MEMORIA - 94
Merindukanmu adalah membalas pesan dingin

Ke dalam sumsum tulang belakangku.

Geletar dedaunan dari balik musim gugur yang getir.

Kususun seribu pertanyaan

Yang tak pernah menemukan jawaban

Bahkan bagi hujan yang pernah

Melukis pelangi di pipimu.

Satu titik ingin kutumpahkan di akhir kalimatku

Jika kehilangan berarti jalan pulang kepadamu

Tapi tak kunjung kutemukan bahasa

Yang membuatku ikhlas melafalkan namamu.

Suaramu angin bertiup di sekitar rumahku

Mengirimkan salam debu kepada udara.

Maka biarkan kulumuri air mataku

Dengan debu segala debu

Kuoleskan dengan ketabahan paling bisu.

Bahasa yang tak mampu lagi diterjemahkan tinta

Yang menggoreskan kehilangan

Dengan warna paling kelabu.

(Naimata, 2012)