Keluarga besar saya, baik dari garis ayah maupun ibu, sangat rukun dan saling memperhatikan, saling peduli, saling menolong dalam situasi dan kondisi apa pun. Keluarga besar saya, baik dari garis ayah maupun ibu, adalah orang-orang yang sangat menghargai kejujuran, semangat belajar dan keliatan mental dalam menghadapi dan mengelola kehidupan. Keluarga besar saya sangat menghargai pencapaian intelektual dan eksplorasi yang memungkinkan perkembangan dan peningkatan kualitas berpikir. Generasi muda dalam keluarga kami selalu didorong untuk mencintai buku, senang berdiskusi dan berani menuliskan pikiran-pikiran kami.
Delapan belas tahun yang lalu, saya mengalami kecelakaan lalu lintas yang sangat parah, kedua tangan dan kaki saya patah. Saya duduk di SMA kelas 3, ketika itu. Suatu pagi, dalam perjalanan ke sekolah dengan motor CB saya, sebuah truk yang melaju kencang menerjang saya dari arah depan. Hampir tiga bulan saya dalam keadaan tidak sadar di rumah sakit.
Setelah saya sadar, hanya kepala saya yang bisa digerakkan. Kemudian saya diberi tahu bahwa paha kanan saya hancur dan tulang kering kaki kiri saya berlubang tertusuk besi. Siku tangan kiri saya lepas dari persendian sehingga harus dioperasi supaya minimal bisa difungsikan seperti layaknya tangan. Sementara tangan kanan saya patah pada pergelangan dan retak pada tulang telapak tangan. Tetapi yang paling parah, ternyata ada kerusakan pada saraf motorik dan sensorik pada tangan kanan saya sehingga setelah berbulan-bulan, ketika kedua kaki dan tangan kiri sudah bisa digerakkan, tangan kanan saya tetap tidak bisa digerakkan sama sekali. Bahkan akibat kerusakan saraf sensorik, tangan kanan saya tidak bisa merespons setiap sentuhan yang diberikan meski sudah dilakukan fisioterapi sampai berpuluh kali.
Setelah saya sadar dari koma itu, saya merasakan nyeri yang hampir tanpa henti di tangan kanan saya. Tidak terasa bila disentuh, tetapi di dalamnya terasa sangat nyeri. Begitu nyerinya, sehingga saya berharap akan lebih baik jika saya tidak sadar lagi. Tetapi tidak demikian yang terjadi. Saya tetap sadar, tangan kanan saya tetap tidak bisa difungsikan dan selama 18 tahun ini rasa nyerinya juga hampir tidak pernah berhenti.
Perihal rasa nyeri itu sudah saya sampaikan berulang kali kepada semua dokter yang pernah menangani saya. Dokter di RS PKU Muhammadiyah, RS Bethesda, RS Panti Rapih, bahkan pada belasan atau pengobat alternatif yang saya datangi. Tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang memberikan tanggapan serius. Tidak ada yang mau memahami bahwa rasa nyeri yang saya rasakan di tangan kanan ini benar-benar menyiksa dan bahkan pada saat-saat tertentu, rasa nyeri itu mampu meluluhlantakkan semangat hidup saya. Kepada beberapa teman dekat, saya sempat mengeluh dan meminta pertimbangan seandainya saya mengamputasi saja tangan kanan saya. Tetapi seperti juga mereka, saya sendiri merasa ragu, apakah rasa nyeri itu akan hilang bersama hilangnya tangan kanan saya.
Beberapa dokter yang memiliki kewenangan meresepkan obat-obat "keras", akhirnya memberikan kepada saya resep-resep obat yang mengandung analgesik dan anti depresan. Karena begitu tingginya intensitas nyeri yang saya rasakan, mau tidak mau saya harus mengonsumsi obat-obat itu dalam intensitas yang sama dengan nyeri kronis yang saya rasakan. Akibatnya, beberapa obat bahkan menjadi tidak lagi berefek terhadap rasa nyeri saya itu.
Namun bukan itu saja yang menjadi persoalan. Obat-obat kimiawi resep dokter itu lama-kelamaan saya rasakan sebagai racun yang malah berdampak buruk bagi tubuh saya. Sejak saya mengonsumsi obatobat kimia itu, saya menderita gangguan lambung, nyeri pada ginjal dan ulu hati, tekanan darah yang melonjak tinggi, dan bahkan saya pernah merasakan sesak napas yang sangat parah sebagai akibat gangguan fungsi jantung. Saya berusaha mencari tahu apa penyebab berbagai penyakit tambahan pada tubuh saya itu, baik lewat browsing di internet ataupun bertanya kepada teman-teman yang menjadi dokter. Dan ternyata itu semua adalah dampak dari obat-obat kimia yang saya konsumsi.
Sebenarnya saya tidak perlu menderita berbagai rasa sakit tambahan di lambung, ginjal, ulu hati, bahkan pada lever dan jantung, seandainya saya bisa mengonsumsi ganja secara rutin dan leluasa. Saya mengenal ganja sejak tahun 1996, dua tahun setelah kecelakaan parah yang saya alami itu. Dan yang membuat saya heran pada masa-masa awal itu adalah, saya bisa merasa rileks. Bagi penderita nyeri kronis seperti saya, kondisi rileks itu sangat berarti. Setiap saat saya selalu merasakan ketegangan pada otot-otot di sekitar leher, punggung, juga pinggang. Ketegangan pada otot-otot itu disebabkan karena secara refleks, saya dan otot-otot saya itu harus selalu bersiap siaga menahan sengatan rasa nyeri yang datang setiap saat. Tetapi yang paling berarti bagi saya adalah sengatan rasa nyeri pada tangan kanan saya mulai menurun intensitasnya.
Jika digambarkan, yang terjadi pada tangan kanan saya adalah rasa seperti kesemutan yang terusmenerus. Setidaknya setiap dua puluh atau tiga puluh menit, rasa kesemutan itu meningkat secara konstan dan kemudian rasa nyeri yang menyiksa itu datang seperti sengatan listrik. Biasanya muncul dari bawah ketiak atau lengan bagian atas dan merambat ke bawah sepanjang tangan hingga ujung-ujung jari.
Sengatan rasa nyeri tersebut akan bertahan selama beberapa detik hingga satu menit. Setelah itu akan berkurang secara perlahan dan kembali pada kondisi seperti kesemutan lagi. Meskipun hanya beberapa detik hingga satu menit pada setiap kemunculannya, namun rasa sakitnya sangat menyiksa dan bahkan menimbulkan trauma. Barangkali trauma itulah yang menyebabkan otot-otot leher, punggung, dan pinggang saya hampir selalu dalam kondisi tegang karena mengantisipasi datangnya rasa nyeri menyengat yang bisa datang setiap saat.
Karena itu, saat saya menggunakan ganja pada masa awal-awal itu, 16 atau 17 tahun yang lalu, saya benar-benar merasakan kelegaan yang luar biasa. Rasa nyeri saya mulai berkurang, akibatnya otot-otot leher, punggung, dan pinggang saya tidak tegang, Saya bisa tidur dengan tenang dan sakit di kepala karena nyeri dan ketegangan otot-otot leher hilang, Jika saat ini saya mengingat kembali masa-masa itu, saya benarbenar merasa perlu bersyukur kepada Tuhan karena telah menciptakan tanaman yang begitu hebat dan sangat bermanfaat bagi kesehatan. Saya juga sangat berterima kasih kepada teman-teman saya yang telah memperkenalkan ganja kepada saya.
Saya benar-benar merasa sangat terbantu dengan mengonsumsi ganja. Antara tahun 1996 hingga sekitar tahun 2001, saya merasa seperti orang normal. Saya bisa lagi merasakan nyaman dan bersemangat dalam mengerjakan hampir segala sesuatu. Itulah masa di mana saya mengonsumsi ganja hampir setiap hari dengan rata-rata 3-5 linting setiap harinya. Rasa nyeri di tangan kanan saya menurun dengan sangat drastis, sampai pada level yang hampir-hampir tidak berarti. Rasa nyeri tetap ada, tetapi intensitasnya sangat jauh berkurang dan rasa sakit yang ditimbulkannya tidak lagi menyiksa.
Sejak itu saya rajin mencari informasi tentang ganja melalui berbagai sumber. Maksud saya adalah untuk mencari tahu, apakah rasa nyaman yang saya rasakan sebagai penderita nyeri kronis itu memiliki dampak buruk pada kesehatan saya, seperti jika saya mengonsumsi obat-obat kimiawi resep dokter.
Semakin saya mencari tahu tentang ganja, saya semakin heran. Ternyata ada dua pendapat yang sangat bertentangan. Pendapat pertama bisa digolongkan sebagai "pendapat resmi" atau "pendapat dominan". Pendapat golongan ini menyatakan bahwa ganja adalah jenis narkotika berbahaya yang menimbulkan adiksi, menyebabkan kerusakan permanen pada sistem saraf otak, menyebabkan sesak napas, menjadi malas atau kehilangan motivasi, bahkan dikatakan menyebabkan kematian. Dikatakan juga bahwa ganja tidak memiliki kegunaan medis sama sekali.
Saya menyebutnya sebagai pendapat "resmi" karena informasi-informasi tentang ganja tersebut disebarkan oleh lembaga-lembaga resmi negara (Kepolisian, Departemen Kesehatan), buku-buku resmi farmasi dan kedokteran, dan semua itu tampaknya bersumber dari Lembaga PBB, yaitu WHO. Karena dikeluarkan oleh lembaga-lembaga yang memiliki otoritas membentuk "kesadaran resmi", maka pengetahuan dan pemahaman tentang ganja itu menjadi "pendapat umum".
Pendapat yang kedua adalah pendapat yang bisa digolongkan sebagai "pendapat minoritas" atau "pendapat tidak resmi" atau "pendapat bawah tanah". Pendapat ini beredar secara terbatas di wilayahwilayah yang tergolong "pinggiran"; komunitas-komunitas musik, seniman, dan budayawan tertentu, beberapa aktivis LSM maupun gerakan mahasiswa, beberapa dokter, dosen, wartawan, dan beberapa orang yang bisa dikategorikan intelektual, maupun kelompok-kelompok hobi.
Pendapat-pendapat golongan ini menyatakan bahwa ganja adalah tanaman yang memiliki begitu banyak manfaat dan kegunaan bagi kehidupan manusia. Namun, meski pendapat ini tergolong sebagai "pendapat bawah tanah", tak urung beberapa fenomena sempat muncul juga ke permukaan dan mengganggu kemapanan "pendapat resmi" dari "rezim pembentuk kesadaran".
Sebagai permisalan, pada awal tahun 2000 ada sebuah kejadian di London, Inggris, di mana seorang dokter saraf dengan nekat mencegat Ratu Elizabeth ketika sang Ratu turun dari mobil. Kemudian di hadapan wartawan dan banyak orang, dokter itu memberikan karangan bunga dan mengalungkannya di leher sang Ratu. Pada karangan bunga itu, si dokter menempelkan sepucuk surat. Ketika para pengawal Ratu Elizabeth memeriksa karangan bunga tersebut, mereka terkejut. Karangan bunga itu adalah karangan bunga dari daun ganja, sedangkan isi dari suratnya adalah permohonan agar demi kepentingan pengobatan, ganja dilegalkan di Inggris Raya.
Kejadian tersebut sangat mendapat perhatian yang luas di berbagai media di dunia, termasuk sebuah surat kabar harian terkemuka di Indonesia.
Setelah tahun 2002, keadaan menjadi semakin sulit. Saat itu semakin banyak teman saya yang ditangkapi oleh unit-unit anti-narkotika, dengan tuduhan sebagai pengguna maupun pengedar ganja. Akibatnya, semakin sulit bagi saya mendapatkan ganja. Namun, saya tetap bersyukur karena meskipun sulit saya masih tetap bisa mendapatkannya. Walaupun sering kali saya harus berhenti dalam waktu yang cukup lama. Tetapi bahkan pada periode itu, saya tidak pernah berhenti selama lebih dari dua bulan. Dan hal tersebut berlanjut terus hingga pertengahan tahun 2006.
Pada tahun itu, setelah kejadian gempa Yogya, saya ditangkap oleh unit anti-narkotika Polda DIY. Saya dikenakan pasal sebagai pengguna dan kemudian dijatuhi dengan vonis 14 bulan penjara. Itulah awal masa yang berat dan menyiksa bagi saya. Banyak hal yang sudah saya agendakan menjadi hancur berantakan. Namun, yang membuat saya merasa tersiksa, rasa nyeri di tangan kanan saya mulai sering kambuh. Sejak berada di tahanan Polda DIY hingga menjalani hukuman di LP Cebongan dan kemudian dipindah ke Wirogunan, rasa nyeri kronis pada tangan kanan saya kembali meningkat intensitasnya maupun kualitas rasa sakitnya. Penyebabnya tentu saja karena situasi penjara yang penuh tekanan psikologis maupun berbagai aktivitas fisik yang tidak proporsional.
Setelah saya bebas tahun 2007, situasi dan kondisi yang saya hadapi menjadi semakin sulit. Pada masa itu semakin sulit mendapatkan ganja, sementara kondisi tangan kanan saya semakin buruk. Intensitas rasa nyerinya semakin meningkat sampai level yang dalam ingatan saya mendekati rasa nyeri pada masa awal setelah kecelakaan itu.
Karena begitu sulit mendapatkan ganja, ma-ka demi meredakan rasa nyeri itu, saya kembali mengonsumsi obat-obat resep dokter dengan risiko berbagai gangguan organ dan kesehatan. Memasuki pertengahan 2010, saya benar-benar sudah tidak tahan. Obat-obatan kimia resep dokter itu semakin lama semakin terasa mengerikan dan rasa nyeri di tangan kanan saya semakin tidak tertahankan. Awal 2011 saya mengalami gangguan pernapasan yang sangat parah, dan ulu hati serta lambung dan ginjal saya kembali terasa nyeri.
Saat itu saya membayangkan seandainya saya bisa bertemu dengan teman-teman lama, para pengguna ganja, saya akan memohon kepada mereka untuk membantu saya mendapatkan ganja lagi. Terutama supaya saya bisa segera beraktivitas dengan leluasa seperti dulu untuk mengejar target menyelesaikan buku. Rupa-rupanya Tuhan mendengar harapan saya. Menjelang akhir April 2011, saya bertemu dengan seorang teman lama, pengguna aktif ganja. Dengan bantuannya, saya bisa kembali mendapatkan ganja dengan cukup rutin.
Saya kembali bisa beraktivitas dengan leluasa tanpa terbebani rasa sakit. Saya bisa menjalankan semua aktivitas saya dengan lebih produktif. Saya bisa leluasa bepergian untuk bertemu dengan orangorang yang harus saya wawancarai untuk buku saya dan mengumpulkan data-data yang saya butuhkan. Akhirnya, buku yang saya rencanakan berhasil saya selesaikan. Sekali lagi, ini membuktikan bahwa ganja sangat membantu dalam meningkatkan produktivitas saya, bertentangan dengan yang digembargemborkan dalam kampanye anti-narkotika.
Apa yang terjadi pada pribadi saya dan temanteman yang dengan berani memberikan kesaksiannya tentang ganja dalam buku ini hanyalah segelintir kasus. Kami yang bersaksi ini menggunakan ganja bukan untuk bersenang-senang atau karena frustrasi dan putus asa menghadapi tantangan dan persoalan hidup. Yang terjadi pada kami justru sebaliknya. Kami sangat mencintai dan menghargai hidup yang dianugerahkan Tuhan ini.
Tapi dalam perjalanan hidup kami, kami mengalami nasib yang mungkin agak berbeda dengan orang lain. Kami menderita sakit (setidaknya 6 orang dari yang bersaksi ini, Pak Eko, Abdul Majid, Anugerah, Fitra, Afat, dan saya) dan kami bersaksi bahwa obat-obatan kimia yang diresepkan dokter tidak menyelesaikan masalah kami. Kami menggunakan ganja karena kami sudah benar-benar merasakan bahwa ganja adalah "obat" yang murah dan aman.
Jika kesehatan adalah bagian dari Hak Asasi Manusia, maka seharusnya hak kami untuk memilih dan mendapatkan pengobatan yang sesuai bagi kami harus dihargai dan dilindungi. Sungguh aneh, bahkan kejam dan tidak masuk akal, jika orang yang berjuang melawan rasa sakit ataupun mencari kesembuhan justru ditangkap dengan sewenang-wenang kemudian dijebloskan ke dalam penjara dan bahkan dipandang sebagai penjahat yang meresahkan.
Kami yang menggunakan ganja tidak sedang merusak diri sendiri. Kami menggunakan ganja justru karena kami menghargai hidup yang dianugerahkan Tuhan.