MARSUM AWAN - 9
Di bawah mauduk sangsi kubicarakan riwayatmu

memenuhi tiap lembar kuras keras

yang tidak kutemu cetak aksara dan coret tintanya

lalu kau kubaca dengan sendu yang bisu

dan gempita lolong di dada memanggil namamu.

Naskhahmu kuteliti sejak sekian lama terbuka

kau telah cuba kuhadami sari irinya

kurenung baris demi baris tingkah

terkadang lidahku berbalah dengan abjad emosimu

mengulitimu bagai mimpi di siang hari

dikejutnyedarkan igauan egois dan imbauan rindu.

Aku tidak pernah serik menelitimu tiap-tiap halaman

membacamu bagai kembara jauh mencari redup rasa

untuk kusinggah berteduh tika mentari membakar wajah

meski dalam perjalanan ini kita dipisah bab rindu

jua jilid kesumat yang mencengkam atma,

dan kau hanya tersimpan kemas di kutubkhanah

tiap kali kita tamam bertikam hujah dan mencabar lidah.

Mari kita istirahat hati kecil

ayuh rapatkan manuskrip ukhuwah ke dada lapang

tajdidkan nawaitu menelaah ayat-ayat cinta

biar kitabmu kukhatami impaknya segunung erti

biar seteru kita berkait di kelingking cuma.

Elegan, Legasi Oakheart, 2012