya. Ia itu memang masalah.

Tidak, aku sangat berterima kasih padanya.

Aku pun merasa lega kau berkata begitu, kata Tn.Mizuki. Sikapnya tampak sungguh-sungguh terbebas dari beban pikiran. Kumohon maafkan aku, ia membungkuk dengan sopan.

Meski toko Tn.Takichiro mengalami masalah keuangan, akan memalukan jika ia harus mendatangkan seorang pemuda untuk menolongnya; lebih lagi ia memiliki bidang usaha yang sama dengan pemuda itu. Bahkan ia tak dapat berpura-pura datang untuk belajar karena kedua toko itu mempunyai gaya yang berlainan.

Aku sangat berterima kasih, tapi... seru Tn. Takichiro. Kau tak bisa menjalankan usahamu tanpa Ryusuke bukan

Apa Ryusuke itu hanya mengawasi jalannya bisnis. Ia tak begitu tahu banyak. Ia tak mau mendengar apa kata orang tuanya, meskipun memang ia anak yang rajin.

Ya, aku pun begitu kaget waktu ia datang ke tokoku. Ia duduk di muka salah satu pegawaiku dengan menampakkan wajah yang keras.

Memang begitulah kelakuannya, seru Tn. Mizuki. Diam-diam ia kembali menenggak sake.

Tuan Sada.

Ya

Jika Ryusuke bisa datang ke tokomu untuk membantu, tak perlu setiap hari, kupikir ia akan membantu adiknya, Shinichi, untuk menjadi lebih bertanggung jawab; dan itu pun membantu diriku pula. Shinichi anak yang lembut. Bahkan sampai sekarang kakaknya itu masih sering mengejeknya dengan sebutan bocah festival. Itu hal yang terburuk. Anak itu pernah terpilih untuk ikut berpawai menaiki kendaraan hias saat Festival Gion diadakan.

Ini karena ia begitu manis. Ia telah berteman dengan Chieko sejak masih kanak.

Kalau Chieko... kembali Mizuki kehilang-an kata-kata. Kalau Chieko, ia mengulangi. Kedengarannya ia merasa kesal. Bagaimana ia menjadi gadis yang begitu baik dan cantik

Itu bukan karena orang tuanya. Ia sendiri memang seperti itu, jawab Takichiro dengan jujur.

Kukira kau mengerti, Tuan Sada. Bisnis kita kan sama, dan alasan Ryusuke ingin membantu tokomu, kata ia sendiri, adalah agar bisa berada di samping Chieko meski hanya setengah atau satu jam.

Tn.Takichiro mengangguk. Tn.Mizuki mengusap keningnya.

Ia memang bukan anak yang baik, tapi ia pekerja keras. Aku tak ingin meminta sesuatu yang mustahil, tapi jika siapa tahu Chieko berubah pikiran dan memutuskan bahwa seorang pemuda seperti Ryusuke akan cocok dengannya, dan jika kau pun menyetujuinya, emm...mungkin ini agak keterlaluan; tapi jika seperti itu kenyataannya, aku kan bisa memintamu untuk menjadikannya menantu Aku akan mencabut hak warisnya, jadi ia bisa menikah dan menjadi keluargamu. Lalu ia tundukkan kepala. Mencabut hak warisnya Hak waris penerusmu

Hak waris itu bukan yang membuat orang bahagia. Itulah yang kupikir jika melihat Ryusuke sekarang ini.

Maksudmu memang baik, tapi sebaiknya kita serahkan saja kepada mereka berdua. Mereka kan masih muda, sahut Tn.Takichiro, menghindari kerasnya hati Tn.Mizuki, dan Chieko itu sebenarnya anak temuan.

Apa maksudmu, anak temuan tanya Tn. Mizuki. Yah, tolong jangan kau lupakan apa yang baru saja kukatakan tadi. Boleh kan kalau aku mengirimkan Ryusuke untuk membantu tokomu

Ya.

Terima kasih. Terima kasih. Dan tubuh Tn. Mizuki pun tampak lebih santai lagi. Bahkan caranya minum sake pun berubah.

Esok harinya ketika Ryusuke datang ke toko keluarga Sada, ia segera mengumpulkan para pegawai agar memperlihatkan barang-barang inventaris. Ia hanya melihat, tak bicara apa pun. Sejak kunjungan Ryusuke yang terakhir, kepala pegawai itu masih merasa malu kepadanya; bahkan ia tak berani mengangkat pandangnya.

Keluarga Sada mencoba untuk menahan lebih lama, tapi ia sudah berpamitan sebelum makan siang

.

Malam harinya terdengar suara pintu kisi-kisi diketuk dengan keras; tapi hanya Chieko yang mendengarnya. Ternyata yang datang adalah Naeko.

Oh, Naeko, kau datang juga akhirnya... dan...

malam ini begitu dinginnya. Naeko diam saja.

Tapi bintang-bintang bersinar.

Chieko, apakah boleh jika aku menemui orang tuamu

Semua tentang dirimu sudah kuceritakan pada ayah dan ibu, jadi kau cukup bilang, Saya ini Naeko, Chieko merangkul pundak Naeko, dan mereka berjalan ke bagian belakang rumah. Apakah kau sudah makan malam

Ya, terima kasih. Aku tadi telah makan beberapa potong sushi sebelum ke sini.

Sikap Naeko begitu formal. Kedua orang tua Chieko begitu terpukau melihat kemiripan kedua gadis itu, dan mereka tak bisa berkata apa-apa.

Naiklah ke bagian belakang. Naeko, buatlah dirimu merasa betah dan ngobrollah kau dengan Chieko, seru Ny.Shige akhirnya yang mendahului keluar dari keterpukauan.

Chieko meraih tangan Naeko saat mereka melewati beranda sempit, lalu naik ke lantai atas dan menyalakan pemanas ruangan.

Naeko, ke sini sebentar, Chieko memanggil gadis itu untuk menuju kaca rias. Chieko memandangi kedua wajah yang tercermin di sana.

Kita betul-betul mirip. Chieko merasakan aliran panas merasuki tubuhnya. Keduanya bertukar tempat. Kita betul-betul bayangan. Satu dari kita adalah bayangan bagi yang lain.

Begitulah yang namanya kembar, seru Naeko.

Apa yang akan terjadi jika semua orang adalah kembaran bagi yang lain

Tentu saja orang-orang saling salah menduga. Tentu saja ini jadi masalah. Ketika Naeko melangkah mundur, kedua matanya berkaca-kaca. Orang tak pernah tahu nasibnya akan seperti apa.

Chieko melangkah mendekati Naeko dan merengkuh kedua pundaknya dengan tegas. Naeko, tak bisakah kau tinggal di sini selamanya Ayah dan ibu telah menyatakan kesediaannya. Mereka akan menerimamu dengan senang hati. Aku kesepian di sini. Mungkin kampung sugi memang tempat yang menyenangkan, tapi...

Naeko tampak tak kuasa lagi untuk berdiri. Ia berlutut, menjaga agar tidak jatuh terhuyung, lalu menggelengkan kepalanya. Air mata berlelehan ke pangkuan.

Nona, kehidupan kita dan latar belakang didikan kita berbeda. Aku tak bisa tinggal di sebuah tempat seperti Muromachi. Sekali ini, hanya sekali ini saja, aku datang ke rumahmu. Aku ingin menunjukkan kimono yang kau berikan padaku itu... Dan kau juga baik hati mau berkunjung ke tempatku di kampung sugi sebanyak dua kali.

Chieko terdiam, dan Naeko pun melanjutkan. Nona, kau adalah bayi yang ditinggalkan orang tua kita. Tapi aku tak tahu mengapa.

Tapi aku sudah melupakan itu, seru Chieko tanpa berhenti sejenak. Aku bahkan tak memikirkan hal itu. Seolah aku belum pernah mengalami hal yang seperti itu.

Kukira... mungkin orang tua kita telah menerima hukuman. Azab. Aku masih bayi waktu itu, tapi tolong maafkan aku.

Bagaimana bisa kau merasa berdosa, dan pertanggungjawaban macam apa yang musti kau tanggung

Bukannya begitu. Bukankah sudah kukatakan sebelumnya bahwa aku tak mau menjadi penghalang kebahagiaanmu, bahkan penghalang yang paling ringan sekalipun, aku tak mau. Naeko melirihkan suaranya. Lebih baik aku lenyap dari muka bumi ini.

Tidak, jangan berkata seperti itu, seru Chieko tegas. Ini tampak sungguh tak adil. Naeko, apakah kau bersedih

Tidak, aku kesepian.

Keberuntungan itu pendek, sedangkan perasaan sepi itu panjang. Bukankah benar begitu tanya Chieko. Ayo kita beristirahat. Aku ingin bicara lebih banyak lagi. Chieko mengambil selimut dari tempat perhiasan. Naeko membantunya.

Kebahagiaan. Inilah kebahagiaan, seru Naeko saat mendengar suara-suara dari atas atap.

Melihat Naeko memaksakan diri untuk mendengar suara itu, Chieko berdiri tenang dan bertanya, Inikah hujan musim dingin Atau hujan campur es dan salju Atau keduanya

Mungkin. Ataukah mungkin salju

Salju

Suaranya tenang. Hampir tak cukup untuk disebut salju... hanya serbuk tipis. Di kampung orang gunung, kadang salju seperti ini datang ketika kami tengah bekerja dan sebelum kami mengetahuinya, lembar-lembar daun telah memutih seperti bunga... dan bahkan ujung-ujung ranting di pohon yang mati kedinginan pun tampak berlumur tepung putih. Chieko mendengarkan.

Kadang guguran serbuk berhenti, atau es campur salju akan menggantikannya, atau hujan musim dingin.

Bisakah kita membuka jendela dan melihat Kita akan tahu lebih jelas. Chieko bangkit, tapi Naeko mencegahnya.

Jangan! Ini dingin, dan lagi pula akan mengganggu ilusi.

Ilusi Kau bilang ilusi Kau begitu banyak bicara tentang ilusi.

Naeko tersenyum. Sapuan warna kedukaan tampak samar di wajahnya.

Naeko cepat-cepat bicara lagi saat Chieko membuka dan menyiapkan futon. Chieko, sekali ini saja biarkan aku mempersiapkan tempat tidur untukmu.

Chieko pun menyusup ke dalam futonnya. Keduanya berbaring bersebelahan.

Oh, Naeko, ini begitu hangat.

Tugas kita berbeda... seperti halnya lingkungan tempat tinggal kita.

Naeko memeluk tubuh Chieko. Malam seperti

ini akan terasa dingin, seru Naeko, seolah ia tak sedikit pun merasa kedinginan. Malam ini butir-butir salju akan rontok... berhenti... lalu menggerimis kembali.

Tn.Takichiro dan Ny.Shige naik ke lantai atas, ke kamar sebelah. Karena lebih tua, mereka mengenakan selimut listrik untuk menghangatkan tempat tidur.

Naeko berbisik di telinga Chieko. Tempat tidurmu sudah hangat sekarang, jadi aku akan kembali ke futonku.

Kemudian, ibu Chieko membuka pintu geser sedikit untuk melihat ke arah kamar kedua gadis itu.

Esok harinya, Naeko terjaga pagi-pagi sekali. Ia mengguncangkan tubuh Chieko untuk membangunkan gadis itu. Nona, ini adalah masa yang paling membahagiakan sepanjang hidupku. Aku akan pergi sebelum ada orang yang melihatku.

Seperti kata Naeko, butir-butir salju telah berjatuhan sepanjang malam. Sekarang, pagi yang berkilauan telah menjelang.

Chieko bangkit. Kau mau membawa jas hujan Ini, bawalah. Ia mengeluarkan jas terbaiknya dari bahan beludru, sebuah payung lipat, dan sepasang bakiak untuk Naeko.

Ini untukmu. Datanglah kembali... kumohon.

Naeko menggelengkan kepala. Chieko berdiri membelakangi pintu kisi-kisi Bengara, mengawasi Naeko yang melangkah pergi. Naeko tak berpaling sedikit pun. Keping-keping salju berjatuhan di atas rambut Chieko, namun segera mencair.

Kota itu seperti biasanya, masih terbenam dalam kesunyian, tertidur. []