Demokrasi amerika menjadi semakin hidup. hillary Clinton telah membuka kemungkinan bagi sebuah sejarah baru, presiden perempuan pertama di negeri Paman Sam. Kini Obama juga menjanjikan hal yang sama: presiden kulit hitam pertama di negeri yang sama.
Konvensi Partai Demokrat dan pemilu presiden memang masih setahun lagi, tapi sejak saat ini pun daya tarik kompetisi politik yang dilakoni oleh tokohtokoh menarik dan berbakat (di Partai Republik ada Rudy Giuliani, pahlawan peristiwa 9/11, dan John McCain, pahlawan Perang Vietnam) sudah mulai men curi perhatian publik.
Di kalangan Partai Demokrat sendiri, kemunculan Obama tak urung membuat kubu hillary Clinton kalang kabut. Semula senator dari New york dan mantan First Lady ini dianggap se bagai kandidat teratas. akan tetapi, sekarang posisi itu mulai goyah, dan momentum politik beralih ke Obama.
Obama yang melewati masa kecilnya di Indonesia ini (dia menyebut dirinya sebagai Jakartas street kid) sekarang sedang menunggangi gelombang pasang yang terus membawanya ke posisi yang semakin tinggi. Di mana letak kekuatan superstar baru ini
Sama dengan Bill Clinton dan Ronald Reagan sebelumnya, Obama memiliki kemampuan sebagai orator dengan pribadi yang karismatik. Kefasihan dan caranya berbicara, tekanan suaranya, tatapan matanya, gerak tubuhnya: semua elemenelemen dasar ini saling memperkuat dan memunculkan citra seorang pemimpin yang sungguhsungguh, kredibel, menawan, dan membangkitkan simpati serta harapan sekaligus. Kekuatan ka risma inilah yang melembutkan kritik yang banyak ditujukan terhadapnya sebagai seseorang yang masih hijau dalam panggung pemerintahan.
Selain itu, pengalaman hidupnya juga merupakan ma nifestasi the American Dream itu sendiri. Sama seperti Colin Powell, dari keluarga menengah bawah Obama berhasil meniti tangga sukses menjadi senator kulit hitam ke3 dalam sejarah aS, setelah sebelumnya menjadi dosen di universitas Chicago, senator di Negara Bagian Illinois, dan presiden dari jurnal bergengsi, Harvard Law Review, sewaktu ia masih belajar di universitas harvard, salah satu perguruan tinggi terbaik di aS. Pu blik amerika mudah jatuh hati pada cerita sukses semacam ini, apalagi oleh seorang anak muda kulit hitam yang tak suka mengeluh dan menyalahkan situasi di sekelilingnya, termasuk sejarah perbudakan di amerika.
Penulis Besar
tidak kurang dari semua kelebihan yang dimilikinya, daya tarik Obama terletak pada ideide yang dilontarkannya dan kemam puannya sebagai seorang penulis. Memoar yang ditulisnya sepu luh tahun lalu, Dreams from My Father, tentang masa
BARACK OBAMA: SUPERSTAR POLITIK JALAN TENGAH 615
kecilnya hing ga menyelesaikan kuliahnya, tentang keluarga dan lingkung an dekatnya di Chicago, kini menjadi bestseller dan oleh kolumn is terkenal majalah Time, Joe Klein, dianggap sebagai salah satu memoar terbaik yang pernah ditulis seorang politisi ame ri ka. Dengan memoar semacam ini, jika Obama tidak meniti karier di dunia politik, barangkali ia tetap bisa tumbuh dan meng ukir nama harum sebagai salah satu penulis besar amerika.
Bukunya yang terbaru, The Audacity of Hope, dalam waktu singkat juga telah menempati posisi bestseller. Sama dengan Dreams, dalam buku ini kita bisa melihat betapa Obama memiliki sensibilitas yang tinggi terhadap dimensidimensi manusiawi dari setiap persoalan yang ditemuinya. Ia sangat peka terhadap ironi dan tragedi dalam interaksi sosial, serta mampu menceritakan semua itu dalam penuturan yang sederhana namun cerdas dan mengalir mengenai orangorang yang pernah bersentuhan dengannya.
Namun, berbeda dengan buku sebelumnya, kali ini Obama menulis tentang dunia kebijakan, politik, masalah sosial, agama, hingga hubungan internasional. Ia menulis dengan mata yang tertuju pada Gedung Putih, dan karena itu menawarkan sebuah platform kebijakan dari seorang kandidat presiden. Dan, dalam melakukannya, ia tidak terjebak dalam analisisanalisis yang kering, tetapi membingkainya dengan anekdot, ce rita, dan ungkapanungkapan yang memberi jiwa pada analisisanalisis tersebut.
Di situlah terletak salah satu kekuatan buku ini. Setiap persoalan politik atau isu kebijakan selalu dimulai dan diakhiri dengan cerita tentang manusia, tentang kepedihan dan harapannya, tentang kekuatan dan kelemahannya. Di sini ia mem perlihatkan bahwa dunia politik dan kebijakan tidak berada di ruang hampa, tetapi berhubungan langsung dengan nasib dan kehidupan manusiamanusia yang riil.
Politik Jalan Tengah
Dari segi substansi dan spektrum ideide yang ditawarkannya, Barack Obama bisa digolongkan sebagai politisi moderat dari tradisi liberal amerika. atau secara lebih sederhana ia bisa disebut sebagai the third way politician, politisi jalan tengah dalam tradisi yang telah dirintis Bill Clinton dan tony Blair. hal inilah yang membedakan Obama dengan banyak politisi kulit hitam yang cenderung memilih garis ekstrem, baik di kiri (Jesse Jackson) maupun di kanan (alan Keyes).
Dalam membangun ekonomi amerika, ia mengakui pentingnya peran mekanisme pasar, namun ia tetap ingin mengembangkan peran negara yang sehat dan efektif. Dalam kehidupan ke agamaan, ia bisa bersimpati terhadap kaum konservatif, namun ia mengerti betul bahwa tradisi sekularisme amerika adalah tradisi sakral yang harus terusmenerus diperkuat. Dalam menjembatani perbedaan kaum Demokrat dan kaum Republikan, ia ingin membangun a vital center, sebuah konsensus bersama yang mempertemukan secara kreatif pandanganpandangan yang bertentangan.
hampir dalam setiap isu, hal semacam itulah yang kita
te mui dalam buku setebal 375 halaman ini. Intuisi Obama adalah mencari moderasi dan jalan tengah. Ia ingin merangkul se ba nyak mungkin kalangan. untuk itu, ia bahkan sanggup men c ari keb enaran pada lawanlawan politiknya dan mengakui bah wa kaum Republikan seringkali memiliki pandangan yang lebih baik.
Kaum pengkritik Obama barangkali dapat menemukan titik lemah dalam pandangan dan intuisi seperti itu. Sebagian orang bisa berkata bahwa intuisi demikian sudah menjadi sebuah obsesi. Sementara sebagian lagi dapat menuduh bahwa jalan tengah bukanlah sebuah jalan ke luar, melainkan sebuah pelarian, sebuah jalan pintas untuk menghindari pilihanpilihan sulit yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin.
BARACK OBAMA: SUPERSTAR POLITIK JALAN TENGAH 617
Kritik demikian cukup mengandung kebenaran. Namun, satu hal yang jelas: Obama bukanlah seseorang yang tidak mam pu menghadapi pilihanpilihan sulit dan selalu menghindari risiko. Ia adalah salah satu dari sedikit politisi yang secara tegas menentang tindakan Bush di Irak yang waktu itu sangat populer. Sekarang, setelah Perang Irak dianggap gagal, hampir semua orang mengecam Bushtetapi pada saat awal, Obama mengambil risiko besar dengan memilih untuk melawan arus. adapun mengenai jalan tengah sebagai proposisi kebijakan, barangkali memang saat ini amerika lebih membutuhkannya. Sejarah melahirkan aktoraktornya sendiri. Setelah zaman Bush, amerika sekarang dahaga akan datangnya seorang pemimpin yang merangkul, seorang heal-maker, seorang yang sanggup membangun jembatan bagi begitu banyak perbedaan yang ada.
tentu saja, politisi yang piawai harus mampu menjawab persoalanpersoalan praktis. Seorang heal-maker harus juga sanggup menjadi seorang deal-maker. tanpa itu, ia hanya akan menjadi seorang nabi, bukan pemimpin pemerintahan. Karena itu, yang paling penting adalah akal sehat dan kemampuan untuk melihat fakta sebagaimana adanya. Jalan tengah sebagai sebuah proposisi kebijakan dalam praktiknya ternyata sangat fleksibel. Seperti yang bisa dilihat pada pemerintahan BillClinton dan tony Blair, ia terkadang bergeser ke kanan dalam isuisu ekonomi karena memang tidak ada lagi pilihan yang lebih baik dalam mengatasi persoalanpersoalan praktis untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat di zaman ini. Barack Obama pun akan melakukan hal itu jika ia memang menang da lam pemilu tahun depan. Dan mungkin, kalau membaca tulisantulisannya, ia akan melakukannya dengan lebih baik dan simpatik.
apapun, cerita tentang Obama masih akan panjang. untuk saat ini kita patut memberi selamat kepada publik amerika.
Negeri mereka seolah tidak pernah berhenti melahirkan pemimpin berbakat yang penuh inspirasi. Mereka pantas ber syukur. Dan sebagai sahabat, dari jauh kita turut bertepuk tangan.
11 Maret 2007