Dalam kamar. Aku terus membayangkan apa yang telah aku lakukan. Sebuah langkah besar dalam diriku. Langkah yang belum dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Seorang ikhwan, yang dengan dakwahnya dia hidup. Dia lebih terlihat seperti mentari yang ingin menyinari setiap detik kehidupan. Dia lebih seperti langit, yang ingin menaungi orang yang membutuhkan. Aku sangat salut dengannya. Tidaklah sebuah kesalahan besar, jika aku menginginkannya. Aku hanya berusaha untuk mendapatkannya. Berusaha dalam ikhtiar yang pasti dalam ketentuan syari.
Sejenak, aku mengambil buku harianku. Buku yang setiap kali selalu menemaniku dalam keriangan serta kedukaan. Sebuah sahabat yang selalu rela menjadi tempat curahan hati. Tiada hal yang dia keluhkan. Meskipun tinta yang aku torehkan kedalam tubuhnya, mungkin menyakitkannya. Tetapi dia diam. Dia tetap tenang. Dia tidak pernah berkeluh dalam setiap tinta yang terlekat erat dalam tubuhnya. Benar-benar sahabat yang setia. Tetapi, dia hanya sebagai pelipur lara, bukan sebagai penyembuh jiwa yang sedang dalam kegundahan.
Sejenak penaku mengalir dalam kekaguman yang tersarang dalam otakku. Menuliskan apa yang telah aku lakukan hari ini.
12 Mei
Hari ini, aku mengambil sebuah langkah besar dalam hidupku. Mungkin inilah sebuah langkah awal yang besar dari sebuah pengambilan keputusan. Tetapi aku tidak yakin. Seorang ikhwan yang tangguh dalam dakwahnya, harus rela menemaniku menggapai kehidupan yang aku impikan. Jantungku sempat berdetak keras, saat-saat mengutarakan maksudku kepada bibiku. Bibiku hanya tersenyum, senang kelihatannya. Entahlah, kenapa beliau seperti itu. Apakah karena aku sudah besar dan bisa mengambil keputusan sendiri Atau karena aku memilih seorang ikhwan yang memang tepat menjadi pilihan! Entahlah. Tetapi aku sangat ingin sekali mendapatkannya. Mendapatkan seorang ikhwan yang begitu senang dalam setiap dakwahnya.
Sampai sekarang jantungku masih berdesir tak menentu. Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku lakukan. Hampir-hampir rasa malu mengalahkan semua yang telah aku rencanakan. Padahal aku sudah diharuskan mengetahui penempatan rasa malu itu sendiri. Hem, mungkin manajemen maluku masih sangat kurang. Atau mungkin, aku tidak bisa memanajemen rasa maluku. Hem, entahlah! Pokoknya semua ini sudah terjadi. Malu! Kata itulah yang masih tertanam dibenakku. Tertanam dalam ketidak pastian tempat rasa malu. Malu, adalah sebagian dari keimanan. Tetapi apakah yang dimaksud rasa malu itu Apakah rasa malu itu bisa dikategorikan kepada seorang yang ingin berinfaq atau beramal. Sedang dia malu untuk dilihat orang, hingga dia mengurungkan menginfaqkan hartanya Atau rasa malu adalah, saat seorang wanita yang enggan berjilbab karena dia malu dikatakan sok alim Apakah rasa malu juga bisa diibaratkan seorang yang akan menolong orang lain yang sedang tersesat. Tetapi dia tidak menjelaskan tempat yang sebenarnya Karena rasa malu itu sendiri! Hem, entahlah. Mana yang disebut rasa malu!
Padahal, aku yakin. Rasa malu merupakan sebuah penempatan dari sebuah kebenaran itu sendiri. Bukan rasa yang tertanam dalam hati untuk mengatakan, malunya sendiri. Malu seharusnya dapat diterapkan dalam sebuah hal yang bersifat kesalahan. Bukannya malah, malu ditempatkan dalam hakekat kebenaran itu sendiri! Hem, nikmatnya rasa malu. Saat malu sudah ditempatkan dalam tataran tempat rasa malu itu sendiri.
Zah.. anti sudah tidur apa belum
Suara Ummi mengaggetkanku. Aku menutup lembaran buku harian yang selalu menemaniku.
Belum, Mi! Ummi, masuk aja. Ucapku.
Setelah membuka pintu kamarku. Ummmi tersenyum saat melihatku. Setelah itu menghampiriku.
Aku pun tersenyum. Ada apa, Mi
Nggak. Ummi hanya pengen ngobrol sama Zah! Ada waktu kan Ucap Ummi dengan senyumnya yang lembut serta membelai lembut rambutku dengan tangan beliau.
Aku hanya mengangguk.
Zah, nggak sibukkan Tanya Ummi lagi.
Insya Allah, Nggak kok Mi! Emangnya ada apa sih Mi Tanyaku penasaran.
Nggak sih. Ummi hanya pengen memberitahukan sebuah kabar. Entahlah, apakah ini merupakan kabar gembira bagi Zah!
Emangnya, kabar gembiranya apa Mi Apa Abi akan pulang diwaktu dekat Atau apa Mi Tanyaku. Penasaran.
Ummi menggelengkan kepala. Bukan. Bukan itu kabarnya!
Lalu, apa Mi! Tanyaku, antusias.
Anti, pasti kaget! Tadi siang, ada seorang ikhwan datang kerumah ini. Ucap Ummi.
Seraya tersenyum senang.
Ha! Ikhwan Apakah benar, dia secepat itu Benar-benar ini sebuah kabar gembira. Gumamku dalam hati. Senang. Memangnya, yang datang siang tadi siapa Mi Tanyaku penasaran. Bercampur dengan kegembiraan.
Akhi Lutfi. Teman anti saat masih SMP dahulu! Sekarangkan, dia sudah lulus dari Al-Azhar Kairo, Mesir! Anti ingat Dia datang kesini untuk bertaaruf sama anti lebih dalam lagi! Ucap Ummi. Terlihat senang.
Seketika itupun, tubuhku sangat lemas. Sendi-sendi dalam tulang yang ada dalam tubuhku serasa lumpuh. Semuanya ngilu. Bercampur dengan deru jantung yang memburu tanpa asa yang tak menentu. Entah bagaimana aku harus menjelaskan kepada Ummiku. Menjelaskan tentang seorang Ikhwan. Seorang jundi Allah, dalam dakwah yang memberikan keindahan.
Aku hanya diam. Mematung. Dengan masih dibelai oleh tangan lembut Ummi.
Bagaimana, anti menerima Tanya Ummi.
Sontak, mengagetkan lamunanku.
Entahlah, Mi! Ana butuh waktu untuk berfikir. Ucapku dengan lidah yang keluh.
Hem. Ummi mengerti! Sekarang Ummi tinggal dulu yah. Ucap Ummi. Terlihat mengerti tentang kondisiku.
Aku hanya mengangguk.
Perasaanku pun berkecambuk. Entahlah, rasa apa yang sedang aku alami sekarang. Semuanya begitu cepat. Perasaan dalam hati begitu menyayat. Kepalaku terasa benarbenar pening sekali.
Tluuut.... Tluuuut... Bunyi Hpku. Sekilas aku melihat layar LCD. Nomor yang tidak aku kenal.
Dengan malas aku mengangkatnya. Halloo...
Halo, Assalamualaikum!
Walaikumsalam, ini siapa yah Tanyaku. Dengan rasa malas yang teramat sangat.
Ini Farah, yah Ucapnya. Balik nanya.
Iya, ini Farah! Ini siapa yah
Ukhti, apa kabarnya Ini ana, Lutfi!
Ha! Sekilas aku terkaget. Oh, iya! Gimana kabarnya Akhi Katanya sudah lulus yah! Tanyaku. Basa basi.
Alhamdulillah! Baru lulus.
Wah, pasti sudah Hafidz nih!
Ah, anti jangan melebih-lebihkan! Afwan ana mau tanya. Boleh Ucapnya dengan sopan.
Iya, silakan! Ucapku.
Anti sudah diberitahu oleh Ummi, tentang rencana kedatangan ana tadi siang Tanyanya to the point.
Iya, sudah! Jawabku singkat. Sedikit malas.
Lalu, bagaimana
Hem. Sebentar ana masih harus mikir-mikir dulu!
Apa yang harus dipikirkan, Ukhti! Apa anti sudah punya calon lain Ucapnya penasaran.
Hem. Sebenarnya sih iya! Hanya saja ana belum bicara dengan Ummi tentang Ikhwan ini. Jawabku polos.
Hem. Ukhti, pilihlah dengan ikhwan yang memang disenangi Ummi anti!
Hem, ikhwan ini gimana sih! Ya pasti, antum yang dipilih Ummi. Ummi aja belum kenal dengan Akhi Khalid! Gumamku dalam hati. Ya, tidak bisa seperti itu dong Akh! Ana hanya perlu berpikir saja.
Apa dia hafidz Dia lulusan mana Ucapnya penasaran, terlihat mendiskriditkan.
Dia belum hafidz. Dan belum lulus kuliah!
Hem. Anti seharusnya sudah bisa memilih langsung! Tidak ada yang perlu dipikirkan! Ucapnya.
Ana perlu berfikir dulu Akh. Afwan yah! Insya Allah secepatnya, ana akan kasih jawaban. Ucapku.
Ya, baiklah!
Udah dulu yah, Akh! Udah malam, ana mau tidur. Selaku, mencoba untuk mengakhiri pembicaraan.
Oh iya, baiklah! Syukron. Assalamualaikum
Walaikumsalam Ucapku. Sambil menekan tuts Hp off.
Aku benar-benar bingung saat ini. Semua kebingungan yang aku rasakan menjadi bercampur aduk dalam rongga fikir yang tak menentu. Kepalaku jadi benar-benar pusing untuk bisa memikirkan semua ini. Aku rebahkan tubuhku, dalam kasur yang selalu menaungi tubuhku untuk beristirahat. Sejenak aku pejamkan mata ini.
***
Tluuut....Tluuut dering Hp mengagetkanku saat melakukan tilawah harian.
Assalamualaikum, Bunda! Ucapku.
Walaikumsalam. Anti lagi ngapain sekarang Tanya bibiku
Ana lagi tilawah sekarang! Ada apa Bunda
Nanti pagi, anti bisa kerumah kan
Jam berapa Tanyaku.
Jam 8 pagi! Bisa nggak
Iya, Insya Allah ana bisa! Emang ada apa Bun Tanyaku panasaran.
Anti bisa bertaaruf lebih dalam lagi dengan Akhi Khalid, nanti pagi! Ucap Bibiku.
Baik, Bunda! Ucapku. Sedikit agak bingung.
Baik, kelau gitu anti ana tunggu dirumah jam delapan pagi! Ya sudah, terusin tilawahnya. Ucap Bibiku. Menyemangati.
Assalamualaikum. Salam Bibiku.
Walaikumsalam.
Sejenak aku tutup Al Quran yang berada didepanku. Asa yang menghampiriku, membuat semangat bertilawah pun luntur. Pudar dari semangat yang begitu menggebu. Pilihan yang sangat berat yang harus aku lakukan. Lutfi, seorang hafidz quran dengan Khalid, seorang aktifis dakwah. Pilihan yang membuat aku tercengang dengan dua kelebihannya masing-masing. Yaa Allah, pilihkan yang terbaik untukku. Pilihkan yang membuat hatiku tentram karenanya. Pilihkan satu dari kedua dengan akhidah dan akhlak yang menyatu. Yang menjadikanku akan selalu senang dalam berjuang dalam Dien-Mu. Pilihkan Yaa Allah. pilihkan diantaranya. Aku sangat bingung wahai Rabb. Sang pembuat keputusan. Lindungi aku dari pilihan nafsuku!
***
Aku ambil kunci mobilku. Setelah itu bergegas menuju garasi. Saat akan memasuki pintu garasi. Sejenak, aku memberhentikan langkahku. Setelah itu aku mengambil Hpku. Tak lama setelah itu aku menekan tombol Hp.
Hallo Ucapnya seorang yang menjawab telphone diujung sana.
Hallo Asssalamualaikum! Salamku.
Walaikumsalam! Jawabnya.
Akhi Khalidnya ada Tanyaku.
Iya saya sendiri, ini siapa yach Jawabnya.
Jantungku sedikit berdesir. Seorang ikhwan pujaan yang sedang aku ajak bicara. Ini Farah, Akh! Jawabku.
Iya, ada apa Ukh Tanya Khalid.
Gini Akh, ana butuh bantuan antum! Ana kan lagi ada acara ditempat kajian. Nah ana butuh seorang ikhwan untuk mengisi kajian ditempat ikhwannya. Antum bisa nggak Akh Ana benar-benar meminta tolong sama antum akh Soalnya ana nggak begitu kenal banyak para ikhwan, selain antum!
Kapan, Ukh Tanya Khalid. Terdengar semangat.
Nanti, jam delapan! Kataku.
Afwan, Ukh. Ana tidak bisa membantu rencana anti! Ana ada janji Ukh Jawabnya singkat. Terlihat melemah.
Oh.. kalau gitu afwan yach Akh! Syukron atas waktunya. Assalamualaikum! Ucapku, bernada seperti sangat kecewa.
Walaikumsalam Jawabnya. Terdengar sangat sedih.
Hem, hebat juga nih Ikhwan! Dia benar-benar menepati janjinya. Entah apakah aku harus mengecewakannya! Terlihat begitu besar tanggung jawabnya.
Sebenarnya aku hanya ingin mengetest Khalid. Apakah dia benar-benar akan mendatangi rencana taaruf yang memang semula direncanakan. Ini merupakan salah satu pembuktian keseriusan seorang ikhwan untuk mau menjadi seorang suami yang bertanggung jawab. Serta menjadikan sebuah contoh yang baik bagi keluarga. Semoga saja!
Dalam perjalanan. Rongga-rongga fikirku, masih sangat gamang dalam asa yang hilir mudik tak menentu. Entahlah, aku menjadi sangat tidak bersemangat sekali dalam setiap perjalanan yang seharusnya bisa aku nikmati. Kemacetan yang aku hadapi, tidak membuatku sadar akan kebiasan yang harus aku lakukan. Arus yang begitu padat, menyesakkan mata dalam setiap pandangan. Mobil masih terus berjalan, dalam arus yang tak menentu disetiap kemacetan yang terjadi.
Tidak seberapa jauh lagi jaraknya. Rumah paman dan bibiku akan terlihat. Mobilku kini melaju dalam jalan perumahan yang lengang. Dan akan cepat sampai dalam hitungan menit. Kini tepat, marcedesku sudah sampai didepan rumah. Aku langkahkan kaki ini. Menuju pintu pagar rumah. Semilir angin menerpa pepohonan pekarangan rumah. Sejuk sekali. Suasana yang rindang hadir dalam suasa panas yang menyengat.
Tok.... tok Ketukanku dipintu rumah.
Pintu pun terbuka. Bibiku menyambut dengan senyumnya. Pelukan erat seorang saudara muslim pun tidak lupa kami lakukan.
Kaifa, Ukhti Tanya Bibiku.
Khoir, Alhamdulillah! Jawabku, singkat.
Baik, mari kita menuju ruang liqo! Ustad Fadlan masih sedang berada diruang sebelah. Masih ada pertemuan pengurus masjid perumahan!
Aku hanya mengekori, bibiku.
Anti duduk. Disitu dulu yah! Ana mau buat minuman untuk pertemuan pengurus masjid dulu!
Iya Bunda. Tafadhol!
Dalam ruang yang terbelah oleh kain panjang. Yang biasanya disebut sebagai hijab atau tabir. Aku termenung dalam kesendirian. Termenung dalam pilihan yang akan menentukan kehidupanku. Menikah. Sebuah pilihan yang memang harus aku lakukan. Tetapi memilih dua ikhwan yang memiliki karakter berbeda. Bukanlah angan-anganku. Entahlah, apakah aku harus mengingkari perkataan yang aku ucapkan. Atau aku harus menepatinya. Lutfi, merupakan ikhwan yang sangat sempurna dibanding Khalid. Lutfi merupakan seorang ikhwan yang sudah memiliki kemampuan yang sangat berlebih. Disamping dia hafidz dan lulusan Al Azhar Kairo, Mesir. Dia juga sudah mengelola perusahaan milik orangtuanya. Sedangkan Khalid. Mahasiswa yang kalau keman-mana jalan kaki. Dia pun tidak hafidz Al Quran. Belum bekerja, bahkan bisa dikatakan mahasiswa kontrakan yang selalu berbagi dengan yang lainnya. Dia terlihat selalu serba kekurangan. Hem. Sangat sulit dalam memilih!
Tak lama aku mendengar ada seorang Ikhwan yang datang. Mengobrol dengan Ammiku. Ustad Fadlan. Setelah itu Ustad Fadlan mempersilahkan untuk duduk dulu di ruang yang lain. Yaitu dibalik tabir yang lain.
Alhamdulillah, ternyata pikiranku salah! Aku benar-benar mengira kalau itu keluarga si Akhwat. Hem.. pasti aku akan benar-benar kikuk kalau bertemu dengan si Akhwat Sekarang Ucapnya lirih. Terdengar seperti berbicara sendiri.
Aku msih berdiam diri. Aku tidak berani untuk bersuara apapun. Bahkan untuk menggerakkan badan yang akan menimbulkan suara pun. Aku minimalisir. Agar Khalid tidak tahu kalau aku juga sudah berada didalam ruangan ini. Tidak seberapa lama, aku melihat Bibiku membuka tirai hijab atau tabir.
Gimana, ustad Apa sudah selesai! Ucapnya. Terdengar seperti membuka percakapan.
Alhamdulillah. Semuanya lancar! Jawab ustad Fadlan dengan senyum.
Untuk taarufnya, jadi nggak ustad Tanya Khalid. Sepertinya tidak sabar.
Aku hanya tersenyum. Saat Bibiku melihatku dengan senyuman.
Ya pasti jadi, Akh! Nah akhwatnya kan sudah dari tadi diruang tabir kedua Jawab Ustad Fadlan.
Entahlah. Spontan rasanya Khalid langsung terdiam. Aku juga diam saja, aku malu. Aku malu karena sejak dari tadi aku sudah berada disini. Dan mendengar ucapan Khalid.
Assalamualaikum Salam Bibiku.
Walaikumsalam Serempak terdengar jawaban.
Gimana Bi, apa sudah bisa dimulai proses taarufnya Tanya tanya Bibi, pada ustad Fadlan.
Iya, bisa langsung dimulai! Scap ustad Fadlan. Silakan Akh Khalid, untuk menanyakan sesuatu hal yang ingin antum tanyakan Ucap lanjut ustad Fadlan, mempersilahkan.
Khalid menanyaiku dengan beberapa . Mulai dari Nama, kuliah, aktivitas dan lain sebagainya. Alhamdulillah, pertanyaan-pertanyaan yang masih bisa aku jawab dengan mudah.
Sebuah pertanyaan yang membuat mentalku sedikit drop dikatakan Khalid.
Ana cuma mau mengingatkan anti. Kalau ana, belum kerja! Masih berstatus mahasiswa. Dan keluarga ana tidak begitu kaya. Bisa digolongkan, dari golongan menengah kebawah Katanya, seperti menaku-nakuti.
Iya, aku tahu. Apakah aku benar-benar harus menerimanya! Entahlah. Aku yang memulai, berarti aku harus teguh dalam berprinsip. Tetap istiqomah! Pikirku. Akhi, ana pengen menikah dengan antum bukan karena harta antum. Atau bahkan jaminan antum! Kalaulah antum belum bekerja. Asal antum mau, pasti ada pekerjaan buat antum! Ana cuma mengingatkan antum saja. Bahwa antum, tidak akan bisa memberikan ana jaminan kepastian untuk bisa menghidupi ana! Kalaulah ana menikah dengan antum, antum bukanlah penjamin hidup ana. Atau bahkan bisa memberikan nafkah kepada ana! Allahlah yang menjamin rezeki tiap-tiap umatnya. Lalu kenapa kita harus takut untuk melangkah dalam pernikahan, karena alasan soal rezeki atau nafkah. Semua serahkan ke Allah. Kalau ana jadi istri antum, ana siap hidup menderita karena harta. Tetapi berlimpah-limpah keimanan! Dan ingat akh, menikah juga termasuk salah satu pintu rezeki! Ucapku dengan pasti. Alhamdulillah, aku bisa!
Sebuah permintaan yang membuatku agak menjadi begitu kikuk. Dikatakan oleh Khalid. Padahal aku ingin sekali tidak memperlihatkan wajahku. Karena aku ingin tidak terlalu mengharapkan ikhwan ini. Tetapi apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Kalau aku sudah memulai, berarti aku harus konsisten dengan apa yang aku ucapkan.
Bunda hanya melihat. Sepertinya bingung, harus berbuat apa.
Aku mendekat pada Bibiku. Bunda, boleh! Bisikku. Agak lama memang. Sehingga terasa suasa agak begitu hening.
Bibiku membuka tabirku, dan memanggil Ustad Fadlan. Tidak seberapa lama, Ustad Fadlan memanggil Khalid. Setelah itu mempersilahkan Khalid untuk melihatku. Melihat calon istrinya. Sejenak saat Khalid melihatku. Aku tertunduk. Malu. Entah seperti apa ekspresi wajahku. Yang ada hanya rasa serba salah saat dipandanginya. Aku sebenarnya juga ingin memandang wajah Khalid. Tetapi entah, kepala ini terasa sangat berat dan mata juga terasa sangat kasat. Hanya tertunduklah aku untuk beberapa saat.
Begitu cepat. Semuanya terasa sudah direncanakan dengan matang. Aku sendiri hanya bisa merasakan kemudahan yang diberikan oleh-Nya. Sesaat setelah itu aku langsung mengucap syukur. Ketenangan jiwa yang aku rasakan begitu nikmat. Tetapi, dilema dua pilihan masih tetap melandaku. Aku tetap harus memilih satu dari dua ikhwan. Mereka mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tetapi salah satu dari mereka pun bukan seorang yang memang aku kenal dalam kiprah dakwahnya. Tetap, aku harus memilih. Entahlah, rasa bingungku kian memuncak.
Setelah taaruf. Aku langsung mengarahkan mobilku kedaerah kumuh.
Mobilku bergerak dalam lalu lintas yang tidak begitu padat. Tetapi panas yang begitu menyengat dalam terik matahari yang garang dalam sinarnya. Terlihat begitu membara. Pasti neraka ribuan kali panasnya daripada ini! Gumamku. Mobilku terus melaju dalam kenyamanan berada didalamnya. Memang, dalam beberapa hari ini. Aku sering menggunakan mobil. Mobilitas dalam kegiatanku akhir-akhir ini sangat tinggi. Jadi terasa efektif bila memang aku memakai kendaraan. Bukan bermaksud hanya untuk kesenangan pribadi.
Sosok seorang berjalan dalam terik panas matahari. Langkah tegap dalam lajunya. Terasa begitu bersemangat. Khalid. Sosok itu masih bersamangat sekali, saat dia harus menghadapi bara panas matahari. Sungguh memang tidaklah sebuah kesalahan jika aku memilihnya. Tetapi sayang, hafalan Al Quan dan haditsnya sedikit. Saat aku berdialog dengannya, waktu di LDK dulu. Dia mengatakan hafal Al Quran dan hadits itu memang harus. Tetapi hafal Al Quran dan hadits itu lebih wajib untuk diamalkannya! Makanya jika kita sudah hafal salah ayat atau hadits, maka wajib kita untuk melaksanakannya. Itulah kata-katanya dahulu.
Memang harus disadari. Beberapa aktivis dakwah memang sangat banyak mobilitas kegiatannya. Hingga sangat sedikit waktu yang didapatkannya dalam menghafal Al Quran dan Hadits. Ini merupakan sebuah tantangan besar bagi Aktivis dakwah yang berada dimedan dakwah. Sesuatu yang memang seharusnya dilakukan dalam berdakwah adalah mempunyai kemampuan hafalan yang sangat banyak. Tetapi mengingat keterbatasan waktu yang didapatkan. Maka harus ada salah satu waktu yang dikorbankan. Tidaklah adil, jika seseorang menyatakan tentang para aktivis dakwah. Bahwa mereka tidak mempunyai hafalan yang tinggi. Tetapi, mereka tidak melihat mobilitas kegiatan yang tinggi dari para aktivis dakwah. Para aktivis dakwah lebih mengutamakan ilmu dan amal yang seimbang. Dari pada ilmu yang tinggi tetapi jarang diamalkannya, atau amal yang tinggi tetapi tidak ada ilmunya. Sungguh diantara kedua-duanya, diwajibkan untuk mempunyai keseimbangan.
Mobilku sudah melaju didaerah perkampungan kumuh. Saat aku akan memarkir mobilku. Tak disangka, seorang melihatku dengan sangat tajam. Aku pun melihatnya dengan seksama. Memastikan bahwa apa benar aku mengenalnya. Tak disangka akupun akhirnya mengenalinya, dia adalah para penjahat yang waktu lalu hampir menembakku. Segera mungkin aku langsung menstarter mobilku lagi. Dan langsung melesat jauh, lari dari mereka. Suasana hati yang semula tenang. Kini menjadi sangat risau. Detak jantungku pun kembali tidak beraturan. Disertai istighfar yang entah berapa kali terucap dalam bibirku. Secepat mungkin aku pacu mobilku, meninggalkan daerah itu.