DARI LANGIT - 9
INDIVIDuaLISME SERING dianggap sesuatu yang negatif, yang di sejajarkan dengan egoisme (sikap egois) atau egosentrisme. Orang yang dianggap individualistik biasanya orang itu dianggap hanya memikirkan dirinya sendiri, bahkan seraya otomatis di anggap melanggar hakhak masyarakat.

Konsepsi terhadap paham penting ini memang sering dis alahp ahami. Padahal, sebenarnya paham ini sangat sederhana. Ia mengakui fakta yang alamiah bahwa setiap manusia dalam me mandang dunia di sekitarnya selalu memakai kacamata atau persepsi dirinya sendiri. tidak ada orang yang mencoba melihat dunia ini lewat pikiran dan mata orang lainselain karena memangtidakmungkindemikianberdasarkanbangunanfisikmanu sia.

ada sebuah contoh gampang yang pernah diberikan oleh adam Smith, pemikir ekonomi yang dianggap sebagai Bapak Ka pitalisme. Coba lihat, kata Smith, kalau misalnya ada seribu orang mati di Cina, anda yang di Inggris mungkin malam itu bisa tidur lelap. tapi coba jika pada saat yang sama jari ke lingking anda tergores sedikit dan kemudian memar atau bernanah. Ma ka rasa sakit itu mungkin akan membuat anda semalaman ti dak bisa tidur karena memikirkan jari kelingking anda itu. atau misalnya anda diberi pilihan yang ekstrem: kalau an

da disuruh memilih antara kehilangan jari kelingking anda besok pagi karena dipotong atau dua puluh orang meninggal di Cina. Mana yang akan anda selamatkan: kelingking anda atau nyawa dua puluh orang itu Mungkin anda relakan ke lingking anda. tapi dilemanya: anda berpikir tentang sakitnya kelingking anda itu. Nah, itu berarti anda tidak salah mem ikir kan kelingking anda. Karena bagaimanapun manusia harus berpikir, dia harus melalui bangunan dirinya.

Individualisme sebagai sebuah paham sebenarnya mulai dari fakta sederhana itu. Dia tidak ingin mengingkarinya dengan berkata bahwa, Lupakan dirimu atau jangan pikirkan di rimu, tapi pikirkan masyarakat yang lebih besar. Memikirkan diri sendiri itu jangan disamakan dengan egoisme. Jadi yang bisa dilakukan bahwa dalam melihat masalah dan dilemadil ema masyarakat, jangan ingkari kepentingan individu; jangan ing kari cara berpikir masingmasing individu dalam melihat per soalan dan kepentingannya.

Saya pernah memberi contoh sederhana tentang Siti Nurbaya, yang dipaksa oleh ayahnya untuk kawin dengan lelaki yang bukan pilihannya, Datuk Maringgih. Sang ayah bisa bilang bahwa perjodohan paksa tersebut untuk kepentingan keluarga, padahal kita tahu itu demi penyelesaian utangpiutang. tetapi apapun alasan di luar Siti Nurbaya, pemaksaan itu sebenarnya tidak mengakui individu sang anak yang boleh memilih bagi di rinya sendiri. Jadi individualisme itu bukan berarti seseorang harus egosentris. Itu sekadar pengakuan bahwa manusia dalam melihat persoalan tidak melalui kacamata orang lain.

Dan hal itu tidak berarti harus bertentangan dengan masya rakat. Justru masyarakat akan sangat beruntung jika individuindividu yang ada di dalamnya, yang membentuk mas yara kat itu adalah individuindividu yang matang, dewasa, yang mampu memilih bagi dirinya sendiri. Masyarakat semacam itulah sebenarnya yang terbaik. Bukan masyarakat yang dikomando oleh seseorangbisa ayah, paman, pemimpin politik, pe mimpin agama atau apapunyang memaksakan kehendak bagi individuindividu dalam proses beragam pilihan dalam kehi dupan.

Dalam ungkapan lain, dalam konteks masyarakat, paham individualisme itu menekankan bahwa hendaknya individu atau hakhak individu itu dipertimbangkan atau dijamin, bukan digerus atau dikalahkan oleh apa yang disebut kepentingan umum. Dalam bangunan tata masyarakat modern dan demokra tis, biasanya yang disebut kepentingan paling dasar individuindividu itu dijamin pada babbab konstitusi. Selalu begitu. Jadi, apa saja yang tidak boleh dipaksa oleh umum dijelaskan garisnya. Kita sebenarnya sudah menerimanya sejak 1945, dengan Pasal 28 uuD, tapi kita masih raguragu. Belum benarbe nar clear-cut, atau secara tegas dan penuh. Dengan amandemen terhadap uuD 45 itu, kita sudah bersikap clear-cut, bahw a ada hakhak dasar individu: hak bicara, hak untuk hidup, hak untuk mencari kebahagiaan, life, liberty, and happiness.Inilahdefinisidasartentanghakhakindividuitu,tidakbo leh dirampas oleh siapapun, termasuk oleh negara.

tetapi tentu saja selalu ada situasi ketika hakhak ini un

tuk sementara bisa ditangguhkan. Contoh yang paling klasik adalah: dalam sebuah bioskop yang gelap, anda tidak boleh ber teriak api!, karena orang bisa kaget, panik, keluar bersamaa n, ada yang terinjakinjak dan mungkin mati. Jadi, kebebas an itu bisa dibatasi jika kebebasan itu mengancam hidup orang lain. Inilah yang disebut John Stuart Mill sebagai a very simple principle of liberty,karenadalamfilosofikebebasanselalu ada pertanyaan: di mana batasnya Mill, pada pertengahan abad ke19, memberikan definisi yang amat jelas dan sangatter kenal, yaitu bahwa kebebasan individu berakhir manakala kebebasan itu mengancam hak hidup atau hak orang lain. Inilah prinsip dasarnya, meskipun penjabarannya sangat kompleks dan mengikuti perkembangan zaman.

Misalnya dalam soal merokok. tahun 1960an tidak ada larangan merokok di ruangan, apalagi tahun 1950an. Dalam po litik dulu ada istilah smoke-filled roomuntuk menunjuk keputusan politik dilakukan dalam ruangan yang penuh asap rokok. Bayangkanlah amerika atau di Eropa di musim dingin, yang mengharuskan semua jendela ditutup. Dan semua orang di ruangruang rapat itu merokok, karena belum ada larangan. Baru pada 1970an, terutama 1980an, mulai ada aturan tentang larangan merokok di ruangan tertutup. Lalu pada 1990an larangan itu diperluas, meliputi restoran. tahun 2000an di California, di bar pun orang tidak boleh merokok. Ini jelas pembatasan kebebasan.

tapi pembatasan itu diterima karena muncul teori ked ok

teran yang baru: bahwa kalau anda merokok di ruang seperti itu, anda membahayakan hidup orang lain, sehingga kebebasan merokok harus dibatasi. Itu contoh yang paling gampang. tentu saja ada beberapa hal praktis tentang kebebasan yang masih diperselisihkan batasbatasnya, tetapi semua menerima prinsip umumnya, yakni bahwa kalau seseorang tidak memba ha yakan kehidupan orang lain, dia harus bebas memilih bagi dirinya.

Keberanian dalam hal memberi kebebasan pada individu, yang di banyak negara dijamin oleh konstitusi, sesungguhnya juga didasarkan pada asumsi atau pada kepercayaan bahwa manusia itu sebetulnya bisa atau cenderung berbuat baik. Kita, atau Masyarakat timur, dalam hal ini kadang bersikap ambivalen. Kita sering berkata bahwa kita percaya pada sifat baik dalam diri manusia, the goodness of people, of human being. tetapi kita tidak percaya bahwa mereka mampu memilih buat di rinya. Kita ingin ngatur hidup oranggaya ber pa kai annya, gaya rambutnya. Jadi kita tidak percaya bahwa mereka bisa me nentukan pilihannya sendiri.

Bahwa sekali atau dua kali mereka salah, itu lebih baik di anggap sebagai proses belajar ketimbang anda yang harus menentukan pilihan mereka, misalnya mereka harus pakai jilbab dan sebagainya. Padahal, dengan semangat ngatur-ngatur itu,implikasinyasecarafilosofis,kitatidakpercayabahwamereka mampu memilih buat dirinya sendiri; kita mau bilang, tuhan sudah pilihkan a buat kamu, agama sudah pilihkan B buat kamu. Kita mau limpahkan semua paket itu, sehingga yang tersisa pada individu hanyalah kepatuhan terhadap aturanaturan yang ada. Kita mau patuh, tentu saja. Masyarakat yang individualis itu sebenarnya masyarakat yang patuh pada atur an yang dianggap masuk akal dan diputuskan secara bersama. Di jalan mereka tertib pada aturan umum. Kita di sini mau kepatuhan, tapi pada saat kita harus patuh, kita sangat liar.

***

Dilihat dari sudut lain, antara motif individual dan kep entingan masyarakat itu juga sering terjadi keanehan. Milton Friedman, pemenang Nobel Ekonomi 1978, pernah bilang bahwa biasanya kegiatankegiatan ekonomi itu dimulai dengan motif individual, motif pribadi, yang dalam perjalanannya kemu dian menguntungkan orang banyak. Inilah yang sering terjadi ketimbang sebaliknya: orang yang semula berpretensi atau berkata bahwa semua kegiatannya bukan buat dirinya sendiri me lainkan buat orang banyak, ternyata justru merugikan masya rakat; jadi, masyarakat yang diatasnamakan itu dirugikan, dan dia secara pribadi diuntungkan, diperkaya. Kasusnya yang ekstrem adalah korupsi. tapi di luar soal korupsi juga banyak ka sus semacam itu.

Dalam hal ini kita bisa melihat fakta yang tak terbantah bahwa di negerinegeri yang paling kaya cenderung juga menjadi negerinegeri yang paling bebas. Kebebasan dan kesejahteraan ekonomi itu rupanya berhubungan. Penjelasannya macammacam. Selain memakai penjelasan Friedman, kita juga bi sa menengok contoh yang paling klasik yang sudah diberikan adam Smith dua ratus tahun silam. Waktu itu dia bicara soal penjual roti. Dia bertanya, Dari mana kita dapat roti setiap ha ri Dengan hanya lima sen, sangat gampang kita beli roti di pasar. Kalau kita melanggan di rumah, roti diantar ke rumah kita. Pendeknya kita dapat makan roti. apakah karena pedagang atau penjual roti ini mau menolong kita atau penjual roti itu sebenarnya mau mencari untung buat dirinya sendiri ternyata penjual dan pemilik pabrik yang mengantar roti itu mencari ke untungan buat dirinya sendiri.

Nah, sistem ekonomi tersusun dari begitu banyak penjual, pencari, pedagang roti, dan macammacam pedagang lainnya, dan semua ini mencari untung bagi dirinya sendiri, tetapi akibatnya ada suplai pada masyarakat. Kita dapat ini, kita jual itu; saling membeli dan saling menjual. Ketersediaan roti atau beras bagi masyarakat dengan demikian jadi tercukupi. Itulah yang disebut masyarakat yang interaksi ekonominya bebas. Setiap orang mencari untung bagi diri masingmasing. Dan dengan cara itu, kebutuhan semua orang ternyata tercukupi; se mua orang pun bahagia karena merasa dimudahkan.

Justru harus kita ragukan atau curigai kalau ada orang ber teriakteriak, hei, saya mengantarkan roti ini sebenarnya bukan untuk mencari untung! Saya mau kasih saja roti ini pada kalian, hai para konsumenku.. Saya tidak mau untung. Saya mau rugi... Orang itu pasti gilaatau setidaktidaknya mun afik.Dalamsejarah,adasistemyangpernahmencobacaraitude ngan berbagai variasi. ada sistem komunisme di Soviet, Cina, Korea utara, Vietnam, dan Kuba.

Cara yang kemudian meluas ke sistem sosial dan politik itu kemudian runtuh semua, atau tetap terbelakang dibanding negerinegeri lain. Di Cina, Mao dulu pernah bilang (adaptasi dari Lenin) bahwa kita harus menciptakan manusiamanusia baru. Sebelumnya, di Soviet, Lenin ingin menciptakan manusiamanusia sosialis yang tidak memikirkan kepentingan dirinya, te tapi memikirkan kepentingan rakyat banyak, kaum buruh. Mereka lupa pada fakta dasar tentang manusia yang, menurut datadata biologis, sosiobologis, sudah berumur lebih dari sejuta tahun dalam bentuknya yang sudah mulai modern. Jadi, Mao, Lenin, dan orangorang yang sealiran dengan mereka pasti tidak akan mampu mengubah manusia. tidak ada namanya manusia baru itu.

Manusia adalah hasil evolusi panjang dengan karak te ristiknya sendiri, yang melihat manusia dengan kacamata dirinya, bukan diri orang lain. Maka sistem apapun yang dibangun tidak berdasarkan pandangan manusia yang benar dan realistis akan runtuh. Itulah yang dialami oleh sistem komunisme, kare na pretensi mereka bukan cuma menciptakan sebuah sistem baru, tetapi pada fundamentalnya ingin menciptakan manusia baru dengan karakteristik baru. Manusia yang tidak memikirkan di rinya sendiri, tidak memikirkan anaknya, keluarganya, bap aknya, melainkan memikirkan masyarakat sosialis. Karena itu di Cina, waktu Revolusi Kebudayaan, bapak, ibu, anak dipisahkan.

Ide itu sebenarnya mengikuti Plato. Dalam karya ma syhurnya, Republic, dia menyebut bahwa pendidikan terbaik yang ideal adalah jika anak dan ibu dipisahkan sejak awal, karena ini akan menumbuhkan pikiranpikiran anak ber da sar kan bakatbakatnya. Ini masyarakat idealisutopis. Jadi ini yang diulang dalam bentuk baru oleh Lenin di Rusia, Mao di Cina, Pol Pot di Kamboja. Mereka mau mencetak anakanak so sialis baru. Itu sebabnya sejak kecil, setiap bangun tidur, me reka dihar uskan baca Buku Merah, kitabsuci Mao.

yang terjadi adalah tragedi kemanusiaan yang amat dahsyat. Proses di Cina itu memakan korban puluhan juta jiwa yang kelaparan. Sistem pertanian Cina samasekali ambruk. Kolek tivisme runtuh, dan baru mulai diperbaiki kembali oleh Deng Xiao Ping, pada 1978. hasilnya sekarang cukup men akjubkan, sebagai keberlanjutan dari semakin terbukanya keb ebasan ekonomi di Cina, belum politik. Jadi kolektivisme dib alikkan dan elemenelemen liberalisme diperkenalkan. Sejak be be rapa belas tahun lalu, ekonomi Cina tumbuh dua digit, 11, 12, 13 persen setahun.

Di sisi lain, sistem Soviet hanya bertahan 70 tahun, jika kita hitung dari Revolusi Bolshevik 1917. Sangat singkat. Bandingkanlah misalnya dengan amerika Serikat yang sudah berusia 200an tahuntak perlulah kita bandingkan dengan Inggris yang sudah terlalu lama. Jadi kemenangan sistem yang percaya pada kebebasan itu juga karena ia cocok dengan watak man usia,danjugafleksibelterhadapperubahan.Kuncinyaadalah karena pada dasarnya keputusan diambil oleh begitu banyak individu. Sementara pada sistem komunisme, yang mengambil keputusan adalah sekretariat jenderal partai (politbiro), yang hanya terdiri atas 50an orang. Bandingkan dengan sistem pasar, di mana di dalamnya begitu banyak pedagang, penjual, dan pembeli samasama memutuskan yang mana paling mengun tungkan.

ada jutaan orang setiap hari mengambil keputusan; jutaan ke putusan berdasarkan kepentingan diri masingmasing. Dan pa radoksnya lagi, sistem yang sangat bebas ini justru yang sangatteratur.Iadinamis,fleksibel,cepat.Dansepertiyangdik atakanFriedrichHayek,seorangfilsufasalAustriayangpernahmen dapat hadiah Nobel Ekonomi, sebenarnya kepentingan diri yang dicerminkan oleh harga yang mau kita bayar itulah yang akhirnya membuat sistem yang luarbiasa, yang di dalam nya jutaan orang berinteraksi tanpa saling mengenal.

Sistem yang liberal itu tak perlu dikhawatirkan bakal menimbulkan kekacauan. Sebab yang terjadi adalah kekacauan yang kreatif atau situasi dinamis yang sangat kreatif (a very creative and dynamic situation). Lihatlah ekonomi amerika atau hongkong yang begitu dinamis, tetapi begitu cepat men jamin kesejahteraan rakyat. Dalam hal ini ada satu elemen yang membuat perdagangan juga penting dari segi moral dan segi ke budayaan. Ini sudah dikatakan dua abad yang lalu oleh Montesquieu,seorangpemikirPrancis.

Dulu orang menganggap bahwa perdagangan itu membuat orang serakah, materialistis, dan sebagainya. tetapi, kata Montesquieu, sebelum tumbuhnya sistem perdagangan ataupertukaran modern, yang terjadi justru adalah perang suku, perang etnis, perang agama. Orang jadi terkucil oleh perbe daanperbedaan yang bersifat nilai dan keyakinan. tetapi di pasar, di mana ada penjual dan pembeli, yang penting harganya cocok. Entah penjualnya orang arab, yahudi, atau Cina, kalau har ganya cocok kita beli. artinya, sebagai sistem, pertukaran yang didasarkan pada kepentingan tersebut sebenarnya membuat manusia menghilangkan prasangka. Jadi kalau model pertukaran ini menjelma menjadi sistem sosial, atau menopang sis tem sosial, maka pada dirinya sendiri sistem ini ti dak mengan dung bias prejudice, yang telah turuntemurun diwarisi oleh masyarakat manusia. Itulah salah satu pengaruh penting sis tem pertukaran yang kita sebut sebagai perdagangan modern.

Di dalam kehidupan ini memang ada banyak elemen. Kita juga tidak bisa berkata bahwa sistem pertukaran ini akan merem bes ke manamana, ke semua aspek kehidupan. Orang masih kembali ke agama, etnik, daerah, bahkan ada yang di sebut sebagai nation state. Ini semua bercampuraduk. tetapi yang ingin saya tegaskan di sini adalah bahwa kita ingin melihat ind ividualisme dalam berbagai macam manifestasinya. Kita tidak bisa dengan sederhana berkata bahwa individualisme itu antimasyarakat, antikepentingan umum atau egois. Ini sebuah pa ham modern yang menurut saya menjadi salah satu dasar dari suksesnya masyarakat modern. Jadi janganlah paham ini di pandang secara sangat simplistis. Ia berhubungan dengan ber bagai macam hal dan justru menjadi salah satu kekuatan konstruktif yang progresif dalam kebudayaan dan kehidupan masyarakat modern.

Kita kemudian teringat pada Francis Fukuyama, yang bilang bahwa sejarah sudah berakhir. tentu yang dia maksud bu kan sejarah dalam arti kronologis, tapi sejarah dalam arti pertarungan gagasan, antara sistem demokrasi liberal dengan kom unisme. Dengan runtuhnya komunisme, maka demokrasi li beralyang merupakan abstraksi atau perluasan paham individualismemenjadi pemenang, dan sejarah berakhir. Ide Fukuyama ini memang masih terlalu abstrak. tapi pada das arnya dia ingin berkata bahwa pada akhirnya sistem ma sya ra kat yang ingin kita buat, setelah berputar ke manamana dan melakukan macammacam percobaan, akhirnya membuat kita kem bali ke kearifan lama yang benar, yang kebetulan dia namakan kapitalismeliberal. Dasarnya adalah penghargaan pada ke daulatan individu, pada kebebasan masingmasing orang untuk memilih. Kalau anda pakai paham itu, anda bikin sistem itu, tentu namanya kapitalismeliberal, tidak bisa lain.

Mereka yang hidup dalam sistem itu punya kebebasan, punya kehendak untuk bebas. Itulah yang menjadi motor perubahan. Ke sanalah arah sejarah. Masyarakat yang masih mema kai sistem yang di dalamnya ada perbudakan, misalnya, suat u saat akan hilang. Budakbudak itu akan merdeka. Mereka akan merdeka, dalam arti akan menentukan kehendaknya sendiri, menjadi tuan bagi dirinya sendiri.

Itulah yang dikatakan Fukuyama. Dan kita sulit menyebut bah wa dia keliru.