Menjengukkan kepalanya
Ke dalam cangkirmu.
Bertanya ia pada pucuk kelapa
Seberapa perlu gula merah
Bagi kehidupan yang tawar
Tangan petir mericiki dedaun asam
Seumpama palem engkau lambaikan
Bagi masa lalu yang anyir
Dan dosa Paskah yang sebentar.
Antena di dadaku setengah terbuka
Bersiap menampung langit
Bila kelak jatuh dari genggamanmu.
Dengan mengibaratkan amis
Pada diri yang nyeri, tak akan lagi cukup
Alasanku membubungkan uapmu.
Pelangi yang sebentar lagi kumiliki
Adalah lebat hutan dalam kepalamu
Yang hanya perlu kubersihkan dengan
Sebuah tembakan dan rasa bersalah.
Di belahan mana kutempatkan hatimu
Matahari dengan rasa sakit yang pahit
Cuaca adalah potongan-potongan kesedihan
Bagi cintaku yang sederhana padamu.
(Naimata, 2012)