DARI LANGIT - 91
KIta SEKaRaNG ini memasuki sebuah era yang dicirikan oleh internasionalisasi perekonomian domestik. hampir setiap hal penting dalam perekonomian kita sekarang ini pada dasarnya bersifat global. Dalam keadaan baru ini, karena alasanalasan yang akan segera saya jelaskan, kerjasama ekonomi di antara negaranegara besar, sampai tingkat tertentu, dikehendaki. Kerjasama ini mungkin sangat sulit diwujudkan. Namun, sebagaimana yang dikatakan oleh Kindleberger, Seperti demokrasi, kejujuran, dan pernikahan yang stabil, [kerjasama dalam kepemimpinan ekonomi] merupakan suatu hal yang lebih baik ketimbang pilihanpilihan yang ada.

Sejak 1970an, hegemoni perekonomian amerika Serikat (aS) menurun. Eropa, Jepang, dan kini NICs, serta banyak perusahaan multinasional dan entitas subnasional, telah muncul ke panggung utama ekonomi dunia. aS sekarang ini merupakan pengutang terbesar di dunia. Pada 1950an, andil uS. atas produk dunia adalah 40%, pada akhir 1980an turun menjadi hanya sekitar 22%. Setelah Perang Dunia II, aS memp roduksi 30% barang manufaktur dunia; pada akhir 1980an menurun menjadi hanya 13% (Gilpin, 1987: 344). Sebagaimana yang dijelaskan Nye (1990), meskipun tidak ada negara yang mampu menggantikan aS sebagai pemimpin ekonomi dan politik dunia, menjadi semakin jelas bahwa aS sekarang ini tidak memiliki kemampuan ekonomi maupun kehendak politik untuk memimpin dunia sendirian, sebagaimana yang dilakukannya selama masa pascaPerang.

Dalam keadaan seperti ini, kepemimpinan ekonomi dunia hanya bisa diwujudkan dengan kerjasma di antara negaranegara besar, yakni Jepang, Jerman, Prancis, Inggris, dan tentu saja, aS (G5). tanpa kepemimpinan kooperatif mereka di wi layah tertentu, stabilitas tatanan ekonomi liberal dunia kita akan sangat sulit dijaga, apalagi diperluas. Sa lah satu kunci paling penting dari pertumbuhan ekonomi dunia yang begitu besar selama tahuntahun pascaPerang adalah kepe mim pinan aS. amerika memberikan stabilitas dan li kuiditas yang sangat dibutuhkan bagi penyesuaian ekonomi negaranegara yang tercabik oleh perang agar bisa memasuki era ba ru. aS juga mengawasi terjaganya tatanan ekonomi li beral du nia dengan memperkuat, misalnya, Gatt, IMF, dan IBRD. Kini, dengan merosotnya kekuasaan aS, tinggal G5 yang bisa memberikan kepemimpinan.

Beberapa contoh bisa menjelaskan mengapa kepemimpinan kooperatif tersebut diperlukan dalam perekonomian baru dan global ini. Dalam dua dekade terakhir, Jepang dan NICs muncul sebagai pesaing besar Eropa dan aS. untuk membendung aliran masuk produkproduk manufaktur yang lebih murah dari NICs, Eropa menjalankan mekanismemekanisme merkantilis serta neomerkantilis. Dari 1980 1983, misalnya, total impor manufaktur EEC yang terkena res triksi meningkat dari 11% menjadi 13% (Gilpin, 1987: 207).

Di aS, argumenargumen neomerkantilis juga dijalankan oleh banyak pemimpin kongresterlepas dari retorika mereka tentang keunggulan perdagangan bebas, mereka mendukung proteksionisme nontarif untuk melindungi industriindustri

MASALAH KERJASAMA 621

domestik yang gagal (Ray, 1988). total impor manufaktur aS yang mengalami proteksi meningkat lebih dari dua kali lipat dari 1980 hingga 1983, yakni dari 6% menjadi 13% (Gilpin, 1987: 207).

Jika kecenderungan proteksionisme di kedua sisi atlantik ini terus meningkat hingga tak terkendali, perdagangan liberal dunia kita akan terancam, dan perang perdagangan sekali lagi akan muncul di hadapan kita.

Contoh yang lain dapat ditemukan jika kita melihat apa yang sedang terjadi dalam hubungan fiskal dan moneter diantara negaranegara besar. Jika administrasi aS memutuskan untuk merangsang output dengan perluasan fiskal, akibatnyahanyaakanmeningkatkandefisitASjikaJepangdanJermantidak memutuskan untuk memperluas instrumeninstrumen fiskalmereka.Jikaketiganegarainibersamasamamemutuskanun tuk memperluasnya, ketiganya akan menjadi lebih baik.

Jika Bundesbank memutuskan menaikkan suku bunga (seperti yang dilakukannya beberapa bulan yang lalu) untuk mengendalikaninflasidanmengkompensasibiayaunifikasiyangsangat besar, likuiditas yang lebih besar tentu saja akan mengalir ke Jerman. Namun Italia, Spanyol, Prancis, dan uK akan berteriak (seperti yang mereka lakukan satu atau dua hari setelah keputusan Bundesbank tersebut): jika mereka juga menaikkan suku bunga, persoalan utama mereka (pengangguran) akan menjadi lebih akut, namun jika mereka tetap mempertahankansukubungarendah,parainvestorfinansialakanme ninggalkan negara mereka dan terbang ke Berlin atau hamburg.

Pendeknya, hubungan moneter dalam perekonomian baru kita sangat terkait satu sama lain sehingga banyak negara, tanpa melakukan suatu kesalahan, bisa mendapatkan masalah ekonomi yang besar hanya karena keputusan moneter sebuah bank sentral. Di sini kerjasama berarti bahwa masingmasing pemerintahan setuju untuk tidak membahayakan dan menghancurkan stabilitas ekonomi satu sama lain dengan mengambil langkah moneter yang egoistik.

Jadi, kepemimpinan yang kooperatif sangat diinginkan. Masalahnya: apakah hal itu bisa dijalankan apakah mungkin negaranegara besar tersebut bersepakat menyangkut beberapa hal mendasar, dan bertindak sesuai dengan kesepakatan tersebut agar berjalan, kerjasama menuntut dikesampingkannya ke untungan ekonomi jangkapendek, jika perlu. Jika Jerman, misalnya, ingin mengeruk apapun keuntungan ekonomi yang ada di depan matanya, kerjasama tidak akan mungkin. Memang, kita masih harus melihat bagaimana, dalam watak politik dunia yang anarkis ini, pemerintahpemerintah bisa mengedepankan kepentingan semua.

Selain itu, politik nasional, seperti yang dijelaskan oleh alan Greenspan, mengharuskan kerangka waktu pemenuh an yang jauh lebih pendek ketimbang yang diperlukan untuk... kerja sa ma untuk menyerahkan keuntungan ke suatu negara.... (1988: 61). Karena itu, dorongan bagi masingmasing pem e rintahan untuk bertindak sendiri sangat besar. Inilah yang menje laskan mengapa kerjasama sejauh ini berjalan dengan baik ha nya pada masa krisis, ketika pemerintah bisa dengan jelas melihat bahwa dalam jangka pendek, jika mereka tidak bertindak bersama, mereka semua terancam bahaya.

Selain itu, agar berjalan, kerjasama menuntut masingmasing pemerintahan bersepakat menyangkut sebuah model eko nomi dan juga menyangkut pemecahan persoalan bersama mereka. Jika Jepang dan AS melihat persoalan defisit ASdengan cara yang berbeda, kerjasama tidak akan mungkin. Sayangnya, sejauh ini, hal inilah yang terjadi: Jep ang berang gapan bahwa para konsumen aS tidak cukup menabung, sementara aS beranggapan bahwa Jepang terlalu banyak membeli produknya sendiri dan pada saat yang sama terlalu melindungi

MASALAH KERJASAMA 623

pasar domestiknya dari ekspor aS. Di sini kerjasama yang dijalankan oleh aS dan Jepang, jika jenis ket idaksepakatan tersebut terjadi, hanya akan menjadi selubung internasional.

Dengan demikian, kerjasama tidak mudah. terlalu banyak rintangan bagi sebuah kerjasama yang efektif. Cooper dengan jelas menangkap poin ini ketika ia berkata bahwa dunia menghabiskan 50 tahun untuk mencapai kerjasama internasional dalam sebuah wilayah yang sudah sangat jelas seperti kesehatan publik (1988: 101). Berapa tahun yang kita perlukan untuk mewujudkan kerjasama dalam, misalnya, hubungan moneter, yang di mata sebagian besar orang jauh lebih tidak jelas di banding kesehatan publik