A SHOULDER TO CRY ON - 9
DANU mengaduk mi ayam yang tersaji di depannya dengan sumpit. Aroma menggiurkan menggugah Danu untuk segera memasukkan suapan pertama ke mulutnya. Meski mi ayam itu masih panas mengepul, perut laparnya tak bisa menunggu lagi.

"Tumben, lo bisa ke kantin bareng gue. Biasanya lo sama Anka mulu," kata Andro yang duduk di sebelahnya. "Biasanya kan lo bawain roti bakar buat dia."

"Anka lagi banyak tugas," jawab Danu sekenanya, kembali memasukkan suapan berikutnya.

Denting sendok dan garpu yang beradu dengan mangkuk atau piring, terdengar meriah di antara murid-murid yang kelaparan. Menegaskan bahwa semua makhluk hidup di dunia ini butuh makan, termasuk murid sekolah yang kerjanya hanya duduk dan belajar di kelas, walau terkadang hanya 60% yang benar-benar datang untuk mengisi otaknya.

"Kak Danu..."

Danu mendongak saat terdengar suara memanggil namanya. Bingung sendiri saat mendapati Zevana berdiri tersenyum di depannya.

"Eh, Zeva, kenapa" Andro lebih dulu menyapa Zevana.

"Aku mau kasih ini sama Kak Danu," kata Zevana, seraya menyodorkan kotak seukuran buku Harry Potter jilid 5 pada Danu. Pipi putih Zevana memerah, wajahnya menunduk malu-malu.

"Ini apa, Ze" tanya Danu heran. "Saya kan lagi nggak ulang tahun."

"Terima aja, Nu, dapet hadiah kan nggak mesti pas ulang tahun doang," sela Andro, membuat Danu mengerling jengkel ke arahnya.

"Ini hadiah kecil buat Kak Danu, karena puisi Kak Danu yang kemarin Zeva baca di mading udah bikin Zeva seneng..."

Mendengar kata-kata Zevana, Danu semakin bingung. Puisi Puisi yang mana pikirnya. Rasanya ia tidak pernah menunjukkan puisinya pada siapa pun, apalagi menyerahkan puisinya pada pengurus mading.

"Ambil kotaknya, Nu, kasihan tangannya pegel tuh." Andro menyenggol bahu Danu, menyadarkannya dari ketertegunan sesaat. Dengan linglung Danu mengambil kotak hadiah yang disodorkan Zevana, membuat senyum lega mengembang di wajah Zevana.

"Terima kasih, tapi puisi itu..."

"Puisinya bagus, Kak! Zeva seneng kalau bisa sering baca puisi Kak Danu... Makasih ya, Kak Danu mau terima hadiah dari Zeva."

Zevana kembali mengembangkan senyum manisnya sebelum beranjak meninggalkan meja Danu.

"Cieh... cieh, Danu dapet hadiah dari adek kelas nih" komentar Iyan, teman sekelas Danu saat melintasi meja Danu. "Banyak fans nih, Danu."

"Iya, emang lo Banyak utang!" timpal Andro. "Sirik aja lo."

Iyan mencibir menanggapi kata-kata Andro, dengan mimik wajah tersinggung ia berjalan meninggalkan kantin. Danu menatap kotak hadiah pemberian Zevana, seakan bertanya puisi apa yang membuat Zevana memberikan hadiah ini.

"Puisi yang dimaksud Zeva puisi apaan ya, Ndro" tanya Danu, berpaling pada Andro. "Perasaan, gue nggak pernah ngasih puisi gue ke mading."

"Emang nggak pernah! Tapi kan gue yang mewakili dan ngasih puisi lo ke si Irsyad, anak mading," jelas Andro santai.

Danu tercengang. Mulutnya menganga mendengar kata-kata Andro. Bagaimana bisa Andro memberikan puisi cengeng yang ditulisnya saat bosan mengerjakan tugas bahasa Prancis tempo hari Padahal puisi itu sebenarnya ia tulis untuk disimpannya sendiri, bahkan hanya ditulis di sampul belakang buku paket.

"Gila lo, Ndro! Itu kan puisi picisan, kenapa lo kasih ke mading Bikin malu aja lo."

"Puisi lo nggak picisan amat kok, bagus malah menurut gue. Buktinya, puisi lo bisa dipajang di mading. Padahal lo tau kan si Irsyad, gayanya aja udah kayak sastrawan sekelas Chairil Anwar. Dia mana mau majang puisi lain selain puisi yang dia bikin, kecuali kalau tuh puisi bener-bener bagus!"

Kesal rasanya Danu mendengar penjelasan Andro, yang seakan menyatakan apa yang dilakukannya benar dan mestinya Danu berterima kasih. Jangankan ingin berterima kasih, rasanya Danu tidak bisa terima kalau puisi yang sebenarnya ditulis untuk seseorang yang berarti untuknya sekarang terpampang di mading.

Danu berdiri, lalu bergegas meninggalkan Andro. Ia perlu melihat seperti apa puisinya ditempatkan di mading.

"Nu, lo mau ke mana Hadiah lo nih... Eh, mi ayam lo siapa yang bayar Woi..."

Danu tidak menghiraukan Andro, ia terus berjalan meninggalkan kantin menuju mading. Puisinya memang ada di sana, diletakkan tepat di tengah mading. Huruf-huruf besar merangkai namanya di bagian bawah puisi.

Lemas rasanya melihat puisi pertama, yang ditulisnya sepenuh hati, terpampang menjadi konsumsi publik, seisi sekolah. Malu merayapi diri Danu, ingin rasanya ia menjebol pintu kaca mading yang terkunci untuk menarik kembali puisinya, tapi jelas sulit dilakukan. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah pasrah, membiarkan puisi yang sebenarnya sangat berarti baginya menjadi hiasan mading sementara waktu.

***

Imelda meneguk segelas martini sampai tandas, lalu menggerakkan jarinya mengisyaratkan pada bartender di depannya agar menyajikan lagi pesanan yang sama.

Si bartender menyodorkan segelas martini lagi pada Imelda, menggeleng pelan saat melihat Imelda langsung menenggak habis pesanannya. Setelahnya Imelda menopangkan kepalanya ke meja mini bar, matanya menatap kosong ke gelas martini yang sudah kosong. Alunan musik lembut mengalun memenuhi penjuru bar merangkap restoran yang hanya didatangi orangorang dari kalangan atas. Air mata Imelda mengalir pelan membasahi pipi putihnya.

Handphone Imelda, yang tergeletak di samping gelas kosong martini, berdengung. Nama manajernya muncul di layar LCD. Imelda bergeming, tidak ada keinginan menjawab telepon dari sang manajer. Imelda tahu, manajernya pasti panik saat ia tiba-tiba menghilang dari lokasi pemotretan, dan pasti ia menelepon untuk meminta Imelda kembali.

Selalu seperti ini. Mereka hanya menganggap Imelda layaknya mesin pencetak uang. Baik keluarga maupun orang-orang yang mengurusi kariernya, selalu mendikte Imelda untuk melakukan apa yang menurut mereka baik... Yah, baik untuk mereka, tapi tidak untuk Imelda. Mereka tidak menyadari keputusan itu, yang mereka anggap terbaik dengan mengatur pernikahan Imelda dengan pengusaha properti muda kaya raya, kini malah menghancurkan sisa harapan Imelda untuk mendapatkan sedikit kebahagiaan.

"Perlu saya panggilkan taksi, Mbak" tanya si bartender, melihat kondisi Imelda yang sudah cukup payah setelah menenggak segelas bir dan menghabiskan tiga gelas martini sebelumnya.

Imelda mengangkat kepalanya, tersenyum lebar seraya menggoyangkan tangannya. "Nggak usah, Mas. Saya masih cukup sadar untuk pulang sendiri," kata Imelda dengan gaya bicara yang membuat siapa saja meragukan kesadarannya.

Imelda kembali menopangkan kepalanya ke meja mini bar. Kepalanya terasa begitu berat, membuat posisi seperti ini nyaman untuknya.

"Perlu saya bantu menelepon seseorang untuk menjemput Mbak Sebentar lagi kami akan tutup."

Tidak mendapat reaksi memuaskan dari Imelda, si bartender menghela napas putus asa, menatap prihatin wanita yang dikenalinya sebagai model papan atas.

Hidup memang tidak sempurna, ada saja celah di dalamnya, bahkan dalam hidup orang yang selama ini dianggap si bartender berjalan sempurna.

Handphone di samping gelas-gelas kosong yang isinya sudah ditandaskan Imelda berdengung. Ragu-ragu si bartender mengambil handphone Imelda. Ditatapnya layar LCD handphone, berharap siapa pun yang nanti bicara dengannya bisa membantu membawa Imelda pulang.

***

Banyak hal yang dipikirkan Damara saat menunggu Imelda menjawab teleponnya. Sudah hampir tengah malam saat tiba-tiba manajer Imelda menelepon dan mengatakan Imelda menghilang dari lokasi pemotretan dan meminta Damara untuk bantu mencari.

Ini di luar perjanjian kerja sama mereka. Tugas pengacara yang disewa untuk menangani kasus perceraian jelas-jelas tidak mencakup tugas mengurusi kehidupan pribadi sang klien, terlebih di tengah malam seperti ini. Kalau bukan karena alasan kemanusiaan yang diikuti rasa tanggung jawab, Damara tidak akan pernah mau menghubungi ponsel kliennya tengah malam begini.

Ada yang menjawab telepon di seberang sana. Tapi bukan Imelda yang menjawabnya, suara laki-laki asing terdengar di telinga Damara.

"Maaf, benar ini ponsel Imelda" tanya Damara hati-hati. Si penerima telepon membenarkan dan menjelaskan kenapa Imelda tidak bisa menerima telepon. Menurut penjelasan orang itu, Imelda mabuk berat dan butuh seseorang untuk membawanya pulang.

"Oke, saya segera ke sana," kata Damara akhirnya, sebelum menutup telepon.

Damara sudah menduga akan seperti ini. Apa lagi yang bisa dilakukan perempuan yang sudah terbiasa dimanjakan kemewahan saat mengalami masalah, selain mabuk-mabukan Damara memakai sweternya, mengambil kunci mobil di meja kerjanya, kemudian bergegas keluar kamar.

***

Hanya beberapa langkah setelah memasuki restoran yang beberapa lampunya sudah dipadamkan, Damara langsung melihat Imelda dengan kepala terkulai di mini bar. Damara mempercepat langkahnya, menghampiri Imelda.

"Maaf, Mas, saya yang barusan telepon," kata Damara pada satu-satunya orang di mini bar yang dirasanya sebagai si penerima telepon.

"Oh iya, Mas, kebetulan saya nunggu Mas, kita belum bisa tutup kalau Mbak Imelda belum pulang," jelasnya.

Damara mendekati Imelda, berkali-kali memanggil nama Imelda sambil menepuk lengannya pelan, tapi Imelda bergeming. Wanita itu tetap memejamkan matanya, sudah tidak mampu membuka kelopak matanya.

"Baru belajar minum kayaknya, makanya baru minum beberapa gelas aja langsung begini," komentar orang yang pada name tag-nya tertera tulisan "Dayat". "Mas kayaknya harus gendong atau papah Mbak Imelda nih..." lanjutnya.

Damara mengikuti saran Dayat, ia mengalungkan sebelah tangan Imelda ke lehernya untuk mempermudah memapahnya. Sialnya, tubuh lemas Imelda seakan enggan diajak kompromi dan langsung merosot saat Damara berusaha menegakkannya.

"Digendong aja, Mas, kalo nggak bisa dipapah... Jangan khawatir, di sini area bebas wartawan infotainment."

Sambil menelan kekesalan pada pelayan cerewet yang hanya berkomentar tanpa membantu, mau tidak mau sekali lagi Damara harus membopong Imelda yang tak sadarkan diri dan membiarkan Imelda menempati kursi belakang mobilnya. Sekali lagi tanpa alasan yang jelas, Damara mau saja direpotkan dengan segala hal tentang Imelda.

Damara menepikan mobilnya tepat di depan minimarket yang buka 24 jam, setelah hampir setengah jam menyetir tanpa tujuan. Ia merasa perlu membangunkan Imelda, untuk tahu ke mana ia ingin diantar.

"Imelda, Imelda..." Damara memanggil Imelda, menepuk pelan pipi Imelda berusaha menyadarkannya.

Imelda bergerak pelan. Saat membuka mata, lengannya langsung terangkat untuk menghalangi cahaya yang menyilaukan matanya.

"Anda merasa lebih baik"

Imelda menurunkan tangannya, mata yang merah menatap lurus ke arah Damara, mengerjapngerjap seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Imelda buru-buru menegakkan tubuhnya saat yakin benar yang dilihatnya memang Damara.

"Anda... kenapa bisa ada di sini... Saya ada di mana" tanya Imelda, menoleh ke kanan dan kiri seperti orang linglung.

"Saya yang jemput Anda tadi."

"Jemput saya... Bagaimana caranya Anda tahu saya..."

"Manajer Anda telepon, katanya Anda menghilang dari lokasi pemotretan dan tidak bisa dihubungi. Dia minta saya bantu mencari Anda. Saat saya coba telepon ke handphone Anda, ada laki-laki yang meminta saya untuk menjemput Anda di bar, karena mereka mau tutup."

Imelda menunduk, seakan malu dengan apa ynag baru saja dilaluinya.

"Saya sebenarnya masih bisa pulang sendiri, bartender di situ aja yang sok tahu."

Damara tersenyum melihat tingkah Imelda, ia sepenuhnya maklum kalau orang terkenal memang biasanya sulit mengakui kelemahannya.

"Bartender itu hanya khawatir Anda tidak bisa pulang sendiri. Lagi pula hal biasa kalau kita butuh bantuan orang lain setelah terlalu banyak minum," kata Damara maklum.

"Anda mau saya antar ke mana Atau Anda mau saya telepon manajer Anda"

"Jangan... jangan telepon dia!" Imelda mendadak panik, tanpa sadar ia mencekal erat lengan Damara. "Tolong jangan telepon dia..."

Damara menjatuhkan pandangannya pada tangan halus Imelda yang memegangi lengannya, membuat Imelda mengikuti arah pandangan Damara lalu langsung melepaskan pegangannya.

"Maaf..." kata Imelda salah tingkah.

"Jadi sekarang saya bisa antar Anda ke mana" tanya Damara lagi. "Ini sudah larut malam, hampir dini hari malah."

Imelda terdiam, memikirkan harus ke mana ia pergi untuk sekali lagi menghindar dari orangorang yang ingin dihindarinya.

"Apa sebaiknya saya antar Anda kembali ke apartemen" saran Damara.

"Jangan... saya nggak mau pulang ke apartemen malam ini."

"Jadi penyelesaiannya"

Imelda kembali diam, Damara menunggu seraya meredam rasa lelah dan kantuk yang menyerangnya.

"Kita ke hotel," Imelda berkata tiba-tiba. "Anda bisa antar saya ke hotel."

***

Suara dering handphone mengusik tidur Damara pagi ini. Mengabaikan dering handphone-nya, Damara memutar tubuhnya mencari posisi lebih nyaman di sofa yang ditidurinya. Lagi-lagi dering handphone itu terdengar. Dengan segala kekesalan Damara bangun, meraih handphone yang diletakkannya di atas meja di depan sofa dan me-reject panggilan yang membuat handphone-nya terus berbunyi.

Damara terduduk, menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Kembali memejamkan mata dan berharap dengan cara ini ia bisa menghilangkan rasa pusing akibat kurang tidur. Tapi itu tidak berlangsung lama, Damara tiba-tiba ingat mengapa ia berada di sini. Mata Damara langsung menyalang, menoleh ke tempat tidur yang semalam ditiduri Imelda. Dan sekarang, tempat tidur itu kosong.

Damara menyibakkan selimut tebal yang entah bagaimana bisa berada di atas tubuhnya, padahal seingatnya tadi malam ia hanya menyelimuti dirinya dengan sweter. Damara menebar pandangannya ke sekeliling kamar hotel mencari sosok Imelda, tapi nihil.

Ada secarik kertas tergeletak di atas meja, tepat di samping handphone miliknya. Damara mengambil kertas itu, membaca tulisan tangan di atasnya.

Tagihan kamar ini sudah saya selesaikan, jadi Anda tidak perlu repot mengurusnya sebelum pergi... Terima kasih, Anda sudah membantu saya membuat sedikit jeda dalam hidup saya. Sekarang jeda sudah berakhir, saatnya kembali ke kehidupan nyata.

Damara tersenyum membaca tulisan Imelda. Pandangannya lurus ke arah lengan yang memegangi kertas pesan dari Imelda, lengan yang semalam digenggam erat oleh Imelda. Rasanya begitu hangat saat Imelda memintanya untuk tetap tinggal menemani.