YANG TERUCAP YANG TERTULIS - 97
Akhir tahun seperti ini, sudah menjadi kebiasaan dan kebutuhan setiap perusahaan pasti akan membuat evaluasi capaian bisnis setahun berjalan dan membuat perencanaan untuk tahun yang akan datang.

Dunia usaha, dari waktu ke waktu, selalu dihadapkan pada tantangan yang semakin tidak ringan. Pun demikian dengan dunia furniture. Hal terkini tentu kenaikan harga BBM. Di luar itu, masih banyak lagi.

Ketersediaan bahan baku berkualitas semakin sulit. Ditambah dengan aturan sertifikasi kayu legal yang akan mulai diberlakukan per 1 Januari mendatang.

Apakah hanya itu saja Tidak. Ketersediaan tenaga kerja terampil juga semakin susah didapat. Meskipun sudah dibuka lowongan kerja di koran serta menempel pengumuman di tembok-tembok pabrik, juga belum cukup menjadi daya tarik tersendiri bagi pencari kerja.

Jika sudah seperti ini, tentu harus memilih. Berhenti atau jalan terus. Maju atau menyerah saja. Bukan pengusaha namanya jika baru dihadapkan kesulitan seperti itu sudah menyerah. Mestinya perhatian dan energi lebih diarahkan kepada peluang dan harapan.

Pengusaha akan selalu melihat peluang di balik kesulitan. Harus dipahami bahwa semua pelaku usaha mengalami kesulitan-kesulitan tersebut. Tidak hanya kita sendiri. Kalau sudah seperti itu, lantas mengapa harus menyerah

Saya suka membandingkannya dengan profesi lain. Ambil contoh, seorang pilot. Seperti saat ini, musim hujan telah tiba. Tantangan dan kesulitan seorang pilot akan datangnya cuaca buruk pasti lebih sering dihadapinya. Kalau dia menyerah, tentu tidak ada pesawat yang mengudara.

Seorang pilot pasti mempunyai cara tersendiri untuk mengatasinya. Keterampilan yang dia miliki serta bantuan teknologi untuk mengantisipasinya tentu sangat membantu. Namun, semua itu tidak akan banyak berarti jika dia sendiri tidak yakin dan menyerah sebelum lepas landas.

Seorang nelayan pun demikian. Kalau ia hanya mengingat ombak besar, cuaca buruk di tengah lautan, badai yang setiap saat bisa menghadang, bisa jadi tidak ada nelayan yang melaut. Imbasnya, tidak ada ikan yang tersedia di pasar dan terhidang di meja makan kita.

Saya yakin, nelayan punya prinsip dan keyakinan bahwa angin boleh besar, tinggal bagaimana mengarahkan layarnya. Mestinya pengusaha melakukan hal yang sama. Tantangan dan kesulitan boleh saja menghadang, tinggal bagaimana bisa mengikuti dan mengatasinya.

Di luar itu, kita harus bisa memanfaatkan setiap peluang yang ada, di sela-sela kesulitan tadi menjadi sesuatu yang bisa menghasilkan.

13 Desember 2014