MEMORIA - 90
Bahwa dengan mendoakan kebahagiaanmu, aku memulai

keabadianku, mungkin benar.

Tapi aku lebih suka menyusun kefanaanku dengan belajar

mencintaimu.

Karena betapa mencintaimu selalu menyakitkan sekaligus

membahagiakan.

Karena betapa kerling matamu membakar sekaligus

menyegarkan.

Karena betapa lesung pipimu menyesatkan sekaligus

mengarahkan.

Karena betapa engkau air sekaligus api. Surga sekaligus

neraka.

Karena betapa aku senantiasa berada di garis antara.

Tak benar-benar menjejak, namun senantiasa kau anggap

ada.

(Naimata, 2012)