teknologi membuka berbagai kemungkinan baru, termasuk da lam menyatukan perhatian beragam komunitas dari berbagai be lahan dunia untuk menyampaikan pendapat secara cepat dan per sonal. hal ini tentu perlu disambut dengan tangan ter bu ka.
Saya minta maaf sebab tidak mungkin membalas satu per satu sapaan yang datang kepada saya.
Dalam kesempatan ini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa alasan utama bagi saya untuk tampil sekarang adalah untuk memberi alternatif baru dalam proses pemilihan kepemimpinan nasional. Sebenarnya, soal ini bukanlah soal saya sebagai pribadi, tetapi persoalan sebuah generasi dan sebuah bangsa yang harus terus bergerak maju.
Sejak 10 tahun terakhir, pilihanpilihan kepemimpinan nasional tidak banyak berubah. Gus Dur dan amien Rais tampaknya masih ingin ikut pemilihan presiden tahun depan, mendampingi Presiden SBy dan Wapres Kalla serta Megawati. Begitu juga Jenderal (purn.) Wiranto dan Letjen (purn.) Prabowo. Mungkin Sultan hamengku Buwono X dan Letjen (purn.) Sutiyoso juga akan turut serta.
Saya menghormati tokohtokoh senior tersebut. tapi apa kah pilihan kepemimpinan nasional harus berkisar hanya di seputar mereka, sebagaimana yang terjadi setelah Soeharto leng ser apakah di Indonesia terjadi stagnasi dalam sirkulasi kepem impinan nasional, sehingga wajahwajah baru tidak mungk in muncul samasekali Jika di amerika Serikat muncul Obama (47 tahun) dan di Rusia ada Medvedev (44 tahun), mengapa kit a tidak Bukankah Republik Indonesia sebenarnya dipelopori oleh para tokoh yang saat itu berusia muda, seperti dr tjipto Mangunkusumo, hOS tjokroaminoto, Soekarno, hatta, Sjahrir
Somebody has to do something. Kita harus menunjukkan bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang dinamis, berjalan mengikuti perubahan zaman dengan membuka diri terhadap berbagai kemungkinan baru. Kita harus berkata kepada para senior tersebut, we respect you, Sir and Madam. But please give some space to our new generation. Sudah saatnya generasi baru kepemimpinan di Indonesia turut serta dalam penentuan kehidupan bersama pada level politik yang tertinggi.
Pemikiran seperti itulah yang memberanikan saya untuk tampil sekarang. Dengan segala kelemahan yang ada, saya bersyukur mendapat kesempatan untuk melakukannya. Memang, kalau dipikirpikir, kata beberapa kawan dekat saya, keputusan itu agak gila. Lebih banyak beraninya ketimbang pertimbangan yang dingin dan rasional.
Saya bukan menteri atau mantan menteri. Saya bukan ketua umum partai, bukan presiden atau mantan presiden, bukan jenderal berbintang, bukan anak proklamator, bukan pejabat tinggi, bukan bekas panglima tNI, bukan pula orang kayaraya
646 BAB IX: CATATAN PRIBADI
atau anak orang kayaraya. Rizal, kata kawan kawan dekat saya itu, You are a bit crazy. No, damn crazy!
Bahkan, bukan hanya kawankawan saya saja, bekas guru besar saya di Columbus, aS, yang sangat saya sayangi pun, Prof. Bill Liddle, berkomentar lirih, The time is not yours yet. My dear Celli (nama kecil saya), you dont have any chance whatsoever. terhadap semua itu, saya hanya bisa menjawab, Mungkin
anda benar. Semboyan kampanye saya pun bunyinya rada mirip, If there is a will, there is a way. Pada tahap awal ini, yang ada hanyalah kehendak, kemauan, keberanian, dan hampir tidak ada lagi yang lainnya. terhadap Bill Liddle saya sempat membalas emailnya dengan kalimat ini: Pak Bill, the will is here, and I am working out the way.
Mungkin saya akan berhasil, mungkin pula tidak. tapi sa ya ingin menegaskan satu hal: soalnya bukanlah kalah atau menang, sukses atau gagal. Bahkan sebenarnya, seperti saya telah saya singgung tadi, soalnya bukanlah tentang Rizal Mallarangeng atau siapapun. Soalnya adalah soal sebuah generasi dan sebuah negeri yang kita cintai yang harus bergerak maju, membuka peluang dan kemungkinankemungkinan baru.
Jika ternyata saya hanya bisa menjadi si Kabayan yang merindukan bulan, saya secara pribadi sudah cukup puas karena saya sudah mencoba menunjukkan bahwa Indonesia tidak membeku, stagnan dengan pilihanpilihan yang ituitu saja selama bertahuntahun.
Namun, kalau toh ada sedikit harapan yang bisa dikatakan saat ini, saya sebenarnya menangkap sebuah isyarat, bahwa da lam masyarakat kita ada sebuah kerinduan terhadap sesuatu yang baru dan segar. tapi saat ini masih terlalu dini untuk mem buat analisis dan proyeksi berdasarkan isyarat dini ini. un tuk sementara, saya sudah merasa senang bahwa sekarang sudah mulai ada wacana yang memperbincangkan generasi baru sebagai pilihan kepemimpinan. Kita telah memecahkan glass-ceiling yang membatasi kita selama ini dalam mem bicarakan kemungkinan baru tersebut di forum publik.
Dengan wacana akan pilihan baru tersebut, siapapun orang nya, kita bisa mengatakan kepada dunia, bahkan kepada diri kita sendiri, we are a country on the move. Zaman berubah, Indonesia berubah. Zaman bergerak, Indonesia bergerak.
Buat saya secara pribadi, tentu semua itu mengandung dua sisi, sebagaimana setiap hal yang kita lakukan dalam kehidupan ini. This is a serious business, but I am taking it easy. Memang, ada beberapa hal yang menuntut pengorbanan dalam berbagai hal, termasuk kritik pedas terhadap diri saya pribadi. tapi, saya sengaja memulai semua ini dari Banda Neira, salah satunya dari bekas rumah pengasingan dr tjipto Mangunkusumo, sebagaimana yang terlihat dalam iklan Dari Sabang sampai Merauke.
Entah kenapa, saya tidak pernah berhenti kagum terhadap tokoh pergerakan kebangsaan yang satu ini, sejak masih mahasiswa sampai sekarang. Dia lahir tahun 1886 dan menjadi dokter generasi pertama hasil didikan Belanda. Sebagai dokter muda pada tahun 1920an, dia sebenarnya bisa menduduki posisi sangat terhormat sebagai pegawai pemerintah jajahan, apalagi dia pernah mendapat penghargaan tinggi dari Belanda, Order van Oranye, karena keberhasilannya membasmi wabah pes di Malang.
tapi ternyata dia memilih jalan berbeda dan, bersama Douwes Dekker dan Ki hajar Dewantara, meletakkan batu pertama perjuangan politik menuju Indonesia merdeka. Dan karena itu, dia diasingkan ke Banda Neira. Di pulau terpencil inilah, di rumah yang disediakan Belanda, ia melewati hariharinya selama 12 tahun, 19271939. Ia meninggal sebelum sem
648 BAB IX: CATATAN PRIBADI
pat menyaksikan negeri yang dicintainya berhasil merebut kemerdekaan.
Bagi saya, dr tjipto Mangunkusumo adalah sebuah ins pirasi, sebuah cerita kehidupan tentang kerelaan menanggung konsekuensi dari sebuah citacita. Dan setiap orang, setiap kali mengambil tindakan penting, pasti mengalami hal yang sama, dalam konteks yang berbedabeda.
Dalam konteks saya, pengorbanan yang ada terlalu kecil un tuk menjadi bahan cerita. yang ada adalah rasa terimakasih kepada banyak sahabat yang telah mendorong dan me mungkinkan langkah yang saya tempuh. This is a road less-traveled by, kata Robert Frost, dan karena itu saya pun belum bisa menerka titik akhir da ri perjalanan ini. Semuanya bergantung pada dukungan and a dan masyarakat umumnya.
Sejauh ini, satu hal yang menyenangkan saya adalah begitu banyaknya perhatian dan tanggapan dari warga Indonesia yang sedang belajar maupun bekerja di luar negeriamerika Serikat, Jepang, Inggris hingga Bahrain. Dari Sabang sampai Merauke yang saya tampilkan di youtube dapat disaksikan dari seluruh belahan dunia, secara serempak, kapan saja, dan dalam situasi apa saja.
Saya pernah sekolah, mengajar dan hidup 8 tahun di Columbus, aS. Saat itu belum ada youtube, dan saya teringat betapa menyenangkannya mendapat kabar yang hangat dari tanah air. tapi waktu itu hanya ada bacaan koran dan email. Dengan teknologi baru, apa yang dilihat dan didengar di Metro tV, SCtV, RCtI dan tVOne oleh warga kita di Wamena, Jayapura juga bisa disaksikan oleh mahasiswa kita di tokyo, Washington DC., dan kotakota lainnya di dunia.
hal tersebut patut disyukuri. Kerinduan begitu banyak war
ga kita di luar negri akan kehangatan berita di tanah air, serta keterlibatan dalam peristiwa atau isu yang sama, dapat ter puaskan. hal ini membawa dampak positif, berupa ikatan keb angsaan yang makin menebal, yang melewati tapal batas negara. Perasaan memiliki tanah air yang sama dan semangat yang sama akan semakin kental, walaupun, atau justru ketika, derap globalisasi semakin intensif.
Kalau saya boleh mengungkapkan kegembiraan, itulah yang bisa saya katakan sekarang. Saya sudah menyiapkan dua lagi iklan susulan, yang masingmasing akan dimuat selama 2 minggu di berbagai tV nasional dan lokal, hingga setelah 17 agustus nanti. Ketiga seri iklan inilah yang saya sebut sebagai Trilogi Harapan Baru dan menjadi dasar filosofis awal kampanye saya. Mudahmudahan sambutan terhadapnya juga akan sebaik yang ada saat ini.
Kepada kawankawan yang masih belum puas pada jawaban sementara ini, saya mohon maaf. Selain buku saya yang sudah terbit beberapa tahun lalu (Mendobrak Sentralisme ekonomi, Kepustakaan Populer Gramedia, 2002), dan banyak tulisantulisan saya di berbagai media massa (dapat dilihat di www.freedom-institute.org), saya memang masih butuh waktu untuk merumuskan halhal yang lebih konkret.
Pada saatnya nanti, saya akan menjelaskan semua pem ikiran saya, yang saya harapkan dapat sedikit menjawab be gitu banyak pertanyaan yang ada. Salam hangat.
Jakarta, 22 Juli 2008