keabadianku, mungkin benar.
Tapi aku lebih suka menyusun kefanaanku dengan belajar
mencintaimu.
Karena betapa mencintaimu selalu menyakitkan sekaligus
membahagiakan.
Karena betapa kerling matamu membakar sekaligus
menyegarkan.
Karena betapa lesung pipimu menyesatkan sekaligus
mengarahkan.
Karena betapa engkau air sekaligus api. Surga sekaligus
neraka.
Karena betapa aku senantiasa berada di garis antara.
Tak benar-benar menjejak, namun senantiasa kau anggap
ada.
(Naimata, 2012)