Sebutan yang lebih tepat adalah menjemput rezeki. Kalau kita menjemput, sudah pasti yang dijemput itu ada. Tuhan sudah menjamin rezeki semua makhluk-Nya, mulai dari hewan yang terkecil, segala jenis ikan di lautan, dan apa saja yang ada di bumi ini.
Cicak dengan segala keterbatasannya, hanya menempel di dinding pun bisa menangkap dan memakan nyamuk yang punya sayap dan bisa terbang dengan leluasa. Itu bukti bahwa rezeki sudah dijamin oleh-Nya.
Apalagi manusia yang sudah dibekali segala perabot teramat komplit berupa akal pikiran dan semua anggota tubuh yang luar biasa canggih dan tidak bisa dinilai dengan uang. Tentu dengan semua itu akan lebih mudah untuk menjemput rezeki.
Namun dalam praktiknya, banyak yang belum mampu menggunakan semua potensi yang dimilikinya. Kebanyakan orang masih menga ndalkan kemampuan yang bersifat lahiriah. Taruhlah itu dengan tenaga dan kecerdasan intelektual saja. Mereka masih belum mampu memanfaatkan kecerdasan spriritual yang dimilikinya. Seperti apa hasilnya Capek, kemrungsung (tergesa-gesa), dan sulit bertemu keberhasilan, apalagi keberkahan.
Ketika pertama kali saya terlibat langsung membidani lahirnya Wisanka Rotan, di mana saya bekerja saat ini, saya mempunyai keyakinan kuat bahwa perusahaan yang nantinya akan saya kendalikan itu akan berjaya.
Keyakinan saya terbukti. Hanya kurang dari 5 tahun, perusahaan ini sudah mampu mengungguli perusahaan-perusahaan lain sejenis. Saat ini, banyak di antaranya malah tidur dan tidak mampu bangun lagi.
Mengapa mereka cepat tidur, sedangkan Wisanka Rotan sebaliknya Kuncinya sangat sederhana. Saya melakukan hal-hal yang kebanyakan orang tidak melakukan. Bisa jadi, memikirkannya saja tidak.
Saya meyakini bahwa setiap orang yang bergabung di perusahaan mempunyai andil atas sukses dan tidaknya perusahaan tersebut. Untuk itulah, langkah pertama yang harus saya lakukan adalah memastikan bahwa sumberdaya manusia yang ada di tim saya adalah orang yang benar. Artinya, bukan orang yang bermasalah.
Maksud bermasalah tentu bermacam-macam. Bisa jadi dia adalah seorang anak yang berani atau durhaka kepada orangtuanya. Bisa jadi dia seorang istri yang tidak berbakti kepada suaminya. Ataukah dia adalah seorang suami yang tidak bertanggung jawab kepada istri maupun anak-anaknya.
Apa jadinya kalau tim kita terdiri dari pribadi-pribadi yang bermasalah Sudah bisa ditebak, lambat laun perusahaan akan bermasalah. Rezeki bakal sulit datang. Kalau pun datang bakal jauh dari keberkahan.
276
Mana ada ceritanya seorang anak yang berani atau durhaka kepada orangtua, rezekinya mudah dan berkah Mana ada seorang suami yang tidak peduli pada istri, anak, dan keluarga, lalu hidupnya tenang, serta rezekinya mudah dan berkah
Dengan dasar pemahaman seperti inilah, saya selalu menganjurkan, mengingatkan, dan memberi contoh kepada semuanya untuk menjadi pribadi yang baik.
Menjadi seorang anak yang berbakti kepada orangtuanya. Kalau orangtua ridha kepada anaknya, setiap saat mereka akan mendoakan anaknya selalu berhasil dalam pekerjaan dan kariernya.
Kalau seorang suami bekerja, siang malam diiringi doa-doa dari keluarganya maka yang didapati adalah kemudahan dan kelancaran dalam pekerjaannya.
Orangtua, anak, istri, atau suami pada hakikatnya juga merupakan tim sukses kita. Walaupun tidak masuk dalam struktur, namun peranannya teramat besar. Kalau suasana dan kondisi di rumah masing-masing karyawan harmonis dan tenteram, tentu akan sangat membantu konsentrasi kerja di kantor.
Hal tersebut adalah sebagian kecil dari faktor yang mempermudah pekerjaan kita, sementara hal lainnya tentu masih banyak.
Setiap pagi sebelum mulai bekerja, semua staf dan karyawan saya wajibkan berdoa terlebih dahulu. Bagi yang Muslim saya wajibkan untuk membaca Al-Quran dan Sholat Dhuha, bagi yang belum mengerjakannya di rumah. Bagi yang Kristiani juga demikian. Saya tunjuk salah satu staf untuk memimpinnya.
Sengaja saya mendisiplinkan hal ini agar semua karyawan bekerja sungguh-sungguh. Harus dipahami benar bahwa bekerja adalah wujud syukur mendalam atas semua kenikmatan yang telah diberikan-Nya.
Dalam bekerja mesti ditanamkan sikap saling menghormati, serta saling menghargai peran dan kontribusi masing-masing karyawan. Untuk mencapai ini tentu dibutuhkan kesiapan hati dari setiap personel yang terlibat.
Harus diingat bahwa bekerja tidak cukup dengan fisik. Untuk itulah saya menggarap dulu hati semua staf dan karyawan. Caranya, dengan memberikan banyak arahan dan motivasi. Apa jadinya kalau hati staf dan karyawan bermasalah; hatinya berpenyakit Akan muncul iri, dengki, pemarah, merasa hebat sendiri, dan masih banyak lagi.
Alhamdulillah, hasilnya luar biasa. Akhirnya tim paham apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab masing-masing. Mereka tidak perlu diawasi setiap saat. Kalau tim kita terdiri dari individu yang baik maka yang akan diperoleh adalah kenyamanan dalam bekerja.
Sukses individu, sukses perusahaan.
13 Oktober 2013