Ke dalam sumsum tulang belakangku.
Geletar dedaunan dari balik musim gugur yang getir.
Kususun seribu pertanyaan
Yang tak pernah menemukan jawaban
Bahkan bagi hujan yang pernah
Melukis pelangi di pipimu.
Satu titik ingin kutumpahkan di akhir kalimatku
Jika kehilangan berarti jalan pulang kepadamu
Tapi tak kunjung kutemukan bahasa
Yang membuatku ikhlas melafalkan namamu.
Suaramu angin bertiup di sekitar rumahku
Mengirimkan salam debu kepada udara.
Maka biarkan kulumuri air mataku
Dengan debu segala debu
Kuoleskan dengan ketabahan paling bisu.
Bahasa yang tak mampu lagi diterjemahkan tinta
Yang menggoreskan kehilangan
Dengan warna paling kelabu.
(Naimata, 2012)