MEMORIA - 91
Hujan yang manis

Menjengukkan kepalanya

Ke dalam cangkirmu.

Bertanya ia pada pucuk kelapa

Seberapa perlu gula merah

Bagi kehidupan yang tawar

Tangan petir mericiki dedaun asam

Seumpama palem engkau lambaikan

Bagi masa lalu yang anyir

Dan dosa Paskah yang sebentar.

Antena di dadaku setengah terbuka

Bersiap menampung langit

Bila kelak jatuh dari genggamanmu.

Dengan mengibaratkan amis

Pada diri yang nyeri, tak akan lagi cukup

Alasanku membubungkan uapmu.

Pelangi yang sebentar lagi kumiliki

Adalah lebat hutan dalam kepalamu

Yang hanya perlu kubersihkan dengan

Sebuah tembakan dan rasa bersalah.

Di belahan mana kutempatkan hatimu

Matahari dengan rasa sakit yang pahit

Cuaca adalah potongan-potongan kesedihan

Bagi cintaku yang sederhana padamu.

(Naimata, 2012)