memenuhi tiap lembar kuras keras
yang tidak kutemu cetak aksara dan coret tintanya
lalu kau kubaca dengan sendu yang bisu
dan gempita lolong di dada memanggil namamu.
Naskhahmu kuteliti sejak sekian lama terbuka
kau telah cuba kuhadami sari irinya
kurenung baris demi baris tingkah
terkadang lidahku berbalah dengan abjad emosimu
mengulitimu bagai mimpi di siang hari
dikejutnyedarkan igauan egois dan imbauan rindu.
Aku tidak pernah serik menelitimu tiap-tiap halaman
membacamu bagai kembara jauh mencari redup rasa
untuk kusinggah berteduh tika mentari membakar wajah
meski dalam perjalanan ini kita dipisah bab rindu
jua jilid kesumat yang mencengkam atma,
dan kau hanya tersimpan kemas di kutubkhanah
tiap kali kita tamam bertikam hujah dan mencabar lidah.
Mari kita istirahat hati kecil
ayuh rapatkan manuskrip ukhuwah ke dada lapang
tajdidkan nawaitu menelaah ayat-ayat cinta
biar kitabmu kukhatami impaknya segunung erti
biar seteru kita berkait di kelingking cuma.
Elegan, Legasi Oakheart, 2012