NIKEN DAN PANDU - 9
Baby, I can't fight this feeling anymore...

Seusai lagu itu, dia membungkuk memberi hormat dan menebar ciuman pada penonton dengan tangannya. Sambutan penonton begitu meriah, semua tersepona oleh lagu-lagu Pandu tadi. Niken dari belakang panggung lega sekali. Begitu Pandu sampai di belakang panggung, langsung dipeluknya. "Terima kasih, Ndu, showmu bener-bener sudah menyelamatkan malam ini. Aku nggak tau mesti bilang apa. Aku lega sekali." kata Niken sambil berteriak-teriak histeris.

"Jangan senang-senang dulu. Aku musti ngomong sesuatu sama kamu. Keluar yuk." ajak Pandu, yang walaupun senang dipeluk Niken harus dengan berat melepasnya.

"Ada apa sih, Ndu Kamu boleh ngomong apa aja deh. Aku bener-bener ngerasa bersyukur punya kamu."

"Lagu tadi... Aku sungguh-sungguh menyanyikannya." kata Pandu.

"Lalu Maksudmu Hmm.. Aku nggak ngerti maksud kamu." Wajah Niken yang tak berdosa benar-benar menggambarkan kebingungan.

"Aku sayang kamu, Fei. Sebelum kamu protes, aku mesti bilang, aku juga baru menyadarinya sejam yang lalu." kata Pandu mengungkapkan isi hatinya. Nah, segalanya sudah terucap.

"Ndu, kamu mestinya kenal sifatku lebih dari ini. Kamu tau sendiri aku." "Aku tahu. Kamu sering bilang. Kamu nggak percaya sama yang namanya cinta atau pacaran atau apapun sinonimnya, dan segala tetek bengeknya. Aku sangat paham. Makanya aku juga baru nyadar sekarang, karena mungkin aku nggak pernah berpikir ke situ juga. Tapi aku juga tau, orang sebaik kamu layak dicintai, dan layak untuk berbahagia. Aku cuma ingin dapat mencintaimu, dapat bikin kamu bahagia... "

"Stop, Pandu. Aku nggak mau denger lagi." kata Niken sambil menutup kedua telinganya.

Pandu memegang kedua tangan Niken, menjauhkannya dari telinganya.

"Kamu harus mau dengar, Fei. Bahkan Jimmy pun bisa bilang, kamu harus mau belajar mencintai. Membuka dirimu. Kamu berhak dan sangat layak dicintai, Fei."

"Aku nggak bisa percaya sama diriku sendiri. Selama ini aku bisa jaga diriku sendiri baik-baik. Cinta bakal merusak segalanya. Termasuk persahabatan kita. Ayolah, Ndu, tarik kembali katakatamu." pinta Niken dengan memelas. "Aku bisa saja menarik kata-kataku. Tapi aku nggak bisa menipu diriku sendiri, Fei. Aku cinta sama kamu. Maksudku cinta, adalah selamanya, Fei. Aku belum pernah merasa seperti ini. Aku merasa seperti mati-hidupku ada di tanganmu sekarang."

Niken menengadah ke arah langit. Pandu jadi tahu apa yang ada di otak kecil Niken sekarang.

"Kamu berpikir tentang kejadian buruk yang menimpa kakakmu Kamu harusnya tahu, aku bukan cowok semacam itu."

"Bagaimana aku bisa tahu Aku yakin cici waktu itu juga mengira pacarnya yang brengsek itu sangat mencintainya." Harus diakui Niken cukup kaget karena Pandu sanggup membaca pikirannya.

"Baiklah. Bagaimana kalo aku berjanji nggak akan pernah menyentuhmu. Aku nggak perlu itu untuk mengungkapkan cintaku, Fei. Aku bilang ini dengan tulus hati. Kamu bisa percaya sama aku, Fei. Aku nggak pernah mengecewakan kamu kan"

"Kalo kamu butuh cinta, kenapa nggak ambil yang available saja. Ratna misalnya."

"Kamu nggak paham-paham juga, ya, Fei Aku nggak cinta sama Ratna. Aku cintanya sama kamu. Cinta itu nggak bisa dipaksain. Fei, aku nggak minta kamu jawab sekarang. Aku tahu kamu belum siap, karena kamu belum pernah mengenal apa itu cinta. Aku berharap, mungkin, dengan melihat caraku mencintaimu, kamu bisa melihat bahwa ada cinta yang suci, yang layak diperjuangkan. Aku cuma ingin kamu nggak menolak aku sekarang ini." "Aku nggak tau mesti bilang apa, Ndu. Kamu seharusnya nggak bilang begini. Kamu merusak segala-galanya. Aku kira kamu temanku. Ternyata kamu menusukku dari belakang dengan embel-embel cintamu." kata Niken sambil berlari berlalu dari situ.

Pandu cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Mengikuti Niken saat ini juga percuma, dia yakin tidak akan bisa meyakinkan gadis yang teramat keras kepala ini. Wulan yang baru mau menyelamati Niken atas suksesnya acara mereka malam itu, melihat Niken berlari keluar jadi mengurungkan niatnya. Dia menatap Pandu yang masih berdiri terpaku di belakang panggung. Pasti ini ulah Pandu, pikirnya. "Kamu apain dia, Ndu" tuduh Wulan.

"Aku cuma berusaha jujur sama dia, kalo aku sayang sama dia." kata Pandu masih menatap Niken yang bayangannya semakin kecil menjauh. "Kamu cinta sama Niken Aduh, Ndu. kamu koq nambah-nambahin masalah sih" keluh Wulan. "Kamu udah pernah diceritain Niken tentang kakaknya Tentang niat perjodohannya"

"Sudah, sudah. Sudah semua. Aku nggak bisa mencegah semua itu terjadi, Wulan. Aku."

"Seandainya Niken cinta sama kamu pun, dia nggak akan berani melawan papanya. Papanya bisa shock kalo tau hal ini."

Pandu diam saja. Dia masih bingung. Bukan bingung akan perasaan cintanya, itu dia sudah yakin. Bingung mesti berbuat apa. Musti bersikap bagaimana terhadap Niken.

"Wulan, kamu pernah bilang, kamu nggak yakin Niken benar dalam prinsipnya yang nggak mau menerima cinta. Aku benar-benar cinta sama dia, Wulan. Boleh percaya boleh nggak, tapi aku belum pernah jatuh cinta, dan belum pernah pacaran. Mungkin itu juga sebabnya dia nggak bereaksi tadi, karena aku nggak tau bagaimana caranya merayu cewek. Aku butuh bantuanmu." "Tunggu. Kamu bilang apa tadi Kamu belum pernah pacaran" tanya Wulan berusaha mengoreksi.

"Kamu boleh tanya sama ibuku, sama siapa saja yang pernah kenal aku. Aku belum pernah jatuh cinta. Persahabatanku sama Niken itu hubungan terdekatku dengan seorang cewek. Itu juga lantaran aku nggak sadar aku sudah jatuh cinta sama dia sejak awal jumpa. Sekarang aku baru sadar, dan perasaan itu sungguh indah, tapi sangat menusuk, sakit sekali. Apalagi kalau memikirkan dia bakal menjauhi aku. Oh, Wulan, kamu harus bantu aku."

"Aku nggak tau mesti bantuin gimana. Niken itu orang yang susah di hal-hal seperti ini. Aku nggak bisa bantuin kamu sebelum aku yakin Niken juga cinta sama kamu."

"Aku cuma butuh kamu bantuin aku untuk meyakinkan dia untuk mau membuka dirinya. Kalau pada akhirnya terbukti bahwa dia nggak mencintaiku, akan ada seorang cowok yang beruntung yang bisa memilikinya, membahagiakan dia. Kamu percaya Niken layak mendapatkan itu kan"

"Iya sih. Baiklah. Aku nggak berani janji apa-apa, melihat kondisinya seperti ini sekarang. Katakatamu tu selalu meyakinkan. Aku nggak tahu kenapa Niken nggak mau percaya sama kamu. Semoga saja kamu nggak bohongin aku." "Aku nggak akan pernah main-main sama yang namanya cinta. Dosa kata ibuku. Kamu bisa percaya deh sama aku tentang yang satu ini."

"Duh, Gusti, kamu punya banyak pilihan, kenapa juga hatimu mesti memilih jatuh cinta sama orang yang sulit, Pandu"

Pandu hanya bisa membisu. Campur aduk perasaannya saat ini. Bahagia, karena baru saja menyadari perasaan hatinya. Berbunga-bunga, penuh rasa cinta. Di saat yang sama juga merasa sedih, karena tidak bisa mengungkapkan rasa sayangnya yang meluap-luap itu pada gadis yang dicintainya. Juga bingung, karena mungkin rasa cintanya ini bakal membuat gadis itu menderita. Malam itu juga, Pandu menceritakan segala-galanya pada ibunya. Ibunya sabar, diam mendengarkan. Di tengah-tengah keputusasaannya, Pandu bahkan sempat menangis. Terakhir kali ibunya melihat Pandu menangis waktu kelas 1 SD, waktu kakeknya meninggal. Pasti Pandu sangat mencintai gadis ini. "Ibu nggak heran kamu jatuh cinta sama Niken." kata ibunya kemudian. "Ibu nggak keberatan, walaupun Niken bukan gadis Jawa" tanya Pandu. "Tentu saja nggak. Kamu sudah Ibu besarkan, Ibu didik dengan pengertian bahwa semua manusia itu sama di mata Tuhan. Ibu bangga, kamu bisa melihat jati diri Niken dari balik perbedaan kulitnya. Ibu pun bisa melihat Niken sebagai seorang gadis yang teramat cantik, karena kecantikan dari dalam dirinya." "Bagaimana aku bisa yakin kalau ini benar-benar cinta, Bu Bukan sekadar perasaan sementara saja" tanya Pandu.

"Itu kamu harus bisa merasakannya sendiri. Ibu nggak bisa menilai. Ibu cuma bisa menyarankan, ikuti kata hatimu."

Ibunya lalu menghibur Pandu dengan bercerita tentang jaman ibu pacaran sama bapak dulu, cerita-cerita cinta kakak-kakaknya, dengan segala perjuangannya masing-masing. Dengan mendengarkan cerita ibunya, Pandu jadi semakin yakin dia perlu memperjuangkan cintanya, karena cinta itu hal yang paling mulia di dunia ini, yang layak untuk dipertaruhkan.

Hari Senin, tanggal 17. Anak-anak bersiap-siap untuk mengikuti upacara bulanan yang selalu diadakan tiap tanggal 17. Niken tadi sudah sampai sekolah jam setengah tujuh kurang, tapi lupa kalau hari ini tanggal 17, jadi tadi tidak memakai seragam upacara. Lantas pulang lagi, ngebut, ganti baju seragam lalu kembali ke sekolah lagi. Sampai sekolah jam tujuh kurang lima menit, bertepatan dengan bel pertama masuk. Pintu gerbang hampir saja ditutup. Niken cepat-cepat lari ke dalam kelas, untuk menaruh tas sekolahnya. Dari jauh dilihatnya koridor sudah sepi, semua anak sudah mulai berbaris di lapangan, rupanya. Setelah menaruh tasnya dari luar jendela, dia berbalik ke arah lapangan. Dilihatnya Pandu baru saja keluar dari WC putra. Berusaha menghindar, dia balik kanan, masuk ke dalam kelas lagi. Rupanya Pandu cukup awas matanya. Maklum, mata elang ini.

"Fei," panggil Pandu cepat. "Untung ada kamu. Tolongin dong aku dari tadi di WC berusaha pake dasi ini nggak bisa-bisa." kata Pandu dengan nada putus asa. Niken ragu-ragu mendekat. Dia lalu tersenyum geli melihat dasi Pandu yang kucel karena terlalu banyak dilipat-lipat.

"Kenapa nggak dipakai dari rumah dasinya Kan bisa minta tolong ibumu" tanya Niken sambil menerima dasi dari tangan Pandu. "Panas dong pake dasi dari rumah, apalagi aku naik sepeda." kilah Pandu. Niken yang sedari kecil sering melihat papanya memakai dasi, ilmu pasang dasi bukanlah hal yang baru untuknya.

Niken lalu menaikkan kerah baju Pandu. Sekilas, tak sengaja ditatapnya wajah Pandu. Alisnya yang tebal, mata coklatnya benar-benar menawan. "Aduh, kenapa jadi deg-degan begini, sih" keluhnya dalam hati, lalu memusatkan perhatiannya pada dasi yang menggantung di leher Pandu. "Malu-maluin ah, cowok nggak bisa pakai dasi." kata Niken, matanya masih tertumbu pada dasi Pandu.

"Emang cowok harus bisa pake dasi Aku belum pernah ke acara di mana aku harus pake dasi koq." bela Pandu.

"Nih. sudah jadi. Gimana Bagus nggak" tanya Niken sambil merapikan hasil karyanya.

"Perfect. Makasih ya Fei. Oh ya. tentang kemarin."

"Tolong jangan sebut-sebut tentang kemarin, Ndu. Please."

"Aku cuma mau minta maaf, kalau aku sudah sakiti hati kamu kemarin. Tapi aku benar-benar serius, Fei." lanjutnya.

Niken diam saja, membeku.

"Keluar, yuk. Upacara sudah hampir mulai, tuh!" kata Pandu mengingatkan. Selesai upacara, seisi sekolah jadi gempar karena Ratna kehilangan gelang emasnya yang dia tinggal di laci mejanya. Bodoh benar Ratna, dia memang sering menaruh barang-barang berharga di laci. Uang, gelang, dan lain-lain. Kepala sekolah mengumumkan akan mengadakan penggeledahan segera. Dari kelas satu sampai kelas tiga. Semua kelas akan digeledah total sampai gelang Ratna ketemu.

Anak-anak berkumpul di depan kelasnya masing-masing. Niken melihat Jimmy lewat. Jimmy yang juga melihatnya memandang Niken dengan tampang licik. Niken mengernyitkan dahinya. Instingnya langsung bekerja. "Pandu!" Niken memanggil Pandu yang berdiri tidak jauh dari situ. "Perasaanku nggak enak. Bisa jadi ini adalah akal-akalannya Jimmy. Coba cek tas kamu, Ndu." kata Niken mengajak Pandu masuk kelas, ke arah meja mereka.

Pandu mengecek seisi tasnya. Tidak ada apa-apa. Tak ada satupun barang yang hilang, maupun barang yang mencurigakan.

"Cek ulang," perintah Niken. "Aku nggak mungkin salah." gumamnya. "Pasti ada apa-apanya, nih."

Niken lalu melongok ke laci meja Pandu.

"Astaga, Pandu!"

Pandu terkejut, ikut melongok ke arah lacinya. Tidak cuma gelang Ratna yang ada di situ. Uang dalam jumlah besar juga ada di situ. Pandu dan Niken saling menatap, tidak percaya. "Fei, aku nggak pernah." kata Pandu bingung.

"Aku percaya. Kamu nggak akan mencuri. Sekarang bagaimana kita menghapus bukti ini, dan cepat!" kata Niken panik.

"Ndu, pindahin semua uang ke laciku. Aku bisa mengaku itu uangku. Ayo cepat." katanya.

Good idea. Selesai memindahkan semua uang kertas itu ke laci Niken, mereka baru nyadar.

"Gelangnya!" kata mereka hampir bersamaan.

"Taruh di laciku aja, Ndu. Siapa tau mereka percaya bahwa itu gelangku." kata Niken.

"Nggak. Aku nggak akan lakukan itu. Terlalu beresiko, Fei." kata Pandu sambil memegangi gelangnya.

"Lebih beresiko kalo ada di lacimu, Ndu. Ayo dong, berikan padaku."

"Jangan!"

"Nggak usah berebut, serahkan pada saya." tiba-tiba Pak Yusril sudah berada di ruang kelas.

Seperti tercekik, mereka tak bisa berkata apa-apa. Pandu menyerahkan gelang itu pada Pak

Yusril dengan gemetaran. "Kalian berdua, ikut saya ke kantor."

Dengan langkah lunglai dan kepala tertunduk, mereka berdua mengikuti Pak Yusril ke kantor kepala sekolah.

"Niken, kamu tunggu di luar. Saya mau bicara dengan Pandu dulu."

Niken lalu duduk di kursi di luar kantor kepala sekolah dengan cemas. Dari luar tidak terdengar apa-apa. Setidaknya Pandu tidak dibentak-bentak, pikirnya.

Kalau dibentak pasti terdengar dari luar ruangan. "Kasihan Pandu. Jimmy kurang ajar," pikir Niken geram. Setengah jam kemudian, pintu terbuka kembali.

"Pandu, kamu tunggu di luar. Niken, masuk."

Setelah menutup pintu, Niken duduk di depan meja Pak Yusril.

"Ceritakan apa yang kamu tahu." kata Pak Yusril.

"Ini semua ulah Jimmy, Pak. Dia yang memfitnah Pandu. Saya nggak punya buktinya sekarang, tapi Pandu nggak bersalah."

"Benarkah itu Kenapa Jimmy mau memfitnah Pandu" tanya Pak Yusril. "Karena Jimmy cemburu sama Pandu. Ceritanya panjang, Pak. Mereka hari Sabtu kemarin berkelahi di lapangan parkir setelah pulang sekolah. Ini pasti akal-akalannya Jimmy, Pak. Saya tidak mencuri gelang itu. Pandu juga tidak mungkin."

"Aneh sekali." kata Pak Yusril kemudian. "Karena Pandu baru saja mengakui semua perbuatannya."

"Apa!"

"Pandu bilang, kamu tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini. Kamu cuma berusaha menyadarkan dia bahwa mencuri itu salah. Dia yang melakukan semua ini. Dia pun sama sekali tidak menyebut nama Jimmy. Dia mencuri gelang itu waktu anak-anak sudah keluar semua ke lapangan pagi tadi." "Dia bohong, Pak. Saya bersama dia tadi sebelum upacara. Di kelas 2C. Waktu saya masuk, dia dari WC putra, dan dia mengaku sudah lama di WC karena nggak bisa pake dasi. Terus saya yang memakaikan dasinya. Dia ke lapangan bersama saya, Pak." "Kamu tahu hukuman apa yang harus saya berikan untuk pencuri" Pak Yusril bertanya lagi.

Niken menggeleng lemah.

"Skors seminggu untuk pertama kali ketahuan. Kedua kali dikeluarkan." jawab Pak Yusril tegas.

"Pak, ini masalah serius. Saya belum pernah berbohong, terutama dalam masalah kritis seperti ini. Saya tidak akan membela Pandu jika saya yakin Pandu bersalah. Ini hampir ujian naik kelas, Pak. Kalau diskors, Pandu." "Pandu sudah mengakui perbuatannya, Niken. Kalau kamu bisa menunjukkan bukti-bukti bahwa dia bukan pencurinya, saya bersedia mencabut hukuman itu."

"Saya tahu Jimmy pencurinya. Tapi saya tidak punya bukti apa-apa sekarang." kata Niken lemas.