Karena berbagai kesamaan itulah, warga kedua desa merasa se- perti saudara. Bukan rahasia lagi jika mereka punya budaya yang i ntim, seperti misalnya saling menikahkan antarpenduduk desa, gadis Ensifera dijodohkan dengan pemuda Wintersia, ataupun se-baliknya. Tak pernah dikenal kisah-kisah tragis semacam Romeo dan Juliet di sana.
Kehidupan harmonis itu memang telah berlangsung turuntemurun, sampai suatu hari, beberapa warga Ensifera menemukan lembaran catatan yang terkubur di tanah dekat patung Galopa yang berdiri di depan gapura desa. Catatan itu tersimpan dalam kotak besi yang tak bisa hancur meski terpendam puluhan tahun. Atas izin k epala desa, catatan itu pun dibuka, dan ternyata ditulis dengan huruf Celtic kuno.
Seperti catatan sejarah yang hilang.
Ya. Ini huruf nenek moyang kita.
Tidak adakah penduduk yang masih bisa membacanya
Sepertinya tidak ada. Kita harus ke kota, mencari ahli pembaca huruf kuno.
Begitulah kemudian mereka membawa catatan itu ke Universitas Korpiklaani untuk diperiksa. Dua hari kemudian, para pakar bahasa di universitas itu berhasil menerjemahkan catatan tersebut dan memberikan hasilnya pada pemimpin Ensifera, di antaranya hasil terjemahannya adalah seperti ini:
Januari 1856
Desa Ensifera semakin kacau, pengaruh buruk Miden si penyihir jahat dari Wintersia membuat kami semakin menderita, ia membuat tanah per-tanian menjadi gersang, sungai kering, dan matahari terasa lebih panas dari biasanya. Sudah lama kami ingin membunuhnya. Namun warga Wintersia selalu menghalangi, Miden telah menyihir seluruh warganya menjadi pe-ngikut setia dengan cara memberi mereka hujan emas dan tanah subur. Desa Wintersia kaya akan emas, sedangkan desa kami kaya akan jerit tangis. Se mentara Galopa, ketua kami, masih belum turun dari gua semadinya di bukit busur, ia masih harus menyempurnakan kesaktiannya dengan mengumpulkan seratus gigi wanita perawan. Padahal wanita perawan mulai langka saat ini.
Maret 1856
Korban terus berjatuhan, anak-anak Ensifera kelaparan karena tak ada yang bisa dimakan, lumbung kosong, sumur-sumur berdebu, orang-orang menjerit dan menggelepar begitu saja di jalan-jalan. Setiap malam kami tak bisa tidur karena suara tawa penyihir Miden. Entah rumus sihir apa yang dibuatnya sehingga bisa membuat kami seperti tak punya harapan hidup sama sekali, orang-orang Wintersia selalu bengis, lebih baik mati daripada dipaksa menarik napas seperti ini.
Juni 1856
Akhirnya Galopa turun gunung juga, ia memakai kalung berupa rangkaian seratus gigi wanita perawan yang berhasil dikumpulkannya. Harapan kami untuk hidup normal muncul lagi ketika suatu pagi Galopa menantang Miden untuk adu kekuatan, keduanya bertemu di batas desa. Kami semua ha dir untuk melihat pertarungan itu, begitu pula warga Desa Wintersia, mereka telah berkumpul, berdiri dengan perhiasan yang gemilang, berbaris di belakang Miden. Pertarungan itu sendiri tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, kami hanya melihat kelebat cahaya, suara tawa, suara jerit, kelebat cahaya lagi, suara tawa lagi. Namun ternyata Galopa tumbang, ia kalah. Sejak saat itu, hidup kami jadi semakin buruk, lebih buruk dari mati.W argaW intersia memperbudak kami. Kami hanya berharap, kelak ada anak keturunan kami yang akan membalas dendam.
Penduduk Ensifera terkejut dengan catatan itu.
Tak disangka, patung Ratu Miden yang dibanggakan penduduk Wintersia ternyata seorang penyihir jahat yang menindas nenek moyang kita.
Tiba-tiba, ada sesuatu yang tumbuh cepat di dada-dada mereka...
Sementara itu, karena keindentikannya, penduduk Wintersia juga menggali tanah di sekitar patung Ratu Miden, penggalian itu berlangsung seharian, hingga menjelang petang, mereka juga me nemukan kotak hitam tertimbun tanah, setelah diangkat dan dibuka, ternyata juga berisi beberapa lembar catatan yang tertulis dengan huruf Celtic kuno.
Segera mereka membawa catatan itu ke Universitas Korpiklaani, dua hari kemudian, mereka menerima hasilnya, di antaranya adalah seperti ini:
Galopa benar-benar seorang kanibal, ia suka memakan manusia, terutama wanita, Galopa suka menyisakan gigi mereka sebagai perhiasan, lebih parah lagi, ia memakan korbannya pakai garpu. Galopa adalah makhluk paling buruk yang tak pantas diceritakan di sejarah mana pun, dia terlalu sadis dan tak mengandung pesan moral sama sekali. Dibantu penduduk Ensifera, ia suka menculik perawan-perawan desa kami untuk dijadikan tumbal. Gadis-gadis kami diculik tengah malam dan tak pernah kembali. Penduduk Ensifera sangat memujamuja Galopa, sementara kami tak bisa melakukan apa-apa, setiap kali ada kelahiran anak perempuan, mereka merampasnya. Sampai suatu hari Miden pulang, ia adalah seorang wanita yang berjanji hendak memperjuangkan nasib kami.
Miden lama merantau demi belajar sihir Mediterania. Untuk meng hentikan penindasan Galopa, ia mendatangi gua tempatnya bersemadi, kami tak bisa membantunya karena penduduk Ensifera menjaga jalan desa mereka dengan pedang dan perisai, sementara Miden bisa terbang seperti burung.
Akhirnya, teriring doa dari kami, Miden berangkat pada suatu pagi untuk membunuh Galopa. Namun apa yang terjadi, Galopa me ngalahkannya, bahkan ia menjadikan gigi-gigi Miden sebagai penyem purna kesaktiannya. Begitulah kami menjadi putus asa dan sakit hati, penduduk Ensifera menjajah desa kami, mengambil hasil bumi dan anak-anak kami. Semoga kelak ada di antara anak keturunan kami yang mau membalas dendam terhadap mereka.
Penduduk Wintersia terkejut dengan catatan itu.
Jadi, patung Galopa yang dipuji-puji itu ternyata seorang kanibal yang suka makan pakai garpu Keterlaluan! Masing-masing catatan tersebut cepat menyebar di tiaptiap penduduk desa, kecurigaan mulai terjadi. Rapat rutin antarkedua desa yang biasanya sangat harmonis, tiba-tiba menjadi tegang.
Dasar keturunan penyihir!
Dasar kanibal!
Penduduk Ensifera dan Wintersia mulai saling melontar cacian, begitu pula kedua kepala desa bahkan enggan berjabat tangan. S u asana semakin panas. Hingga akhirnya, beberapa provokator berhasil membuat dua desa itu benar-benar bertikai, hubungan diplomatis diputuskan, pasangan-pasangan diceraikan, anak hasil adopsi d i-kembalikan, pertukaran pelajar dibatalkan. Jalan perbatasan seperti medan pertempuran selalu terlihat lemparan batu, hujan anak panah, lontaran peluru api dari batok kelapa yang dibakar, bahkan tak jarang orang-orang maju mengorbankan nyawa mereka.
Kita tidak menyangka selama ini warga Ensifera memujamuja seorang kanibal.
Kita benar-benar heran bagaimana mungkin penduduk Wintersia menyanjung-nyanjung penyihir jahat!
Begitulah, sejak saat itu, mereka terus saja bertikai, tawuran menjadi rutin, korban demi korban berjatuhan seperti gugur hujan. Mereka tidak lagi peduli bagaimana catatan itu bisa berbeda cerita, mereka tak ambil pusing tentang catatan siapa yang berdusta, itu t idak penting. Perundingan demi perundingan selalu berakhir de ngan kegagalan, perwakilan desa yang datang membawa perjanjian damai selalu kembali dalam keadaan teriris hidungnya.
Jangan pernah lagi menampakkan batang hidungmu di desa kami!
Sementara itu, jauh sebelum tahun 1856...
Di bawah rimbun pepohonan dan matahari senja,
Galopa, aku pulang dulu, ya, kata gadis itu pada kekasihnya.
Baiklah, Miden. Besok kita bertemu di sini lagi.
Ya. Kita tulis dongeng lain pakai nama kita.
Dongeng yang jahat, ya.
Tentu saja. Dongeng buatanku pasti lebih jahat dari buatanmu. Sepasang kekasih itu tertawa.
Keduanya pun berpisah, diiringi guguran daun-daun tua, gadis itu melangkah ke arah barat, sementara kekasihnya berjalan ke timur. Di tangan keduanya ada beberapa lembar kertas berisi cerita hasil karangan mereka berdua.
Cerita yang kelak akan dibaca begitu saja sebagai sebuah sejarah yang nyata.