Dante terlihat bosan dan kesal, berada di antara cewek-cewek Cheerleader genit yang mengerumuninya, mereka berdengung seperti kawanan lebah madu, mereka cekikikan dan menggoda dengan cara bermanja-manja, cewek-cewek centil itu berharapkan bisa menarik perhatian sang pahlawan lapangan, setidaknya mereka berharap bisa jadi orang yang akan dibawa Dante ke pesta kemenangan nanti malam, mereka langsung diam dan mulai bubar, ketika melihatku muncul di ruangan ganti, aku tau cewek-cewek itu akan membicarakanku setelah ini.
Lama kami diam, hanya saling menatap, sampai Dante berinisiatif untuk memulai obrolan.
Elo janji mau nonton pertandingan basket kata Dante datar, sambil mengikat tali sepatunya.
Sorry
Gue pikir loe nggak bakal datang Ghie, loe nggak mau kan gue menangin pertandingan ini loe nggak mau kan kalo gue menang terus kayak janji loe hmmm oke gue ralat, awalnya ini hanya permintaan tolol gue, kalo gue menangin pertandingan basket ini, loe mau jadi cewek gue. Dante terdengar kesal, dia bicara dalam nada sindiran yang tidak menyenangkan.
Sekarang seandainya gue nerima elo, apa loe yakin elo bisa nerima gue aku bertanya tak tau harus bagaimana.
Seseorang harus bisa menerima dirinya dulu, baru bisa menerima orang lain, mungkin itu yang mesti loe lakuin Ghie, tapi menurut gue, menerima diri loe itu bukan hal sulit, elo itu adalah impian nyaris setiap cowok; cantik, pinter, berpresasi, berkarakter, menarik, elo hampir tanpa kekurangan, dan kelebihan-kelebihan elo yang mengintimidasi itulah yang bikin para cewek iri, gue mungkin bukan cowok favorite loe, hingga sulit buat elo untuk nerima gue jadi orang yang spesial, tapi gue mau nunggu kok, segala sesuatunya butuh proses kan
Elo nggak kenal gue!
Gue mau belajar buat mengenal elo lebih jauh
Dante, gue nggak sebaik yang elo pikirin aku merasa frustasi, awalnya aku sudah berniat, untuk tidak datang ke pertandingan final basket antar SMA ini, aku terlalu takut untuk memenuhi janjiku, untuk menjadi pacarnya seandainya dia memenangkan pertandingan ini, tapi sebagian dari hatiku menginginkannya, aku ingin melihatnya di lapangan, memberinya semangat dari bangku penonton, tapi yang kulakukan hanyalah terlalu banyak berpikir dan menimbang, sehingga aku melewatkan pertandingan besar Dante dengan melamun di dalam mobil di parkiran, aku tidak siap dengan apa yang akan dikatakan oleh seisi sekolah, dengan gossip yang akan tersebar besok pagi. Kupikir aku terlambat, kupikir Dante akan pergi dan cepat-cepat meninggalkan ruang ganti seusai pertandingan sama seperti anak-anak tim basket yang lain, yang bersiap-siap untuk merayakan kemenangan mereka nanti malam, tapi aku pada akhirnya memberanikan diri untuk berjalan ke ruang ganti, aku berharap dia masih ada dan aku benar dia masih disini, belum meninggalkan ruangan ganti, tapi yang kutemui adalah Dante yang sedang di kerumuni cewek-cewek centil sekolah, ada sedikit rasa kesal dan cemburu ketika aku melihat Dante dengan cewek-cewek cheer itu, seandainya aku salah seorang dari mereka, tentunya takkan sesulit ini untuk menerima Dante.
Dante mendekatiku, sepertinya dia siap dengan kemungkinan yang paling tidak menyenangkan, dia berdiri di depanku memegang bahuku dengan kedua tangannya, mencoba memberikan senyuman, tapi aku tau bahkan sebuah cengiran jailpun sulit untuk terbentuk di bibirnya sekarang, dia kecewa dengan apa yang kulakukan.
Kalo loe nggak bisa nerima gue, seenggaknya sekarang loe bisa ngasih gue, yeah loe bisa bilang congrats atau semacamnya Dante berusaha terdengar ceria.
Aku menarik nafas panjang, mencoba meyakinkan diri bahwa apa yang akan kuputuskan ini adalah hal yang benar.
Gue mau jadi cewek elo, dan jangan minta gue untuk mengulang kalimat itu lagi
Dante melompat kegirangan dia kelihatan senang, lalu bagaimana denganku apa aku senang Aku sendiri belum tau ekspresi seperti apa yang harus aku tunjukkan karena aku belum begitu yakin, aku masih dibayangi tentang, bahkan mamapun yang seharusnya tanpa alasan sulit untuk mencintaiku, bagaimana mungkin bahwa Dante bisa melakukannya Tapi bolehkah sekarang aku sedikit berbahagia atau setidaknya biarkan aku, walau untuk sementara waktu untuk menjadi remaja normal yang tidak depresi, yang bisa menikmati cinta monyetnya